Dimenticare

Dimenticare
15.Quality Time



-*Bahagiaku cukup sederhana, hanya bersamamu-


-Arasya Dafina Mangalitsa*-


•••


"Ra, boneka sama bunganya di tunggal di motor aja ya? " Bujuk Wildan sambil tersenyum manis.


"Kalau hilang gimana? " Tanya Arasya sambil mengusap boneka nya.


"Kan bisa beli lagi, " Jawab Wildan membuat Arasya kesal lalu melangkah meninggalkan Wildan.  Dan masih membawa boneka serta bunga.


Wildan mengusap wajahnya kasar. "Ternyata lebih sulit punya cewek manja ketimbang cewek tomboy, " Gumamnya sambil menyusul Arasya.


"Ra, maafin aku ya? " Bujuk Wildan sambil memasang wajah memelas.


Arasya melirik sekilas. "Beliin aku es krim dulu! "


"Iya. Aku beliin.  Kamu tunggu disitu ya? " Wildan menunjuk bangku kosong sambil mengusap puncak kepala Arasya.


Arasya mengangguk seperti anak kecil.  Gadis itu berjalan layaknya anak kecil.


Wildan jadi gemas sendiri, selalu.  Melihat tingkah Arasya bagaikan anak kecil.


Lucu.  Pengen cubit deh.


•••


"Makasih, Dan, " Arasya tersenyum senang saat menerima es krim yang ditunggu-tunggu.


"Sama-sama, " Ujar Wildan tersenyum lalu duduk di samping Arasya tepatnya di samping bonekanya.


"Aku mau kasih nama boneka ini apa ya? " Pikir Arasya sambil menjilati es krim nya.


"Eco gimana? " Celetuk Wildan sambil menatap Arasya dengan gemas.


"Nggak ah.  Jelek.  Emmmm....... Awi.  Arasya Wildan, " Ucap Arasya senang.


Wildan pun ikut tersenyum senang. "Semoga kita bisa terus begini, " Kata Wildan sambil menggengam tangan Arasya.


Arasya tersenyum lalu mengangguk. "Amin."


"Aku habis ini mau main ya? " Tanya Arasya sambil menatap permain yang ada di ancol.


"Iya, sayang, " Jawab Wildan sambil terkekeh melihat Arasya tersipu.


"Apaan sih? " Arasya memalingkan wajahnya.


"N-


" Wildan, "panggil Ran berlari kecil menghampiri Wildan.


Wildan melirik Arasya sekilas.  Gadis itu tampak biasa-biasa saja. Ia lalu beralih menatap Ran yang sudah di depannya.


" Kamu kesini sama siapa? "Tanya Wildan sambil melirik Arasya lagi.  Gadis itu masih sama, sibuk dengan es krimnya.


" Sendiri.  Bosen  di rumah, "jawab Ran sambil menatap Arasya. " Aku boleh ikut kalian? "Tanyanya dengan hati-hati.


Arasya menghentikan menjikati es krim nya.  Sedangkan Wildan dag dig dag dug tak karuan.  Sebenarnya leali itu ingin menolak tapi Ran bertanya kepada Arasya langsung.


Arasya menatap Ran dengan santai.  " Kali ini nggak boleh.  Gue sama Wildan mau ngehabisin waktu berdua aja.  Mendingan lo pulang aja kalau enggak pergi, "ujarnya dengan santai.


" Iya, Ran.  Bener apa kata Ara, "timpal Wildan membuat Ran cemberut.


" Ya udah.  Aku pulang dulu, "pamitnya sambil menatap Wildan yang tengah tersenyum ke arahnya.


" Bagus deh, "sahut Arasya yang kembali sibuk dengan es krimnya.


Wildan menyenggol lengan Arasya membuat gadis itu menatapnya tajam. " Sana anterin sahabat lo pulang! "Ketusnya.


Wildan menghela napas lalu menangkup kedua pipi Arasya dengan tangannya. " Denger dan ingat! "


"Mmmmm."


"Sttttt."


"Pertama, Wildan cuma suka ke Ara. "


"Kedua, Wildan cuma cinta ke Ara. "


"Ketiga, Wildan adalah milik Ara. "


"Paham? "


Arasya mengangguk dengan lucu membuat Wildan gemas. Gadis itu menatap es krimnya yang cair. Padahal es krim nya belum habis.


"Nanti kita beli es krim, oke?"


Arasya mengangguk dengan semangat membuat Wildan gemas lagi. Gadis itu langsung membuang es krim nya sembarangan.


"Ara cantik? "


Arasya mengangguk dengan cepat.


"Ara pintar? "


Arasya mengangguk dengan cepat.


"Ara lucu? "


Arasya mengangguk dengan cepat.


"Boleh cium nggak? "


Arasya mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.


"Di dahi? "


Arasya menggelengkan kepalanya.


"Di pipi? "


Arasya menggelengkan kepalanya.


"Di bibir? "


Arasya menggelengkan kepalanya lalu memalingkan wajahnya. Gadis itu melirik sekilas Wildan yang tengah diam sambil menatapnya.


"Di dahi hlo. "


Arasya langsung melepaskan kedua tangan Wildan dan berlari sekencang mungkin. Sedangkan lelaki itu tertawa puas melihat wajah Arasya langsung memerah.


•••


"Ayo ke mall, " Ajak Arasya sambil menarik tangan Wildan.


"Ke pasar malam aja ya? " Pintar Wildan membuat Arasya mengangguk semangat.


"Ya udah.  Let's Go! " Arasya berjalan terlebih dahulu namun tangannya di tarik oleh Wildan sehingga badannya di tahan oleh badan lelaki itu.


