
Saat ini Ashley sedang duduk di salah satu sudut kafe yang sedang digandrungi oleh banyak remaja saat ini. Ashley pun mengenakan jaket hitam yang selalu dibawanya di dalam mobil dan sebuah topi hitam agar orang - orang disekitarnya tidak mengenalinya.
Ashley menyesap kopi yang dipesannya beberapa menit yang lalu, meskipun Ashley mengenakan topi ia tetap tidak bisa menyembunyikan matanya yang sembab. "Ini adalah hari yang paling buruk." pikir Ashley memandang telepon genggamnya yang terus - menerus berbunyi yang menandakan bahwa Axel mencarinya.
"Toh, aku butuh waktu sendiri." pikir Ashley. Ashley membuka chat dari teman - teman satu kelompoknya yang kelihatan palsu. Mereka mengatakan tidak masalah jika pelayan Ashley mengerjakan tugas kelompok tetapi, salah satu anggota kelompok bernama Winona kelihatannya menyindirnya.
"Orang bodoh seperti dia tidak akan pernah tahu." pikir Ashley memandang komentar menohok dari Winona. Ashley pun memutuskan untuk mematikan telepon genggamnya dan mulai menikmati kesendiriannya. Ashley merasa bosan karena sudah duduk terlalu lama dan memutuskan untuk berkeliling pusat berbelanjaan.
Ketika ia ingin berdiri, tak sengaja tubuhnya mengenai seseorang yang duduk di belakangnya. "Maafkan saya." kata Ashley pelan tetapi, tidak memandang orang itu. Ia takut bahwa orang itu suka menyebarkan berita yang buruk mengenai keluarga Wilson saat ini. "Akh...., tidak masalah." sahut seseorang itu yang ternyata adalah seorang pria.
Mendengar pernyataan bahwa pria itu tidak mempermasalahkannya, Ashley pun segera pergi dan memutuskan untuk melihat pakaian - pakaian santai di sebuah toko pakaian yang terkenal. Langkah Ashley pun terhenti di depan toko yang bernama Madame Grace.
Ashley pun segera masuk dan disambut oleh salah satu pelayan wanita. "Ada yang bisa saya bantu ?" tanyanya. "Yah..., aku ingin pakaian santai terbaik dari kalian dan memiliki bahan yang dingin." kata Ashley. "Tunggu di sini ya. Saya akan mengambilkan barangnya." kata pelayan itu ramah dan Ashley pun mengangguk.
Ashley pun duduk di sebuah sofa yang disediakan dan memandang perempuan - perempuan seumuran dengannya mencoba berbagai macam pakaian. Ashley tidak pernah merasakan hal itu, dan setiap ia melakukan Girls Times pasti Arthur datang dan mulai membacakan jadwal. Hal itu membuat teman - teman satu kelasnya muak dan dianggap tidak tahu diri.
"Apa dua pakaian ini langsung dijahit oleh madame Grace sendiri ?" tanya Ashley. "Tentu, ini adalah rancangan terbaiknya untuk bulan yang penuh dengan salju. Sangat cocok untuk kencan romantis." jelas pelayan itu lembut. "Baiklah, aku akan membeli keduanya. Sebelum itu, aku ingin mencari ukuran yang pas untukku." kata Ashley.
"Baiklah, anda bisa mencobanya di ruang ganti sebelah kanan." kata pelayan itu sambil menyerahkan dua setel pakaian kepada Ashley dan ia pun segera menuju ke ruang ganti. Ashley memandang dirinya di depan cermin, ia terlihat sangat cocok dengan dua pakaian itu, tetapi mata sembabnya sama sekali tidak bisa ditutupi.
Ashley menghela nafas perlahan, ini pertama kalinya ia merasa sangat berat menerima keputusan keluarga Wilson. Ashley pun segera melepaskan pakaian kedua dan kembali mengenakan jaket dan topi hitam. Ashley segera keluar dari ruang ganti dan segera menuju ke kasir.
"Baiklah, total semuanya adalah 5.000.000." kata pelayan itu ramah. Ashley ingin mengeluarkan kartunya tetapi, sebuah tangan menahannya yaitu...., Kelvin. "Apa yang kau lakukan ?" tanya Ashley. "Membayar pakaian calon istriku." kata Kelvin sambil mengeluarkan uang cash.
"Aku bisa membelinya sendiri." sahut Ashley sebal. "Tapi, kau calon istriku." kata Kelvin sambil menekankan kata calon istri. "Terima kasih." sahut Ashley acuh. "Aku akan menggantinya." tambah Ashley. "Tidak perlu." sahut Kelvin singkat.
Mereka berdua pun segera keluar dari toko tersebut ketika selesai membayar. "Kau mau makan sesuatu ?" tanya Kelvin. "Aku sudah kenyang." sahut Ashley cuek. "Ashley...." kata Kelvin lirih dan entah kenapa langsung memegang tangan Ashley. "Lepaskan." kata Ashley berusaha melepaskan genggaman tangan tetapi, Kelvin semakin mengeratkan pegangan tangannya.
"Lepaskan." kata Ashley lagi dengan nada dingin. "Tidak mau." sahut Kelvin cuek.