Dimenticare

Dimenticare
11.Tak pasti



-*Tegarnya aku bukan berarti aku tak kecewa. Kecewanya aku bukan berati aku tak tegar-


-Arasya Dafina Mangalitsa*-


•••


Arasya tahu bahwa yang ia lakukan adalah hal yang sangat tolol.  Gadis itu berniat untuk menemui Wildan di cafe yang di janjikan.


Arasya tahu bahwa Wildan tidak akan datang. 


Ia tahu bahwa Wildan akan lupa.


Ia tahu bahwa Wildan tak akan peduli pada kekasihnya ini.


Ia tahu bahwa Wildan akan menjadi sangat peduli pada sahabatnya itu.


Dan ia berharap Wildan akan datang.


Berharap pada yang tidak pasti?


Ahh, rasanya Arasya sudah lama


tidak berharap yang tidak pasti.


Gadis itu turun dari tangga lalu menghampiri Ardias yang tengah menonton TV sambil memakan cemilan. "Dor!!! " Ia tersenyum puas saat melihat wajah terkejut abangnya itu.


"Gila ya lo.  Gue belum nikah, " Omel Ardias mengusap-ngusap dadanya sambil mengantuk napasnya.


Arasya hanya menampilkan cengiran. "Bang, anterin gue dong! " Gadis itu duduk di samping Ardias lalu menampilan pupy eyes-nya.


Ardias melirik sekilas lalu menelan ludahnya dengan susah payah.  Lelaki itu sungguh ingin mencubit kedua pipi Arasya.  Adiknya yang satu ini terlalu imut saat menampilkan pupy eyes-nya. Membuat semua orang gemas dengannya begitu juga dengan dirinya.  Ia menyerah lalu mencubit kedua pipi Arasya.


"Minta maaf  dulu, " Ucapnya sambil melepaskan cubitannya.


"Iya-iya. Abangku sayang, maafin Ara yang cantek ini ya? " Katanya dengan suara begitu menggemaskan.


Ardias mencubit lagi pipi Arasya sambil menggoyangkan kedua pipi tersebut. "Salah siapa lo lucu banget, " Ujarnya sambil melepaskan cubitannya.


"Iya dong.  Selain menggemaskan gue juga cantik kok, " Bangganya sambil tersenyum.


"Nge-fly deh.  Ayo, buruan.  Mau gue anterin nggak? " Ardias beranjak, mengambil kunci mobil di lemari laku melangkah keluar.


"Tungguin gue! " Teriak Arasya mengejar Ardias.  Lo pasti datang.  Walau itu kemungkinan kecil.


•••


Ran tersenyum senang saat orang yang ia tunggu-tunggu datang.  Gadis itu langsung menarik tangan Wildan masuk ke dalam rumahnya.  Ia mendudukkan lelaki itu lalu berlari menuju dapur.


"Lucu, " Gumam Wildan tanpa sadar.


Ran kembali membawa sebuah kue. "Ini buatan aku sendiri hlo, " Gadis itu memberikan kue itu kepada Wildan.


Wildan dengan senang hati menerimanya lu mencicipi nya. "Enak banget.  Pasti kamu pertama kali buat kue kan?  Saran aku kamu buka toko kue aja," Puji nya sambil memasukkan kue ke dalam mulutnya.


"Beneran? " Tanya Ran memastikan dengan wajah antusias.


"Tapi bo'ong, " Jawab Wildan sambil terkekeh melihat wajah cemberut Ran.  Lelaki menyentuh puncak kepala gadis itu lalu mengusapnya. "Aku nggak bo'ong, Ran.  Ini serius enak. "


Ran kembali menampilkan senyumnya membuat Wildan ikut tersenyum. "Makasih, Dan, " Katanya dengan senang.


"Iya. Mau ke luar nggak? " Ajak Wildan sambil meletakkan piring berisi kue yang tinggal setengah.


"Mau! " Jawab Ran dengan semangat.


