
"Saya dengar nyonya akan ikut pekan jurit malam ya ?" tanya salah satu pelayan ramah sambil membersihkan guci kesayangan bibi Ashley. "Yup, kau pernah ikut acara seperti itu ?" tanya Ashley santai sambil menguyah keripik kentang. "Tentu saja saya pernah. Keluarga Wilson menggunakan acara jurit malam untuk pemilihan pengawal nyonya waktu kecil." sahut pelayan itu. "Benarkah ? Lalu siapa yang jadi pemenangnya ?" tanya Ashley yang mulai penasaran. "Tentu saja Arthur. Para pelayan pria lain ketakutan ketika berhadapan mayat palsu yang dilumuri darah hewan. Awalnya pun saya mengira itu mayat asli loh tapi, Arthur langsung mengetahuinya bahwa itu hanya darah hewan." jelas pelayan itu. "Sepertinya menarik." kata Ashley. "Tentu." sahut pelayan itu ramah sambil tersenyum.
"Nyonya, pakaian anda untuk malam esok sudah kami siapkan." kata Sara dan Sera bersamaan. "Makasih Sara dan Sera, pakaiannya casual saja kan ?" tanya Ashley. "Yup, kami pun juga membawakan produk - produk pembersih dan perawatan muka anda supaya tetap cantik dan wangi meskipun, tengah malam dan melelahkan." kata Sara mengebu - ngebu. "Jangan lupa kantong pakaian anda yang bisa digunakan untuk meletakkan senjata." tambah Sera yang tak kalah mengebu - gebu. "Senjata ?" tanya Ashley heran, "Maksud kami senter...." kata Sera. "Ya, senter untuk menerangi jalan." tambah Sara.
Ashley hanya menggeleng - gelengkan kepala mendengar penjelasan kedua pelayan kesayangannya itu. Mereka berdua memang paling perhatian, pikir Ashley. Malam pun mulai larut, Ashley pun memutuskan untuk menuju ke lantai dua yaitu, kamarnya.
Ashley mengunci kamarnya perlahan dan langsung merebahkan dirinya ke kasur. Ketika Ashley baru memejamkan matanya, telepon genggamnya berbunyi. "Siapa yang menganggu tidur tuan putri ?" tanya Ashley sebal sambil mengambil telepon genggamnya. Ashley melihat layar telepon genggamnya dan melihat nama Kelvin tertera di sana.
"Masa bodohlah." pikir Ashley ingin mematikan panggilan dari Kelvin tapi, sebuah suara muncul dari telepon Ashley. "Maafkan aku telah mengatur telepon mu malam ini.", Ashley yang merasa tidak mengangkat telepon dari Kelvin pun nampak heran dan sedetik kemudian ia sadar. Ashley pun hanya menghela nafas, menunjukkan senyum sinisnya dan meletakkan telepon genggam di atas lemari kecil di sampingnya.
"Oke, mungkin malam ini kau tidak menjawab panggilanku. Aku hanya ingin mengatakan, selamat tidur malaikat ku semoga mimpi indah dan satu hal yang ingin kukatakan padamu...., jika Harry benar - benar mencintai mu. Ia akan menolak seribu godaan yang datang padanya." jelas Kelvin dengan suara serak.
"Seribu godaan ? Harry ? Apa kau mabuk ?" tanya Ashley lirih sambil memandang langit - langit kamarnya. "Ini akan menjadi pengalaman baru, Ashley." kata Kelvin lalu, panggilan pun terputus. "Yang benar saja, Kelvin." kata Ashley lirih tapi, beberapa menit kemudian telepon genggamnya kembali berbunyi.
"Oh ya tuhanku ! Apa kau tidak bisa menganggu ku malam ini ?!" teriak Ashley sebal. Ketika ia memandang telepon genggamnya, tertera nama Beruang Bodoh di sana. "Harry !" pikir Ashley senang. Ashley pun segera membuka pesan dari Harry dan mulai membaca pesan darinya, "Selamat malam nyonya Wilson, semoga mimpi indah. Kudengar dari Jack kau mencari ku bukan ? Aku akan menyamar menjadi hantu pekan jurit malam kali ini, dan mungkin selama satu Minggu ini akan jarang bertemu. Kuharap kau tidak menangis dan memanggil seluruh pengawal Evander ketika aku menakuti mu. XoXo Beruang Bodoh mu.".
