Dimenticare

Dimenticare
9.I'm Here!



-*I'm please.Anggap aku ada dan anggap aku sebagai tempat bersandar-


-Arasya Dafina Mangalitsa*- 


•••


Tampak seorang lelaki tengah tersenyum-senyum sendiri di balkon kamarnya dengan ponsel di telinga kanannya.  Lelaki itu tertawa kecil dan berbicara, "Gue sayang lo. "


Iya.  Gue tahu.  Gue juga sayang lo.


"Cinta nggak? "


Nggak!  Ngapain cinta sama lo.


"Seriously?  Kalau gue selingkuh gimana? "


Gue bakal mutilasi selingkuhan lo!


"Katanya nggak cinta.  Kok segitunya?"


Emang cinta harus diungkapkan ya? 


"Kalau buat lo, HARUS. "


Masak?


"Masak apa? "


Whatever.


"Oke. Gue bakal selingkuh. "


Berani selingkuh?


"Be-berani. Siapa takut?! "


Oke.  Kalau lo selingkuh gue bakal selingkuh!


"Gue bakal bunuh selingkuhan lo!Tuttttt.


Wildan melangkah masuk menuju kamarnya dengan kesal.  Lelaki itu sudah pasti tak ingin kekasihnya bermesraan dengan orang lain.  Hanya ia yang boleh bermesraan dengannya.  HANYA DIA.


Dddrrrrttttt


Ponsel Wildan bergetar menandakan ada seseorang yang meneleponnya.  Lelaki itu mengambil ponselnya dengan senyum yang merekah. Berharap jika Arasya akan menghubunginya.  Namun, itu semua hanya harapan.  Wajahnya berubah menjadi datar.  Ia langsung menekan tombol merah dan membuang ponselnya.


Dddrrrrtttt


Wildan mengambil ponselnya lagi.  Lelaki itu masih berharap jika Arasya akan menelponnya.  Namun hanya sia-sia.  Ia kembali menekan tombol merah dengan kesal.  Ia menutup matanya perlahan.


Kenapa baru sekarang telepon aku?


Dddrrrrtttt


Wildan membuka matanya dengan cepat lalu menekan tombol hijau dengan kesal dan mendekatkan ponselnya di telinganya.  Lelaki itu menunggu seorang di seberang sana berbicara terlebih dahulu.  Ia menunggu seorang itu namun masih diam.


" Kalau nggak ada yang di bicarain.  Saya tutup! "


Setelah mendengar ancaman dari Wildan, seorang disana pun berbicara.  Membuat lelaki itu terkejut dan jantungnya berdebar seketika.


"Oke."


•••


Arasya berkali-kali menelepon Wildan namun tak juga di angkat.  Gadis itu sebenarnya ingin menelpon Wildan saat lelaki itu memutuskan sambungan dengan sepihak.  Namun ia tiba-tiba di panggil Arani untuk makan malam.  Mau tak mau ia harus menelepon setelah makan malam.  Dan sekarang kekasihnya itu tak bisa dihubungi.  Rasa khawatir serta cemas merasuk ke relung hatinya.


"Lo kemana sih, Dan? " Gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Bikin gue khawatir aja.  Apa jangan-jangan lo ngambek sama gue?" Gumamnya lagi sambil mengecek ponselnya bersamaan dengan seorang menelepon.


"Halo, Abi? "


Hai, Ra.


"Ada apa? Kok tiba-tiba telepon? "


Bisa ketemu nggak?


"Bisa. Mau bicara ya? "


Iya.


"Tentang? "


Ngomongnya di Cafe Mahoni aja.  Gue tunggu.  Bye.  Tutttttt.


Rasanya Arasya ingin mengumpat.  Namun, karena rasa penasarannya lebih besar.  Ia memutuskan untuk berganti baju dan langsung menuju Cafe Mahoni.


"Ma, Pa.  Ara ke Cafe dulu.  Nggak lama kok? " Pamit Arasya sambil mencium tangan Arani dan Arya.


"Mau kencan ya? " Goda Arya.


"Nggak. Mau ketemuan sama teman kok, " Jawab Arasya dengan jujur.


"Ngaku aja lah, " Celetuk Arani sambil mengunyah cake strawberry.


Arasya melirik jam dinding sekilas. "Ara udah terlambat, Ma, Pa.  Arasya pergi dulu.  Assalammualaikum, " Pamitnya sambil mencium pipi Arani dan Arya.


"Anak muda zaman sekarang, " Ujar Arya sambil menggelengg-gelengkan kepalanya.


•••


Abigail tak sabar menunggu kehadiran Arasya.  Lelaki itu berkali-kali menatap pintu cafe.  Semoga saja gadis itu cepat datang dan datanglah Adanya dengan napas tersenggal-senggal memasuki cafe. 


