
Axelle Wilson memandang seluruh tamu yang datang di pesta ulang tahun ketujuhbelasnya malam ini. Axelle memang berbeda dari anak muda kaya lainnya. Ketika mereka biasanya pesta di sebuah klub malam atau diadakan gila - gilaan, Axelle malah mengadakan pesta formal yang dihadiri anak - anak klomerat yang berpakaian resmi atau para kerabat ayah dan ibunya yang berasal dari berbagai macam kalangan.
Ketika Axelle sedang asyik memandang tamu undangan dari atas balkon, seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya. Siapa lagi kalo bukan ibunya, nyonya Anneth Adelie Wilson. "Apa yang kau cemaskan, sayang ? Mencari cinderella mu ?" goda ibunya sambil memperhatikan arah mata anak sulungnya itu. "Ayolah ibu, ini bukan saatnya membahas hal itu. Lagipula kurasa untuk malam ini...., jawabannya adalah tidak." kata Axel ketika melihat dua putri Kingston yang sibuk mencari perhatiannya dari lantai bawah sampai - sampai keduanya jatuh ke dalam pancuran cokelat dan mengundang rasa tawa dan kasihan dari para tamu.
Nyonya Anneth memperhatikan kedua putri Kingston dan menghela nafas perlahan, "Sepertinya ibu harus turun tangan kali ini." katanya. "Hati - hati bu." kata Axel. "Tentu saja sayang." sahut nyonya Anneth. "Kurasa yang harus cemas itu adalah kau kakakku.", kata seorang anak perempuan yang tiba - tiba datang. Anak perempuan itu mengenakan dress maroon selutut, sarung tangan sutra yang berwarna senada, high heels ukuran anak kecil dan sebuah pita berwarna emas dan merah bergantung manis di rambutnya yang berwarna brunette. Anak perempuan itu berdiri di samping kakaknya dan merapikan roknya yang menurutnya agak berantakan. "Aku tidak pernah berpikir bahwa kau adalah anak kecil, Ashley." kata Axel tersenyum. "Kurasa tidak." sahut Ashley dingin.
"Menurutmu apa ada cinderella ku malam ini ?" tanya Axel kepada Ashley. Ashley mengerucutkan bibirnya dan mulai menjijitkan kedua kakinya agar melihat para tamu lebih jelas. Dengan matanya yang tajam bak elang, Ashley hanya mengatakan, "Mereka jelek dan palsu.". Selesai mengatakan itu, Ashley berhenti menjijitkan kakinya dan mulai merapikan sarung tangannya. "Jangan sampai ibu mendengar hal itu." kata Axel lirih sambil terkekeh pelan.
"Aku rasa...." kata - kata Ashley terhenti, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ashley yang merasa terganggu segera membalikkan tubuhnya dan betapa kagetnya ia ketika melihat seorang anak laki - laki seumuran dirinya berdiri di hadapannya dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh lumpur , rambut acak - acak an dan yang lebih aneh itu adalah ia tersenyum sambil menunjukkan giginya yang baru tanggal dua di usianya saat ini.
"Siapa kau ?" tanya Ashley sebal bahwa ada seorang anak laki - laki yang menurutnya gila karena telah mengotori dress pesanan khususnya malam ini. "Harry." kata anak laki - laki itu singkat dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Ashley menatap aneh anak ini bahkan, ia merasa tidak sudi untuk memberikan tangannya karena anak bernama Harry itu terlihat sangat kotor.
"Baiklah, kurasa aku tidak ingin membalas uluran tanganmu karena...., kau tau sendiri. Baiklah, namaku Ashley Adelie Wilson." kata Ashley dengan nada angkuhnya. Harry yang mendengar perkenalan dari Ashley hanya berdiam diri dan bibirnya tetap memberikan senyuman.
"Apa kau berpikir anak ini normal ?" tanya Ashley pelan sambil menatal kakaknya. Kakaknya yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya, lalu tiba - tiba ada seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dan memegang pundak Harry.
"Maafkan kelancangan putraku, nak Ashley dan nak Alex." kata wanita paruh baya tersebut tiba - tiba."Akh...., tidak papa." kata Axel tidak nyaman. "Terima kasih, sekarang ayo kita ke kamar tamu dulu. Penampilanmu sudah mirip dengan beruang hutan." kata wanita paruh baya itu kepada Harry dan mereka pergi.
Ashley menatap kepergian Harry dan hal itu membuat Axel bertanya, "Ada apa ?". "Entah...., mengapa aku merasa sudah lama mengenalnya." kata Ashley. "Wanita paruh baya itu, teman akrab ibu kita dan ayahnya adalah pegawai perusahaan ayah kita. Ayahnya memiliki jabatan lumayan tinggi di perusahaan ayah kita." jelas Axel. Ashley yang mendengar itu hanya menganguk pelan. "Apa kau sudah menemukan pangeran berkuda putihmu ?" goda Axel. "Kurasa tidak." sahut Ashley dingin tetapi, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis yang perlahan - lahan muncul di bibirnya.