Wildan berdiri lalu mengulurkan tangannya.  Ran menggenggam erat tangan lelaki itu. "Ayo! " Teriak Ran dengan semangat.


Wildan tersenyum senang melihat Ran senang.  Hatinya terasa sejuk saat melihat Ran tersenyum.  Hatinya terasa sakit saat melihat Ran menangis.  Ia jadi lupa bahwa ia mempunyai, Arasya!


Aku sayang kamu, Ran.


•••


"Malam ini alun-alunnya ramai ya, Dan, " Ucap Ran sambil menatap begitu banyak orang-orang.


"Iya. Apa kita pulang aja? "Ajak Wildan sambil mengusap rambut Ran.


" Jangan!Aku nggak apa-apa kok,"tolak  Ran  dengan cepat.


"Ya udah, " Ujarnya sambil melepaskan jaketnya lalu di sampiran ke bahu Ran. "Biar nggak kedinginan," Jawabnya yang mengerti raut bingung Ran.


"Makasih, " Ran tersenyum lalu menatik tangan Wildan.


"Aku pengen gudeg, " Tunjuk Ran saat melihat kuliner yogyakarta tersebut.


"Oke. Kita kesana, " Wildan menarik tangan Ran membuat Ran tersenyum senang.


Maaf, Ra.  Aku egois.


•••


Sudah 30 menit berlalu, Arasya masih setia menunggu di cafe.  Gadis itu mencoba menunggu Wildan di luar cafe.  Angin malam langsung membuat tangan gadis itu merinding, kedinginan.  Ia mengusap-ngusapkan tangannya untuk mengurangi dingin.  Ia melihat awan yang mulai menggelap.  Ia jadi khawatir akan sesuatu.


"Hujan, kenapa harus datang sekarang?  Itu menghalangi Wildan untuk datang kesini? " Gumam Arasya sambil menadahkan telapak tangannya yang mulai basah akibat rintikkan air satu persatu.


"Semoga saja dia kesini, " Gumamnya lagi lalu melangkahkan mundur. Ia duduk di  teras cafe yang kebetulan terdapat kursi dan meja. 


•••


"Sam, ayo neduh dulu, " Rika menarik tangan Sami menuduh di warung kuliner yogyakarta.


"Kira-kira hujannya sampai kapan ya?"Tanya Sami sambil menyenggol lengan Rika.


" Ya nggak tahu lah!  Emang gue Tuhan, "sental Rika sambil mengamati sekitar.


" Sam, sam, "panggil Rika sambil menepuk pundak Sami.


" Apaan? "Sami mengalihkan pandangannya dari ponsel. Menatap Rika dengan heran.


" Noh lihat, "Rika menunjuk kedua sejoli yang tengah suap-suapan.


Sami mengumpat dan mengepalkan tangannya dengan kesal. " Sialan tu cowok, "gadis itu ingin melabrak kedua sejoli itu.  Namun di cegat oleh Rika.


" Tempat umum, "ingat Rika kepada Sami. " Kalau di sekolah udah gue cakar-cakar, Sam, "lanjutnya membuat Sami menahan amarahnya.


" Bukannya sekarang Arasya janjian sama cowok sialan itu? "Tanya Sami yang mengingat percakapan dengan Arasya sewaktu di kantin.


" Iya.  Kok cowok sialan itu ada disini.  Berarti Ara nungguin cowok sialan itu.  Emang sialan tu cowok, "Rika tak dapat menahan emosinya.  Gadis itu ingin menghampiri cowok sialan itu yang tengah tertawa dengan cewek busuk itu.  Namun ditahan oleh Sami.


" Tempat umum, "ingat Sami sambil mengikuti gaya bicara Rika. " Kita sindir aja gimana? "Usul Sami langsung diangguki  Rika dengan semangat.


" Ayo, mendekat, "Rika menarik tangan Sami mendekati meja Wildan.  Hanya berjarak satu meter untuk menjalankan misinya.


" Ehh, lo tau nggak? "Sami mulai berbicara dengan nada yang cukup keras.


