Dimenticare

Dimenticare
16.Go



-*Jaga dirimu baik-baik dan hatimu-


-Wildan Darmawangsa*-


•••


Arasya menarik tangan Wildan menuju pasar malam yang ramai. Gadis itu menatap semua permaian yang ada dan menatap pedagang makanan yang banyak. Ia menoleh ke belakang menampilkan senyumnya.


"Aku mau beli lolipop, " Pintanya sambil cengengesan.


Wildan tersenyum lalu mengangguk. "Iya. Ayo kita beli, " Ucapnya sambil menggengam tangan Arasya dan berjalan menuju pedagang penjual lolipop dan arum manis.


"Mas, lolipopnya satu pack ya? " Wildan berucap sambil mengeluarkan dompetnya.


"Kok banyak? " Tanya Arasya bingung.  Pasalnya ia hanya menginginkan satu.


"Nggak apa-apa.  Bisa dimakan besok," Jawab Wildan sambil memasukkan dompetnya.


"Berapa, mas? " Tanya Wildan sambil mengulurkan uang 50 rb.


"20 rb, mas, " Ucap pedagang itu sambil menyerahkan kantong plastik berisi lolipop dan menerima uang Wildan.


"Kalau gitu tambah 1 lagi, " Ujarnya sambil melihat kantong plastik.


"Iya, " Pedagang itu memasukkan satu pack lolipop lagi.


"Makasih. Kembaliannya ambil aja, " Wildan menggenggam tangan Arasya lalu berjalan sejajar.


"Kok beli dua? " Tanya Arasya bingung.


"Buat aku, "jawab Wildan berbohong.  Sejujurnya satu pack lolipop itu untuk Ran.  Jika ia memberitahu sebenarnya akan runyam lagi.


" Ohh.  Ambilin aku satu, "Arasya mengulurkan tangan kanannya.


Wildan melepaskan genggamannya lalu mengambil satu lolipop dan diberikan kepada Arasya.


" Ini. "


Wildan menatap Arasya yang tengah membuka bungkus lolipop. Lelaki itu tersenyum.  Lalu menggengam kembali tangan Arasya ketika gadis itu sudah mengemut lolipopnya.


"Kita mau main apa? " Tanya Wildan sembari melihat sekeliling.


"Emmm....., " Arasya berpikir sejenak. "Kita muter-muter aja dulu, " Celetuknya sambil menatap toko aksesoris.


"Wildan, ayo kesena, " Arasya menunjuk toko aksesoris itu.


Wildan mengangguk mengiyakan. "Ayo, " Mereka berdua jalan beriringan.


"Selamat datang, " Sapa seorang wanita yang bekerja disana.


Wildan dan Arasya mengangguk sambil tersenyum. 


Arasya langsung melepaskan genggamannya dan melihat aksesoris yang banyak itu.  Dari aksesoris rambut, tangan, leher, kepala da ponsel.


"Ihh lucu, " Kagum Arasya saat melihat gantungan kunci berbentuk boneka kucing kecil.


"Mau beli? " Tanya Wildan yang berada di samping kiri Arasya.


Arasya menganggukkan kepalanya sambil mengambil gantungan tersebut. "Makasih, Wildan. "


Wildan tersenyum. "Nggak cari aksesoris rambut? " Tanyanya sambil menatap bagian aksesoris rambut.


"Mau dong! "


Jawab Arasya dengan semangat. Gadis itu berjalan menuju aksesoris rambut.  Terdapat banyak aksesoris rambut, misalnya kuncir rambut, bando, penjepit rambut, dan lain-lain.  Matanya tak tanggung untuk berbinar-binar. Tangannya terulur pada bando yang yang terbuat dari kain dan bisa di lekuk-lekuk.  Warnanya soft pink serta ada gambar hewan flamingo. Ia menoleh kebelakang mencari-cari kekasihnya.  Namun tak ada di sana.  Ia menghampiri wanita yang tadi menyapanya.


