
-*Hadiah kecil saja membuatku terus memikirkan kamu-
-Arasya Dafina Mangalitsa*-
•••
Cup
Wildan tersenyum puas lalu melangkah dengan santai meninggalkan Arasya. Gadis itu diam, mematung. Ia mencari kesadaran yang telah hilang akibat ulah Wildan!
Arasya memegangi pipi kanannya yang baru saja dicium oleh lelaki selain keluarganya. Jantungnya bergemuruh hebat. Kesadaran mulai kembali lalu berteriak kepada Wildan yang masih belum jauh.
"WILDAN KENAPA LO NGAMBIL FIRST KISS GUE! " teriak Arasya kesal.
Arasya berlari menghampiri Wildan. Tapi, lelaki itu pun ikut berlari. Terjadilah saling kejar mengejar.
"Kalau bisa tangkap gue! " Tantang Wildan sambil menjulurkan lidahnya.
Arasya berdecak kesal. "Gue bisa tangkep lo! " Teriaknya sambil mempercepat larinya.
Wildan berlari mundur. Lelaki itu menjulurkan lidahnya. Ia sedikit memperlambat tempo larinya. Jarak antara nya dengan Arasya semakin dekat.
"Ara, ayo tangkap gue, " Katanya sambil tersenyum senang.
"Gue bisa tang-
Kaki Wildan tiba-tiba terkilir dan tangannya reflek menarik tangan Arasya. Lelaki itu memegang pinggang Arasya dan gadis itu memegang pundaknya. Mereka berdua saking bertatapan dalam diam.
" Kalian berdua? "
•••
"Cepat jelaskan sekarang! " Tegas Arya saat melihat kedua remaja itu diam.
Arasya tak menyangka jika Papanya akan ke sekolahan. "Tad-
"Maaf, om. Saya dan Ara pacaran, " Potong Wildan terlebih dahulu.
Wajah Arya berubah menjadi bahagia lalu memeluk sang putri. "Ya ampun. Ternyata putri Papa udah besar ya? " Senangnya.
Mulut Arasya menggangga tak percaya dengan sikap dramatis Papanya ini. Gadis itu menatap Papanya bingung lalu menarik Wildan keluar dari kantin sekolah.
"Papa lo ternyata lucu ya? " Ujar Wildan sambil melihat ke belakang. Melihat Arya yang memelas ditinggalkan oleh kedua remaja itu.
"Bodo amat, " Jawabnya sambil mempercepat langkahnya.
"Kita mau kemana? " Tanya Wildan kebingungan.
"Ke Aula lah! "
Wildan melirik jam di pergelangan tangannya sekilas. "Sebentar lagi belajar pulang bunyi. " Ucapnya membuat Arasya berhenti.
"Kenapa nggak bilang dari tadi! Kalau gitu,ayo pulang! " Ajaknya menarik lagi tangan Wildan. Lelaki itu hanya bisa pasrah.
Wildan tersenyum kecil. Rasanya senang sekali bersama dengan perempuan yang ia cintai. Lelaki itu tak henti-henti untuk tersenyum sambil menatap Arasya dari belakang. Rasanya ia ingin membawa gadis itu pulang dan dapat sepuasnya melihat wajah cantik nan manis itu.
"Mana kunci motor lo, " Arasya menyodorkan tanganya ke Wildan.
Wildan merogoh sakunya lalu memberikan kunci motornya kepada Arasya. "Emang lo mau boncengin gue? " Tanyanya.
"Ya nggak lah! Nih! " Arasya mengembalikan kunci motor milik Wildan.
"Lucu " Gumam Wildan sambil menaiki motornya.
•••
Arasya menatap ketiga temannya malas. Kenapa ketiga temannya datang ke rumahnya? Gadis itu tak habis pikir saat melihat ketiga temannya dengan wajah memelas.
"Kalain ngapain sih kesini! " Ucap Arasya sambil bersedekap dada.
"Numpang makan dong! Kan kemarin Papa sama Mama lo datang, " Jawab Rika tak tahu malu.
"Iya nih. Perut gue udah keroncongan, " Timpal Sami sambil mengusap-ngusap perut datarnya.
"Cepet sediain makanan buat kita bertiga! " Suruh Zizi sambil tersenyum miring. Layaknya bos yang menyuruh pelayaannya.
Rasanya Arasya ingin menabok ketiga temannya itu. Gadis itu terpaksa melayani ketiga temannya karena di suruh oleh Arani,Mamanya. Ia bangkit dari duduk menuju dapur.
Ketiganya tertawa puas melihat wajah yang ingin menerkam namun tertahan.
"Serasa punya babu, " Ucap Zizi sambil tertawa cekikikan layaknya kuntilanak.