"Owhh...., ini manis sekali." kata Ashley lembut. "Sepertinya kau membuatku mimpi indah malam ini." tambah Ashley sambil menatap layar telepon genggamnya. Ashley pun meletakkan telepon genggamnya perlahan dan memutuskan untuk mematikan telepon genggam. Ia tak mau semua perkataan Kelvin menganggunya.
Saat ia tiba di sekolah, ia melihat sekolah lebih sunyi daripada biasanya. "Pak, apa hari ini libur ?" tanya Ashley kepada pak supir lalu, tiba - tiba telepon genggam Ashley berbunyi. "Maaf nyonya, saya tidak tahu bahwa hari ini libur dan sekolah mengadakan pekan jurit malam pada malam hari. Tuan muda Kelvin baru datang dan memberitahu saya." kata pelayan itu khwatir kalau dimarahi oleh Ashley.
Ashley yang mendengar itu hanya menghela nafas, mematikan telepon genggamnya dan mengatakan "Ayo kita pulang." kepada supir. Ashley baru tiba di depan rumah lalu, masuk dan segera menuju kamarnya. Ia mengabaikan Kelvin yang duduk santai di depan sofa, memakan keripik kentang dan menonton tv.
"Jangan lupa untuk ganti baju mu, hari ini aku mengajak mu jalan - jalan." kata Kelvin. Ashley pun mengabaikannya. "Tapi, aku juga mengajak Anya." tambah Kelvin sambil memegang telepon genggam. Ashley pun menghela nafas perlahan dan mendatangi Kelvin. "Mana buktinya ?" tanya Ashley. Kelvin pun menyerahkan telepon genggamnya dan memang benar ia mengirim pesan kepada Anya untuk santai bareng di pusat perbelanjaan.
"Baiklah, aku akan ganti baju. Ini demi Anya, ingat itu." kata Ashley lalu, segera pergi ke kamarnya. Ashley selesai berganti baju lalu, Kelvin menatapnya dari atas hingga bawah. "Mengapa kau memandang ku seperti itu ? Apa aku terlihat cantik ?" tanya Ashley sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kau tidak punya warna lain ?" tanya Kelvin heran dan mengerutkan kedua alisnya, melihat Ashley mengenakan pakaian hitam lagi.
"Kau mau acara santai kita diganggu oleh paparazzi ?" tanya Ashley sebal. Kelvin yang mendengar itu menghela nafas perlahan dan mengatakan, "Hari ini mall khusus kita bertiga. Kebetulan aku rela menyewa mahal untuk kita bertiga hari ini.". "Kau serius ?" tanya Ashley. "Apa kau kira aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan keluarga Wilson ?" tanya Kelvin sambil menunjukkan senyum sinisnya.
"Aku tahu hal itu Smith. Ayo jalan." kata Ashley yang segera keluar dari rumah. "Kau tidak mengganti pakaian mu ?" tanya Kelvin sambil mengenakan jaket. "Sekarang ? Atau tidak jadi ?" tanya Ashley sambil memandang Kelvin. "Baiklah, jika itu keinginan mu." kata Kelvin pasrah dan segera mengeluarkan kunci mobilnya.
Sekarang mereka berdua berada di dalam mobil, "Kita di sana paling lambat sampai jam satu saja. Kata para pelayan mu kamu harus pulang agar ada tenaga untuk latihan nanti malam." jelas Kelvin. Ashley yang mendengar itu hanya mengangguk pelan.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di pusat perbelanjaan. "Ashley ! Kelvin !" teriak seseorang dari belakang. Mereka berdua menengok ke belakang dan melihat Anya yang segera mendatangi mereka. "Hi...., Ashley ?" tanya Anya bingung melihat Ashley mengenakan pakaian yang serba hitam. "Kau pasti tahu alasannya." sahut Ashley sambil mengangkat kedua alisnya.