Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
Kelvin Smith



"Ashley belum memilikinya, nek. Lagipula kegiatan Ashley masih banyak." sahut Ashley sambil mengesap secangkir teh. "Benarkah ?" tanya neneknya bersemangat. "Baru kali ini aku melihat nenek bersemangat, biasanya ia akan cemberut dan menyuruhku mencari kekasih." pikir Ashley. "Ini kabar yang sangat baik." kata neneknya.


 


Beberapa menit kemudian, sebuah bunyi dencitan mobil terdengar di telinga kami dan suara gerbang utama dibuka. "Sepertinya mereka sudah datang." kata nenek yang kemudian berjalan menuju ke pintu utama. "Siapa ?" tanyaku kepada Axel. Axel pun hanya mengeleng - gelengkan kepala.


 


Aku pun segera menaikkan pandanganku dan melihat dua orang tua paruh baya yang sepertinya berasal dari klomerat dan...., satu remaja pria seumuranku yang sepertinya adalah anak mereka berdua. "Apa nenek mau menjodohkan ku ?" pikirku ketika melihat remaja pria itu.


 


"Ibu." kataku lirih. "Ya sayang ?" tanya ibu. "Sepertinya malam ini ada tugas kelompok mendadak dan harus dikumpulkan hari esok. Ashley mau pulang duluan." kataku. "Itu, tidak perlu sayang." kata nenek ku yang tiba - tiba muncul dan mempersilahkan keluarga kecil itu bergabung dengan jamuan makan malam keluarga kami.


 


"Tapi nek, tugas ini penting." kata Ashley. "Tapi, tidak sepenting pertemuan kali ini." sahut nenek ceria. "Aku akan menyuruh Haya untuk mengerjakan tugasmu. Tenang saja, Haya adalah pelayan utama keluarga Wilson yang paling cerdas." tambah nenek.


 


Nenek pun segera memanggil Haya dan menyuruhnya untuk menyerahkan tugas Ashley. "Apa kau bisa mengerjakannya ?" tanya Ashley khawatir. "Tenang saja nyonya, saya adalah ahlinya dalam bidang ini. Saya jamin anda mendapatkan nilai tertinggi." kata Haya percaya diri. "Tetapi, itu tugas kelompok Haya." kata Ashley. "Saya sudah menelpon teman satu kelompok nyonya, bahwa nyonya akan mengerjakan secara individual dan guru anda sama sekali tidak keberatan." jelas Haya. "Oh tidak...." pikir Ashley. "Baiklah, kalo begitu saya permisi nyonya - nyonya dan tuan - tuan sekalian." kata Haya dan segera pergi berlalu.


 


"Maaf, tuan dan nyonya Smith." kata ibu. "Akh...., tidak masalah. Semua orang pasti memiliki kesibukannya masing - masing." kata Matteo Smith. "Yah..., gadis anda terlihat sangat rajin berbeda dengan anak bungsu saya yang kerjaannya hanya main games." kata Mary Smith.


 


 


"Kali ini saya...., akan menjodohkan Ashley Wilson dengan Kelvin Smith." kata nenek sambil memegang pundakku. Semua orang langsung terkejut apalagi Ashley.  "Tapi nek...." kata Ashley lirh. "Kau bahagia sayang ? Dia nampak sempurna dan pantas untukmu. Kudengar dia seumuran dengamu dan memiliki segudang prestasi." kata nenek.


 


"Tapi bu, Ibu belum membicarakan hal ini dengan kami." kata ayah Ashley. "Tenang anakku, aku sudah memikirkan sematang - matangnya dan aku tahu bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Lagipula apa kau tahu Ashley ? Kelvin yang memilihmu, betapa beruntungnya dirimu nak !" kata nenel dengan


 


"Shley...." kata Axel yang melihat muka adiknya terlihat semakin pucat pasi. "Kurasa...., aku mau mencari angin dulu." kata Ashley tiba - tiba berdiri dari tempat duduknya dan segera pergi dari ruang makan. "Ashley !" teriak Axel dan Ashley pun menghiraukannya.


 


Ashley segera menelepon supir pribadinya dan ketika mobilnya sudah tiba ia langsung masuk ke dalam. "Ada apa nyonya ?" tanya supir pribadinya khawatir melihat Ashley yang matanya mulai berkaca - kaca. "Aku ingin jalan - jalan malam ini. Tolong bawa aku ke pusat perbelanjaan." kata Ashley dingin.


 


Suasana ruang makan pun mendadak canggung, "Sepertinya...., mereka butuh waktu untuk saling mengenal." kata Mary Smith lirih. "Kurasa itu ada benarnya juga." sahut ibu Ashley. "Nak, cari Ashley mungkin, kau bisa berteman saja dulu dengannya." kata Matteo Smith. "Baiklah, aku akan mencarinya." kata Kelvin dengan nada yakin dan segera pergi menuju mobilnya.