
Ashley turun ke lantai bawah dengan raut muka kesal. Kakaknya sungguh mengganggunya kali ini. Ashley duduk di sebuah sofa dan Arthur pun menyerahkan telepon genggam kepada Ashley. "Halo." sapa Ashley. "Hi Ashley ! Bagaimana kabar mu ? Betah di sana ?" tanya Axel dengan nada bersemangat. "Kau mengatakan padaku ada hal yang penting. Apa kau tidak bisa langsung mengucapkannya saja ?" tanya Ashley sambil mengerucutkan bibirnya. "Wohoo...., kau baru sehari di sana dan tidak memperdulikan ku, apa di sana terlalu baik ?" tanya Axel sambil terkekeh pelan. "Tidak juga....," kata Ashley lirih menginggat Chloe. "Tapi, ada apa ?" tambah Ashley.
"Well...., kau pasti ingat dengan lamaran yang dilakukan kakak mu ini bukan ?" tanya Axel. "Tentu saja aku ingat ! Bagaimana ?!" teriak Ashley dengan penuh semangat. "Dia...., menerima ku !!!" teriak Axel gila - gila an, sehingga seluruh pelayan yang berada di ruangan Ashley bertepuk tangan.
"Selamat tuan muda !"
"Gotcha !"
"Tuan selalu yang terbaik !"
Ashley yang mendengar teriakkan kebahagiaan dari kakaknya segera menutup telinganya. "Tolong ya, kalo bahagia dan mau teriak itu beritahu dulu. Kan kasian telinga Ashley." kata Ashley sebal. "Maaf." sahut Axel cengesan. "Jadi semua anggota keluarga sudah mengetahuinya ?" tanya Ashley. "Tentu, dan kau orang terakhir yang mengetahuinya." sahut Axel.
"Mengapa aku harus jadi yang terakhir ?" tanya Ashley sambil mengerucutkan bibirnya. "Yah...., kupikir kau sibuk dengan dia dan...., sepertinya kau juga tidak akan mau mengangkat panggilan dari kakak mu ketika bersamanya. Itu benar ?" goda Axel. "Ya....,ya." sahut Ashley cepat, kakaknya yang satu ini sangat mengetahui mengenai dia sepenuhnya.
"Ngomong - ngomong jika aku melihat kau dengan dia, aku teringat sebuah novel romantis yang kubaca akhir - akhir ini. Mengenai pertunangan paksa seorang bangsawan muda dengan bangsawan lain tetapi, bangsawan muda itu mencintai rakyat biasa." jelas Axel. "Cerita itu banyak dan terlalu murahan, Axel." sahut Ashley sambil memutar kedua bola matanya. "Memang terlalu murahan, tapi kau mengalaminya." sahut Axel. "Dan bagaimana wali kelas mu ?" tanya Axel penasaran, sepertinya ia sudah mengetahuinya.
"Terlalu unik tapi, dia memang luar biasa." kata Ashley sambil menginggat sosok Eva. "Well...., semoga beruntung dengan hal itu." sahut Axel sambil terkekeh pelan. "Baiklah, aku tutup teleponnya. Jaga diri mu baik - baik di sana, terutama untuk satu bulan ke depan." kata Axel kemudian, ia langsung menutup panggilannya.
"Apa maksudnya pernikahannya berlangsung sebentar lagi ?" pikir Ashley sambil memandang telepon genggam dan langsung menyerahkannya kepada Arthur. Ashley mulai menapaki tangga untuk naik ke atas menuju kamarnya tetapi, seorang pelayan mengatakan, "Nyonya, ada seseorang bernama Harry mencari anda diluar.".
Ashley pun nampak terkejut dan dengan tergesa - gesa, ia menuju pintu utama. "Harry ?" tanya Ashley ketika melihat Harry berdiri di depannya dengan penampilan khas anak muda zaman sekarang. "Hi Ashley." sapa Harry canggung. "Apa yang kau lakukan ?" tanya Ashley heran sambil mengangkat kedua alisnya. "Kau tadi nampak kesal, bagaimana kita jalan - jalan malam ini ? Ini permintaan maaf ku." kata Harry. Ashley yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis dan mengatakan, "Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu. Tunggu di sini.". Ashley pun tergesa - gesa menuju ke lantai atas. "Jangan tergesa - gesa !" teriak Harry melihat Ashley yang tergesa - gesa menuju kamarnya di lantai dua.
Beberapa menit kemudian, Ashley datang. Malam ini ia hanya mengenakan pakaian casual tetapi, tetap tidak bisa menutupi kecantikannya. "Ayo !" kata Ashley bersemangat. Arthur yang melihat itu bertanya, "Mau ke mana anda nyonya ?". "Ada tugas penting. Kau tidak menyuruh pak supir untuk mengantarku, aku bersama Harry." kata Ashley dan Arthur pun mengangguk pelan.
Ashley tahu arti anggukan Arthur adalah...., ia akan tetap mengawasinya dengan menyuruh beberapa pengawal untuk menguntit Ashley dari belakang. Ashley tahu bahwa seharusnya kali ini ia cemas tapi, toh sepertinya tidak terlalu menjadi masalah.
