
"Wah...., wah ada apa ini ?".
"Mereka bertiga datang bersama ?".
"Aku sungguh iri.".
"Diam lah, Ashley pasti mendengarnya."
Semua murid menatap Ashley, Harry dan Kelvin yang datang bersama. Tak sedikit, para siswi iri dengan Ashley. "Aku sungguh iri dengan mu Ashley !" teriak seseorang tiba - tiba dari arah samping mereka. Mereka bertiga segera memandang ke samping dan melihat Eva yang menjerit iri.
Malam ini Eva nampak seperti penari dari Spanyol malam ini, rumbai - rumbai dan bulu - bulu yang hampir ada di setiap pakaiannya mampu membuat setiap siswa mengernyitkan alisnya. "Ya, Eva ?" tanya Ashley setengah terkejut meskipun begitu, ia berusaha tetap tenang.
Sambil tersenyum, Eva memandang Ashley dari atas ke bawah sambil menghentakkan ujung kakinya. "Sudah kukatakan bahwa kau pantas dengan gaun ini bukan ?". "Ya, kelihatannya ini sangat sesuai dengan dramanya." sahut Ashley. "Baguslah, ayo !" ajak Eva bersemangat sambil menarik tangan Ashley. Eva membalikkan badannya perlahan dan mengatakan, "Kau juga pangeran." sambil menatap Kelvin.
Harry yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis, "Sob ! Ayo kumpul !" ajak seseorang sambil menepuk pundak Harry. "Kau membuatku terkejut, Julio." sahut Harry sambil menghela nafas. "Kuharap aku punya banyak waktu untuk mu, Ashley." pikir Harry sambil tersenyum tipis.
Ashley saat ini sedang bersiap - siap di belakang panggung. "Tenanglah, kau pasti bisa. Ayo Wilson !" teriak Ashley kecil sambil menyemangati dirinya di depan cermin.
"Oh ya tuhan ku.".
"Semangat !".
Ashley membalikkan badannya dan melihat Anya yang nampak cemas, sambil sesekali mengigit kuku - kuku jarinya. "Apa yang kau lakukan ?" tanya Ashley heran, baru kali ini ia melihat seseorang se cemas ini atau memang belum pernah ?
"Aku hanya sungguh gugup, ini pertama kalinya bagiku. Yah...., pertama kali." kata Anya cemas sambil menghela nafas. Ashley pun tiba - tiba menggenggam kedua tangan Anya dan mengatakan, "Ayolah tenang saja, aku juga gugup tapi, kurasa semuanya akan berjalan baik - baik saja.".
"Tapi....," kata Anya pelan dan agak ragu. "Jika mereka mentertawakan kita, aku bisa melaporkan mereka ke kuasa hukum ku." kata Ashley dingin dan pandangan matanya pun nampak menggelap. "Anya yang mendengar itu hanya bisa membulatkan matanya sambil mengedipkan ya berkali - kali, "Yah...., kurasa bisa.".
"Sob, apa yang terjadi padamu ?" tanya Julio sambil menyeruput es jeruk yang dibelinya tadi. "Apa maksud mu ?" tanya Harry yang mengelap keringatnya dengan handuk berwarna putih. "Kau tidak seperti biasanya." sahut Julio sambil menaikkan sebelah pundaknya.
Harry hanya menghela nafas dan mengatakan, "Yah...., kurasa aku normal saja dan mungkin ada sesuatu hal yang menganggu ku." dengan pelan dan agak ragu. "Soal perempuan ?" tanya Julio sambil menunjukkan senyum mengejeknya.
"Tidak...., tidak. Kurasa jawabannya tidak." sahut Harry dengan nada mengelak. "Ayolah sob, semakin kau mengelak, semakin aku yakin itu adalah permasalahannya." kata Julio sambil kembali menyeruput es jeruknya. "Kau yakin ?" tanya Harry sambil menyipitkan kedua matanya.
"Apa permasalahan mu ? Perselingkuhan ? Ditolak ? Atau...., cinta terhalang kasta ?" tanya Julio yang sepertinya sudah tahu hubungan antara Ashley dan Harry. "Ayolah masalah kasta, kurasa ini zaman modern. Semuanya bisa terjadi apa saja." sahut Harry sambil menunjukkan senyum sinisnya.
"Kau serius ? Bahkan ketika lawan mu sungguh dapat menyeimbangi mu ?" tanya Julio lagi. "Aku pun belum tahu." sahut Harry cuek. "Jangan memberinya harapan, Harry. Kau akan menyakitinya. Perempuan seperti dia mungkin terlihat dewasa, angkuh dan cuek tetapi, orang seperti itu tidak pernah main - main Harry. Pikirkanlah, maju jika kau ingin memperjuangkannya atau mundur jika kau akan menyakitinya." jelas Julio panjang lebar sambil menepuk pundak Hary. Harry pun hanya bisa memberi tatapan kosong dan meneguk salivanya.