
"Cukup !" teriak Eva sambil membentangkan kedua tangannya. Para murid yang melihat itu langsung menatap wajah wali kelasnya yang sangat aneh bin ajaib. "Aku akui kelas akting mu Kelvin. Kurasa untuk adegan - adegan selanjutnya tidak ada masalah." kata Eva sambil membolak - balikkan kertas naskah. "Dan sekarang...., giliran mu Ashley Wilson." kata Eva sambil memandang Ashley.
"Adegan yang mana ?" tanya Ashley. "Kau berdansa bersama Kelvin. Aku ingin kau menunjukkan sisi bangsawan mu." kata Eva tegas. Ashley pun menghela nafas perlahan, perlahan - lahan Kelvin memeluk pinggang bagian bawah Ashley dan Ashley pun meletakkan kedua tangannya di leher Kelvin.
"Tenang nyonya Wilson...., aku adalah seorang penari terbaik." bisik Kelvin di telinga Ashley dengan nada cukup menggoda. Ashley pun yang mendengar bisikkan itu, segera menginjak telapak kaki Kelvin dan membuat Kelvin mengaduh kesakitan dengan nada pelan.
"Jangan sesekali kau mengangguk." kata Ashley sinis. "Baiklah, baca naskahnya !" perintah Eva. Ashley pun berdehem pelan dan mengatakan, "Tempat apa ini ?" dengan nada khawatir dan memandang ke sekitar. "Tenang Juliet ku, ini adalah tempat yang paling untuk kita berdua." kata Kelvin sambil memandang Ashley dengan raut wajah sayu dan lembut, seolah - olah Ashley adalah salah satu guci keramik kesayangan bibi Ashley.
"Kurasa...., aku harus pergi." kata Ashley pura - pura melihat orang - orang memandangnya. "Mereka mungkin mengira kau gila, karena telah berdansa dengan seseorang tak berwujud." kata Ashley cemas sambil mengigit bibir bagian bawahnya."Tidak, biar mereka menyaksikan di bawah langit bintang dan bulan aku sudah menemukan pendamping hidupku." sahut Kelvin tegas, lembut sekaligus romantis.
"Bravo !!" teriak Eva tiba - tiba langsung berdiri dari tempat duduknya. "Tokoh utama kali ini sungguh mendapatkan perannya ! Baiklah, sekarang tim artistik mulai bekerja lagi dan kalian istirahat sebentar." kata Eva. Ashley pun menghela nafas lega, sulit sekali menghayati peran jika Kelvin harus terlihat seperti Harry.
"Oh ya Ashley !" tambah Eva dengan nada bersemangat. "Ya ?" tanya Ashley membalikkan badannya. "Selesai istirahat, aku akan mengajarkan mu sedikit tarian balet. Kau harus bisa, karena ini adalah poin utama." kata Eva dengan nada centil. Ashley yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah.
Ashley pun segera duduk di samping Anya, "Kurasa itu adalah hal yang bagus, Ashley." kata Kelvin tiba - tiba sambil terkekeh pelan. Ia duduk di seberang Ashley dan Anya. "Terima kasih atas pujian mu, konyol." sahut Ashley sambil memutar kedua bola matanya.
Beberapa menit kemudian, Ashley tiba - tiba ingin ke toilet. "Kau ingin ke toilet ?" tanya Anya. "Ya. Sebaiknya aku meminta izin kepada Eva." sahut Ashley yang langsung berdiri. "Mau kutemani ?" tanya Anya, Ashley pun menggeleng - gelengkan kepalanya perlahan.
"Habis istirahat adalah giliran mu membaca naskah bukan ? Aku bisa sendiri kok, jangan khawatir." kata Ashley dengan nada lembut. "Kuharap kau tidak bertemu dengan makhluk - makhluk aneh Ashley, aku mendengar banyak hal." goda Kelvin sambil menunjukkan senyum sinisnya. "Ya...., ya. Kuharap seperti itu pak tua." sahut Ashley sambil menjulurkan lidahnya. "Hey Ashley ! Jika kau ketahuan seperti itu, kau akan kembali di sekolah kan tata Krama oleh nenek mu." kata Kelvin tetapi, Ashley tidak peduli dan sudah keluar dari kelasnya.