"Baiklah...., baiklah. Jika kau tidak mau menjawabnya." kata Harry sambil terkekeh pelan. "Di Evander bagian timur ini ada sebuah tempat yang terkenal dengan bintang - bintang yang terlihat indah di malam hari, aku ingin membawa mu kesana." jelas Harry. "Sepertinya menarik." sahut Ashley sambil tersenyum.
Tigapuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah bukit. "Di sini ?" tanya Ashley. "Yup, kita akan rebahan di rumput -rumput dan melihat bintang dari atas. Kuharap kau tidak merendahkan hal ini nyonya Wilson." kata Axel. "Ya...., aku pernah melihat bintang - bintang tapi, dengan cara yang lebih elegan." kata Ashley. "Ini akan berbeda Ashley, ini lebih bermakna dan...., romantis." sahut Harry.
Mereka berdua pun segera keluar dari mobil. Beberapa menit kemudian, "Ini tempatnya." kata Harry memandang Ashley yang sedari tadi mengeratkan jaketnya. "Di mana ?" tanya Ashley heran melihat pemandang di sekelilingnya hanyalah Padang rumput di sebuah bukit dengan bintang - bintang yang bersinar dengan cantiknya di kegelapan malam.
"Coba dan tiru aku." kata Harry sambil menghela nafas. Harry pun segera rebahan di Padang rumput dan matanya mulai menatap bintang - bintang di langit malam. "Itu pun aku juga bisa beruang bodoh." kata Ashley sambil memutar kedua bola matanya dan rebahan di samping Harry.
Ashley pun mulai menatap bintang - bintang yang bersinar di langit. "Indah bukan ?" tanya Harry yang sepertinya sudah terpesona. "Mereka memang indah." kata Ashley yang menatap satu persatu bintang yang bersinar di malam ini. Entah ada apa dengan perasaan Ashley, ia mengetahui bahwa suasana ini sangat romantis dan...., bahkan ia bisa merasakan angin malam yang membelai lembut tubuhnya dan...., suara nafas Harry yang terdengar tenang dan hangat.
"Kau ingat rumah pohon yang kubuat ?" tanya Harry. "Ya, pertemuan pertama kita." sahut Ashley yang matanya masih fokus dengan bintang - bintang. "Kau tidak pernah berpikir untuk ke sana lagi ?" tanya Harry. "Beberapa kali aku ingin ke sana tapi, talinya membuatku takut." sahut Ashley. "Ya, syukurlah kau terlalu cerdas. Seandainya kau menggunakan tali itu lagi, aku tidak yakin bagaimana keadaan mu saat ini." kata Harry sambil menghela nafas. "Kau masih sering berkunjung ke sana ?" tanya Ashley. "Kedua sepupu ku masih merawatnya di sana. Kapan - kapan jika liburan sekolah aku akan mengajak mu lagi." kata Harry.
Mari kita tinggalkan Harry dan Ashley, tanpa mereka berdua sadari Kelvin malam ini pun mengunjungi Ashley tetapi, pujaan hatinya pun saat ini tidak ada di rumah. Kelvin pun bertanya dengan salah satu pelayan dan pelayan itu mengatakan Ashley mempunyai urusan penting dengan seseorang bernama Harry. Kelvin pun nampak geram dan sambil menghela nafas, ia memutuskan menunggu Ashley sampai ia pulang ke rumah.
Sudah satu jam Kelvin menunggu di ruang tamu tapi, keberadaan Ashley tetap tidak ada. Kelvin pun yang merasa bosan segera menuju kamar Ashley. Saat memasuki kamar Ashley, ia melihat beberapa kertas tergeletak berantakan dan ketika ia membacanya ia tahu...., masalah ini akan semakin rumit.
Sudah satu jam lebih Ashley dan Harry menatap bintang - bintang. Harry melirik jam tangannya, dilihatnya hari sudah semakin gelap. "Ashley, sebaiknya kita pulang." kata Harry sambil melirik Ashley. "Ashley...." kata Harry lirih. Harry pun menghela nafas dan memandang Ashley yang sepertinya ia tertidur. "Yang benar saja...." kata Harry lirih sambil memutar kedua bola matanya.
Harry pun langsung mengeratkan jaket Ashley dan menggendongnya ala bridal style. Harry pun segera memasukkan Ashley ke dalam mobil dengan perlahan. Saat sampai di depan rumah, Harry pun menghela nafas dan sambil memandang Ashley yang sedang tidur nyenyak di belakangnya, ia mengatakan, "Tidur yang nyenyak nyonya Wilson, hari ini memang indah dan selamat datang di Evander bagian timur.".
"Kurasa sebaiknya aku yang menggendongnya." kata seorang cowok yang berdiri di hadapan Harry ketika ia baru keluar dari mobil. "Apa aku percaya padamu ?" tanya Harry sambil menatap tajam cowok itu yang ternyata adalah Kelvin. "Memang seperti itu, dan satu hal yang harus kau ketahui. Jangan memberinya harapan, jika kau tidak bersama dengannya pada akhirnya." kata Kelvin tajam sambil menggendong Ashley menuju kamarnya.