Dimenticare

Dimenticare
14.You and Me



-*Dunia serasa milik kita berdua.  Hanya ada Aku dan Kamu.  Kita berdua-


-Wildan Nagaswara*-


•••


"Wildan, mau boneka beruang besar itu, " Rengek Adanya sambil menarik-narik baju OSIS Wildan dan menunjuk toko boneka di mall.


Wildan menghela napas lalu menatap Arasya dengan kasih sayang. "Ra, aku nggak bawa uang. "


"Ya udah deh, " Ucap Arasya lesu sambil berjalan duluan.


"Sekarang sama dulu beda ya?  Tapi, gemes sih, " Gumam Wildan sambil mengejar Arasya.


"Hei, jangan marah dong, " Rujuk Wildan sambil menoel pipi Arasya.


Arasya masih diam tak mau bicara.


"Sayang, " Ucap Wildan lembut sambil menggenggam tangan Arasya. "Besok minggu aku janji akan ajak kamu jalan-jalan sepuasnya.  Besok Minggu adalah hari kita, " Lanjutnya sambil tersenyum.


Arasya kalah dengan bujukan Wildan.  Gadis itu langsung tersenyum tanpa sadar membuat Wildan ikut tersenyum dan bernapas lega.


"Kalau senyum kan tambah cantik, " Puji Wildan sambil merangkul Arasya.


Arasya menundukkan wajahnya.  Tak mau Wildan melihat pipinya yang merah ini.  Ia jadi tersipu malu.  Biarlah ia menjadi kaum alay. 


"Aku nanti malam mau ke rumah kamu, Ra. "


•••


Arasya bergerak mondar-mandir, memikirkan bagaimana nasib Wildan jika bertemu keluarganya.  Padahal lelaki itu tau bahwa keluarganya membencinya sejak kemarin.  Kenapa harus senekat itu?  Memang ya cowok itu susah di tebak.  Menurut Arasya sih.


Drttt


Arasya langsung mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau.


Ra, aku udah di depan rumah kamu.


"Apa?! " Arasya langsung turun krn bawah dengan cepat sebelum Wildan mengetuk pintu rumahnya.


"Ada apa, Ra? " Teriak Arani yang sedang berada di dapur.


"Nggak ada apa-apa, Ma, " Teriak Arasya  dari luar.


"Kamu ngapain sih?! " Heran Arasya yang melihat wajah Wildan tenang-tenang saja.


"Aku nggak ngapa-ngapain kok, " Jawab Wildan dengan tenang membuat Arasya ingin mengarungi lelaki itu.


Arasya langsung menarik tangan Wildan.  Tetapi, Wildan langsung menahan tubuhnya agar tak tertarik.


"Ra, aku mohon. Biar aku jelasin sama keluarga kamu, " Wildan menatap Arasya serius.


Arasya gampang goyah.  Gadis itu menghela napas lalu menatap Wildan dengan serius. "Oke. Tap-


" Ara? "Panggil Arya yang keluar dari rumah untuk mengambil berkas yang ada di mobil.


Arasya terkejut.  Gadis itu harus bagaiamana?  Jika menyembunyikan Wildan tak mungkin!  Papanya pasti melihat lelaki itu.  Ia memberikan kode kepada Wildan agar segera pulang. Namun, lelaki itu justru melangkah menghampiri Arya yang tengah menatap ke arahnya.


" Selamat malam, om, "sapa Wildan sambil mencium tangan Arya.


" Malam, "ucap Arya sambil menatap Arasya untuk memberikan penjelasan kepada.


Arasya mendekat lalu menyenggol lengan Wildan. " Pa, kenalin pacar Arasya.  Wildan, "ucapnya dengan pelan takut Papanya akan marah.


" Saya Wildan, om.  Pacarnya Arasya. "


"Oh, jadi kamu yang namanya Wildan, " Arya mengangguk.


Arasya kira Papanya akan marah ternyata responnya hanya begitu.


"Papa nggak akan marah, " Celetuk Arya membuat Arasya tersenyum lega. "Di setiap hubungan pasti ada konflik.  Papa udah mengalami itu. "


Arasya semakin sayang deh sama Arya. Gadis itu memeluk sang Papa dengan erat.  Ia melepaskan pelukan lalu menatap Wildan.


"Maafkan sahat yang telah menbuat Arasya sakit dan membuatnya kecewa, " Ucap Wildan yang masih bersalah.


"Saya tahu.  Ternyata kamu bukan main-main kepada anak saya.  Buktinya kamu berani datang ke sini dan meminta maaf langsung kepada saya, " Puji Arya sambil tersenyum kepada Wildan.  Lelaki paruh baya itu cukup salut kepada anak muda ini.


"Pa? " Panggil Arani yang keluar dari rumah.


Arasya harus bagaimana lagi?  Pasti Arani akan marah terhadap Wildan.  Ah, gadis itu pusing memikirkan hal itu.


"Selamat malam, tante, " Sapa Wildan dengan ramah sambil tersenyum.


"Malam, Wildan, " Sapa Arani balik.


Arasya terkejut mendengar respon Arani. "Mama nggak marah? " Tanyanya bingung.


