
"Ini kura-kura siapa, Retta?" Eyang bertanya saat melihat kotak kaca yang berisi kura-kura di dekat radio kesayangannya.
Aku menghampiri Eyang sambil tersenyum kecil, "Punya Retta, Eyang."
"Sejak kapan Retta jadi punya binatang peliharaan?" sahut Eyang sambil tersenyum mengejekku.
"Dari seseorang," jawabku kikuk.
"Seseorang? Siapa? Pacar, ya?"
Aku langsung melotot, "Bukan Eyang, bukan."
"Eyang, sih, boleh-boleh saja Retta punya pacar," Eyang sepertinya sangat niat untuk mengejekku. Aku salah tingkah sekarang.
Seharusnya kura-kura itu aku taruh saja di lemari pendingin. Agar tidak ketahuan oleh Eyang. Karena? Karena Eyang tidak pernah membuka lemari pendingin, tidak kuat dingin katanya. Tapi kalau kura-kura itu ditaruh di sana, kasihan juga pasti kedinginan.
"Eyang?" panggilku serius.
"Apa, sayang?"
"Seseorang bisa mengingkari janjinya?" tanyaku. Aku tahu ini pertanyaan terbodoh yang pernah aku tanyakan.
"Bisa saja, Retta. Seseorang bisa mengingkari janjinya. Bisa dengan terpaksa atau disengaja."
Aku tertegun sesaat. Kembali teringat janji Elvan yang tidak akan masuk geng Erlassca. Bukan, bukan maksudku untuk mengatur kehidupannya. Elvan itu murid baru, dari Jogja dan tidak tahu bagaimana geng Erlassca membuat onar. Sudah banyak murid yang dikeluarkan karena sering membuat keributan, dan aku tidak mau itu terjadi kepada Elvan.
"Kenapa? Tumben tanya seperti itu?" Eyang membangunkan lamunanku.
"Enggak apa-apa Eyang, nanya aja," jawabku sambil tersenyum kikuk.
***
Setiap hari Senin, di sekolahku selalu ada puisi baru yang ditempel di mading. Dan setiap jam istirahat akan kusempatkan membacanya, menjadi kebiasaanku selama dua tahun sekolah di sini. Kebiasaan itu juga menjadi tempat bertemunya aku dengan sosok lelaki misterius bernama Elvano Aryawinata.
Setelah soal matematika yang membuatku pusing, segera kulangkahkan kaki keluar kelas menuju mading di dekat kantor seorang diri. Sella katanya akan kumpul paduan suara. Dia sibuk akhir-akhir ini, kami jadi jarang ke kantin bersama.
Benar, kan, banyak puisi yang baru ditempel oleh anggota OSIS. Puisi-puisi dari siswa-siswi yang menyumbangkan karyanya.
Aku membaca semuanya dan tidak bisa menahan senyum, terlebih saat melihat sticky note berwarna hijau menempel di sudut mading. Aku membacanya dengan alis yang mengerut. Disana tertulis: Hai kura-kura, ke kantin ya!
Isi kepalaku langsung tertuju pada Elvan. Aku mengambil sticky note itu dan langsung pergi ke kantin. Kalau dipikir-pikir lucu juga, Elvan tidak seperti lelaki lain yang biasanya mengirim pesan melalui ponsel. Ia memilih menempelkan sticky note itu untuk menyuruhku ke kantin. Ya, mungkin dia tidak punya nomor ponselku, toh dia juga tidak pernah meminta hal itu.
Saat tiba di kantin, aku melihat Elvan dan teman-temannya duduk di tempat biasa. Enam lelaki yang sempat aku lihat tempo hari, hanya Teguh yang tidak ada.
Perlahan aku mendekati Elvan, dia terlihat senang sekali mengobrol dengan teman-temannya itu. Saat aku sudah berdiri di hadapan mereka, seketika mereka diam dan perlahan tawanya menghilang.
"Elvan?" panggilku. Dia langsung tersenyum dan menggeser duduknya, menyuruhku duduk di sampingnya.
"Sudah dibaca, ya?" tanyanya.
"Sudah," jawabku sambil memamerkan sticky note padanya.
"Retta?" teman Elvan memanggilku. "Elvan menurut kamu ganteng enggak?"
Aku terdiam sesaat. Kenapa harus itu yang ditanyakan?
Perlahan aku mengangguk, membuat sorakan keras dari ke enam lelaki itu terdengar. Aku menahan malu sambil tersenyum kecut.
Elvan mengacak rambutku, membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ah, aku menyesal pergi ke kantin.
"Makasih ya," kata Elvan padaku.
"Van, lo enggak niat ngenalin nama kita gitu ke Retta?" sahut lelaki yang memakai bandana hitam tengkorak itu.
"Kamu mau kenal mereka?" Elvan bertanya padaku.
Aku mengangguk, "Boleh."
"Oke, yang pake bandana itu namanya Reza," kata Elvan mulai memperkenalkan teman-temannya. "Ini Reno, Adit, Regy, Aji, dan ini Aldo," Elvan menunjuk satu-persatu temannya sambil memberi tahu nama-namanya.
"Elvan satu kelas sama mereka?" tanyaku akhirnya.
"Iya, Ta," jawabnya dan aku mengangguk paham. Kulihat teman-teman Elvan mulai memakan bakso yang baru saja diantar oleh ibu kantin.
Aku dan Elvan saling pandang, entah kenapa rasanya berbeda. Ada rasa yang pertama kali aku rasakan selama hidup di bumi. Bertemu dengan lelaki itu dan tak jarang salah tingkah di hadapannya. Aku pun merasa seperti bukan Retta yang biasanya.
"Kenapa lihatin aku terus?" tanya Elvan dan seketika membuatku mengalihkan pandangan. Tuh, kan, aku salah tingkah lagi.
