Elvaretta

Elvaretta
10. Gerimis di Pelupuk Mata




"Sudah baikan?" Elvan bertanya padaku. Kini aku dengannya sedang berada di taman dekat perpustakaan, di sini banyak pohon besar dan cocok untuk sekedar berteduh dan mengobrol.


"Retta enggak sakit," jawabku yang masih sama dengan jawaban tadi pagi.


"Ngeyel terus kamu," Elvan berdecak pelan, aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang kesal itu. Selalu lucu menurutku.


"Oh iya, kamu bawa spidol enggak?" tanyanya.


"Bawa," aku mengambil beberapa spidol warna di saku rok kelabu yang kupakai.


"Ini," aku menyodorkan spidol padanya. "Buat apa, sih?"


"Pinjam telapak tangan kamu," ucapnya seraya membuka tutup spidol berwarna hijau.


Aku segara membuka telapak tangan, "Nih."


Sebisa mungkin aku menahan geli karena Elvan menulis sesuatu di telapak tanganku. Akupun tidak tahu dia menulis apa karena tulisannya tertutup oleh tangan kiri Elvan.


"Udah belum?" tanyaku yang masih menahan geli di telapak tangan. Elvan mengangguk dan sudah berhenti menulis, lalu aku langsung membacanya.


Ternyata hanya tiga kata yang Elvan tulis di telapak tanganku dengan spidol warna hijau. Aneh, kukira panjang sampai beberapa kalimat. Ternyata dia hanya menulis ini; Kura-kura, ily.


"Maksudnya?" tanyaku bingung. Seraya mengusap tulisan di telapak tanganku.


"Baca dong," jawabnya sambil tertawa kecil.


"Elvan dong yang baca!"


"Oke," Elvan berdeham seraya memasang wajah serius. "Kura-kura, makasih ya sudah ada di bumi. Elvan bersyukur pindah ke Bogor dan bertemu Retta di sekolah ini, Elvan juga bersyukur karena mading di sekolah ini menempelkan puisi-puisi indah yang membuat kita bertemu pada akhirnya. Mungkin kalau mading itu tidak ada puisi dan Retta tidak sedang melihat mading saat itu, mungkin kita tidak bertemu dan tidak jadi sedekat ini. Ta, kita sama-sama lahir di Jakarta, tapi anehnya malah bertemu di Bogor. Aku menyesal sempat sekolah di Jogja, kenapa nggak dari dulu aja aku di Bogor tinggal sama bunda? Mungkin kita sudah bertemu sejak lama, ya? Tapi Elvan tetap bersyukur karena semesta masih mengizinkan kita bertemu di sini. Dan satu hal yang pasti, Elvan sayang Retta. Kura-kura janji ya tidak akan meninggalkan rumahnya?"


Astaga, tulisan yang ia tulis di telapak tanganku hanya tiga kata. Tapi yang dia ucapkan barusan berhasil membuatku tidak bisa berkata-kata. Rasanya ingin kusimpan dan abadikan lekuk sabit miliknya untuk bisa dilihat selamanya.


"Elvan-"


"VAN! SI ALDO BERANTEM SAMA SI REGY!"


Itu suara Kak Reno, memotong ucapanku dan berteriak memberikan informasi yang membuat Elvan berlari begitu saja meninggalkan taman.


Ada apa ini? Geng Erlassca ribut sesama anggota? Ini belum pernah terjadi sebelumnya, yang kuketahui mereka selalu ribut dengan adik kelas yang membuat mereka kesal. Hanya itu yang kutahu, tapi kalau Kak Aldo sama Kak Regy berantem rasanya aneh dan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Merasa penasaran, aku mengikuti langkah Kak Reno dari belakang.


Ternyata benar, aku melihat dengan jelas kalau Kak Aldo dan Kak Regy sedang adu jotos di koridor yang biasa menjadi jalan pintas menuju kantin. Seperti yang pernah aku ceritakan, mereka akhir-akhir ini selalu berkumpul di sana―geng Erlassca yang kutahu itu anggotanya semua laki-laki, tidak ada perempuan satu pun. Lagi pula mana ada para perempuan kelas dua belas yang ingin gabung dengan geng Erlassca itu.


Dan sebetulnya waktu itu geng Erlassca sempat dibubarkan, kepala sekolah sendiri yang mengumumkan saat selesai upacara tahun lalu. Tapi entahlah kenapa tiba-tiba jadi muncul kembali geng Erlassca untuk angkatan kelas dua belas sekarang.


