
Ashley, paman dan bibinya sudah tiba di sebuah lorong. "Nah, ini kamar mu." kata bibinya sambil memandang sebuah pintu yang memiliki papan nama bertuliskan Ashley dengan klasik, berwarna merah dan berenda - renda, sangat khas dengan kedua sepupunya.
"Bagaimana ? Papan nama ini bagus bukan ?" tanya bibinya. "Ya, ini dibuat oleh kedua sepupumu. Mereka awalnya ingin membuat warna merah muda tetapi, mengginggat kau selalu mengenakan warna merah diputuskan bahwa papan nama ini dibuat warna merah." jelas pamannya.
"Terima kasih, ini sungguh cantik." kata Ashley sambil memandang papan nama yang dibuat oleh kedua sepupunya. " Ohh...., ini hanya awal. Kau belum melihat bagian dalamnya." kata bibinya bersemangat. Pamannya pun mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan memasukkannya ke dalam lubang pintu.
Pintu kamar terbuka, ketika melihat isi kamarnya mata Ashley membulat sempurna. "Bagaimana ?" tanya bibinya. "Ini juga di desain oleh mereka. Sangat feminim." tambah pamannya. "Aku menyukainya." kata Ashley yang matanya tak henti memandang renda - renda, pita - pita dan warna merah yang memenuhi semua kamarnya.
Beberapa menit kemudian, telepon genggam pamannya berbunyi. "Kurasa ada hal yang penting. Permisi dulu nona - nona." kata pamannya sambil mengangkat panggilan telepon. "Kurasa ada hal yang penting." kata bibinya lirih sambil memandang suaminya yang berbincang dari kejauhan sesekali ia mengerutkan kedua alisnya.
Pamannya sudah selesai menelpon dan langsung menghela nafas, "Apa ada hal yang menggangu mu sayang ?" tanya bibi. "Bukan masalah besar, kedua anak kita mempunyai keluhan mengenai kamar mandi di sana dan sepertinya kita harus membuat kamar mandi pribadi untuk mereka berdua." jelas paman. "Baiklah, kita langsung berangkat. Kau tidak papa sendirian kali ini Ashley ?" tanya bibinya khawatir. "Tidak masalah bibi. Aku cepat beradaptasi." kata Ashley.
"Mengenai dirimu tak ada habisnya, Ashley. Baiklah...., kami berangkat dulu." kata bibinya sambil mengecup pipi kanan dan kiri Ashley. "Baiklah, jaga diri baik - baik paman, bibi." kata Ashley tersenyum. "Selalu." sahut pamannya sambil tersenyum. Mereka berdua pun segera turun menuju ke lantai bawah dan bersiap - siap pergi.
"Siapa ?!" teriak Ashley. "Ini saya, Arthur." sahut Arthur sopan dari depan pintu. Ashley segera membuka pintu dan melihat Arthur dengan dua koper dan satu tas kecil. "Ini milik anda." kata Arthur sopan sambil menyerahkan dua koper dan satu tas kecil. "Terima kasih, Arthur." sahut Ashley berterima kasih. Arthur pun mengangguk dan segera pergi.
Ashley segera membawa dua koper dan satu tas kecil ke dalam kamar, meletakannya di dekat kasur dan mulai membongkarnya. Tas kecil Ashley berisi make up dan meletakannya di meja rias dengan hati - hati. Selesai meletakannya, Ashley pun membongkar koper warna ungu yang berisi pakaian - pakaian santai dan ringan sedangkan, dress dibawa oleh Sara dan Sera diletakkan di ruang pakaian khusus.
Ashley meletakkan pakaian - pakaian tersebut di dalam lemari berukiran rumit. Tiga puluh menit kemudian, Ashley membongkar koper terakhir berwarna merah muda yang berisi buku - buku favoritnya, boneka - boneka kesayangannya, dan aneka ragam pernak - pernik kesayangannya.
Ashley meletakkannya di sebuah lemari kecil dan matanya terhenti, ketika melihat sebuah boneka beruang yang berpenampilan seperti Robin Hood. "Ini pasti hadiah dari mereka." pikir Ashley sambil tersenyum. Sekilas boneka ini mengginggatkannya kepada Harry. Ashley pun merasa lelah dan memutuskan mengganti dressnya dengan pakaian biasa dan tertidur.