"Kau senang ?" goda Axel melihat senyuman tipis muncul dibibir adik semata wayangnya yang terkenal dingin itu. Ashley mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Axel. "Kurasa tidak mungkin." sahutnya dingin. Axel menghela nafas perlahan, sambil tersenyum tipis dan membungkuk hormat ia mengatakan, "Maafkan saya yang mulia.". "Permintaan maaf mu diterima." kata Ashley tegas tetapi, tidak bisa menyembunyikan pandangan jenakanya.
"Aww.....", sebuah suara rintihan pelan terdengar di telinga Axel dan Ashley. Axel dan Ashley segera mengalihkan pandangan mereka ke belakang dan menemukan seorang wanita muda seumuran Axel sedang terduduk sambil mengelus pingangnya. Axel yang melihat itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan perasaan masih kaget, ia segera mendatangi wanita itu.
Wanita muda itu segera memegang pundak Axel dan mengatakan, "Tidak perlu. Kalian adalah tuan rumah saat ini, biar kalian bersenang - senang. Aku akan menelepon Aldrich.". Mendengar kata Aldrich, membuat kedua mata Ashley membulat sempurna.
"Apa maksudmu Aldrich Zeasky ?" tanya Ashley. "Yah...., dia kakak pertamaku." kata wanita muda itu sambil berusaha mencari handphone yang terletak dalam tas mungilnya. "Apa aku bisa meminta tanda tangannya atau...., nomor teleponnya mungkin ?" tanya Ashley denga mata berbinar. Ia tahu bahwa Aldrich Zeasky adalah seorang aktor dan penyanyi yang sedang naik daun saat ini.
"Itu....." perkataan wanita muda itu tiba - tiba terpotong, ketika Axel dengan tegas mengatakan, "Ini bukanlah waktu untuk meminta nomor telepon atau tanda tangan Ashley.". Ashley mendengar perkataan kakaknya, langsung menampakan ekspresi pura - pura kaget.
"Maafkan aku. Aku akan segera menelepon dokter." kata Ashley. "Kurasa kau telah menemukan cinderella mu Axel." tambah Ashley sambil mencari nomor telpon dokter pribadi keluarga mereka dan menelponnya. "Kurasa kalian tidak perlu sebaik ini." kata wanita muda itu lirih ketika melihat Ashley menelpon dokter pribadi keluarga mereka. "Tidak papa, lagipula ini kewajiban seorang tuan rumah." kata Axel.
Ashley yang mendengar hal itu hanya mengeleng - gelengkan kepalanya. Pikirnya orang yang jatuh cinta terlihat sangat aneh, ganjil dan memalukan, seperti kakaknya saat ini. Sambil menunggu dokter pribadi keluarga mereka datang, Ashley bertanya, "Jika Aldrich adalah kakak mu berarti kau...., adalah Leah Azesky ?".
Wanita muda bernama Leah itu mengangguk, "Senang bertemu kalian Ashley dan Axel Wilson." katanya sambil tersenyum. "Yah...., aku juga senang bertemu denganmu Leah." kata Axel malu - malu. Ashley yang melihat itu hanya mengeleng - gelengkan kepalanya sekali lagi.
Ia tidak menyangka bahwa kakaknya yang selalu dingin, tegas dan arogan ini bisa berubah menjadi seorang yang pemalu ketika dihadapan wanita secantik Leah. Leah memang cantik, ia mengenakan gaun berwarna hijau muda dengan pita senada yang menghiasi rambutnya yang berwarna blonde.Telapak kakinya pun ditutupi dengan sepatu hak tinggi dengan ornamen rumit yang menghiasi bagian atas kakinya. Ia memang mirip dengan peri hutan yang jatuh dihadapan seorang Axel Wilson.
"Apa kalian baik - baik saja ?" tanya seorang pria paruh baya mengenakan snelli. Pria tersebut nampak tergesa - gesa dan mukanya menampilkan ekspresi khawatir. "Wanita ini." kata Axel pelan sambil memandang Leah yang terduduk tak berdaya.
"Mari kita antar ke kamar tamu." kata pria paruh baya tersebut yang ternyata adalah dokter pribadi keluarga Wilson. "Baiklah, biar aku gendong kamu." kata Axel sambil menatap tajam mata Leah. "Akh...., kau serius ? Aku lumayan berat loh." kata Leah. "Tidak masalah." kata Axel langsung. Leah yang mendengar jawaban Axel nampak terkejut dan sambil tersenyum tipis ia mengatakan, "Baiklah, jika itu yang kau mau.".
Axel pun segera menggendong Leah perlahan dengan bridal style yang harus membuat Leah menahan rasa malunya ketika beberapa tamu lewat menatap mereka dengan ekspresi terkejut, seolah - olah mendapat gosip terbaru lainnya.
Ashley yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan dengan lirih ia mengatakan, "Semoga sukses kak.".