Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
Harry Ghost



Hari ini adalah hari kedua Ashley berada di sekolah, semuanya pun berjalan seperti biasanya dan kadang - kadang ia berpikir betapa cepatnya ia beradaptasi meskipun, ada seseorang yang menganggu kehidupan sempurnanya. Ashley memandang jendela yang menampilkan pemandangan daun - daun berguguran pada pagi menjelang siang hari ini.


 


"Semuanya perhatian !" teriak Eva sambil menepuk kedua tangannya. Para murid yang sedang asyik membaca buku atau mengerjakan soal pun teralihkan perhatiannya. "Apa kalian ingat ini minggu apa ?" tanya Eva dengan nada centil dan bersemangat.


 


Semua murid pun saling pandang dan menatap Eva dengan raut muka bingung dan heran. Eva yang melihat para murid - muridnya terlihat bingung segera mengatakan, "Hey kalian semua ! Apa kalian benar - benar lupa ?" tanya Eva sambil mengerutkan kedua alisnya.


 


Semua murid pun mengangguk pelan, Eva pun memegang pelipisnya dan sambil menghela nafas perlahan ia mengatakan, "Ini pekan kemenangan !" dengan nada bersemangat.


 


Pekan kemenangan ? 


Memang ada sekolah kita mengadakan acara seperti itu ? 


Pekan....


Seingatku ada pekan olahraga, acara minum teh bersama dan....


 


"Eva, apa sekolah kita memiliki acara pekan kemenangan ?" tanya salah satu murid bernama Soria. Eva pun lagi - lagi menghela nafas perlahan dan menunjuk sebuah piala yang terletak di atas lemari. "Ohh...., maksud anda acara jurit malam ?" tanya salah satu murid yang baru sadar.


 


"Yup, dan karena kita menang, aku menyebutnya pekan kemenangan." kata Eva. "Sekarang cari pasangan jurit malam kalian. Satu tim dua orang dan jangan lupa...., kita harus mengumpulkan pita sebanyak - banyaknya agar piala ini tetap jadi milik kita hingga kalian lulus nanti." jelas Eva.


 


Ini adalah sebuah kompetisi.


Wohoo...., ini menarik. 


Kita akan menang lagi kali ini. 


Darahku terasa lebih panas daripada biasanya. 


Ayo kelas XI-A ! 


 


Eva pun menepuk kedua tangannya dan mengatakan, "Ayo semuanya ! Bagi kelompok kalian dan tulis di papan tulis. Simpan semangat dan keagresifan kalian untuk hari esok !" teriak Eva. Para murid pun yang awalnya bersemangat mendadak menjadi diam.


 


"Kita satu tim kan ?" tanya Ashley kepada Anya. "Tentu, tapi itu tidak masalah ?" tanya Anya sambil memandang Kelvin yang menatap tajam Anya. "Apa ada masalah Kelvin ?" tanya Ashley. "Tidak papa, tunggu sebentar." sahut Kelvin.


 


Kelvin pun segera mendatangi Eva dan membisikkan sesuatu. Eva yang mendengar bisikkan Kelvin hanya mengerutkan kedua alisnya dan mengangguk setuju. Kelvin pun kembali ke tempat duduknya dengan santai sambil lagi - lagi membaca komik.


 


"Baiklah, perhatian semuanya !" teriak Eva. "Hari ini salah satu teman kita mempunyai saran yang menarik mengenai masalah yang sering terjadi. Bagi kalian yang ingin satu tim tiga orang, sekarang kuperbolehkan !" jelas Eva bersemangat.


 


 


"Tapi, kau belum berbicara dengan kami dulu !" teriak Ashley sebal. "Itu adalah keputusan final, nyonya Wilson." sahut Kelvin sambil menatap tajam Ashley. Ashley pun menghela nafas dan Anya mengatakan, "Tidak masalah, lagipula kita butuh seseorang untuk memanjat pohon nantinya.".


 


"Memanjat pohon ?" tanya Ashley dan Kelvin bersamaan. "Yup, jurit malam di sekolah ini kadang - kadang lumayan ngeri dan ekstrim." sahut Anya santai. "Ngeri dan ekstrim ?" tanya Ashley bergidik ngeri. "Apa kau bisa menjelaskan pekan kemenangan...., maksudku jurit malam lebih detil ?" tanya Kelvin.