"Ngapain marah.  Wildan butuh hukuman aja."


Plak!


"Mulai sekarang tante maafin kamu. "


Wildan tak apa jika ditampar.  Asalkan Arasya dapat bersamanya.


"Makasih, tante, " Ucap Wildan dengan senang.


"Pa, kita ke dalam aja.  Takut ganggu sejoli muda ini, " Ajak Arani sambil menarik tangan sang suami.


Wildan terkekeh melihat kedua orang tua Arasya."orang tua kamu lucu ya? "


"Kamu nggak apa-apa? " Tanya Arasya cemas sambil memegang pipi kanan Wildan.


"Nggak apa-apa kok, " Jawab Wildan sambil memegangi tangan Arasya yang berada di pipinya.


"Semoga kita berjodoh. "


•••


Ini yang ditunggu-tunggu Arasya.  Menghabiskan waktu seharian dengan kekasihnya, Wildan.  Gadis itu tersenyum melihat penampilannya di cermin.  Ia menambahkan aksesoris di rambutnya.


"Cantik deh, " Pujinya pada dirinya sendiri sambil berputar.


"Emang nggak salah pilihannya si Sami, " Ujarnya sambil menatap dress yang dipakai dari pantulan cermin.


Arasya mengambil ponselnya di kasur. Gadis itu berdeham terlebih dahulu lalu menekan tombol telepon di kontak kekasihnya.


"Ko cepet banget.  Aku aja baru selesai. "


Kalau lebih cepet waktu kita berdua makin banyak.  Aku tunggu ya.


"Iya."


Arasya meraih tas selempangnya, memasukkan yang di butuhkan nya.  Lalu melangkah turun ke bawah. 


"Ma, Pa,  aku pergi dulu, " Pamit Arasya sambil mencium kedua pipi orang tuanya.


"Pasti sama cowok berengsek itu, kan? " Tebak Ardan yang masih kesal dengan Wildan.


"Ardan, " Tegur Arya dan Arani bersamaan.


"Udah sana pergi.  Nggak usah pulang, " Usir Ardian sambil menyua sendok ke dalam mulutnya.


"Siap!  Assalam'alaikum, " Ucapnya dengan semangat.


•••


Wildan rasanya ingin membawa Arasya pulang ke rumahnya.  Lihatlah betapa lucunya Arasya memakai dress itu.  Lelaki itu jadi gemas sendiri.  Ia hanya bisa mencubit kedua pipi Arasya dengan pelan.


"Pacarnya Wildan kok lucu banget sih? "


"Ihh, Wildan! "


"Mau berangkat sekarang? "


"Iya. Pakei helm. "


"Dengan senang hati, tuan putri. "


Arasya tersenyum malu lalu menaiki motor Wildan.  Tangannya dilingkarkan di pinggang lelaki itu.  Kepalanya ia senderkan di punggung tegap itu.


"Udah? " Tanya Wildan sambil terkekeh melihat kelakuan Arasya dari kaca spion.


"Udah. Ayo berangkat! " Seru Arasya dengan semangat.


Wildan hanya bisa tertawa kecil sambil menjalankan motornya.  Keheningan menyelimuti sejoli muda itu.  Tak ada obrolan sama sekali dari keduanya. Tapi, Arasya berhasil menghapuskan keheningan itu saat lampu merah.


"Dan, mau kemana dulu? " Tanya Arasya sambil nelihat sekitar.


"Makan dulu.  Kamu belum makan kan? " Tebak Wildan sambil melirik Arasya sekilas.


"Iya. Mau makan dimana? "


"Nanti juga tahu. "


"Ya udah.  Terserah kamu.  Aku ikut aja. "


"Oke."


Tak berlangsung lama, mereka berdua sudah berada di warung soto dekat dengan alun-alun kota. 


"Sotonya disini enak hlo, " Ujar Wildan sambil duduk di bawah.


"Kalau enak boleh nambah dong? " Arasya terkekeh sambil mengambil krupuk di depannya.


"Aku pesen dulu ya?"


Arasya mengangguk lalu memakan krupuk itu dengan lahap.  Sampai habis 3 krupuk.


"Kamu laper? " Tanya Wildan membuat Arasya tersedak krupuk.


Wildan dengan sigap mengambil minum lalu di berikan kepada Arasya. "Udah nggak apa-apa? " Tanyanya khawatir.


Arasya menggelengkan kepalanya sambil menghabiskan minum sampai setengah. "Alhamdulillah, " Ujarnya sambil meletakkan gelas.


Wildan menyusap punggung Arasya dengan lembut. "Maafin aku ya? "


"Nggak apa-apa kok. "


"Iya."


"Silahkan dinikmati, " Pak Pejo menaruh dua mangkok soto  lalu melangkah kembali.


"Cobain deh, " Wildan menyuapi Arasya. "Aaaa, " Titahnya untuk menyukai mulut.


"Nyam-nyam. Enak kan? " Tanya Wildan seperti berbicara dengan anak kecil.


"Enak, " Arasya langsung menyerbu sotonya dengan cepat.


"Pelan-pelan, Ra, " Ingat Wildan sambil meminum.


"Sotonya enak banget, " