Dimenticare

Dimenticare
5.Cemburu?



*Mungkin aku cemburu padanya? Aku hanya tak suka melihatnya bersama perempuan lainnya. Bukan berarti aku cemburu!


-Arasya Dafina Mangalitsa*-


•••


Arasya masih memikirkan perkataan Wildan beberapa jam yang lalu. Sampai-sampai tak mendengar teriakan dari Ardias.


"ARA! TURUN. CEPET. MAMA SAMA PAPA MAU SAMPAI, " teriak Ardias dari bawah.


Ardias tak mendapati sahutan dari Arasya pun memilih untuk menghampirinya. Lelaki itu langsung masuk dan menjewer telinga Arasya membuat gadis itu tersadar.


"Bang, sakit. Lepasin! Sakit beneran, sumpeh!" Ringisnya sambil melepaskan tangan Ardias dari telinganya.


"Kalau di panggil itu di jawab. Bukan malah diem aja. Lo udah mulai budi ya? " Kesal Ardias sambil bersedekap dada.


Arasya memilih melengos pergi sebelum abangnya yang satu ini akan nyerocos panjang lebar.


"Kalau orang ngomong itu di dengerin bukan di tinggal gitu aja. Itu namanya nggak sopan! " Teriak Ardias sambil melangkah menyusul adiknya.


"Bang Ardan, " Panggil Arasya sambil duduk di samping Ardan.


"Ada apa? " Tanyanya sambil mengganti Chanel TV.


"Mama sama Papa udah mau sampai?" Tanya Arasya merasa khawatir.


Ardan menoleh lalu tersenyum lembut kepada sang adik. Iya. Kamu tenang aja. "


Arasya tersenyum. "Iya."


"Jelek! " Teriak Ardias bermaksud mengejek Arasya tapi tak dihiraukan gadis itu.


"Dan, ajari adek lo yang bener, " Lanjutnya sambil melangkah menuju dapur.


"Bacot aja lo! "Sahut Ardan membuat Arasya tertawa senang.


" Sukurin lo! "


"Awas ya, jelek? "


"Mirror dong. Punya kaca nggak? Kalau nggak punya gue pinjami. Hahahaha. "


Ardias rasanya ingin menjabak rambut Arasya. Namun Ia urungkan saat mendengar deringan telepon dari ponselnya.


"Halo. Ini siapa? "


"Apa?! Saya segera kesana! "


•••


Abigail tak menyangka malam ini Wildan datang ke rumahnya. Lelaki itu hapal betul jika Wildan ingin membicarakan sesuatu. Entah itu apa. Kadang tak bisa di tebak.


"Lo mau ngomongin apa? "Tanya Abigail to the points.


" Apal bener lo! "Kagum Wildan sambil tertawa kecil lalu tersenyum-senyum sendiri.


Abigail menatal Wildan curiga. Ada yang aneh dari lelaki itu. " Lo gila ya?"


Perkataan Abigail sontak membuat tangan Wildan menyentuh lelaki itu. "Iya, gue kayaknya udah gila. "


Abigail kira Wildan akan memukulnya tapi justru kebalikannya. Lelaki itu jadi merinding sendiri. Lalu menjaga jarak dengan Wildan.


Drtttt


Getaran ponsel Wildan membuat lelaki itu tersadar langsung mengangkat telepon.


"Halo? "


"Oke. Gue akan kesana sekarang. "


•••


Ditengah perjalanan menuju rumah sakit, Arasya tersedu-sedu mendengar kedua orang tua yang ia cintai kecelakaan. Itu sama halnya tamparan keras untuk nya bahkan lebih keras lagi.


Ardan yang di samping Arasya memeluk adiknya. Lelaki itu juga sedih akan berita buruk ini.


"Udahlah. Mama sama Papa pasti baik-baik aja, " Celetuk Ardias menenangkan.


Arasya mengusap air matanya. "Udah sampai apa belum? " Tanyanya masih tersisa isak tangis.


"Bentar lagi, " Sahutnya sambil memutar mobilnya.


"Cantik nggak boleh nangis lagi ya, " Ujar Ardan dengan lembut sambil menggenggam tangan Arasya lalu turun dari mobil.


Arasya langsung lari menuju repsesionis. "Mbak! Dimana kamar Arani dan Arya?! " Tanyanya tal sabar.


"Dek, mohon tenang dulu. Sebentar saya cek dulu. "


Ardan menepuk pundak Arasya. "Sabar, dek, " Ujarnya sambil menggenggam tangan adiknya.


"Kamar nomer 78," Kata Repsesionis itu.


Arasya langsung berlari diikuti Ardan. Sedangkan Ardias yang baru sampai harus bersabar karena ditinghalkan.


"Tadi nomer berapa, mbak? " Tanya Ardias.


"Nomer 78."


"Makasih, mbak! "Ucapnya sambil berlari menyusul Arasya dan Ardan.


•••


Arasya membuka pintu nomer 78 langsung terkulai lemas, saat melihat Mama dan Papanya terbujur kaku ditutupi kain putih. Begitu juga dengab Ardan dan Ardias.


Arasya menangis tanpa suara tak percaya apa yang ia lihat. Gadis itu melangkah dengan berat. Saat dihadapan kedua orang tuanya, ia tak sanggup untuk membuka kain putih tersebut. Ia menoleh ke belakang.


" Bang, tolong bukain, "ujarnya sambil menangis. Kali ini mulai teriksa.


Ardan pun melangkah maju dengan berat. Lelaki itu sama halnya dengan Arasya. Ia tak sanggup membuka kain putih itu. Ia menoleh ke belakang.