Abigail melambaikan tangannya agar Arasya tahu kehadirannya.  Gadis itu berjalan dengan napas ngos-ngosan lalu langsung duduk di kursi depan Abigail tanpa menyapa lelaki itu dahulu.


"Pesenin gue minuman.  Yang terpenting dingin, " Suruh Arasya yang masih ngos-ngosan.


"Tunggu bentar, " Abigail beranjak dari kursi lalu menuju bar cadel dan memesankan minuman untuk Arasya.


Abigail memilih menunggu.  Lelaki itu menatap Arasya dengan lekat.  Kenapa gadis itu sangat cantik?  Beruntung sekali Wildan mempunyai pacar yang baik serta bonus cantik.


"Mas, ini minumannya, " Abigail tersentak kaget dengan cepat menormalkan keterkejutan dengan mengambil minuman.


"Makasih, Mbak, " Ujarnya sambil menyerahkan uang dan melangkah menuju mejanya.


"Nih, " Sodor Abigail langsung diterima Arasya dan di minumnya sampai habis.


Abiagol tersenyum kecil. "Kenapa? " Tanyanya cukup penasaran.  Kenapa Arasya berlari-lari di malam hari?


"Makasih, " Ucap Arasya menghiraukan pertanyaan Abigail sambil meletakkan gelas yang sudah kosong.


"Lo kenapa? " Tanya Abigail lagi.


"Gue kan kesini pesen ojek online kan.  Biar tarifnya murah.  Terus pas sampai di cafe.  Ehhh, mas-masnya malah kabur gitu aja.  Kan gue belum bayar dia.  Masak dia udah nganterin gue terus gue nggak bayarkan.  Jadi nggak enak.  Terus gue kejar deh sampai depan sana, " Cerita Arasya dengan wajah polosnya.


Abigail tertawa mendengar cerita Arasya. "Lo baik banget deh, " Pujinya diakhiri senyum manis.


Arasya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya, nge-fly. "Makasih atas pujiannya, " Katanya.


Tak mendapat jawaban dari Abigail, Arasya bertanya lagi cukup keras. "Lo mau ngomong apa? "


"Untuk sementara lo jauhin Wildan dulu. "


•••


Arasya memikirkan makna yang dikatan Abigai kemarin malam.  Gadis itu mulai pagi ini akan menghiraukan ucapan Abigail kemarin malam.  Ia duduk di teras perkarangan rumah.  Biasanya Wildan akan datang sebelum ia menunggu.  Tapi, kali ini tidak. Ia jadi cemas sendiri.


Brumm brumm


Suara motor dari jauh terdengar dari rumah Arasya.  Gadis itu mengambil tasnya lalu dengan semangat melangkah ke depan gerbang. Ia membuka gerbang dengan senyum yang merekah.  Namun, senyumnya tiba-tiba luntur.  Ternyata yang menjemputnya adalah


"Abigail? "


"Selamat pagi, Ra, " Sapa Abigail sambil melepaskan helmnya.


"Pagi, " Jawabnya lesu. "Wildan kemana? " Tanyanya berharap.


"Dia katanya nggak bisa jemput lo, " Jawab Abigail sambil menghidupkan mesin motornya. "Ayo naik, " Jawabnya sambil menepuk jok belakang.


Arasya mengangguk pasrah lalu menaiki motor Abigail dengan wajah cemberut. "Jangan ngebut-ngebut, " Ujarnya.


"Iya. Tenang aja, " Ujar Abigail sambil menjalankan motornya.


Lo ngambek ya sama gue.  Gara-gara gue niat selingkuh?


•••


"Lo kenapa sih, Ra? " Tanya Sami  dengan khawatir.  Tak biasanya gadis itu diam saat masuk sampai pelajaran berlangsung.  Dan saat istirahat, sama pun.


"Gue nggak apa-apa kok, " Jawabnya mencoba menutupi rasa gelisahnya kepada Wildan.


"Cerita aja sama kita-kita, " Sahut Zizi dari belakang sambil membawa nampan berisi bakso.


"Iya. Lo ada masalah sama keluarga apa sama Wildan? " Pancing Rika sambil membantu Zizi menaruh bakso di meja.


Arasya menatap ketiga temannya lekat, meyakinkan. "Gue nggak apa-apa, " Jawabnya yang masih menutupi perasaannya.


Ketiga temannya hanya menghela napas pasrah.  Itulah sesuatu yang ada diri Arasya, mampu menyimpan perasaannya dalam-dalam ketika dia sedang ada masalah.


Arasya seketika tersenyum senang.  Gadis itu beranjak dari bangku lalu melangkah mendekati seseorang yang dirindukan nya, Wildan.


