Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
Wilson Family



Saat ini Ashley sedang sarapan pagi. Keheningan dan kententraman ini sudah menjadi suatu hal yang biasa ia lihat pada pagi hari. Pelayan utama, Arthur tiba - tiba mendatangi Ashley. Ashley yang melihat Arthur datang terburu - buru segera mengatakan, "Jika bukan hal yang penting, sebaiknya jangan dibaca.".


 


"Maaf menganggu sarapan pagi anda, nyonya tetapi, tuan utama memberitahu saya bahwa anda harus hadir di makan malam keluarga besar." kata Arthur. Mendengar kata keluarga besar membuat Ashley berdecih kesal, "Baiklah, saya akan datang. Tolong katakan itu pada papa.".


 


"Baik nyonya, apa mau saya tuangkan tehnya ?" tanya Arthur dan Ashley pun mengangguk. "Selalu saja ada yang harus dibahas walau, hari libur." pikir Ashley sambil menghela nafas. Jamuan makan malam  keluarga besar Wilson termasuk tiga besar pertemuan yang paling ingin dihindari Ashley. Sebenarnya ia senang bisa bertemu dengan papa, mama dan Axel tetapi, bertemu dengan anggota keluarga yang lain adalah hal yang paling buruk yang pernah ia lihat.


 


Ada kakeknya yang selalu berkata - kata bijak dan tegas setiap waktu, neneknya yang selalu senang dengan hal - hal yang berkaitan dengan perjodohan, ada paman dan bibinya yang selalu membanggakan anak - anak mereka agar mendapat jatah warisan yang paling besar dan terakhir dan paling membuat Ashley kesal adalah bertemu dengan Charollete dan Allea yang hobi dugem, gonta ganti pacar dan terus berbicara mengenai fashion selama duapuluh empat jam.


 


Ashley memandang jendela dan dilihatnya rintik - rintik hujan mulai turun. Matanya pun nampak mencari - cari sesuatu yang bersembunyi di balik pohon itu. Ashley berbohong bahwa ia tidak merindukannya, sungguh ia sangat merindukan Harry. Pertemuan itu memang singkat, dan Ashley yakin pemuda yang sepertinya sudah berumur enambelas tahun itu pasti sudah melupakannya.


 


"Apa rumah pohon itu masih ada ?" pikir Ashley dalam hati. Sejak kakaknya membahas mengenai Harry, kenangan mengenai beruang hutan itu perlahan - lahan muncul di pikiran dan benak Ashley, seolah - olah seperti sebuah batu yang kemudian dipenuhi oleh air.


 


Ashley berpikir ingin melihat lagi rumah pohon tersebut tetapi, rintik - rintik hujan mengurungkan niatnya. "Sepertinya, aku mengerjakan tugas sekolah dulu mungkin, hujannya akan berhenti ketika aku sudah selesai mengerjakannya." pikir Ashley.


 


Ashley pun segera meninggalkan ruang makan dan menuju ke dalam kamarnya. Sejak berbagai macam pertemuan yang didatangi Ashley, tugas sekolahnya pun menumpuk meskipun, sudah mendapat keringanan dari pihak sekolah. Ashley segera mengambil laptopnya dan meletakkannya di atas kasur. Moodnya mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang baik untuk bermalas - malasan di kasur.


 


Ashley pun mulai mengerjakan tugas biologinya. Beberapa jam kemudian, Ashley sadar bahwa ia sudah menghabiskan waktu mengerjakan tugas biologi selama dua jam. Ashley pun memandang jendela dan sepertinya hujan semakin lebat dan ia berpikir mungkin, lain kali saja. Cuaca terlalu berbahaya kali ini.


 


Ashley yang merasa lelah segera meletakkan laptopnya di meja, mengambil boneka lebah kesayangannya, mengambil selimut dan memutuskan untuk tidur siang. Ini liburannya dan hari ini ia tidak mau diganggu oleh siapapun.


 


 


"Masuklah." sahut Ashley dengan nada malas. Pintu pun dibuka dan menampilkan seorang wanita muda yang dari atas hingga bawah memiliki aura fashionable. "Anda baru bangun tidur nyonya ?" tanya Caline. "Seperti yang kau lihat." sahut Ashley. "Maafkan saya nyonya tetapi, nyonya besar Jane meminta saya untuk mendandani anda kali ini." kata Caline.


 


"Umm..., bukankah ini hanya jamuan makan malam seperti biasa ?" tanya Ashley. "Tidak nyonya, kata nyonya Jane malam ini ada pertemuan sangat penting." jelas Caline. Tanpa aba - aba, Caline menepuk kedua tangannya lalu, kedua anak buahnya yang kembar yaitu, Sara dan Sera muncul. "Malam ini adalah malam yang besar kata nyonya besar, kalian berdua tolong siapkan bak mandi panas dengan berbagai macam aroma bunga terbaik." titah Caline kepada Sara dan Sera. "Baik nyonya." sahut keduanya kompak.


 


Mereka berdua pun segera menggiring Ashley ke kamar mandi. Ketika mengkeramas rambut Ashley, Sera bertanya, "Apa nyonya akan dijodohkan kali ini ?". "Benar juga. Bukankah nyonya besar Jane memang selalu suka membahas mengenai perjodohan ?" timpal Sara.


 


"Aku tidak tahu. Doakan saja apa yang kalian katakan tidak pernah terjadi." kata Ashley lirih sambil memejamkan kedua matanya. Selesai mandi, Ashley segera menuju ruang khusus pakaian, perhiasan, make up dan sepatu untuk Ashley yang berada di sayap barat.


 


"Baiklah, sesuai dengan tren mode saat ini. Saya menyarankan dress ini." kata Celina yang di tangan kananya ada dress merah darah yang menunjukkan punggung Ashley. "Tetapi, jika anda tidak terlalu menyukainya mungkin, dress klasik ini yang cocok untuk anda." tambah Celina.


 


Ashley memandang kedua dress tersebut. "Aku memilih yang ini." kata Ashley menunjuk dress menunjukkan punggung. "Pilihan yang bagus ! Baiklah, sekarang ayo kita mengenakannya. Sara dan Sera tolong bantu." kata Celina.


 


Beberapa menit selesai mengenakan dress, Ashley duduk di kursi rias dan mulai dirias oleh Sara dan Sera. "Anda kelihatan luar biasa, nyonya !" teriak Sara kegirangan. Celina yang melihat itu tersenyum bangga kepada dua anak buahnya.


 


"Baiklah, kenakan high heels ini." kata Celina yang memegang sepasang high heels senada dengan dress yang ia kenakan. Sara dan Sera pun tak luput membawa sebuah kalung dan gelang sederhana yang nampak serasi dengan tampilannya.


 


 


Celina menghela nafas dan mengatakan, "Selesai !". "Anda terlihat sangat cantik, nyonya !" terik Sera kagum. "Bagaimana kita foto bareng ?" tawar Sara. Mereka berdua pun segera mengambil mengambil telepon genggam dan berfoto bersama.