
Setelah ditinggal kakaknya, Ashley kembali memandang para tamu dari balkon rumahnya. "Ini membosankan." pikir Ashley yang membuatnya sesekali menguap atau menghela nafas bosan. "Kurasa sebaiknya aku berkeliling rumah saja." pikir Ashley lagi. Ia pun segera pergi dan memutuskan berkeliling melewati lorong - lorong rumahnya.
Keluarga Ashley adalah salah satu klomerat yang paling terkenal di negara Evander. Hampir setiap orang di negaranya mengenal keluarga mereka. Terutama kakak sulungnya yang bernama Axel Wilson, yang merupakan salah satu pria muda yang paling panas, kaya dan idaman bagi remaja perempuan bahkan nenek - nenek tua di Evander. Hasil ini didapat dari sebuah majalah harian terkenal di Evander yaitu Evander Time, membaca bahwa ia juga diidam - idamkan oleh nenek - nenek mampu membuat seluruh keluarga Wilson tertawa.
Ayah dan ibu Alex dan Ashley pertama kali bertemu di sebuah pesta khusus para klomerat negara Evander. Saat itu, ibunya adalah seorang pelayan biasa yang menyajikan salad khusus para tamu dan secara tak sengaja menumpahkan salad ke jas ayahnya. Ibunya sungguh meminta maaf atas kejadian itu dan berusaha akan mencucinya tetapi, ayahnya terlanjur jatuh hati ketika mendengar suara dan manik biru laut ibu.
Jalinan kasih mereka mirip seperti sebuah cerita dongeng romansa yang selalu diceritakan berabad - abad yang di mana, jalinan kasih mereka tidak disetujui oleh keluarga ayah dan mereka memutuskan untuk pura - pura berpisah tetapi, tetap menjalin komunikasi secara rahasia melalui orang terpecaya ayah yaitu, Agam.
Agam adalah salah satu pelayan sekaligus sahabat terdekat ayah sejak kecil. Ia dilahirkan oleh seorang pelayan keluarga Wilson dan ketika ayah bosan dengan kehidupannya kakunya, biasanya ia akan mendatangi Agam dan bermain bersama hingga lupa waktu. Hanya ayah, ibu, Axel dan Ashley lah yang mengetahui siapa itu Agam.
Ayah bilang, jika ada sesuatu hal yang buruk yang tidak akan diberi bantuan oleh kakek. Mereka bisa memanggil Agam untuk mengurusinya demi keselamatan mereka berempat. Keluarga besar Wilson selalu terdengar harmonis dan jauh dari skandal tetapi, jauh di dalam itu semuanya memang tidak sempurna.
Bahkan acara makan malam keluarga besar yang selalu diadakan kakek, selalu berakhir dengan perang dingin yang mengerikan. Itu sebabnya terkadang Axel dimarahi kakek, karena ia selalu beralasan sibuk dengan kegiatan sekolahnya saat acara makan malam keluarga besar.
Axel adalah kadidat terkuat menggantikan ayah dan kakek. Ia mampu dalam segala hal kecuali, seorang wanita yang terlihat cantik, anggun dan lembut saat bersamaan. Dalam kasus kali ini, perempuan itu adalah Leah.
Ashley adalah anak bungsu keluarga besar Wilson tetapi, sifat dan kelakuannya tidak mencerminkan bahwa ia adalah anak bungsu. Saat bertemu dengan ia pertama kali, banyak orang menyebutnya adalah malaikat tetapi, saat Ashley menunjukkan sikap dingin, egois dan menyebalkan hal itu membuat orang - orang terkadang berpikir dua kali.
Ashley memandang foto - foto keluarga yang dipanjang hampir seluruh lorong. Lorong klasik seperti kastil ini adalah ciri khas dari keluarga Wilson. Terkadang Axel dan Ashley mengeluh, betapa kakunya keluarga ini. Terkadang mereka ingin seperti anak muda biasa yang bermain di tempat - tempat bermain di mall bukan, acara minum teh atau pesta dansa yang membosankan.
Sekarang Ashley melewati lorong kamar tamu, salah satu hobinya adalah menguntit Axel. Menguntit Axel adalah salah satu hal yang paling menarik bagi Ashley. Apalagi jika ia menemukan hal - hal yang konyol tentang Axel seperti, bermain games di ruang rahasia yang di mejanya penuh dengan es krim, keripik kentang, pizza dan hal - hal lainnya yang mampu membuat ia keluar dari Evander time.
