Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
Harry Ghost {4}



"Baiklah, semuanya duduk yang rapi." kata Eva yang kali ini berpenampilan layaknya seorang sutradara dan sebuah naskah dipegang di tangan kanannya. Ketika melihat semua murid kelas XI-A sudah duduk dengan rapi, Eva segera mengambil sebuah kursi dan duduk dihadapan para murid - muridnya.


 


"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Angel atas naskahnya." kata Eva sambil bertepuk tangan dengan semangat. Para murid yang melihat Eva bertepuk tangan hanya berdiam diri. "Ayo, mana tepuk tangannya !" teriak Eva bersemangat. Para murid pun lalu bertepuk tangan dengan semangat.


 


Eva pun berdehem kecil dan mengatakan, "Terima kasih atas tepukan tangannya, semua.". Ashley yang mendengar perkataan Eva pun berbisik kepada Anya, "Mengapa dia yang berterima kasih ? Maksudku, mengapa tidak Angel ?". "Karena dia selalu merasa tersanjung, Ashley." sahut Anya dengan suara lirih.


 


"Baiklah...., baiklah. Apa kalian semua sudah memutuskan siapa pemudanya ?" tanya Eva. Semuanya lalu memandang Kelvin. "Kurasa darah seni memang mengalir padaku." kata Kelvin percaya diri dan langsung berdiri. "Benarkah ?" tanya Eva sambil mengangkat kedua alisnya dan menunjukkan senyum sinis.


 


"Dan ini naskah mu." kata Eva sambil menyerahkan naskah kepada Kelvin. "Dan untuk bangsawan wanita yang cantik, siapa yang memerankannya ?" tanya Eva bersemangat. Semua murid pun langsung memandang Ashley. "Aku percaya pasti kau yang akan dipilih, Ashley." kata Anya lirih.


 


"Akh ! Tentu kau yang paling sesuai dengan hal ini nyonya Wilson !" teriak Eva bersemangat. Eva pun langsung menyerahkan naskah kepada Ashley dan berbisik, "Tunjukkan bagaimana sikap wanita bangsawan yang sebenarnya, sayangku.".


 


"Sekarang pemilihan peran lain." kata Eva bersemangat. Empatpuluh menit kemudian, semua peran sudah ditentukan. Anya dipilih sebagai kekasih pemuda, Jeno dipilih sebagai selingkuhan kekasih pemuda dan Jean dipilih sebagai penyihir yang menentukan takdir. Sisanya berperan sebagai rakyat, serigala dan tim artistik.


 


"Sekarang, aku akan memberikan waktu satu jam untuk menghafal naskah hari ini. Hafal sebisa kalian dan jangan lupa...., detil dan penghayatan." kata Eva bersemangat. "Jangan lupa juga, untuk tim artistik ! Kerjakan sekarang ! Waktu tidak dibuat untuk menunggu !" teriak Eva memberi aba - aba.


 


"Sekarang aku butuh tempat yang tenang." pikir Ashley yang duduk di salah satu sudut dalam kelas. Kelvin dan Anya pun mulai mencari tempat yang nyaman untuk menghafal naskah. Para murid XI-A memang benar - benar serius, jiwa menang mereka memang luar biasa pikir Ashley.


 


"Apa kau dengar drama kelas XI-B ?" 


"Mengenai hantu benang merah bukan ?" 


"Akh...., memang romantis tapi, kita yang lebih baik." 


"Ya, prianya ?" 


"Aku belum tahu." 


 


Ashley nampak tertarik dengan percakapan tim artistik yang sedang mengecat pohon dan membuat pintu klasik dengan ukiran rumit. "Apa Harry yang akan menjadi prianya ?" pikir Ashley cemas. "Akh....,  jangan sampai konsentrasi mu buyar Ashley !" pikir Ashley kepada dirinya sendiri sambil menutup matanya dan menghela nafas.


 


Beberapa menit kemudian, rasa penasaran jelas - jelas menganggu pikiran Ashley kali ini. Ashley pun memutuskan bertanya kepada Anya yang asyik meminum air mineral yang dibelinya di sebuah supermarket ketika ingin ke sekolah sore tadi.


 


Ashley pun segera mendatangi Anya dan duduk di sampingnya, "Hi Ashley, sudah menghafal naskahnya ?" tanya Anya ceria. "Enampuluh persen." sahut Ashley singkat. "Kau ?" tanya Ashley sambil memandang Anya. "Dua halaman, ini waktu yang singkat tetapi aku juga membutuhkan penghayatan." sahut Anya sambil terkekeh pelan.


 


"Anya...." kata Ashley lirih. "Kau mau bertanya mengenai Harry ?" tanya Anya langsung yang sepertinya bisa menebak pikiran Ashley dengan tepat. "Bagaimana kau tahu ?" tanya Ashley heran. "Mereka berbicara mengenai pentas teater horor kelas IX-B dihadapan mu dan sudah jelas kau pasti penasaran dengan Romeo mu itu." goda Anya. "Ayolah...." kata Ashley tersipu malu sambil menyenggol lengan Anya.


 


"Tenang Ashley, dia tidak akan ikut. Dia anggota khusus yang akan menjadi hantu." kata Anya. Ashley yang mendengar itu menghela nafas lega, "Terima kasih Anya." katanya. Satu jam kemudian, "Baiklah semuanya waktu telah habis ! Tim artistik boleh istirahat dan sekarang tunjukkan penampilan kalian pemeran !" teriak Eva bersemangat.


 


Semua tim artistik bernafas lega dan mulai mengambil cemilan mereka masing - masing dari dalam tas. Mereka duduk rapi, untuk melihat hasil dari para pemeran. "Sekarang, Kelvin kau mulai baca naskahnya dan Ashley pura - pura lah tertidur." perintah Eva.


 


Ashley pun segera pura - pura tertidur di lantai kelas dan Kelvin pun mulai membacakan naskahnya. Kelvin pun memulainya dengan mengucek - nguncek matanya, seolah - olah ia tak percaya dengan dengan kecantikan seorang bangsawan yang sedang tertidur.


 


 


"Oh tuhanku...., Siapa dia ?" tanya Kelvin pada dirinya sendiri. Ia pun segera mendekatkan dirinya kepada Ashley, dan mulai menyentuh pipinya perlahan. Seakan tersihir dengan kecantikan Ashley, Kelvin pun mendekatkan dirinya ke telinga Ashley dan berbisik, "Siapakah dirimu ? Apa kau hadiah dari Tuhan untukku ?".