
-Kamu terlalu mencintainya. Hingga tidak sadar bahwa kamu dibohingi-
-Wildan Nagaswara-
•••
Wildan dan Abigail langsung menuju ke club. Ternyata Caesar di Indonesia. Mereka mengetahuinya karena Abigail melacak nomer ponsel Caesar.
" ***! "umpat Wildan sambil menambah kecepatan.
" Jangan-jangan ngebut-ngebut, anjir!"teriak Abigail seraya memegang pundak Wildan.
" Gue belum nikah! "teriak Abigail lagi dengan lebay.
Wildan memutar kedua matanya malas. " Gue juga belum nikah,"ujarnya seraya berbelok kanan.
" Kita mau kemana ogeb! "teriak Abigail semakin mempererat pegangan di bahu Wildan.
" Ke club lah, "ucap Wildan lalu berbelok kiri.
" Kita muter-muter, njir, "teriak Abigail.
Wildan berhenti mendadak. Jarak antaranya saat ini dengan jarak club sekitar 5 meter. Dia berhenti karena melihat Caesar tengah merangkul seorang cewek, bukan Arasya. Ke dalam mobilnya.
" Itu Caesar, "tunjuk Abigail.
" Gue udah tahu, munyuk! "kesal Wildan kepada sepupunya satu ini.
Ya, Abigail dan Wildan itu sepupu. Sepupu dekat. Ayah Abigail, adik dari Papanya Wildan. Mereka menyembunyikan indetitas sepupuan mereka.
" Ikutin! "teriak Abigail seraya menunjuk mobil sedan itu berjalan.
Wildan langsung melajukan motornya. Kali ini tidak dengan ngebut-ngebutan. Kali ini dia melajukan motornya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Jika dia ngebut sama saja, dia tidak mengikutinya Caesar. Malah ngajak ngebut-ngebutan.
" Kok kayaknya mobil Caesar oleng sih? "tanya Abigail seraya menunjuk mobil Caesar yang tak tentu arah.
" Masa sih? "tanya Wildan seraya menghentikan motornya yang hampir sampai di perempatan.
" Tuh liat, " Abigail menunjuk mobil Caesar bersamaan dengan truk yang akan menabrak mobil Caesar.
Dan.....
BRAKKKK
Bagian depan mobil Caesar hancur sudah. Sedangkan truk itu terhenti tepat di depan mobil Caesar yang sudah hancur.
Wajah Wildan dan Abigail langsung berubah terkejut. Keduanya tidak menyangka bahwa ada truk yang akan menabrak mobil Caesar, sepupunya.
" Dan, "panggil Abigail seraya turun dari motor.
Wildan turun dari motor. " Panggil polisi dan ambulan sekarang! "serunya, berlari menghampiri mobil Caesar.
Abigail menelepon polisi terlebih dahulu lalu menelepon ambulan. Setelah itu dia berlari menghampiri Wildan yang tampak panik.
Wildan dapat melihat Caesar dan cewek tersebut bercucuran darah di bagian kepala dan seluruh tubuhnya. Dia mencoba membuka pintu mobil yang sudah remuk itu.
" Lo tolongin supir truk aja, "ucap Wildan seraya mencoba membuka pintu mobil tersebut.
Namun, mobil polisi dan ambilan keburu datang. Wildan langsung menjauh diikuti Abigail. Keduanya menghampiri polisi untuk memberikan penjelasan. Polisi tersebut menganggukkan kepala dan mulai mengecek. Sementara para petugas ambulan membantu polisi.
Wildan dan Abigail diam memperhatikan. Keduanya merasa bersalah. Padahal bukan salah mereka.
" Mendingan lo telepon Ara, "saran Abigail, menoleh sekilas ke Wildan.
" Ara pasti nggak ngangkat telepon gue, "ucap Wildan datar.
Abigail berdecak kesal. " Telepon Bang Ardias aja, "saranya lagi.
Wildan mengangguk. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya di dalam saku celana. Dia mencari kontak Ardias lalu menelepon lelaki itu.
" Kenapa lo telepon gue?! " sewot Ardias.
Wildan menghembuskan napas.
" Tunangan Ara, Caesar kecelakaan,"jawab Wildan seraya menatap tubuh Caesar dan pempuan itu memasuki ambulan.
" Rumah sakit mana? "
Wildan tahu. Ardias cemas.
" Rumah sakit Medika. "
Wildan langsung memastikan sambungan telepon. Lelaki itu melihat mobil ambulan berjalan. Dia otomatis mengajak Abigail utnuk mengikuti mobil ambulan. Sebelum pergi, dia berpamitan dulu kepada polisi tersebut.
•••
Arasya jelas terkejut mendapatkan berita buruk itu. Gadis itu cemas sekaligus bingung. Kenapa Caesar masih di Indonesia? Dia menangis dalam pelukan Ardan. Sedangkan Ardias menyetir.
" Ra, Caesar baik-baik aja, " Ardan mencoba menenangkan Arasya yang masih belum berhenti menangis. Dia mengusap punggung Arasya yang bergetar.