 


Anya pun berdehem kecil dan mengatakan, "Jurit malam diadakan seminggu di sekolah, tenang saja kita diperbolehkan pulang setiap pagi tapi, dari pukul lima sore hingga jam duabelas malam kita berada di sini. Acaranya sederhana saja, mulai dari siapa pembuat api unggun lebih cepat per kelas, lomba teater horor per kelas dan paling seru adalah acara puncak yang dimulai dari jam sepuluh malam sampai jam duabelas yaitu, mencari pita.".


 


"Apa kau bisa menjelaskan lomba mencari pita ?" tanya Kelvin penasaran. "Lomba mencari pita itu sebenarnya lomba sederhana saja sih, kita satu kelas dibagi beberapa tim lalu, mencari pita yang diikat di pohon - pohon dan saingan kita adalah tim yang berasal dari kelas lain. Acara tersebut lebih seru ketika hantu - hantu palsu bermunculan dan...., berebut pita dengan tim dari kelas lain." jelas Anya sambil terkekeh pelan.


 


"Apa kalian sudah menulis semua tim ?!" tanya Eva tiba - tiba sambil mengetuk papan tulis dengan spidol. "Sudah !" teriak seluruh murid bersamaan. "Apa kalian punya usul mengenai teater horor yang kita tampilkan nanti ?" tanya Eva. Semua murid pun saling pandang, "Bagaimana jika kisah hantu yang dulunya merupakan bangsawan tua yang dibunuh oleh suaminya lalu, suatu hari ia bangkit akibat seorang pemuda membuka kutukannya yang mana ia tertidur lelap dalam sebuah bunga mawar ?" tanya Angel. Murid kelas XI-A yang juga terkenal sebagai penulis.


 


Semua murid yang mendengar saran Angel nampak mengangguk setuju. "Kurasa itu ide yang bagus...." kata Eva pelan. "Tapi, apa lebih baik jika bangsawan muda itu juga seorang penari balet ?" tanya Eva dengan semangat. "Dia selalu memasukkan unsur tari di setiap pertunjukkan kelas kita." kata Anya lirih kepada Ashley. Ashley yang mendengar itu hanya mengangguk pelan.


 


Semua murid pun saling pandang, antara heran, unik dan setuju. "Bagaiman ? Jika kalian diam saja itu artinya kalian setuju." kata Eva langsung. Para murid yang mendengar keputusan Eva yang berlangsung hanya lima menit hanya bisa diam dan pasrah tapi, sepertinya penari balet bukan hal yang buruk.


 


Beberapa menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Para murid pun segera berhamburan keluar kelas. "Bareng ?" tanya Anya. "Tentu." sahut Ashley mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua pun segera menuju kantin bersama - sama.


 


Saat sampai di kantin, Ashley melirik penjuru ruangan untuk mencari Harry. "Kau mencari dia ?" tanya Anya sambil mengambil potongan salad. Ashley pun mengangguk pelan. "Mungkin dia termasuk anggota khusus." sahut Anya. "Anggota khusus ?" tanya Ashley penasaran sambil memandang Anya.


 


"Yup, anggota khusus yang menyamar menjadi hantu di setiap sudut jurit malam. Mereka sepertinya sedang latihan untuk menakut - nakuti setiap tim kali ini." kata Anya sambil terkekeh pelan. "Ohh...." kata Ashley dengan raut muka kecewa.


 


"Hey ! Ashley !" teriak seseorang. Ashley pun segera memandang orang yang memanggilnya dan ternyata itu Jack yang duduk sendiri di salah satu sudut kantin. Ashley dan Anya pun tanpa aba - aba langsung duduk di seberang Jack.


 


"Jadi, dia anggota khusus ?" tanya Ashley langsung. "Ayolah...., makan dulu makanan mu Ashley." kata Jack sambil menguyah roti. "Kau suka roti itu ?" tunjuk Anya. "Yup, ini enak sekali. Aku tidak pernah bosan untuk memakannya." sahut Jack.


 


"Ngomong - ngomong Ashley, ia memang anggota khusus dan sekarang sedang latihan. Aku harap kalian hati - hati dengan hantu Harry." kata Jack tajam. "Itu tidak terulang lagi." sahut Anya tajam sambil memutar kedua bola matanya. "Apa maksud kalian ?" tanya Ashley heran sambil memandang Anya dan Jack.


 


"Biar kujelaskan nyonya Wilson, Harry adalah penyamar yang handal. Banyak orang menangis ketakutan gara - gara dia setiap jurit malam dan sepertinya kali ini Harry pun akan membuat orang kerasukan." canda Jack sambil terkekeh pelan. "Kurasa kita akan melihatnya nanti." sahut Ashley sambil tersenyum sinis.