"Babu baru! " Timpal Sami di susul tawanya.
"Nggak boleh gitu sama temen sendiri kok dibilang babu. Nggak baik tau. Kalau mau lebih baik kita suruh-suruh lagi, " Celetuk Rika sok bijak eh ujung-ujungnya.
"Bagus tuh, " Sami menberikan jempol kepada Rika.
"Kalian pasti ghibah gue kan? " Tebak Arasya yang membawa nampan berisi jus serta cemilan.
"Nggak kok! " Ujar mereka serempak dengan tampang polosnya.
Arasya tahu ketiga temannya itu berbohong. Gadis itu rasanya ingin lagi dan lagi menabok ataupun memutilasi ketiga temannya namun tertahan oleh teriakan sang Mama.
"Ara, tolong bantuin Mama! " Teriak Arani dari dapur.
Arasya kesabarannya telah diuji. Gadis itu langsung menuju ke dapur untuk membantu sang Mama. Ia memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia yakin saat ia di dapur temannya akan tertawa puas. Ia melangkah lagi.
Tawa ketiga sukses memenuhi kamar Arasya.
"Kasihan banget dah si Arasya, " Zizi berkata setelah tawanya mereda lalu memakan camilan yang telah disediakan.
"Betul juga tuh! " Timpal Sami sambil menyeruput jus.
"Kenapa Tante Aran harus mecat para pembantu saat dia kembali? " Tanya Rika bingung.
Zizi dan Sami mengangguk bersama.
"Mama gue mecat pembantu karena dia ingin mengurus keluarganya sendiri tanpa ada bantuan orang lain. Lagian biar nggak ada penghianat juga, " Ucap Arasya tiba-tiba membuat ketiganya tersentak kaget.
"Lo ngagetin aja, " Sami mengusap dadanya.
"Kalau ghibah itu yang bermutu, " Sahut Arasya sambil menyeruput jusnya.
"Misalnya? " Tanya Zizi sambil mengunyah.
"Misalnya ini, " Rika menyodorkan ponselnya.
Ran__
Foto Wildan dan Ran sangat dekat
❤📩
228 suka
Ran__ Dia satu-satunya yang bisa mengerti aku❤ @Wildan_N
Lihat semua 12 komentar
Wildan_N You to❤
Ran__ Thanks☺
Dada Arasya tiba-tiba sesak. Entah apa yang terjadi dengannya. Ia tak tahu. Yang pastinya ia tak suka jika Wildan begitu manis dengan cewek lain walaupun cewek itu sahabatnya.
"Ra, kita mau pamit dulu, " Pamit Zizi disusul Sami dan Rika.
"Iya, " Ucapnya pelan lalu ikut beranjak.
"Lo nggak usah anterin kita ke depan. Lo disini ada, " Sami memberhentikan Arasya lalu melangkah keluar bersama kedua temannya dan menutup pintu kamar.
Arasya merebahkan tubuhnya di kasur. Gadis itu menatap langit-langit kamar dengan nanar. Entah perasaan apa yang menyelimutinya. Tiba-tiba saja air matanya turun perlahan. Padahal ia tak mau menangis. Kenapa ia menangis?
"Gue kenapa? "
•••
Ra?
"Apa?! " Ketus Arasya pada seseorang di seberang sana.
Lo kenapa?
"Gak apa-apa. Langsung to the point! " Kesalnya kepada Wildan yang meneleponnya terlebih dahulu.
Arasya tidak tahu mengapa ia berbicara ketus dan kesal secara tiba-tiba.
Nanti malam jam 7 kosong?
"Ya. Kenapa? "Tanyanya mulai dengan nada biasa.
Nanti malam gue mau ngajak lo dinner, boleh kan?
Arasya yang mendengar itu pun tak tahan merekahkan senyumnya. Memang ya cewek selalu berubah-ubah dan tak bisa ditebak.
" Kemana? "
Ke Cafe Mahoni. Gue tunggu disana. Sampai nanti malam. Miss.
Arasya menutupi wajahnya dengan bantal. Gadis itu yakin bahwa wajannya sekarang memerah. Ia senang sungguh. Entah perasaan apa ini? Kalian tau? Katakanlah kepada Arasya. Secepatnya agar dia tahu perasaan apa yang ia rasakan sekarang.
Arasya bangkit dari kasur menuju lemarinya. Gadis itu melihat-lihat bajunya yang sudah lama tak di pakai. Ia mengambil baju, membuangnya, mengambil baju, membuangnya dan seterusnya. Tapi terhenti, setelah mendapatkan baju yang akan ia pakai.
"Wildan suka nggak ya? "
•••
"Dan, aku mau ke toilet dulu ya? " Ucap Rani sambil berdiri.
