
-*Rasa yang seharusnya sudah mati. Kini bangkit kembali-
-Arasya Dafina Mangalitsa*-
•••
Wildan melerai pelukannya. Lelaki itu tersenyum manis kepada Arasya. Satu tangannya membelai pipi mulus gadis itu. Dia rindu, bahkan sangat rindu dengan kekasihnya ini.
" Aku hampir gila saat mengetahui kamu pergi, "ucap Wildan dengan serius.
Wildan mengamati setiap lekuk wajah Arasya dengan lekat-lekat. Lelaki itu hampir saja lupa akan wajah gadis itu yang telah lama pergi. Dia juga rindu dengan senyum kekasihnya.
Arasya tersenyum, menampilkan lesung pipinya. " Jangan alay deh,"ujarnya sambil tersipu malu.
Wildan menekan lesung pipi Arasya dalam-dalam. " Sekarang kamu punya lesung pipi ya? "
" Jangan di tekan-tekan gitu. Nanti hilang hlo, "kata Arasya sambil menurunkan tangan Wildan.
" Ke rooftop yuk! "ajak Wildan seraya menyelipkan beberapa helai rambut Arasya.
" Berarti kita bolong dong? "
Entahlah bagaimana perasaan Arasya sekarang. Sekarang dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Wildan. Hanya berdua dengan dia. Kekasihnya.
" Iya, "jawab Wildan sambil menarik tangan Arasya. Bukan menarik, tapi menggengam dengan erat.
Wildan tahu. Perasaannya terhadap Arasya semakin Wildan. Dia membiarkan saja tumbuh. Dia masih kekasih Arasya. Belum ada kata putus di hubungan mereka.
" Duduk, "titah Wildan sambil tersenyum. Lelaki itu duduk di samping Arasya.
" Dan, "panggil Arasya serius.
" Apa? "tanya Wildan seraya mengangkat alisnya.
" Aku sayang kamu, "kata Arasya sambil tersenyum.
Arasya tahu yang dia katakan termasuk kesalahan yang sangat besar. Seharusnya dia mengatakan itu kepada Caesar, tunangannya. Bukan kekasihnya. Dulu rasa itu mati tapi sekarang bangkit lagi. Memporak-porandakan perasaannya. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia mulai mencintai Wildan lagi. Dan semakin itu di diamkan akan semakin besar rasa cintanya kepada lelaki itu.
" Aku juga sayang kamu, "balas Wildan sambil memegang kedua pipi Arasya.
Arasya memegang kedua pipi Wildan. " Mungkin aku cinta sama kamu,"ucapnya dengan pelan.
" Aku yakin aku cinta kamu. "
Wildan memajukan wajahnya. Dahinya dengan dahi Arasya menempel. Dia dapat merasakan hembusan napas gadis itu. Dia tersenyum simpul.
" I love you, "ucap Wildan sambil mencium kening Arasya cukup lama.
" I love you to, "ucap Arasya dengan yakin.
Arasya yakin dengan perasaannya ini. Dia mencintai Wildan. Bahkan sangat mencintai lelaki itu. Lelaki yang menghiasi hidupnya setengah tahun itu. Walaupun satu tahu mereka terpisahkan.
•••
" Be, mau aku jemput atau nggak? "
" Nggak usah, by. Aku mau ke rumah teman-teman aku. "
Arasya bohong besar kepada Caesar. Jelas-jelas dia tengah menghabiskan waktu berdua dengan Wildan. Dia mulia berani berani berbohong tentang Caesar. Dia tahu yang dia lakukan salah. Tetapi, dia tidak ingin menyakiti hati kedua lelaki itu. Dia mencintai keduanya.
" Ya udah. Jangan pulang malam-malam, be. Love you. "
" Iya, by. Too. "
Arasya menurunkan ponselnya. Gadis itu berbalik, menatap Wildan yang tengah tersenyum padanya. Dia menarik napas dan membuangnya. Dia tersenyum seraya melangkah menghampiri lelaki itu.
" Siapa yang telepon? "tanya Wildan sambil tersenyum.
Arasya sungguh tidak ingin berbohong. Tetapi mau bagaimana lagi. Toh, sudah terlanjur berbohong kepada Caesar. Kenapa kepada Wildan tidak?
" Sama Bang Ardan, "jawab Arasya tersenyum sekilas.
Wildan tahu. Ada sesuatu yang disembunyiin Arasya padanya. Tapi dia tidak bisa bertanya langsung pada gadis itu. Dia tidak mau melanggar hak privasi kekasihnya.
" Itu cincin dari siapa? "tanya Wildan tiba-tiba. Pandangannya turun menatap tangan Arasya yang berada di atas meja.
" Oh, ini. Ini cincin dari Bang Ardias,"jawabnya berbohong namun tenang. Agar Wildan tidak mencurigainya.
" Kok kayak cincin tunangan? "
Wildan mulai curiga kepada Arasya. Lelaki itu tahu betul itu cincin apa. Cincin tunangan. Mana mungkin Ardias memberikan cincin tunangan untuk Arasya? Tak masuk akal! Tapi dia juga tidak percaya, jika Arasya sudah bertunangan.
" Nggak tahu. Bang Ardias tiba-tiba ngasih, " Arasya mengedikkan bahunya, pura-pura cuek.
" Kamu nggak suka kalau aku pakai cincin ini? "tanya Arasya yang ingin melepaskan cincin itu.
Wildan tak sebenarnya mengatakan itu. Lelaki itu tidak suka jika Arasya memakai cincin tunangan. Bisa-bisa gadis itu di kira sudah mempunyai tunangan. Padahal belum!
" Oh oke. Makannya nggak dihabisin?"
" Udah kenyang. Jalan-jalan yuk! "
Wildan berdiri, mengambil ponselnya dan mengulurkan tangannya di depan Arasya.
"Mari, tuan putri. "
Arasya tersenyum. Gadis itu berdiri dan menerima uluran tersebut. Dia menggenggam tangan Wildan.
"Dengan senang hati, pangeran. "
Arasya dan Wildan berjalan beriringan. Mereka berdua bagaikan putri dan pangeran. Tetapi semanis-manisnya hubungan mereka berdua. Akan ada seseorang yang akan menghancurkan. Akan ada seseorang yang akan menjadi orang ketiga. Atau justru sang pangeran menjadi orang ketiga. Atau justru sangat putri?
•••
Pagi ini, Wildan harus kembali berurusan dengan anak berandal itu, Flo. Lelaki itu menarik paksa tangan Flo dengan cukup kuat. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
" Lepasin gue, ***! "teriak Flo seraya memberontak.
Wildan diam, tak menggubris perkataan Flo. Lelaki itu membawa gadis itu menuju gudang sekolah. Dia sudah muak dengan anak berandal itu.
" Lo mau bawa gue kemana, anjing! " teriak Flo masih mencoba untuk memberontak.
" Diam atau gue seret lo! "ancam Wildan, mempercepat langkahnya.
Sesampainya di gudang sekolah, Wildan langsung mendorong tubuh Flo dengan kasar ke tembok. Lelaki itu mengunci pergerakan gadis itu. Dengan kedua tangannya. Dia menatap tajam mata coklat itu.
" Berhenti main-main sama gue!"ucap Wildan penuh penekan.
" Dan lo berhenti ngurusin hidup gue!" Flo kesal setengah mati dengan Ketua OSIS rese itu.
" Kalau lo nggak buat masalah. Gue nggak akan ganggu hidup lo lagi. Atau jangan-jangan lo ngarepin gue? Lo ingin dapat perhatian dari gue? Sorry, lo terlalu rendah untuk gue. Lo nggak akan bisa ngalihin perhatian gue dari Arasya. "
Kak Ara? Ternyata dia pacarnya Kak Ara?
Matanya memanas. Flo menahan air matanya agar tidak keluar di depan cowok berengsek ini. Gadis itu tidak ingin terlihat lemah. Dia harus kuat.
" Udah? "tanya Flo sedikit bergetar, menahan tangisnya.
" Sekali lagi lo buat masalah. Gue nggak akan segan-segan untuk kasih tahu ke semua orang kalau lo jalan sama om-om."
Wildan pernah sekali menjumpai Flo yang tengah berduaan dengan om-om. Lelaki itu iseng saja mengambil gambar. Dia bisa kapan pun mengancam Flo agar tidak macam-macam dengannya.
Bagaimana Wildan bisa tahu?
Flo mendorong tubuh Wildan. Dia menatap sengit kedua bola mata lelaki itu.
Plakk
Flo sengaja menampar Wildan dengan keras. Dia membenci Wildan. Sangat membenci lelaki itu. Dia melangkah pergi dengan air matanya yang mengalir begitu saja.
Gue emang suka sama lo! Tapi rasa benci gue kebun besar.
•••
Hari ini Arasya sengaja tidak masuk sekolah. Gadis itu ingin mengantarkan Caesar menuju bandara. Jujur saja dia tidak ingin Caesar jauh darinya. Dia ingin Caesar selalu berada di sampingnya.
" Be, jangan sedih gitu. Nanti cantiknya hilang lo, "ucap Caesar sambil mengusap pipi Arasya.
Arasya memeluk Caesar kesekian kalinya. Dia benar-benar tidak ingin melepaskan Caesar. Dia mencintai lelaki itu! Walaupun cintanua terbagi.
" Sering-sering kesini ya, by? "Arasya mendongakkan kepala lalu tersenyum tipis.
Caesar mencium puncak rambut Arasya lalu mengusap rambut gadis itu. " Pasti, be. Aku kan suka rindu sama kamu. "
" Apaan sih! " Arasya tertawa kecil. Dia melerai pelukan.
" Jaga kesehatan kamu baik-baik. Jangan selingkuh. Jangan deket sama cowok lain. Jangan makan banyak-banyak. Nanti aku tambah cinta. Jangan lupa kangen sama aku, "ujar Caesar sambil tersenyum simpul.
Caesar merasakan apa yang di rasakan oleh Arasya. Sama-sama tak ingin jauh. Caesar mencintai Arasya dengan tulus. Rasa cintanya begitu besar.
" Iya, sayang, "Arasya mencubit kedua pipi Caesar sebentar.
Caesar mencium kening Arasya cukup lama. " See you next time, baby. I promise will married you. "
•••
TBC!