"Dan? " Sapanya saat berpapasan dengan Wildan. Lelaki itu berlalu begitu saja, mengabaikan sapaan dari Arasya. 


Arasya menatap punggung Wildan yang mulai menjauh.  Seketika air matanya turun dengan tiba-tiba.  Rasanya sesak.  Sesak sekali. 


Lo kenapa, Dan? 


•••


Arasya berkali-kali menelepon Wildan dan mengirim pesan.  Namun, tak ada balasan apapun.  Ia khawatir.  Ia cemas.  Ia gelisah.  Ia takut.


Mungkin Arasya harus meminta maaf kepada Wildan.  Oleh karena itu, gadis itu akan menuju ke rumah Wildan.  Ia merebahkan tubuhnya lalu meraih ponselnya dan mendekatkan ponselnya di telinganya.


Ada apa, Ra?


"Bi, lo tau dimana rumahnya Wildan?"


Gue tahu.  Emang kenapa


"Nggak apa-apa sih.  Cuma mau tahu aja. "


Oh.  Gue kirim lewat chat aja ya.


"Oke." Tuttttt


Ting!


Arasya menekan chat pribadinya dengan Abigail.  Terdapat satu pesan dari lelaki itu yang berisi alamat Wildan.  Setelah mengetahui alamat kekasihnya, ia segera bersiap-siap untuk menuju rumah kekasihnya itu.


Dan, gue akan kesana.  Gue bakal minta maaf.  Dan gue nggak akan coba-coba buat selingkuh.  Gue sayang lo.


•••


Arasya turun dari mobil Ardan lalu melambaikan tangannya ketika Abangnya pergi.  Gadis itu menatap rumah besar itu dengan gugup.  Ia menarik napas lalu membuangnya.  Ia takut dan gugup.  Ia melangkah menuju  perkarangan rumah Wildan.  Namun, dicegah oleh satpam rumah kekasihnya itu.


"Mbak, siapa ya? " Tanya satpam itu sambil mengamati tampilan  Arasya.


"Saya pacarnya Wildan.  Wildan ada di dalam, Pak? "


Jawabnya serta tanyanya.


"Ohh, mbak Arasya.  Ada di dalam kok, " Jawab satpam itu sambil membukakan gerbang.


Arasya heran.  Kenapa satpam itu mengenalnya?  Apa jangan-jangan Wildan menceritakan.  Gadis itu jadi malu sendiri.  Ia tersenyum sambil melangkah memasuki rumah besar itu.


Tok tok tok


Arasya mengetuk pintu dengan pelan.  Gadis itu menempelkan tanganya di pipi kanannya, dingin. Tandanya ia  sungguh gugup. 


Tiba-tiba ada yang membuka pintu membuat Arasya tersentak lalu menyiapkan dirinya.


"Cari siapa ya, mbak? " Tanya salah satu pembantu.


"Wildan. Saya pacarnya, " Jawabnya sambil tersenyum.


"Silahkan masuk.  Mas Wildan nya ada di kamar.  Langsung saja ke kamarnya, " Ujar salah satu pembantu itu langsung di angguk oleh Arasya.


"Kamar Mas Wildan ada di atas paling kiri.  Saya tinggal dulu ya mbak. "


Arasya menaiki tangga satu persatu dengan santai sambil melihat-lihat rumah kekasihnya itu.  Yang dapat ini tangkap, rumah besar namun terasa hampa.  Ia sampai di lantai 2.


Paling kiri.


Arasya melangkah menuju kamu Wildan dengan jantung berdegup kencang.  Gadis itu sampai di depan pintu kamar bercat hitam itu.  Ia ingin mengetuk pintu kamar tersebut namun tertahan saat mendengar suara.


"*Dan, aku tahu perasaan kamu. "


"Kita mempunyai permasalahan yang sama. "


"Aku janji.  Aku akan jadi tempat bersandar kamu dan akan ada selalu di sisi kamu. "


"Aku sayang kamu. *"


Deg!


Arasya memberanikan membuka pintu kamar dengan pelan.  Air matanya turun.  Dadanya terasa sesak.  Hatinya sakit.  Pemandangan yang tak harus ia saksikan.


Ran mencium kening Wildan lalu memeluk erat sahabatnya itu.


Arasya menutup lagi pintu itu dengan pelan.  Gadis itu menyenderkan tubuhnya di tembok lalu terduduk lemas di lantai.  Ia menutup wajahnya lalu menangis tanpa suara.  Inikah yang dinamakan cemburu?


Menurut kamu, aku ini apa?  Aku kekasih kamu.  Aku disini untuk kamu.  Aku bisa jadi tempat bersandar kamu.  Aku bisa jadi tempat keluh kesah kamu.  Aku mohon, aku disini. Berbalik lah ke belakang dan peluk aku sesuka hati kamu.


•••