Ardias melangkah lalu membuka kain putih yang membukus Mamanya terlebih dahulu. Lelaki itu tak percaya apa yang ia lihat saat ini. Ia mulai membuka lagi kain putih yang membungkus Papanya. Ia pun sama, tak percaya juga.


" MAMA! PAPA! "teriak Arasya langsung memeluk kedua orang tuanya.


Ardan pun ikut mendekat lalu memeluk tubuh sang adik yang bergetar. Lelaki itu menangis tanpa suara.


" SURPRISE!!!!! "


•••


Wildan berlari sekencang-kencangnya di koridor rumah sakit. Lelaki itu bernapas tidak teratur karena berlari. Ia menghentikan larinya saat melihat nomer kamar 69. Ia membuka pintu kamarnya. Ia mendekati ranjang yang ditempati perempuan cantik. Ia duduk disamping ranjang sambil menatapi wajah pucat perempuan cantik itu.


"Aku datang, Ran, " Ucapnya sambil menggenggam tangan perempuan yang dipanggilnya, Ran.


Ran membuka matanya perlahan saat menyadari sentuhan hangat dari tangannya. Perempuan itu tersenyum manis saat melihat siapa yang datang.


"Hai!Long time no see, " Sapa Ran sambil mencoba duduk.


Wildan membatu Ran duduk terlebih dahulu. "Kambuh lagi? " Tebaknya yang tahu betul terjadi apa dengan perempuan itu.


"Iya. Aku kangen sama kamu, " Katanya sambil memeluk Wildan dengan erat. Lelaki itu membalas pelukannya.


Aku juga rindu, Ran.


•••


"Mama sama Papa ngapain sih bikin surprise kek gitu, " Kesal Arasya saat mengetahui Mama dan Papanya sengaja mengerjainya.


Arasya lalu menatap curiga Ardias dan Ardan. "Kalian tahu ini pasti? "


"Nggak! " Ucap mereka berdua serempak.


"Dias sama Ardan emang nggak tahu, sayang, " Celetuk Arani sambil mengusap rambut sang putri.


"Whatever, " Kesal Arasya lalu berjalan keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Ara! " Teriak Arya sambil terkekeh melihat kelakuan sang putri.


Sedangkan Arasya berjalan entah pergi kemana. Gadis itu berhenti di kamar nomer 70. Ia duduk di depan kamar tersebut. Ia mengusap-ngusap tangannya karena kedingin.


"Kapan kamu sampai di Jakarta? Kenapa nggak ngabarin aku? "


"Tadi sore. Kan biar surprise. Aku ngebayangin wajah kaget kamu. Pasti lucu banget. Hahahahaha. "


"Ran, please! Aku tadi khawatir sama kamu. "


"Iya-iya."


Arasya terkejut saat mendengar suara Wildan tengah berbicara dengan seorang perempuan di ruangan sebelah. Gadis itu tanpa sadar mengintip dari pintu yang memang tadi belum di buka. Ia terkejut saat melihat Wildan tengah mengacak-ngacak rambut perempuan itu dengan lembut di iringi senyum manis di wajah. Mereka berdua sangat serasi. Itu menbuat relung hatinya terlukai. Entah itu rasa apa.


Siapa perempuaan itu? Kenapa dia deket sama lo, Dan?


•••


Arasya berjalan lemas ke ruang makan. Mood gadis itu sudah buruk sejak kemarin malam. Ia memakan sarapannya dengan malas.


"Ra, kamu kenapa? " Tanya Arani cemas.


"Iya, sayang. Kamu kenapa? Masih marah sama Papa sama Mama? " Sahut Arya sambil meletakkan korannya.


"Patah hati kali! " Celetuk Ardias sambik duduk di depan Arasya.


"Apaan sih lo! " Sewot Arasya dengan kesal.


"Dias, " Tegur Arya yang di sampingnya. Ardias langsung dian seketika.


"Coba kamu cerita, " Pinta Arani dengan lembut sambil duduk disamping Arasya.


"Ng-


" Assalammuaalaikum. Ara! "Teriakan seseorang membuat ucapan Arasya terpotong. Gadis itu menggunakan kesempatan ini untuk kabur.


" Ma, Pa aku udah di jemput. Aku berangkat dulu, "larinya langsung menuju ke depan.


" Kayaknya suara laki-laki, Ma? Apa Ara sudah punya pacar? "Tebak Arya langsung di angguki Arani setuju.


" Wildan? "Kejutnya saat melihat siapa yang menjemputnya.


"Ngapain? " Tanya Arasya ketus yang tiba-tiba mengingat kejadian semalam.


"Mau jemput lo, " Jawab Wildan dengan bingung. Kok Ara ngomongnya ketus? "Naik" Titahnya.


Arasya terpaksa menaiki motor Wildan. Gadis itu menjaga jarak dengan lelaki itu.


"Udah? " Tanya Wildan namun Arasya mengbaikannya.


Wildan menebak-nebak apa kesalahannya. Lelaki itu menjakankan motornya sambil melirik Arasya dari kaca spion.


"Gue ada salah ya sama lo? " Tanya Wildan dengan pelan.


"Iya! " Sentak Arasya terlanjur kesal.


"Emang gue salah apa? " Tanyanya hati-hati.


"Ran siapa? " Tanya Arasya to the point.


Wildan terkejut dengan pertanyaan Arasya. "Lo cemburu? " Tebaknya entah keberanian dari mana.


"Nggak! Cepet tinggal jawab aja, " Kesalnya.


"O. Ran itu temen gue. "


*Temen kok romantis?


Ternyata Ara cemburu sama gue*?