Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
Change {2}



Ashley yang mendengar jawaban dari Axel hanya menghela nafas dan memutar kedua bola matanya. "Mengapa kau bersikap seperti itu ? Harusnya kau mengatakan, terima kasih kakak semoga lamaranmu diterima oleh Leah." canda Axel dengan pura - pura bicara seperti Ashley.


 


"Ya..., ya makasih dan semoga lamaranmu sukses. Btw, apa aku memang akan masuk Eleanor school ?" tanya Ashley sambil mengerutkan kedua alisnya. "Tentu, aku bukan tipikal pria pembohong." sahut Axel. "Wooww....., memuji diri sendiri Axel ?" tanya Ashley. "Tentu saja, mengapa aku memuji orang lain ?" tanya Axel lalu, Ashley mengeleng - gelengkan kepalanya.


 


Beberapa menit kemudian, telepon genggam Axel berbunyi. "Panggilan yang tak bisa ditolak." kata Ashley sambil mengangkat kedua alisnya. "Kurasa...." kata Axel lirih sambil menggeser tanda call lalu meletaknya ke telinga.


"Ya, halo ?" 


"Ya...., ya. Hari esok sepertinya tidak bisa."


"Ya, terima kasih." 


 


"Berpacu dengan waktu hari esok ? Kau tidak bisa menyuruhku." kata Ashley sambil menunjukkan senyum sinisnya. "Siapa juga yang mau menyuruh mu ? Esok kan kau pindah." kata Axel. "Jangan bilang bahwa sekolah itu berada di Evander bagian timur ?" tanya Ashley. "Yup, kau akan tinggal bersama bibi dan pamanmu." kata Axel. "Apa aku tidak bisa tinggal sendiri ?" tanya Ashley sambil mengerucut bibirnya.


 


"Ayolah...., ini pilihan terbaik yang kau punya saat ini. Kau tidak mau kan tinggal bersama Kelvin ? Dia juga pindah ke sana bahkan, lebih dahulu." kata Axel sambil mengangkat kedua tangannya. "Baiklah." sahut Ashley sambil menghela nafas. "Baiklah, aku juga ada urusan. Semangat untuk hari esok !" teriak Axel sambil menggepal tangan kanannya.


 


 


Ashley bangun lebih awal daripada biasanya. Ritual paginya yang pertama adalah merapikan kasur lalu, menyisir rambutnya dan mengikatnya asal - asal an. "Pagi nyonya." sapa salah satu pelayan yang membawa sekeranjang kentang. "Pagi." sahut Ashley.


 


Ashley bangun lebih awal karena ia ingin perjalanan berlangsung dengan cepat dan ia sangat benci lama - lama di dalam mobil karena itu bisa membuat kepalanya pusing. Ashley pun segera pergi kamar mandi, mengisi bak dengan air sampai penuh lalu, memasukkan pengharum berbau Lavender.


 


Ashley melepaskan pakaiannya satu persatu lalu, langsung berendam di dalam bak. "Ini hal yang paling baik." pikir Ashley sambil menghela nafas. Ashley memang memiliki kebiasaan unik, yaitu berendam selama dua jam. Bagi Ashley berendam selama dua jam adalah tradisi yang harus dilakukannya setiap pagi, jika tidak pasti ada hal - hal yang buruk terjadi.


 


Selesai berendam, Sera dan Sara sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sekarang, tugas kami nyonya !" teriak Sara dan Sera kompak lalu, menggiring Ashley ke ruang khusus pakaian. Tigapuluh menit kemudian, Ashley keluar dengan dress selutut dan mengenakan topi bundar. Ia terlihat sangat cantik.


 


"Wah...., anda terlihat sangat cantik nyonya !" teriak Sara dan Sera bersamaan. "Hahah...., ini memang berkat kalian berdua." kata Ashley ramah. "Nyonya !" teriak salah satu pelayan berada di lantai dasar. "Ya ?" tanya Ashley yang berdiri di dekat balkon. "Semuanya sudah dipersiapkan." kata pelayan itu dan Ashley pun mengganguk pelan.