Ashley sekarang berjalan sendiri, di lorong sekolah. Sekolah terlihat lebih sepi karena masing - masing murid latihan persiapan drama per kelas di kelasnya masing - masing sedangkan, anggota khusus pemeran hantu latihan di ruang serba guna. Ashley sebenarnya ingin ke sana tetapi, ruang serba guna terlalu masuk ke dalam dan banyak rumor tak enak mengenai lorong tersebut setiap kali ketika malam hampir tiba, terutama dari para penjaga sekolah. Membayangkannya saja sudah membuat Ashley bergidik ngeri.
Ashley melihat tangan tengkorak tersebut bergerak tetapi, ia berpikir bahwa mungkin ia salah lihat. Entah kenapa Ashley tiba - tiba penasaran, padahal ia termasuk paling takut nonton film horor. Ashley pun kembali ke depan UKS dan dengan sedikit mengintip ia melihat tengkorak itu lagi dan dengan pandangan sangat jelas, Ashley pun melihat tangan tengkorak itu bergerak dengan sendirinya.
"Oh ya tuhan...." kata Ashley lirih sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia memutuskan untuk mundur perlahan dan langsung lari tapi, tiba - tiba dua tangan seseorang memegang pundaknya dengan erat. Ashley yang merasa pundaknya dipegang dengan erat oleh seseorang tak dikenal segera menendang lututnya.
"Aduh !" teriak seseorang itu. Ashley segera memutuskan untuk lari tapi, seseorang itu berteriak "Ini kedua kalinya kau menendang lututku nyonya Wilson !" teriak seseorang itu yang ternyata adalah Harry. "Beruang bodoh ?" pikir Ashley. Ashley pun membalikkan badannya dan melihat Harry mengaduh kesakitan.
Ashley pun segera mendatangi Harry, "Kau baik - baik saja ? Kurasa aku bisa mengobati mu." kata Ashley yang langsung membopong Harry. "Tenang Ashley, tak masalah Chloe bisa mengobatinya." sahut Harry yang berjalan - jalan dengan tertatih - tatih. Harry lupa bahwa tenaga pewaris terakhir Wilson ini memang luar biasa meskipun, ia terlihat seperti remaja cantik, polos dan menakut.
Mendengar nama Chloe membuat Ashley mengangkat kedua alisnya dan dengan nada tegas ia mengatakan, 'Kali ini aku akan mengobati mu. Aku adalah seorang Wilson dan ini memang termasuk pelajaran wajib ku sejak sekolah dasar." Mendengar hal itu Harry mengangkat kedua alisnya dan bertanya, "Cemburu ?".
Mendengar pertanyaan itu mampu membuat kedua pipi Ashley memerah seperti kepiting rebus. "Akh, sudahlah ! Duduk saja di sana !" perintah Ashley sambil mencari - cari kotak obat. Ketika Ashley mengobati lukanya, entah mengapa Harry merasa baru kali ini ia sedekat ini dengan Ashley, padahal waktu kecil ia pernah mencium Ashley di pipi tetapi, entah mengapa kali ini berbeda. Apa karena ia sekarang lebih dewasa ?
"Ashley...." kata Harry lirih. "Umm ?" tanya Ashley sambil mengangkat kedua alisnya. Pandangannya pun masih fokus mengobati luka Harry. "Kau cantik." kata Harry singkat tetapi, mampu membuat kotak obat yang berada di samping Ashley jatuh berantakan.
Suasana pun tiba - tiba canggung, Ashley pun mulai memungut isi kotak obat yang jatuh berceceran. "Biar aku bantu." kata Harry tetapi ditepis oleh Ashley. "Kau luka, aku tidak ingin luka itu tambah parah, ngomong - ngomong aku sudah mengobati luka itu." kata Ashley membalikkan badannya dan segera keluar dari UKS. Ia malu sungguh, ia sangat malu saat ini.
"Apa aku salah ?" pikir Harry sambil menatap langit - langit UKS sekolahnya. Ashley pun segera pergi ke kamar kecil dan ketika keluar ia melihat Harry sepertinya sudah kembali ke ruang serba guna. Ashley pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya dan belajar tarian balet dengan Eva. Semuanya akan berjalan dengan menarik sepertinya pikir Ashley menatap lorong yang mulai menggelap.