
*Perasaan aneh itu seketika menjalar sampai ke relung hati. Entah itu perasaan apa. Yang pasti aku tak mau berpikir panjang tentang itu.
-Arasya Dafina Manglitsa*-
•••
Kediaman Keluarga Mangalitsa
"Ra,gue lagi putus cinta nih?"adu Ardias sambil duduk di samping Arasya.
"Hubungannya sama gue apa?"tanya Arasya tak mengalihkan pandangannya dari TV.
"Gue curhat lah. Lo mah nggak pekaaan sama Abang sendiri. Apalagi sama pacar lo,"cibir Ardias sambil mengganti Chanel TV. "Ehh..emang ada yang mau sama lo?"lanjutnya dengan sinis.
Arasya menimpuk kepala Ardias dengan remote TV--membuat sang empu meringis. "Mirror,Bang! Gue mah udah laku nggak kayak lo!"pamernya dengan bangga.
"Emang ada yang mau sama lo? Cantik aja engga. Jelek iya,"cibir Ardias sambil melihat penampilan adiknya dengan jijik.
Terlanjur kesal dengan sang kakak,Arasya menarik rambut Ardias sampai ke bawah. Tak memberi ampun. "Sukurin lo!"ucapnya disusul tawa yang menggema.
"Aduh. Lepasin tangan lo dari rambut gue yang membahana ala-ala artis luar negeri,"Ardias mencoba melepaskan tangan Arasya yang menarik rambutnya dengan kuat.
"Bodo amat!"
Ardias berpikir sejenak kemudian lelaki itu menarik rambut Arasya sebagai pembalasan. "Impas. Wleeee!"
"Abang! Lepasin! Rambut panjang gue yang super wow jadi rusak,"ringis Arasya sambil menambahkan tarikan rambut Ardias.
"Lepasin tangan lo dulu. Baru gue lepasin. Awwww."
"Aduhh. Iya-iya. Ini gue lepasin,"Arasya melepaskan tangannya bersama dengan Ardias melepaskan tangannya.
"Rambut gue rusak kan!"sentak Arasya sambil melotot ke Ardias.
"Rambut gue juga rusak!"sentaknya sambil melotot ke Arasya.
Kini kakak beradik itu tengah pelotot-pelototan mata entah sampai kapan. Tak ada yang mau mengalah dari keduanya. Hingga ada suara seseorang.
"Assalamualaikum."
•••
Kediaman Keluarga Nagaswara
Wildan mencondongkan tubuhnya yang bertumpuan dengan pagar balkon kamarnya. Lelaki itu merasakan angin malam menusuk-nusuk kulitnya. Ia menghembuskan napas seketika teringat dengan Ara-nya.
"Takdir memang sulit untuk di tebak apalagi dibayangkan,"gumamnya sambil membayangkan senyum Ara-nya yang sangat manis.
"Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang cukup unik,"senyumnya seketika muncul di wajah tampannya.
Wildan merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Lelaki itu menatap ponselnya, menunggu pesan dari seseorang. Tapi sejak dari tadi tak ada notifikasi darinya. Akhirnya ia memutuskan untuk meneleponnya.
Iya?
"Jangan tidur malam-malam,"ujarnya dengan seseorang di seberang sana,Arasya.
Iya.
"Besok aku tetep antar jemput kamu tapi aku turunin di halte deket sekolah."
Makasih. Aku tutup dulu.
"Bentar!"
Ada apa lagi?
"Good night. Nice dream. Bye."
Iya. Aku tutup dulu. Bye- tutttttt
Wildan menghela napas dengan gusar. "Cuek tapi bikin kangen,"gumamnya sambil melangkah memasuki kamarnya.
•••
Kediaman Keluarga Mangalitsa
"Bang Ardan,Ara kangen banget sama Bang Ardan,"Ara langsung memeluk saat mengetahui siapa yang merusak acara pelotot-pelototannya.
Ardan,Kakak pertama Arasya yang berumur 25 tahun. Lelaki itu membalas pelukan sang adik. "Long time no see,Babe."
Arasya melepaskan pelukannya lalu menjulurkan tangannya. "Oleh-oleh,"tagihnya membuat Ardan terkekeh.
Ardan mengusap lembut rambut panjang Arasya. "Di mobil. Diambil aja semuanya,"ucapnya dengan senyum.
"Oke,"Arasya berlari menuju mobil Ardan.
Ardan melakukan tos dengan Ardias lalu duduk di samping adiknya. "Gimana kabar lo?"tanyanya.
"Nggak baik. Gue disiksa sama tuh bocah,"adunya sambil bersedekap dada.
Ardan terkekeh ringan."Gue nggak bakal di siksa sama Ara. Soalnya gue buka musuhnya kayak lo!"
"Ara udah gede. Jadi nggak usah Lo manja aja,"kesal Ardias saat mengingat Ardan sangat memanjakan Arasya.
"Gue mau bu-
"Bang Ardan, makasih banget,"teriak Arasya lalu memeluk Ardan.
"Iya. Sama-sama. Suka kan sama oleh-oleh?"tanya Ardan sambil mengusap rambut panjang Arasya.
Arasya mendongak dengan senyum yang tercetak di wajahnya. "Seneng banget,Bang. Makasih buat Hoodie sama dressnya,"jawabnya sambil melepaskan pelukannya.
"Nih. Oleh-oleh lo,"Arasya melemparkan paper bag dengan kesal.
"Masih kesel sama gue? Gue juga sama. Masih kesel sama lo!"
"Apa?!"
Arasya menghentakkan kakinya kesal lalu menuju kamarnya sambil membawa paper bag.
