
-*Maaf dan maaf. Hanya itu yang bisa aku ucapkan sekarang-
-Wildan Nagaswara*-
•••
Sudah lima hari ini, Arasya menghindari Wildan dan lima hari itu ia tak bertemu dengan Wildan. Rasa sakit dan rindu datang bersamaan. Setiap malam ia akan selalu menangis, mengingat kejadian di rumah lelaki itu. Ia terkadang tiba-tiba menangis saat melamun ataupun saat jam pelajaran berlangsung. Seperti itu. Hingga tepat di hari ketiga, ia bertemu dengan lelaki itu. Ia mencoba acuh dan tak mau melakukan kontak mata denganya.
"Ra, " Panggil Wildan dengan lembut. Membuat hati nya sedikit goyah. Tapi, ia mengabaikan sapaan darinya dan melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Jujur saja, ia merasa sakit saat mengacuh lelaki yang ia rindu. Tapi ia tak bisa apa-apa. Logika dan hatinya berlawanan!
Maaf, Dan. Lebih baik aku menghindari kamu dulu.
Tapi langkahnya berhenti tiba-tiba. Arasya berbalik dan berlari ke arah Wildan yang tengah melangkah. Ia langsung memeluk lelaki itu dari belakang. Ia sungguh merindukan lelaki itu.
Wildan tersenyum senang saat Arasya tiba-tiba memeluknya. Lelaki itu memutar badannya dan membalas pelukan kekasihnya. Untung saja, mereka bertemu saat pelajaran sedang berlangsung.
"Jangan tinggalin aku lagi, " Lirih Arasya sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu lagi," Janjinya sambil mencium puncak kepala Arasya dan mengusap rambut gadis itu.
"I miss you so much, " Arasya masih belum melepaskan pelukannya dan begitu juga dengan Wildan. Mereka berdua seakan tak mau melepaskan pelukan tersebut.
"I miss you to. Maaf dan maaf, " Ujar Wildan merasa bersalah telah meninggalkan kekasihnya. "Aku mencintai kamu, " Lanjutnya sambil mengecup kening Arasya lama.
"Aku juga. "
"Nanti malam mau diner? "
•••
Rika, Sami dan Zizi melihat Arasya dengan tatapan bingung. Lima hari yang lalu, gadis itu seperti patung berjalan. Sedangkan sekarang ia tampak seperti bunga yang baru saja mekar. Ketiga temannya tak habis pikir. Jujur saja mereka kepo dengan permasalahan apa yang dihadapi sahabatnya itu. Tapi, mereka tak bisa apa-apa jika Arasya tak mau menceritakannya.
"Lo lagi bahagia banget ya? " Tanya Rika sambil menyeruput jus jeruk.
"Iya, " Jawab Arasya dengan senyum yang selalu merekah sejak masuk ke dalam kelas sampai istirahat ke-2 dan mungkin akan selalu begini.
"Lo bahagia kenapa? " Pancing Sami sambil menatap Arasya serius.
Arasya menutup matanya tak lupa senyum yang merekah. "Wildan ngajakin gue diner, " Jawabnya sambil membuka matanya.
Zizi, Sami serta Rika rasanya ingin mengumpat. Namun ia tahan saat melihat wajah Arasya yang tiba-tiba menjadi datar. Mereka bertiga menatap apa yang dilihat Arasya. Mereka bertiga sungguh tahu bahwa sekarang Arasya tengah sakit hati. 100℅ positif.
"Lo nggak perlu lihatin merek berdua, Ra, " Zizi angkat bicara.
Arasya menoleh lalu tersenyum kepada Zizi. "Gue nggak apa-apa kok. Kan mereka sahabat, " Mana ada perempuan sama laki-laki yang sahabatan.
"Beneran? Kalau gitu kita ke kelas aja, " Sami tahu bahwa yang di tampilkan Arasya adalah senyum palsu.
"Gue nggak apa-apa. Kalian tenang aja. "
Tiba-tiba Rika berdiri dan melangkahkan menuju meja Wildan. Arasya mulai panik saat temannya yang satu ini menghampiri Wildan serta Ran. Bisa-bisa muka Ran pasti akan merah.
"Cepet cegah Rika, " Ucap Arasya kepada Sami dan Zizi lalu melangkah menghampiri Rika.
"Heh, lo! Cewek busuk! " Tunjuk Rika membuat Wildan dan Ran terkejut.
"Ka, ayo balik aja, " Ajak Sami sambil menarik tangan Rika namun di tepis oleh gadis itu.
"Ayo balik, " Ajak Arasya serta Zizi.
"Lepasin! Gue mau ngasih pelajaran buat cewek ular ini! "
Brak
Wildan berdiri dan menatap tajam Rika. "Maksud lo apa?! " Teriaknya mengundang perhatian siswa siswi yang ada di kantin.
"Wildan, buka mata lo! Mana ada cewek sama cowok sahabatan. Pasti salah satu dari mereka ada yang suka, " Itu bukan suara Rika namun suara Zizi.