Elvan melerai mereka berdua, aku terkejut saat pipi kiri Elvan terkena pukulan Kak Aldo. Yang lebih membuatku terkejut lagi, Kak Aldo melihatku lalu tertawa seperti meremehkan. Aku menggigit bibir bawah, sorot mata Kak Aldo membuatku takut. Semua yang ada di koridor―geng Erlassca pun kini menatapku.


Aku tidak tahu kenapa Elvan hanya diam saja saat ini. Aku melihat sekilas Kak Regy yang sudah terlihat lemas karena wajahnya sudah dipenuhi luka lebam, dan itu ulah Kak Aldo.


"Lo kemaren sama cewek lo itu, Van?" Rahang Kak Aldo mengeras, manatap Elvan dengan emosi yang melonjak naik. "Misa-bisanya lebih mentingin si Retta daripada geng Erlassca!"


Aku tidak bisa menahan tangis lagi, sama sekali tidak paham dengan apa yang diucapkan Kak Aldo barusan.


Elvan gabung dengan geng Erlassca? Dia tidak menepati janjinya? Itu yang ada dipikiranku saat ini.


Aku kecewa. Aku marah. Secepat mungkin kuberlari meninggalkan koridor yang akan kubenci selamanya di sekolah ini. Aku benci geng Erlassca yang tidak berguna, dan juga Elvan yang mengingkari janjinya.


Elvan berkali-kali mencoba meraih lenganku, tapi berhasil kutepis dengan kasar. Sepanjang koridor aku menangis sembari menghampus tulisan tangan Elvan yang ada di telapak tanganku, tak peduli pada mereka yang terus-terusan melihat ke arahku. Aku tidak mau dekat dengan Elvan lagi, ucapan dia semuanya sudah tentu bohong.


Dia pembohong.


Sampai kelas, Sella terkejut melihatku menangis dan dia langsung memelukku erat.


Salah sepertinya langsung percaya dengan ucapan lelaki, ucapan mereka tidak tentu benar dengan fakta.


Oke, aku tidak melarang Elvan berteman dengan siapa pun, tapi kalau gabung dengan geng Erlassca itu menurutku tidak baik.


"Ta? Kenapa?" tanya Sella seraya mengelus rambutku lembut. Aku masih menangis, rasanya belum mempercayai kalau Elvan membohongiku.


Baru beberapa menit lalu Elvan berbicara panjang lebar tentang perasaanya padaku. Beberapa menit lalu pula aku tahu kalau Elvan gabung dengan geng Erlassca.


"Elvan, La..." aku sulit untuk mengatakan sesuatu karena tangisku deras sekali saat ini. Aku tidak menyangka kalau hari ini badai akan datang menghampiriku, kukira spidol berwarna yang kubawa akan menciptakan sebuah pelangi yang indah dan penuh warna. Nyatanya malah hujan yang kini datang dari pelupuk mata.


"Kak Elvan kenapa?" tanya Sella seraya melonggarkan pelukannya. "Geng Erlassca, ya?"


Aku terkejut saat Sella tahu penyebab aku menangis itu karena apa, "Kamu.. tahu dari mana, La?" tanyaku sembari menyeka air mata yang sedari tadi tidak berhenti mengalir di pipiku.


"Pas aku mau bilang sesuatu di kelas terus Pak Heri dan Kak Haris panggil kamu, sebetulnya itu tentang Kak Elvan, Ta. Aku lihat Kak Elvan pagi itu merokok di koridor sama geng Erlassca."


Air mataku kembali mengalir deras. Samar-samar yang kulihat digenggam oleh Elvan tempo hari di kantin, ternyata itu sebatang rokok.


Elvan merokok!


"Kenapa enggak kasih tahu, La?" tanyaku pada Sella.


"Kak Elvan suruh aku jangan kasih tahu kamu, Ta. Maaf."


Aku sedikit kecewa pada Sella karena tidak langsung memberitahu kalau Elvan itu sebenarnya gabung dengan geng Erlassca. Kalau dari awal aku tahu Elvan seperti itu, mungkin aku sudah menjauhinya dan fokus menjadi panitia festival.


Rasanya, hari ini aku benar-benar memutuskan kura-kura untuk meninggalkan rumahnya.