"Tuh bocah udah punya pacar,"bisik Ardias sambil melihat Arasya yang tengah menaiki tangga.
"Apa?!"
•••
Kelas X-7 IPA
Wildan meletakkan kepalanya di meja. Lelaki itu semalam bergadang bermain free fire. Sampai kantung matanya tercetak dengan jelas. Ia menatap Abigail yang asik dengan ponselnya.
"Semalam gue main free fire sampai jam 3 pagi,"ujarnya memulai obrolan diantara mereka berdua.
Abigail meletakkan ponselnya di atas menjatuhkan lalu menatap penampilan Wildan yang lumayan berantakan. "Kuker amat sih lo! Main free fire sampai jam 3 pagi. Lo nggak bisa tidur apa?"omelnya.
Wildan mengangkat kepalanya kemudian melipatkan kedua tangannya di atas meja lalu meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya.
"Gue emang nggak bisa tidur. Obat tidur gue habis,"jawabnya sambil menutup matanya.
"Berhenti ketergantungan sama obat tidur. Itu bisa memengaruhi kesehatan lo,Dan,"tak henti-hentinya Abigail menasihati Wildan yang keras kepala.
"Bodo amat. Gue mau tidur. Jangan ganggu gue!"ancamnya kemudian memasuki alam mimpi.
Dengan iseng,Abigail memotret Wildan tengah tidur pulas. Lelaki mengambil gambar Wildan sekitar 5 buah. Langsung di kirimkan ke Arasya sambil menahan tawanya.
Abigail: Send picture (5)
Tak lama balasan dari Arasya langsung dibacanya.
Arasya:So cute
•••
Halte bus
Arasya memajukan-mundur kakinya sembari menunggu Wildan. Gadis itu melirik jam yang tertera di tangannya. Sekitar 8 menit,ia sudah menunggu lelaki itu. Tapi,tak kunjung datang.
"Wildan kemana sih?!"kesalnya sambil berdiri lalu menatap jalanan yang ramai.
"Gue harus ke perpustakaan sebelum gelap. Dan,Lo kemana sih?!"gerutunya sambil menunduk kepalanya.
"Sorry."
Arasya mendongak sambil menghampiri Wildan dengan kesal. "Lo lama. Kemana aja lo!"kesalnya sambil memakai helm yang di serahkan oleh Wildan.
"Ngejalanin hukuman,"jawabnya jujur.
Arasya menaiki motor Wildan. "Hukuman apa?"tanyanya basa-basi.
"Piket kelas,"jawabnya sambil melajukan motornya. "Langsung balik?"tanyanya.
"Ke perpustakaan daerah dulu,"jawab Arasya sambil menikmati semilir angin.
Wildan melirik sekilas Arasya lalu tersenyum tipis. Rambutnya terbang-terbang. "Pegangan gue mau ngebut."
"Ehh...kok ngebut sih!"Arasya langsung memegangi tas Wildan.
"Biar cepat sampainya,"jawab Wildan sambil menambah kecepatan kemudian berhenti di depan perpustakaan daerah.
"Aduh!"tanpa sadar tangan Arasya melingkar di pinggang Wildan.
"Gimana sih lo!"
"Sorry. Lo mau posisi kayak gini terus?"Wildan melihat tangan Arasya melingkar di pinggangnya membuat jantungnya berponpa tak seperti biasanya.
"Sorry. Gue nggak sengaja. Itu juga gara-gara Lo,"belanya sambil turun lalu memberikan helm kepada Wildan kemudian melangkah memasuki perpustakaan meninggalkan Wildan.
Anjir,anjir,anjir.Kenapa gue harus meluk Wildan dari belakang?
•••
Perpustakaan daerah lantai 2
"Lo yakin mau baca ini semua?"tanya Wildan tak percaya.
Arasya mengangguk lalu merenggang otot-otot bersiap untuk belajar. "Iya. Cuma buku 2 doang mah gue yakin,"jawabnya sambil membuka buku pertama tentang sejarah.
"2 buku tapi tebel-tebel.,"gumamnya sambil menguap.
"Jangan ajak bicara gue. Jangan ganggu gue,"Arasya memperingati Wildan.
Wildan mengangguk lalu meraih ponselnya. Lelaki itu bergulir di dunia Maya untuk melampiaskan rasa bosannya. Ia menyimpan kembali ponselnya ketika tak ada hal yang menarik. Ia menguap sambil memajukan kursinya dan menyenderkan tubuhnya. Ia menutup matanya karena tak kuat menahan rasa kantuk.
10 menit berlalu,Arasya masih fokus dengan bukunya. Gadis itu sampai tak sadar ada Wildan di sampingnya saking asiknya membaca. Hingga ada benda berat di pundaknya membuatnya menoleh. Ia terkejut ketika Wildan menyenderkan kepalanya di pundaknya.
"Kepalanya kok bisa di pundak gue sih!"gumamnya sambil menatap Wildan yang tengah tertidur pulas.
"Berat lagi!"tak tahan dengan beban yang ada di pundaknya,ia mendorong kepala Wildan agar menjauh. Tapi,malah kepala lelaki itu hampir terantuk meja.
Arasya dengan sigap menahan kepala Wildan lalu menyenderkan di bahunya. "Dasar nyusahin!"gumamnya sambil menatap Wildan sampai tak sadar ia telah terhanyut oleh wajah polos itu.
Deg!
Jantung gue kenapa? Ish, pasti gara-gara ni bocah. Bodo amat. Gue mau lanjut baca.
"Arasya?"
•••