"Makan dulu ya, sayang.  Nanti sakit perut hlo, " Ucap Wildan dengan manis.


Arasya segera berdiri dengan baik. "Apaan sih! " Kesalnya karena Wildan selalu bisa membuatnya tersipu malu.


"Ra, kita makan duku, oke? " Ajak Wildan dengan lembut sambil memegang tangan kanan Arasya yang sedang memegang boneka.


Arasya pasrah, mengangguk. "Mau makan dimana? " Tanyanya.


"Di sekitar sini aja, " Ujar Wildan sambil melihat pedangang kaki lima yang begitu banyak di luar ancol.


"Ya udah.  Aku mau soto, " Arasya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Wildan.


Wildan harus sabar.  Sabar. Sabar. Dan sabar.  Mengahadapi Arasya yang sudah berubah menjadi gadis manja nan menggemaskan itu. Lelaki itu mengejar Arasya sambil menggengam tangan Arasya sebelah kiri yang memegang bunga.


Arasya menoleh. "Biar nggak hilang, " Wildan berucap tanpa menatapnya.


Arasya tersenyum tipis lalu menggengam tangan Wildan dengan erat. "Biar nggak kecantol sama cewek lain, " Ucapnya sambil terkekeh.


Wildan ikut terkekeh.


"Udah sampai.  Lepasin gih, " Suruh Arasya sambil menatap tangannya yang masih di gengam Wildan.


"Jangan. Nanti kamu kecantol sama bapak-bapak tukang soto, " Canda Wildan sambil melepaskan tangannya.


Arasya hanya bisa tertawa sambil mencari tempat kosong. "Aku ke sana.  Kamu pesen, oke? " Arasya melangkah tanpa persetujuan Wildan.


"Mas, mau pesen apa? " Tanya bapak-bapak tukang soto itu.


"Soto 2 sama es teh 2," Jawab Wildan sambil mengeluarkan selembar 50  rb. "Ini, Pak.  Kembaliannya ambil aja. "


"Makasih ya, mas.  Semoga mas sama mbaknya itu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahman."


Wildan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.  Amin. Lalu melangkah menghampiri Arasya yang tangan bermain ponsel.


"Udah? " Tanya Arasya tanpa mengalihkan perhatiannya ke ponselnya.


"Lagi liat apa sih? " Kepo Wildan sambil mendekat namun Arasya langsung sigap menyembunyikan ponselnya.


"Kepo."


Wildan menghela napas lalu menatap Arasya serius. "Kamu tahu nggak, Ra?" Tanyanya dengan wajah serius.


Arasya pun menatap Wildan serius. "Nggak,"jawabnya.


Wildan diam beberapa saat membuat Arasya gemas sendiri. " Dan,"panggil Arasya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Wildan.


"Ra, " Panggil Wildan dengan serius.


"Apa sih? " Kesal Arasya.


"Kamu-" Ucap Wildan sengaja menggantung.


"Apa, Wildan? " Ujarnya dengan gemas.


"Ra, " Panggil Wildan lagi dengan serius.


Arasya kesal sekaligus gemas. "Terserah, " Kesalnya sambil mengalihkan wajahnya.


"Ra, " Panggil Wildan lagi membuat Arasya ingin menutup mulut Wildan dengan lakban.


"Apaan sih! " Kesalnya.


"Silahkan dik mati, " Bapak-bapak tukang soto itu menaruh soto serta minuman yang di pesan Wildan.


"Makasih, Pak, " Ujar Wildan sambil meletakkan soto dan minuman Arasya di depan Arasya.


"Mau ngomong apa sih?! " Kesal Arasya yang kepo juga.


"Kamu-. Ah, nanti aja.  Kita makan dulu, "Wildan mengambil sendok dan kecap.


Arasya mengumpat di dalam hati sambil mengambil sendok.  Gadis itu melirik Wildan sekilas dengan kesal.  Ia menuangkan kecap lalu menuangkan sambal sambil menatap Wildan dengan kesal.  Sampai-sampai sambal yang dituangkan Arasya hampir 3 sendok makan.


Arasya melahap sotonya sambil menatap Wildan kesal. " Pedes! Pedes! Minum! Minum! "Hebohnya sambil mengibaskan tangannya di depan mulutnya.


Wildan langsung memberikan es tehnya dan langsung diminum Arash sampai setengah.


" Kamu ngasih sambal banyak? "Tanya Wildan sambil meletakkan gelas yang berisi teh tinggal setengah.


" Nggak tahu, "Arasya menggelengkan kepalanya sambil menatap soto.  Padahal ia lapar.


Wildan tersenyum lalu menggeserkan mangkoknya. " Makan punya aku aja.  Biar aku makan punya kamu, "ujarnya sambil menukarkan mangkoknya dengan mangkok Arasya.


" Tapi kan-"


"No protes atau kita nggak jadi ke pasar malam, " Ancam Wildan.


"Nggak jadi ke pasar malam aja.  Asalkan kamu nggak kepedasan, " Sahut Arasya dengan wajah berat hati.


Wildan menghadap ke arah Arasya dan menatapnya lekat-lekat. "Ra, " Panggilnya.


"Apa? " Tanya Arasya sambil memutar badannya menghadap Wildan.


"Ra, " Panggil Wildan lagi.


Arasya menghela napas lalu menatap Wildan kesal. "Apa sih, Dan? "


"Aku. Maksudnya kamu.  Jaga diri kamu baik-baik.


Apa maksud dari ucapan Wildan?  Kenapa kekasihnya itu bilang seperti itu? Perasaan Arasya tak enak.  Adakah sesuatu yang disembunyikan Wildan?


•••