" Tau apa? "Tanya Rika sok antusias.


Wildan dan Ran mendengar jelas suara mereka berdua.  Tapi mereka berdua tak menghiraukannya dan melanjutkan makannya.


"Pacar gue ngajak gue diner.  Tapi dia nggak datang.  Gue udah nunggu kira-kira 1 jam gitu, " Jawab  Sami dengan senyum miring nya.


"Kenapa nggak dateng? " Tanya Rika sambil melirik sekilas wajah Wildan yang diam.  Ia tahu lelaki itu mendengarkan.


"Dia asik pacaran sa sahabatnya sendiri.  Sampai lupa sama gue. Sumpah gue sakit hati dan guru mutusin dia deh. Ngapain masih pacaran sama cowok sialan, " Jawab Sami dengan nada penuh penekanan.


Wildan merasa bersalah.  Lelaki itu telah lupa akan janinya dengan Arasya.  Ia segera mengambil jaketnya lalu meletakkan uang 100 rb di atas meja.


"Ran, aku pergi dulu.  Aku nggak lama. Bye, " Pamit Wildan sambil melangkah dengan cepat.


Ran bingung dengan sikap Wildan yang tiba-tiba. Pasti Ara, kan?


"Kalau jadi cewek itu nggak usah munafik! " Maki Sami dan Rika bersamaan.


Ran hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Sok polos!  Sok baik!  Cari muka! " Maki Rika sambil mengibaskan rambutnya.


Ran berdiri lalu menatap kedua perempuan itu dengan tajam.


"Duh, kok gue tiba-tiba takut ya? " Ejek Sami seolah takut pada tatapan tajam dari Ran.


Ran berjalan mendekati mereka berdua.


"Seram ya, " Ejek Rika sambil tersenyum miring.


*Plak


Plak*


•••


"Ra," Panggil seseorang membuat Arasya terbangun.  Kepalanya tiba-tiba saja pusing serta matanya tiba-tiba buram.


"Wildan? " Tebaknya sambil tersenyum senang.


"Gue Piter, " Ucap Piter sambil menggenggam tangan Arasya yang terasa dingin. "Ayo pulang, " Ajaknya.


"Gue mau nungguin Wildan, " Lirih Arasya dengan suara serak.


"Itu nggak penting.  Lo demam, Ra, " Ujar Piter sambil menempelkan telapak tangan di dahi Arasya. "Ayo pulang sekarang! " Paksanya sambil menggendong Arasya.


"Turunin gue.  Gue mau tung-


"Ra, " Panggil Piter saat Arasya tiba-tiba menutup matanya.  Lelaki itu langsung berlari menuju mobil dan menaruh Arasya di belakang.  Ia segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


"Gue nggak akan biar lo kayak gini lagi.  Gue akan ngerebut lo dari pacar lo! "


•••


Basah.  Salah satu yang menggambarkan Wildan sekarang.  Lelaki itu tak peduli jika ia harus hujan-hujannan.  Asalkan itu demi Arasya.  Ia berlari memasuki cafe.  Ia mengedarkan pandangannya.  Namun tak ada tanda-tanda gadis itu.  Ia keluar dari cafe lalu bertanya pada seseorang yang berada di luar cafe.


"Mas, saya mau tanya.  Cewek rambut panjang, masih muda, cantik udah pulang ya? " Tanya Wildan dengan sopan.


"Kayaknya sih tadi dia di gendong sama laki-laki.  Dan saya lihat di ketiduran di depan sambil menyebutkan nama " Wildan","jawab seorang itu lalu kembali menatap laptopnya.


Wildan melangkah dengan pelan lalu mendudukan dirinya.  Lelaku itu mengusap wajahnya. "Gue terlambat.  Dan pasti gue buat lo sakit hati, " Gumamnya sambil mengacak-acak rambutnya.


"Maaf, Ra.  Maaf, Ra.  Mungkin aku bukan yang terbaik buat kamu. "


•••