"Mbak, lihat pacar saya tidak? " Tanya Arasya dengan sopan.


"Tadi masnya lari keluar sambil mengangkat telepon kalau nggak salah. "


Arasya terkejut.  Kenapa Wildan meninggalkan sendiri?  Tapi ia harus positif thinking.  Siapa tahu telepon itu penting?  Dan mungkin karena tak ada sinyal disini.  Mungkin dia sedang mencari sinyal.  Mungkin.


"Bungkus ini ya mbak, " Arasya menyerah bando serta gantungan kunci tersebut.


"Iya. Total semua 25 rb. "


Arasya mengangguk lalu mengambil dompetnya yang belum tersentuh sana sekali. "Ini, " Gadis itu menyodorkan uang sambil mengambil plastik berisi belanjaannya.


"Makasih, mbak. "


Arasya tersenyum lalu melangkah pergi.  Gadis itu melihat sekeliling.  Tak ada tanda-tanda Wildan.  Apakah ia harus menunggu nya?


"Gue tunggu disini aja. Siapa tahu Wildan nanti kembali lagi? " Gumamnya sambil duduk di bangku tak jauh dari toko aksesoris tersebut.


•••


"Sya."


Arasya tersentak kaget. Gadis itu tertidur karena menunggu Wildan yang terlalu lama.  Ia mengucek matanya sambil menatap seseorang yang memanggilnya.


"Er? "Arasya terkejut atas kehadiran Piter disini.  Dan di mana kekasihnya?


Arasya melihat sekeliling pada malam. Sudah sepi.  Gadis itu langsung mengambil ponselnya dan melihat jam.  22.05. Ia melebarkan matanya.


"Sya, ayo pulang, " Ajak Piter sambil menarik tangan Arasya.


"Tap-"


"Nggak ada tapi-tapian.  Mama sama Papa kamu nyariin hlo. "


Arasya mengangguk pasrah lalu berjalan digandeng Piter. "Er, kok lo tahu gue disini? " Tanyanya penasaran.


"Gue lacak nomer HP lo, " Jawab Piter tanpa menatap Arasya.


Arasya mengangguk manggut-manggut. "Lo-


" Lo ditinggal Wildan lagi ya? "Tebak Piter sambil berhenti melangkah dan menatap Arasya lekat-lekat.


Arasya harus menjawab apa?  Jika ia ditinggalkan Wildan lagi pasti Piter akan menghabisi kekasihnya itu. Gadis itu hanya menggelengkan kepala.   Ia melepaskan tangan Piter dari genggamannya lalu melangkah terlebih dahulu.


Piter tahu jika Arasya berbohong.  Lelaki itu bersumpah akan menghajar cowok berengsek itu. Sialan lo!  Bangsat!  Cowok berengsek! Awas lo!  Gue hajar sampai babak belum.  Apa yang kemarin belum puas?!


•••


"Gue nggak tahu.  Kayaknya ada urusan penting yang nggak bisa di ganggu gugat"


Itu yang dikatakan Abigail padanya.  Berulang kali Arasya menelepon atau mengirim pesan sama sekali tak di gubris. Ia harus bagaimana?


"Lo kenapa sih, Sya? " Tanya Piter yang melihat wajah Arasya yang lesu.


Arasya menggelengkan kepala lalu memilih diam kembali.


Piter menghela napasnya lalu memegang bahu Arasya membuat gadis itu mengangkat alisnya.


"Cerita sama gue.  Gue bisa jadi sandaran lo disaat Wildan nggak ada.  Gue bisa jadi tempat keluh kesah lo disaat Wildan nggak ada.  Hanya itu yang gue mau.  Gue nggak masak lo buat Terima perasaan gue. "


Arasya menangis sambil menutupi wajahnya.  Gadis itu mulai tersiksa.


Piter meletakkan kepala Arasya agar bersandar dengannya.  Lelaki itu mengusap bahu Arasya yang bergetar.