"Apa kau masih merasa sakit ?" tanya suara pria muda yang tampak tak asing bagi Ashley, siapalagi jika bukan kakaknya. Ashley segera mendekati kamar kakaknya dan memutuskan untuk menempelkan telinganya di depan kamar. "Ini begitu asyik dan mendebarkan Axel." pikir Ashley tersenyum tipis.
"Ada yang ingin kau katakan tuan Axel ?" goda Leah. "Tidak ada tetapi, aku rasa...." kata Axel mantap dan tegas. Ashley mengeleng - gelengkan kepalanya dan berpikir ini sudah masuk dalam lingkup sangat pribadi Axel. Tidak seharusnya ia menguping lebih dari ini. Ia tahu Axel dan ia tahu apa kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh Axel.
Sebuah suara bertanya terdengar di telinga Ashley, "Apa yang kau lakukan ?". Ashley membalikkan badannya dengan cepat dan menemukan Harry, anak kecil seumuran dengannya berdiri di hadapannya dengan penampilan lebih rapi.
"Dan kau...., apa yang kau lakukan ?" tanya Ashley balik sambil menatap tajam Harry. "Melihatmu." sahut Harry singkat sambil menunjukkan senyum sinisnya. "Asal kau tahu, aku tidak bodoh dan lagipula aku tahu bahwa kau sedang menguping." tambah Harry. Ashley nampak terkejut dan berusaha mengendalikan ekspresinya, dia tidak boleh kalah dihadapan Harry kali ini.
"Jika kau tahu bahwa aku sedang menguping, mengapa kau memperhatikanku ?" tanya Ashley balik dengan nada yang dingin. "Karena kau menarik." sahut Harry singkat. Mendengar Sahutan Harry, Ashley memutar kedua bola matanya dan segera pergi.
"Hey ! Kau tidak boleh pergi begitu saja !" teriak Harry. "Ini urusanku, orang aneh !" teriak Ashley sebal, tiba - tiba pintu kamar tamu Axel perlahan dibuka dan menurut Ashley teriakkan itu membuat Axel penasaran. Ashley berada di tengah lorong dan menghadap ke arah kamar tamu Axel.
"Ayo ke sini." kata Harry lirih sambil memberi isyarat dengan menunjuk sebuah lemari kecil yang terletak tak jauh dari bagian tengah lorong. "Kau gila ?" tanya Ashley pelan. "Aku tidak gila tetapi, kau akan dianggap gila jika ketahuan menguping." sahut Harry pelan. "Baiklah." kata Ashley jenggah sambil memutar kedua bola matanya.
Ashley segera masuk ke dalam sebuah ruang di lemari tersebut. Seperti dugannya, Axel keluar dari kamar sambil mengerutkan kedua alisnya lalu, menutup pintu kamar tamu itu kembali. "Sepertinya kita selamat. Ayo keluar." kata Harry kepada Ashley.
Mereka segera keluar dari lemari, "Terima kasih atas bantuanmu, aku akan pergi." kata Ashley kepada Harry. Ashley ingin pergi tetapi, Harry memegang tangannya. "Apa yang ingin kau lakukan ?" tanya Ashley sebal. "Aku sudah menolongmu dan sekarang kau harus menolongku." kata Harry. "Menolong apa ? Jika itu bukan hal yang baik, aku tidak akan melakukannya." kata Ashley dingin. "Kau memang kaku. " kata Harry manja sambil mengerucutkan bibirnya.
"Temani aku ke Selenic Wood malam ini, di sana ada rumah pohon keluargaku. Kau pasti terpesona." kata Harry dengan mata berbinar. "Selenic Wood ?" tanya Ashley. "Yah...., aku memberi nama itu karena bulan terlihat mempesona dari hutan itu." kata Harry.
Ashley menatap wajah Harry, "Apa orang ini bisa dipercaya ?" pikirnya. "Mengapa kau menatap wajahku seperti itu ? Apa karena aku tampan ?" tanya Harry dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Di dalam mimpimu, Harry." sahut Ashley. "Jadi, kau mau menemani aku ke sana ?" tanya Harry. "Umm...., baiklah aku mau menemanimu tetapi, sebentar saja." kata Ashley.