Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?

Do You Want to be My Boyfriend or (Boy)friend ?
When We Meet Again



Ashley merasa semua hal sudah dikepak dan siap menuju ke daerah Evander bagian timur tetapi, ada hal yang membuatnya heran. Para pelayan yang berada di rumah ini, juga berkepak dan membawa segala hal yang berkaitan dengan diri mereka sendiri.


 


"Kalian akan ke mana ?" tanya Ashley kepada tiga pelayan yang membawa koper berwarna cokelat masing - masing. "Nyonya tidak tahu ?" tanya salah satu pelayan berambut ikal heran, dan Ashley pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


 


Mereka bertiga saling pandang dan tersenyum. Salah satu dari mereka mengatakan, "Tentu kami mengikuti nyonya.". Pelayan yang berambut ikal itu juga menambahkan, "Paman dan bibi anda sama sekali tidak tahu menahu bagaimana anda, baik yang anda sukai dan anda tidak sukai jadi, kakek anda menyuruh kami semua mengikuti anda. Kebetulan di halaman belakang ada kastil tua berukuran besar.".


 


"Benarkah ?! Syukurlah !" teriak Ashley tenang. Ia tak habis pikir, seandainya ia dilayani pelayan bibi dan paman yang mungkin sama sekali tidak paham mengenai dirinya. "Nyonya, anda sebaiknya masuk ke dalam mobil !" teriak Arthur. Ashley pun mengangguk dan bertanya, "Kalian akan naik apa ke sana ?". "Kakek anda sudah menyiapkan bis untuk kami semua." jelas salah satu pelayan. "Baiklah." kata Ashley sambil mengangguk lalu, pergi menuju halaman rumahnya.


 


Tak terasa hari ini datang juga, hari di mana ia akan meninggalkan rumah ini. Rumah indah  sudah menjadi kediaman Ashley sejak umur enam tahun sebagai pewaris terakhir keluarga besar Wilson. Ashley hanya bisa menghela nafas ketika bayangan rumah tersebut mulai menghilang dari pandangannya.


 


Selama perjalanan, Ashley hanya mendengarkan lagu dari mobilnya sambil memandang pemandangan alam yang terus - menerus nampak dari pandangannya. "Senang nanti berada di sana nyonya ?" tanya supir pribadinya. "Tentu, apa kau memiliki gambaran mengenai kota itu ?" tanya Ashley penasaran.


 


"Sebenarnya saya...., tidak terlalu tahu mengenai kota itu. Setahu saya kota itu penuh dengan pemandangan alam dan kota yang selalu mendung. Ayah anda sempat berpikir untuk memasukkan anda ke Eleanor School tetapi, ibu anda berpikir mungkin saja anda memiliki gaya anak kota dan keputusan ayah anda tidak terjadi." jelas sang supir dan Ashley hanya bisa mengangguk.


 


 


Dua jam kemudian, "Nyonya bangulah." kata supir. Ashley pun mengucek - ngucek matanya perlahan, ini pertama kalinya ia tertidur di dalam mobil biasanya ia akan merasa pusing dan mual tetapi, entah mengapa kali ini tidak. "Apa kita sudah tiba ?" tanya Ashley setengah sadar. Supir tersebut hanya mengangguk.


 


Ashley memandang rumah yang akan dia diami selama beberapa tahun ke depan. Rumah tersebut tidak kalah besar daripada rumah utama dengan pagar berukuran besar seperti seolah - olah mengatakan bahwa, "Pencuri dilarang masuk !" dan taman bunga yang terlihat indah tetapi, tak sedikit jebakan dipasang sekitarnya.


 


Ashley turun dari mobil perlahan, menuju ke gerbang utama. Ketika Ashley tiba, sebuah suara tiba - tiba bertanya dari sebuah benda yang tertempel di depan pagar, "Dengan siapa ?". "Ashley Wilson." sahut Ashley. "Password ?" tanya benda tersebut. Ashley menghela nafas, didekatkan dirinya ke benda tersebut dan dengan lirih ia mengatakan sandi rahasia keluarga Wilson.


 


Beberapa detik kemudian, pagar berukuran besar tersebut dibuka selebar mungkin. Pintu rumah tersebut mendadak dibuka dan memperlihatkan bibi dan pamannya yang ingin menyambutnya. "Ashley !" teriak bibinya. "Sudah lama tak ke sini bukan ?" tanya pamannya dan Ashley pun mengangguk semangat sambil memeluk bibinya.


 


"Baiklah Ashley, silahkan masuk." kata bibinya semangat. Ashley pun segera masuk dan ketika masuk rumah ini dipenuhi dengan benda - benda terbuat dari kaca kesukaan bibinya. "Anggap seperti rumah sendiri, Ashley." kata pamannya.


 


Ashley memandang keselilingnya dan merasa ada yang kurang, "Di mana mereka ?" tanya Ashley menginggat mengenai kedua sepupunya yang mungkin langsung heboh dan menarik tangannya menuju ke kamar. "Mereka sekolah di luar Evander, itu keputusan mereka." kata bibi. "Lagipula paman juga memiliki keluarga di sana." tambah pamannya.