"Lepasin semuanya, Sya, " Ujar Piter dengan lembut.


Arasya menurunkan tangannya dari wajahnya. "Hiks.... gue.... Hiks..... Kecewa.....hiks.... sama..... Wildan...... hiks...., " Isaknya sambil memukul  dada bidang Piter.


Tangan kanan Piter menghapus air mata Arasya. "Jangan nangis lagi, please. "


Arasya mengangkat kepalanya. "Makasih, Er, " Arasya mulai tersenyum tulus.


Piter tersenyum senang melihat Arasya senang.  Begitulah orang jatuh cinta.


"Ekhemm...., " Zizi berdeham menyaksikan dua remaja itu.


"Apaan sih, Zi? " Tanya Arasya sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa, " Jawab Zizi sambil menyenggol lengan Sami.


"Apaan?" Sami menatap Zizi dengan bingung.


"Ca-but, " Zizi memberikan intruksi kepada Sami.


Sami mengangguk lalu berdiri diikuti Zizi. "Kita cabut dulu ya, Ra, " Pamit Sami.


"Ehh, tunggu.  Gue ikut, " Arasya berdiri diikuti Piter.


"Ayo, " Ajak Zizi sambil berjalan terlebih dahulu diikuti Sami.


Arasya ingin melangkah namun tangannya di cegah sama Piter. "Gue sayang lo. "


•••


Denmark


Wildan mengusap wajah.  Keringat tak henti-henti turun di pelipisnya.  Lelaki itu menatap setumpuk dokumen yang tingginya hampir 1 meter.  Ia meminum segelas jus sampai habis.


"Kel! " Teriak Wildan sambil menyenderkan badannya di kursi.


"Ada apa? " Tanya lelaki berparas manis itu yang dipanggil Kel, Kelvin tepatnya.


"Pesan kan tiket saya segera, " Ujar Wildan tegas sambil berdiri merapikan jasnya.


"Tap-


" No coment, "Wildan berjalan ke luar meninggalkan  Kelvin yang tengah mengumpat.


Untung saudara gue.


•••


Wildan menunggu-nunggu kedatangan Kelvin di apartementnya.  Lelaki itu melihat jam dinding yang sudah pukul 19.00. Ia mengambil ponselnya lalu menelepon Kelvin.


"Kenapa belum datang? "


Anu, itu


"Apa? Cepet datang kesini sekarang atau saya kembali ke Indonesia. "


Oke.  Gue kesana.


Wildan melepaskan ponselnya sembarangan.  Lelaki itu melangkah menuju dapur dan mengambil minuman kaleng di kulkas. Ia duduk di pantri sambil meletakkan minuman kaleng yang hampir habis.  Pikirannya selalu diselimuti oleh Arasya, kekasihnya.


"Maaf, Ra. Aku belum bisa kasih tahu kamu, " Gumamnya bersamaan dengan bel apartementnya.


Wildan melangkah, melihat siapa yang bertamu dari bolongan kecil di pintu. Ternyata Kelvin dengan wajah gelisah.  Ia membuka pintu membiarkan Kelvin masuk dan menutup pintunya kembali.


"Duduk dan dengarkan saya dulu, " Suruh Wildan sambil duduk di sofa single.


"Anu-


" Dengarkan saya! "Ucap Wildan penuh penekanan.


" Oke,"Pasrah Kelvin sambil menghela napas.


"Bagaimana keadaan Mama saya?"Tanya Wildan dengan serius.


"Baik, terkendali, " Jawab Kelvin dengan wajah serius. "Dengerin gue. "


"Apa? "


Wildan bertanya tak minat sama sekali.


"Ini serius! " Kesal Kelvin menghadapi tingkah saudaranya.


"Gue juga serius. "


Kelvin mengalah. Percuma berdebat dengan Wildan.  Tak ada ujungnya.


"Arasya kecelakaan. "


•••