Ardan membuang napasnya kasar. " Jangan nangis terus, Ra. Caesar nggak suka lo nangis. Nanti dia juga ikutan sedih, "ucapnya, menenangkan.
Arasya melerai pelukan. Menghapus air maranya dan menormalkan deru napasnya yang tersenggal-senggal. Dia menoleh ke Ardan lalu tersenyum tipis.
" Caesar nggak bakalan sedih kan sekarang? "tanya Arasya berpura-pura kuat. Padahal dia ingin terus menangis.
Ardan mengusap puncak kepala Arasya. " Iya, sayang. "
Arasya tersenyum, paksa. " Jalannya cepet, Bang, "ujarnya kepada Ardias yang tengah fokus menyetir.
" Bentar lagi sampai, Ra, "kata Ardias lalu membelokkan mobilnya ke rumah sakit.
Arasya langsung turun ketika mobil Ardias terparkir. Dia berlari memasuki rumah sakit. Dia tidak sabar.
" Caesar Rollover kamar nomer berapa ya, sus? "tanya Arasya, menatap suster itu serius.
" Lantai 2,nomer berapa 201,"jawab Suster itu setelah mengecek data pasien.
" Makasih, Sus, " Arasya berlari disusul Ardan dan Ardias.
Arasya memasuki lift. Namun saat lift ingin tertutup ada kaki yang tiba-tiba menghalangi. Pintu lift terbuka lagi. Menampilkan Ardan dan Ardias.
" Sabar, Ra, "kata Ardias yang sedikit kualahan.
" Maaf, "cicit Arasya bersamaan lift tertutup.
Ting!
Lift terbuka. Arasya langsung berlari keluar dan mencari kamar nomer 201. Ardias dan Ardan mau tak mau harus berlari juga.
Arasya berhenti, menatap kedua lrlaki yang dia kenal. Gadis itu mendekat dan menghampiri Wildan. Dia menatap lelaki itu serius sampai tak sadar air matanya turun.
Wildan jelas terkejut. Tangannya mengusap air mata dari gadis yang dia cintai. Dia memeluk Arasya, mengusap punggung gadis itu. Dia merasa sesak jika Arasya menangis.
" Ra, "panggil Wildan lembut.
" Hiks... hiks.... Wildan.... hiks.... Caesar..... hiks...nggak bakal.... hiks... ninggalin aku.... kan? " Arasya melerai pelukan.
Wildan tersenyum gentir. Disisi lain hati sakit. Arasya mencintai Caesar lebih dari segala. Dia bagaiamana dicintai Arasya begitu dalamnya. Namun dia tidak bisa mempertahankan rasa cinta itu. Ini juga kesalahannya.
" Ra, jangan nangis. Aku mohon, " Wildan mengusap lagi air mata Arasya yang tak henti-hentinya turun.
" Wildan..... hiks.... aku... hiks.... cinta Caesar..... hiks, "isak Arasya dipelukan Wildan.
Wildan mengusap rambut panjang Arasya. " Aku cinta kamu, Ra. "
•••
2 jam berlalu, Arasya sudah tenang. Dokter masih melakukan operasi kepada Caesar dan perempuan itu. Gadis itu merasa bingung, kenapa Caesar masih di Indonesia dan siapa perempuan itu? Kenapa kecelakaan Caesar dan perempuan itu sama? Apa jangan-jangan Caesar selingkuh di belakangnya? Dia tak percaya. Caesar mencintainya.
" Dan, "panggil Arasya, menoleh ke samping.
Wildan menoleh lalu terseyum tipis. " Ada apa, Ra? "tanyanya.
" Perempuan itu siapa, Dan? "tanya Arasya serius.
Wildan tak tahu harus menjawab apa. Dia harus berbohong atau harus jujur?
" Dan, "panggil Arasya lagi.
Wildan tersentak. " Ha? "
" Siapa perempuan itu, Dan? Jawa jujur? "tanya Arasya lagi dengan tegas dan serius.
" Sebenarnya, tadi aku telepon sama Caesar. Caesar lagi di club-
" Apa?! "teriak Arasya terkejut. Kenapa kamu ke club?
" Belum selesai, Ra. "
" Iya-iya. "
" Caesar lagi di club. Terus aku denger ada suara perempuan yang manggil Caesar. Aku sama Abigail langsung nemuin Caesar. Aku lihat Caesar mabuk. Bawa perempuan itu masuk ke dalam mobil. Perempuan itu pingsan. Terus aku sama Abigail ngikutin Caesar. Terus ya gitu, "jelas Wildan panjang lebar.
Wildan terkejut ketika Arasya menangis lagi. Dia merasa bersalah. Dia tak bermaksud menyakiti hati Arasya.
" Ra, jangan nangis, "mohon Wildan sambil mengusap air mata Arasya.
" Caesar..... selingkuh? "tanya Arasya sambil mengusap air matanya yang turun
•••
InsyaAllah 2 part lagi selesai.
TBC!