
Malam ini Ashley terlihat lebih cantik daripada biasanya. Ia mengenakan gaun abad pertengahan yang diberikan oleh Eva. Awalnya ia menolak karena berpikir mungkin saja Eva memberinya gaun yang agak "konyol" dan sepertinya ia harus berhenti berpikir begitu karena malam ini ia terlihat sangat cantik.
"Apa kau ingin memandang dirimu di depan cermin seharian ? Kau tahu, jangan terlalu lama memandang cermin, ia bisa mencium mu karena kau terlalu manis." bisik seseorang di telinga Ashley. Ashley pun segera membalikkan wajahnya dan melihat Kelvin yang berdiri di belakangnya dengan penuh percaya diri.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya Ashley sambil mengerutkan kedua alisnya. "Tentu saja menjemputmu." sahut Kelvin sambil memutar kedua bola matanya dan menghela nafas. "Aku tidak memanggil mu." sahut Ashley sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa kau pernah melihat seorang putri harus memanggil pangerannya terlebih dahulu untuk menjemputnya ke istana ?" tanya Kelvin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ashley. "Kurasa tidak, karena kau bukanlah salah satu pangeran yang terkenal." sahut Ashley sambil mengangkat kedua alisnya.
"Memang siapa yang kau harapkan ? Malaikat mu ? Apa ia bisa datang tiba - tiba malam ini dan membawa mu terbang ke Neverland ?" tanya Kelvin, tiba - tiba pintu kamar Ashley pun diketuk. "Siapa ?" tanya Ashley sambil memandang Kelvin. "Sepertinya salah satu pelayan mu." sahut Kelvin yang langsung membukakan pintu.
"Maaf menganggu kalian berdua, nona Ashley sepertinya ada seorang teman anda yang menunggu anda di bawah." kata pelayan itu. "Baiklah, aku akan turun ke bawah." sahut Ashley dan pelayan itu pun pergi. "Apa kau bisa menebaknya seperti firasat ku ?" tanya Kelvin sambil menatap Ashley dengan tatapan penasaran. "Sepertinya kau salah." sahut Ashley singkat dan langsung keluar kamarnya dan menuju lantai bawah.
Ashley pun segera turun ke bawah, diikuti oleh Kelvin di belakangnya. Ketika tiba di ruang tamu, ia melihat seorang laki - laki mengenakan hoodie berwarna biru Dongker, sesekali ia mengigit bibir bagian bawahnya karena cemas. "Harry !" teriak Ashley kegirangan dan entah apa yang merasuki dirinya ia langsung memeluk Harry.
Harry yang merasa dirinya dipeluk oleh Ashley nampak terkejut, sampai - sampai ia merasa kehabisan kata. Kelvin yang melihat hal itu hanya bisa menahan amarahnya dan berusaha keras untuk tidak menghajar Harry sampai titik darah penghabisan kali ini. Ia tak mau menciptakan keributan dan membuat namanya tercoreng meskipun, hal ini sangat menyebalkan.
Harry yang melihat Kelvin yang nampak kesal dan sedang menatap tajam dirinya, langsung membalas pelukan Ashley dengan hangat. Entah ide gila apa yang merasuki Harry agar saingannya ini merasa cemburu. "Mengapa kau begitu manja beruang bodoh ?" tanya Ashley. Belum sempat, Harry membalas perkataan Ashley, Kelvin memegang pundak Harry dan mengatakan, "Ini bukan hotel, cari kamar untuk dirimu sendiri." katanya dingin.
Harry yang mendengar perkataan dingin dari Kelvin segera melepas pelukannya dan menghela nafas. "Kau begitu serius, sobat." kata Harry tersenyum tipis. Ashley yang sudah merasa ada hawa ketegangan, segera mengatakan, "Baiklah, kita harus pergi. Sebentar lagi pertunjukannya akan dimulai.".
"Kita ? Kau tidak berpikir membawa alien ini bukan ?" tanya Kelvin kesal sambil melirik Harry. "Kau tidak perlu repot-repot mengantar Ashley, biar aku saja." sahut Harry tak kalah dingin. Ashley yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafas, lalu mengatakan, "Bagaimana jika kita naik mobil yang sama bertiga ?".
"Apa ?!" teriak mereka berdua berbarengan. "Yup, debat kalian ini pasti tidak ada akhirnya dan aku sudah memutuskan. Apa ada yang berani menolaknya ?" tanya Ashley dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada, tak lupa ujung kaki kanannya di hentakannya kecil - kecil.
"Kurasa aku yang harus duduk di samping Ashley dan kau duduk di samping supir." kata Kelvin. "Apa ? tidak, tidak, aku akan duduk di samping Ashley." sahut Harry sengit. "Harry, kau duduk di samping kanan ku dan kau Kelvin, duduk di sebelah kiri ku. Adil bukan ?" tanya Ashley sambil mengangkat kedua alisnya. Kedua laki - laki itu hanya bisa menghela nafas.
Selama perjalanan menuju sekolah, di dalam mobil terasa hening. Sampai Harry mulai membuka suatu pembicaraan, "Kau yang akan jadi pasangannya dalam drama ini ?" tanya Harry kepada Kelvin. "Seperti yang kau lihat." sahut Kelvin singkat lengkap dengan senyum sinisnya yang khas.
"Apa kau pensiun jadi hantu ?" tanya Kelvin sambil melirik Harry dengan tatapan penuh ejekan. "Tidak, aku terlalu tampan untuk menjadi manusia dan memutuskan untuk menjadi hantu untuk menjaga tuan putri ku agar ia tidak diganggu oleh orang aneh." sindir Harry.
"Orang aneh ? Kurasa lebih normal jika...." kata - kata Kelvin terhenti ketika Ashley meletakkan kedua jari telunjuknya ke bibir Harry dan Kelvin. "Sudahlah, semuanya akan baik - baik saja malam ini dan jangan membuat keributan." kata Ashley. Supir pribadi Ashley yang melihat tingkah labil ala remaja saat ini hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya dan berkata, "Anda memang Juliet nyonya Ashley.".