"Elvan sudah makan belum?" tanyaku mencoba menghilangkan gugup. Aku melihat teman-temannya seperti menahan tawa.
"Retta mau makan apa?" tanya Elvan padaku.
"Mi ayam."
"Aku pesan dulu ya."
Rasanya, aku seperti perempuan yang paling bahagia hari ini. Elvan itu istimewa, menurutku. Hal kecil yang dia lakukan selalu berhasil membuat garis bibirku terangkat ke atas.
"Retta?" Kak Aldo memanggilku.
"Iya, Kak?"
"Elvan udah nembak lo belum?"
Aku kembali terkejut. Kenapa ya teman-teman Elvan selalu bertanya yang tidak-tidak?
"Lo siap-siap aja," kata Kak Reno. "Bentar lagi kayaknya dia nembak lo."
"Sotoy lo!" Kak Adit menyahut.
"Lah emang bener, geng Erlassca udah pada tau semua!"
Apa? Aku tidak salah dengar? Kak Reno mengatakan 'geng Erlassca' dan apa kaitannya dengan Elvan?
"Jaga mulut lo, Reno!" Kak Regy yang duduk di samping Kak Reno menoyor pelan kepalanya. Aku jadi yakin, ada yang tidak beres.
"Maksud Kak Reno apa?" tanyaku penasaran.
"Enggak, Retta. Jadi gini, kita berenam udah yakin kalo si Elvan mau nembak lo," Kak Reno mencoba menjelaskan meskipun terlihat kesusahan.
Tak lama hening, mereka sibuk memakan bakso dengan cepat. Sampai pertanyaan yang membuatku penasaran terlontarkan begitu saja di depan mereka.
"Elvan enggak gabung geng Erlassca itu kan, Kak?"
Mereka terbatuk-batuk, entahlah kenapa sampai seperti itu reaksinya. Mereka juga saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Kak Aji mengeluarkan suaranya, "Menurut Retta geng Erlassca itu apa?"
Itu bukan jawaban, tapi pertanyaan. Aku menghela napas dan akhirnya menjawab, "Perkumpulan siswa-siswa nakal?"
Mereka tertawa, bahkan ada yang memukul-mukul meja saking senangnya. Jawabanku ini memang salah ya?
"Kok ketawa?" tanyaku bingung.
"Retta lucu banget ya, pantes aja si Elvan tergila-gila," kata Kak Aldo dan melanjutkan tawanya. Aku mengernyit, maksud mereka apa, sih?
Elvan kembali dengan dua mangkuk mi ayam di tangannya.
"Ngobrolin apa?" tanya Elvan dan kembali duduk di sampingku.
Aku tidak menjawab. Biarkan saja teman-temannya yang tertawa itu yang menjawab. Tertawa tanpa aku tahu apa yang mereka tertawakan. Aneh.
"Kalian apain dia?" Elvan bertanya kepada teman-temannya. Mungkin bingung melihat ekspresiku yang sedang kesal saat ini.
"Kita enggak ngapa-ngapain cewek lo, kok," sahut Kak Aji ditambah anggukan dari ke lima temannya yang lain.
"Mau pindah tempat duduk, Ta?" tanya Elvan padaku.
Aku langsung menggelengkan kepala, "Enggak usah."
"Kamu ditanya apa sama mereka?" tanyanya lagi.
Aku berdeham, "Kak Aldo tadi tanya, geng Erlassca menurut Retta itu apa."
"Terus kamu jawab apa?"
"Perkumpulan siswa-siswa nakal."
Setelahnya, Elvan diam dan ekspresinya berubah. Dia mengalihkan pandangan dan mulai mengaduk mi ayamnya.
"Retta salah?" tanyaku.
"Retta enggak pernah salah," jawab Elvan tapi kali ini tidak ada lekuk sabit di wajahnya.
"Bucin!" kata Kak Reno tiba-tiba.
"Ganggu orang bahagia aja lo," sahut Kak Regy.
"Oh iya, pulang sekolah jadi gak, nih?" tanya Kak Aldo dan sukses mendapatkan tatapan tajam dari teman-temannya, termasuk Elvan.
Maksudnya apa?
"Kalian mau kemana?" tanyaku memberanikan diri. Aku takut kalau mereka membuat keributan, terlebih mereka berenam memang anggota geng Erlassca.
Kecuali Elvan. Aku yakin.
"Retta enggak perlu tahu, ya," kata Kak Regy sambil tersenyum lebar.
Aku **** bibir, ada yang mereka rencanakan sepertinya.
"Retta!" tiba-tiba aku mendengar suara Kak Haris memanggilku, aku langsung menoleh ke asal suara tersebut.
"Iya? Kenapa, Kak?" tanyaku saat Kak Haris berdiri di depan kami semua yang sedang duduk.
"Pulang sekolah kumpul lagi ya," kata Kak Haris padaku.
"Aku enggak janji ya, Kak," jawabku ragu. Entah, rasanya aku lebih penasaran akan hal yang akan dilakukan geng Erlassca sepulang sekolah. Kalau pun mereka akan membuat keributan, setidaknya aku bisa mencegahnya.
"Kamu kumpul aja," Elvan tiba-tiba menyahut.
Aneh, kemarin Elvan tidak membolehkanku ikut kumpul, tapi sekarang justru sebaliknya.
"Kok?" tanyaku bingung.
"Kamu pengin jadi panitia, kan?"
"Tapi katanya―"
"Sudah, Retta pulang sekolah kumpul ya?" Elvan memotong ucapanku, kali ini malah memaksaku kumpul panitia festival.
Terpaksa aku mengangguk, mengiyakan apa yang Kak Haris katakan. Setelah itu Kak Haris mengangguk lalu beranjak dari kantin.