"Ini bukan urusan kalian semua, " Ketus Wildan sambil menggengam tangan Ran. Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Lo pasti udah tau kan kalau Wildan pacarnya Ara. Kenapa lo mesra-mesraan sama pacar orang lain? Gue paling jijik ngelihat cewek sok polos sama lo! " Sentak Sami yang mulai kesal melihat wajah Ran.
"Kalian bertiga udah! Ayo balik! " Teriak Arasya yang sudah tak tahan.
"Mendingan lo diam aja, " Ucap Zizi sambil menyembunyikan Arasya di belakangnya, Sami dan Rika.
"Ini bukan urusan kalian. Kenapa kalian ikut campur? " Tanya Wildan sinis.
"Cewek kayak gini harus di kasih pelajaran, " Sami melayangkan tangannya ingin menampar namun di cegah Wildan.
"Jangan berani sentuh dia! " Ucapnya penuh penekan. Sedangkan Ran mulai meneteskan matanya.
"Hiks....tampar.... Hiks... Aku. Aku..... Hiks... Memang menjijikkan.... Hiks, " Isak Ran dengan pelan.
Arasya memegangi dadanya yang sesak. Gadis itu ingin menangis. Ia melangkah meninggalkan mereka. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Ia menangis sambil menundukkan kepalanya. Sampai-sampai ia menabrak seseorang.
"Maaf, " Kata Arasya sambil melangkah namun di tahan oleh seorang yang di tabraknya.
"Lo kenapa? " Tanya seorang itu tanpa Arasya ketahui.
"Lo nangis? " Tanyanya lagi saat tak ada respon dari gadis di depannya.
"Ikut gue! "
•••
"Ran, aku anterin kamu pulang ya? " Wildan berkali-kali ingin mengantarkan Ran namun selalu di tolak dengan gadis itu.
"Nggak, Dan. Kan kamu masih pelajaran," Tolak Ran yang sudah kesekian kalinya.
"Aku bisa cabut buat kamu, " Ucap Wildan sambil menggengam tangan hangat Ran.
"Cabut itu nggak baik, Dan. "
"Itu baik kok. Kan alasannya kamu. "
Ran tersenyum senang. "Jangan gitu, Dan. Kamu udah punya kekasih. "
"Kekasih nggak penting,Ran. Yang penting itu sahabat. Kalau kekasih tinggal nyari lagi kalau sahabat susah nyarinya. "
Ran tersentak mendengar respon Wildan. Masih kan ada kesempatan untuk merebutnya?
"Ran, " Panggil Wildan saat Ran hanya diam.
"Ya? "
"Aku anterin pulang ya? "
Ran mengangguk. Biarkan kali ini dia egois. "Iya. Nanti malam ke rumah aku ya? "
"Oke, bos. "
•••
Arasya kembali menangis dengan kencang saat melihat Wildan dan Ran di parkiran. Gadis itu di bawa oleh lelaki yang tak ia kenal di rooftop. Ia melihat semuanya dan perkataan mereka berdua dengan jelas.
"Sakit.... Hiks.... Sakit.... Hiks, " Isak Arasya sambil memukul dadanya.
"Lo kenapa sih?! " Kesalnya karena terganggu.
"Hiks.... Lo siapa... Hiks.. Sih! " Arasya menghampiri lelaki itu yang sedang tidur di sofa.
"Gue Piter, panggilan aja pit, " Jawabnya sambil mengubah posisinya menjadi duduk. "Lo siapa? "
"Gue Arasya. Panggil Ara.... Hiks, " Ucapnya yang tersisa isak tangis.
"Lo kenapa nangis? " Tanya Piter yang kepo.
"Pacar gue lebih belain sahabatnya dan meluk dia di depan gue. Dan tadi dia bilang " Kekasih itu nggak penting. Yang penting sahabat". Berarti gue nggak penting buat dia dong! "Jelasnya entah kenapa terbuka dengan lelaki yang baru ia kenal itu.
"Wah. Pasti lo nyesek kan? " Kagum Piter sambil tertawa.
"Ya pasti lah! " Kesalnya sambil menghampus air matanya.
Piter tersenyum tipis saat Arasya tak menyadari ada air matanya yang tertinggal. Lelaki itu mendekat. Tanganya telulur dan mengusap pipi halus Arasya.
"Jangan nangis lagi. Lo jelek kalau nangis, " Piter tersenyum manis.
Sweet banget.
Sungguh Arasya malu. Pasti pipinya saat ini memerah. Ia menunjukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang merah.
"Tapi bo'ong, " Piter tertawa kencang. Puas melihat wajah Arasya malu.
Arasya langsung mendongak lalu mencubit pinggang Piter dengan kesal. "Sialan lo! " Umpatnya sambil mencubit pinggang lelaki itu semakin kuat.
"Awww...... Sakit, sumpah, " Ringisnya sambil menarik tangan Arasya. Namun hal yang tak ia sangka terjadi.
Arasya tak sengaja mencium pipi kanan Piter. Mereka berdua saling diam. Gadis itu masih waras, lalu berdiri dan merapikan bajunya.
"Gu-gue cabut dulu, " Arasya menepuk bibir nakalnya ini.
Sedangkan Piter masih mematung. Lelaki itu memegangi pipi kanannya. Tiba-tiba pipinya merasa panas. Dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Argh, gue kenapa anjir!" Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.
•••