
"Kau yakin ?" tanya Ashley sambil memandang bagian bawah balkon yang terlihat sangat gelap karena terletak di bagian belakang rumah dan ditambah udara dingin malam ini hampir menembus tulang. "Aku yakin, dan tali ini sangat kuat." kata Harry percaya diri sambil memegang tali yang entah sejak kapan sudah dipasangnya di depan bangunan.
"Apa aku bisa mempercayai beruang hutan bodoh ini ?" tanya Ashley lirih sambil melirik Harry. "Tunggu, apa kau baru mengatakan bahwa aku adalah beruang hutan bodoh ?" tanya Harry yang langsung mendatangi Ashley. "Kau mendengar pertanyaanku ?" tanya Ashley balik. "Aku selalu...., mendengarnya." sahut Harry sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ashley.
"Ngomong - ngomong apa yang kau gunakan ?" tanya Ashley mengalihkan pembicaraan sambil menatap kedua benda yang melindungi lutut Harry. "Ini pengaman saat meluncur." sahut Harry percaya diri. "Jadi, kau meluncur menggunakan pengaman tubuh sedangkan aku tidak ?" tanya Ashley mengerutkan kedua alisnya.
"Yah..., bisa dibilang begitu." kata Harry sambil terkekeh pelan. "Woo...., kau ingat perkataan ku bro ? Aku tidak ingin membahayakan nyawaku hanya karena kau menyelamatkan ku secara konyol." kata Ashley sambil memutar kedua bola matanya.
"Benarkah ? Apakah itu hal yang lucu seandainya aku memberitahu kakak mu nyonya Ashley ?" tanya Harry sambil menunjukkan senyum sinisnya. "Aku rasa...., kakak ku tidak akan memarahiku hanya karena menguntit." bela Ashley sambil menatap tajam mata Harry. "Kau yakin ?" tanya Harry lirih sambil membalas tatapan Ashley.
Ashley yang merasa tatapan Harry mengintimidasi segera mengatakan, "Baiklah, aku menyerah tetapi, syaratnya sama. Aku harus menggunakan pengaman tubuh itu." dengan tegas. Harry mengerutkan kedua alisnya lalu, mengatakan, "Baiklah, jika ini keinginanmu nyonya Ashley." sambil melepas satu persatu pengaman tubuhnya.
Ketika Harry memasang pengaman tubuh ke tubuh mungil Ashley, Ashley bertanya, "Kau tidak punya pengaman tubuh cadangan ?". "Jika aku punya mungkin, aku sudah meminjamkannnya padamu." kata Harry sambil memasang pengaman tubuh terakhir yang terletak di lutut kiri Ashley.
"Ngomong - ngomong Ashley, bukankah aku pria muda yang baik ?" tanya Harry tiba - tiba dengan nada bangga. "Baik ? Pria muda ? Omong kosong, kau hanya anak - anak Harry." sahut Ashley. "Yah...., aku tidak seperti dirimu. Tua sebelum waktunya." sindir Harry. "Kau menyindirku ? Kau sama sekali tidak tahu hukum dunia, Harry." sahut Ashley.
"Aku tidak tahu karena aku masih muda." kata Harry. "Dan orang muda punya banyak waktu menikmati hidupnya dan tidak frustasi memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan." tambah Harry. "Persepsi mu seratus persen salah Harry, kau tidak tahu mengenai hal itu. Lagipula apa tahun ini pemain Peterpan diganti olehmu ?" tanya Ashley.
"Asal kau tahu Ashley, menjadi Peterpan berarti menjadi cinta pertama setiap gadis di dunia ini." sahut Harry sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ashley. "Cinta pertamaku bukan Peterpan." kata Ashley sambil menunjukkan senyum sinisnya.
"Apa cinta pertamamu pelayan yang memasak untuk mu ? Atau....., mungkin sebuah buku di perpustakaan ?" sindir Harry. "Itu bukan urusanmu, beruang bodoh." kata Ashley sebal. "Ngomong - ngomong jika aku jadi Peterpan, mungkin di masa depan aku akan menjadi peringkat pertama cowok tertampan, terpanas dan terkaya seperti kakak mu di Evander Time." kata Harry sambil duduk di ujung pagar balkon.
"In your dream, Harry." kata Ashley sambil memutar kedua bola matanya. Harry turun dari ujung pagar balkon dan mengatakan, "Tidak ada yang mustahil di dunia ini, nyonya Ashley." kata Harry dengan nada percaya diri sekaligus menasehati.
"Kau tidak tahu mengenai hukum dunia, Harry." sahut Ashley. "Bla...., bla...., bla...., apalah itu, aku tidak peduli." kata Harry. "Baiklah, jika kau tidak peduli. Ayo kita menyebrang melewati kegelapan malam ini." kata Ashley tegas. "Apa kau sudah berani nyonya Ashley ?" goda Harry sambil mencubit pipi kanan Ashley. "Aww...., sakit tau !" teriak Ashley sambil memukul pelan kepala Harry.
