
"Nyonya, sebentar lagi pertemuan akan dimulai."
"Nyonya, malam ini ada akan makan malam dengan direktur utama Xeaxi."
"Nyonya, pagi ini anda ada jadwal les upacara minum teh."
"Nyonya...."
"Nyonya...."
"Nyonya...."
"Tidak !!" teriak Ashley tiba - tiba ketika salah satu pelayan utamanya membacakan jadwal yang harus dilakukannya pada hari ini. Mendengar teriakkan Ashley membuat pelayan utama itu terkejut dan mengatakan, "Apa anda baik - baik saja nyonya ?" dengan nada khawatir. Ashley menghela nafasnya perlahan sambil menatap tajam pelayan utama tersebut, ia mengatakan, "Aku baik - baik saja, Arthur. Tolong ambilkan es krim berukuran besar, aku ingin istirahat." kata Ashley. Mendengar itu pelayan utama segera mengangguk dan pergi.
Sekarang Ashley telah menginjak kelas dua sma. Sebenarnya ia ingin home schooling tetapi, ayahnya tidak memperbolehkan karena ia takut bahwa putri kecilnya menjadi seorang anti sosial. Ashley membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size miliknya, "Aku memang harus istirahat." pikirnya sambil memejamkan kedua matanya.
Beberapa menit kemudian, seseorang membuka pintu kamarnya tanpa mengatakan permisi. "Pelayan mana yang kurang ajar masuk ke kamarku tanpa permisi ?!" pikir Ashley sebal. "Siapa...." kata - kata dingin Ashley terhenti ketika melihat kakak semata wayangnya masuk ke dalam kamar.
"Kurasa aku masuk ke dalam kamar tuan putri, apa kau akan memarahiku ?" tanya Axel sambil menatap adik semata wayangnya. "Huh..., ternyata kau Axel." kata Ashley yang kembali merebahkan dirinya ke kasur. Axel yang nampaknya memahami kondisi adiknya kali ini, segera duduk di tepi kasur.
"Bagaimana ?" tanya Axel lembut. "Apanya ?" tanya Ashley balik. "Jangan kira aku tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan saat ini." kata Axel. Ashley menghela nafas, "Ini berat. Terlalu berat." katanya datar. Axel mendengar itu hanya tersenyum. "Bukankah kau selalu bersikap seperti memiliki hati es ?" tanya Axel. "Tapi, aku juga remaja. Aku juga ingin seperti teman - temanku. Aku sudah bosan berperilaku seperti ini, seharusnya ayah menyuruhku home schooling daripada sifat dinginku teradisasi oleh teman - teman satu kelas." jelas Ashley.
"Apa maksudmu soal cinta ?" tanya Axel. Mendengar hal itu membuat Ashley menunjukkan smirknya, "Jangan konyol Axel. Aku terlalu sibuk dan tidak sempat mengurusi hal - hal konyol dan absurd seperti itu." katanya dengan nada mengejek.
Tiba - tiba ada seseorang mengetuk kamar Ashley. "Siapa ?" tanya Ashley nyaring. "Saya Arthur nyonya, saya sudah membawakan es krim berukuran besar untuk anda." kata Arthur nyaring dibalik pintu."Masuklah." kata Ashley. Arthur pun segera masuk dan langsung menyerahkan es krim berukuran besar kepada Ashely. "Maaf tuan, apa anda ingin sesuatu ?" tanya Arthur yang menyadari adanya Axel.
"Kuharap ibu tidak melihatmu." kata Axel. "Sudah pasti." sahut Ashley singkat. "Jadi, apa kau mau ?" tanya Ashley. "Tidak, terima kasih." sahut Axel. "Well..., well sepertinya aku menyambut kedatangan seorang bangsawan malam ini." sindir Ashley. "Terima kasih atas sindirannya, Ashley." sahut Axel sebal.
"Bagaimana kalo kita main catur ?" tanya Axel. "Sepertinya menarik." sahut Ashley. Axel pun segera mengambil kotak catur yang terletak di dalam lemari Ashley dan mereka berdua pun segera memainkannya. Di pertengahan lomba, Axel mengatakan, "Kau ingat Harry ?".
"Harry ? Bocah yang kutemui waktu kecil itu ?" tanya Ashley yang pandangannya masih fokus dengan permainan catur. "Ya, dia. Kau tahu di mana dia sekarang ?" tanya Axel. "Tidak, pertemuan pesta ulang tahunmu itu adalah pertemuan yang pertama dan terakhir. Selesai pesta, aku kembali sibuk." jelas Ashley.
"Kau tidak merindukannya ?" tanya Axel dengan nada serius. "Merindukannya ? Jangan konyol deh tuan Axel !" kata Ashley sambil terkekeh pelan. Axel mendengar itu hanya tersenyum tipis dan mengatakan, "Kau berbohong.". "Berbohong ? Tidak - tidak, aku tidak berbohong. Itu hanya pertemuan singkat, ganjil dan aneh." sahut Ashley. "Tapi, berkesan bukan ?" tanya Axel balik.
Mendengar itu Ashley hanya tersenyum tipis. "Berhenti membohongi dirimu, Ashley. Aku tahu kau karena aku adalah kakakmu." kata Axel. Ashley menunjukkan senyum tipis dan menanyakan, "Apa kau mau membantuku ?" dengan nada serius.
"Beberapa bulan ini aku mengetahui di mana keberadaan Darling mu itu." kata Axel. "Buat apa kau mencarinya ?" tanya Ashley. "Tidak sengaja, waktu itu aku sedang nongkrong di kafe dan muka familiar itu menyapaku." kata Axel. "Apa dia bertanya tentangku ?" tanya Ashley. Axel memandang tajam Ashley dan sambil menghela nafas ia mengatakan, "Tidak, dia hanya bertanya bagaimana kondisi ayahnya.".
"Ngomong - ngomong dari mana kau tahu itu dia ? Bukankah penampilannya agak berantakan saat bertemu dengan kita ?" tanya Ashley. "Insting, Ashley." sahut Axel singkat. "Kau terlalu unik dan aneh." kata Ashley tiba - tiba. "Dan kau adikku yang paling unik dan aneh." kata Axel.
"Yah..., yah. Kau menang." sahut Ashley memperhatikan catur. "Aku memang selalu luar biasa." kata Axel membanggakan dirinya karena telah menang dari adiknya. Tiba - tiba telepon genggam Axel berbunyi, "Kurasa aku kembali sibuk. Baiklah, selamat tidur adikku. Jangan terlalu memikirkan apa yang kukatakan." kata Axel lembut. "Bodoh sekali jika aku memikirkannya." sahut Ashley sambil menaruh catur kembali ke dalam lemari.
Axel pun segera keluar kamar. Ketika Axel sudah keluar, Ashley menghela nafasnya lagi - lagi ia harus merindukan hari itu. Apa Ashley rindu Harry ? Tentu, Ashley merindukan dia tetapi, ia selalu berpikir itu hanya pertemu singkat dan laki - laki seperti Harry pasti sudah melupakannya.