"Jangan lama-lama, " Jawab Wildan sambil menatap pintu cafe terus menerus.
Ran melangkah pergi ke toilet dengan perasaan yang campur aduk.
Tring!
Suara lonceng berbunyi menandakan pintu terbuka. Wildan langsung tersenyum saat melihat Arasya yang begitu manis malam ini. Lelaki itu berdiri menyambut kedatangan gadisnya.
"Hai, " Sapa Arasya gugup.
"Duduk dulu, " Wildan menunjuk kursi di depannya.
Arasya tak sengaja melihat tas kecil berwarna biru di samping kursi Wildan. Gadis itu bisa menebak bahwa itu tas perempuan.
"Tas siapa? " Tanya Arasya sambil menunjuk tas tersebut.
"Ohh, ini tasnya Ran. Yang lo tanyain itu, " Jawab Wildan sampai sambil menoleh ke belakang.
"Itu Ran, " Tunjuk Wildan dengan semangat.
Arasya melihat gadis itu dari bawah sampai atas, perfect. Sangat cantik dan anggun. Gadis itu kalah telak! Ia cantik namun ia tak anggun.
"Hai, aku Ran. Salam kenal. Wildan sering cerita tentang kamu, " Ran menyodorkan tangannya.
"Ehh, iya. Gue Arasya. Panggil Ara aja. Salam kenal juga, " Arasya menjabat tangan lembut dan kecil itu.
Suaranya aja bagus sama kulitnya lembut juga.
Wildan tersenyum senang melihat sahabatnya dan pacarnya sudah berkenalan. Lelaki itu menoleh ke Arasya.
"Lo mau makan apa? " Tanya Wildan membuat Arasya tiba-tiba kesal.
Bagaimana bisa Wildan tidak tahu makanan kesukaannya? Ia ini pacarnya hlo!
"Samain aja. " Jawab Arasya datar.
Wildan menoleh ke Ran."Makanan kamu masih sama kan? "Tanyanya membuat Arasya bertambah kesal.
Aku-kamu, alay!
Arasya melirik Ran dengan kesal. Ran justru tersenyum padanya. Membuat Arasya makin kesal dibuatnya. Ran seperti menertawakannya.
" Mbak, pesan 2 jus mangga,1 jus strawberry, 2 spageti sama 1 steak tanpa garam,"ucap Wildan kepada waiter itu.
Wildan mengalihkan pandangannya ke Arasya. Gadis itu terlihat kesal. Ia menatap lekat-lekat wajah kesal itu, terlihat lucu dan menggemaskan.
"Dan, lebih baik kamu bicara sama Arasya, " Saran Ran membuat Arasya bangkit lalu melangkah keluar.
"RA! Aku tinggal dulu ya, " Wildan melangkah menyusul Arasya yang berada di luar.
Wildan melihat Arasya yang diam. Lelaki itu menepuk pundak gadis itu. Ia tersenyum tapi gadis itu tak membalas senyumannya.
"Lo kenapa? " Bingungnya sambil menarik dagu Arasya agar menatapnya.
"Bukan urusan lo! " Ketus Arasya sambil menghempaskan tangan Wildan.
"Sayang, kamu kenapa? " Tanya Wildan dengan lembut.
Pipi Arasya tiba-tiba memanas dan jantungnya berdetak cukup cepat. Gadis itu kalah! Namun, ia mencoba pura-pura.
"Sayang, " Panggil Wildan lagi membuat Arasya langsung memeluknya dan menangis.
"Jangan deket-deket sama cewek lain. Gue nggak suka, " Kata Arasya disusul isak tangisnya.
"Iya, " Jawab Wildan sambil mengusap-ngusap rambut panjang Arasya.
"Janji? " Arasya memberikan kelingkingnya di depan wajah Wildan.
"Iya, " Wildan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Arasya.
Arasya tersenyum sambil menghapus air matanya.
"Jangan nangis lagi dong, " Wildan mengusap pipi hingga tak ada air mata yang menempel di pipi Arasya.
"Iya."
"Sebagai ucapan maaf. Gue akan berikan lo hadiah. Hadiah kecil sih. Bukan besar. "
Arasya menebak-nebak hadiah apa yang akan diberikan, namun semuanya tak ada yang benar.
Cup
Wildan mencium lama kening Arasya. Lelaki itu menutup matanya menikmati waktu ini.
Jatung Arasya lagi-lagi berdetak lebih cepat. Gadis itu ingin menghentikan waktu. Ia ingin mematikan semua jam di dunia.
"Wildan sangat mencintai Ara, " Gumam Ran sambil memegangi dadanya yang sesak.