"Kau mau membahayakan pewaris terakhir keluarga Wilson ?" tanya Ashley sebal. "Baiklah, biar aku jelaskan prosedurnya. Kau duluan aku menggiring mu dibelakang, memastikan kau tetap selamat." jelas Harry. Ashley mengerutkan kedua alisnya dan bertanya, "Apa kau bisa dipercaya ?". "Seratus persen aku bisa dipercaya nyonya Ashley." sahut Harry sambil menatap tajam mata Ashley.
"Baiklah...." kata Ashley lirih sambil menghembuskan nafasnya. Ia pun juga memegang benda yang sudah disiapkan agar bisa meluncur dengan tali. "Kau siap ?" tanya Harry. "Kurasa aku...." kata - kata ragu dari Ashley terheti ketika Harry langsung mendorongnya menembus kegelapan malam hutan. "Waaaa !!!" teriak Ashley.
Beberapa menit kemudian, Ashley melihat seberkah cahaya dibalik hutan dan matanya pun membulat sempurna ketika melihat sebuah rumah pohon yang penuh dengan cahaya dan hiasan di tengah kegelapan hutan. Gantungan Ashley pun terhenti dan secara tak sadar kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah pohon itu.
"Bagaimana ? Keren kan ?" tanya Harry yang sudah tiba dari belakang. Ashley pun mengangguk semangat. "Mungkin, aku bisa meminta papa untuk membuatnya." kata Ashley tiba - tiba. "Woo...., nyonya Ashley. Membuat rumah pohon pun harus ada syaratnya." kata Harry sambil mengancungkan jari telunjuknya. "Jangan katakan hal aneh, Harry." sahut Ashley yang merasa bahwa syarat itu konyol.
"Rumah pohon harus ada kenangannya." jelas Harry sambil memperhatikan foto - foto keluarganya yang dipanjang di dalam rumah pohon ini. "Aku juga bisa, mungkin aku akan memanjang foto keluarga besar Wilson dan...., fotoku dengan Axel." kata Ashley percaya diri.
Mendengar hal itu membuat Axel tertawa, "Apa yang lucu beruang bodoh ?" tanya Ashley tersinggung. "Kau serius memajang foto keluarga mu yang kaku di dalam rumah pohon ? Ayolah nyonya, itu sama sekali tidak ada maknanya." jelas Harry. "Kau tidak perlu mengatakan apa pun yang tak kau ketahui." sahut Ashley sambil mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah nyonya Ashley, kau mau keripik kentang ?" tanya Harry tiba - tiba yang entah sejak kapan sudah memegang dua bungkus snack keripik kentang di tangannya. Ashley pun mengangguk. Mereka berdua pun segera duduk di salah satu sisi luar rumah pohon sambil memakan keripik kentang.
"Kau mengatakan padaku bahwa bulan selalu terlihat indah dari sini. Mana bulannya ?" tanya Ashley. "Kurasa tinggal satu....dua dan lihat arah yang kutunjuk." kata Harry sambil memakan keripik kentang. Ashley pun memandang arah yang ditunjuk Harry dan berdecak kagum bahwa bulan purnama terlihat sangat jelas dan indah dari sini.
"Kau serius ?! Ini sangat indah ! Apa kau mau menjual rumah pohonmu padaku ?" tanya Ashley tiba - tiba. "Maaf, tidak bisa nyonya Ashley. Kau harus mencari sendiri kenanganmu." kata Harry dengan nada bijak. Ashley pun mengerucutkan bibirnya lalu, kembali menatap bulan.
Beberapa menit kemudian, Harry melihat jam tangannya. "Kurasa kita harus kembali ke rumahmu, Ashley." kata Harry memperhatikan jarum jam yang terus berdetak dan berjalan. Ashley pun menghela nafas, "Kurasa sudah saatnya tetapi, apa kau berjanji akan mengajakku kembali ke sini ?" tanyanya dengan raut muka sendu. "Aku berjanji." sahut Harry sambil tersenyum.
Mereka berdua pun segera kembalu dengan tali yang sama. Saat sampai di depan balkon mereka memutuskan untuk berpisah. Ashley yang masih penasaran dengan keadaan kakaknya segera menuju ke kamar tamu tetapi, matanya terhentu ketika melihat kakaknya duduk dengan ekspresi serius di sebuah sofa.
"Kenapa kau begitu sendu, Axel ?" tanya Ashley mendatangi kakaknya. "Tidak papa." sahut Axel. "Apa kau ketahuan Aldrich ?" tanya Ashley polos. Mendengar nama Aldrich mampu membuat seorang Axel mengatakan, "Oh ya tuhan !".
"Benar bukan ? Apa yang dikatakannya padamu ?" tanya Ashley. "Ini urusan orang dewasa, Ashley. Satu bulan ini akan menjadi hari yang panjang." sahut Axel. "Kurasa memang iya." kata Ashley sambil menunjukkan senyum tulus yang belum pernah ia tunjukkan untuk siapapun malam ini.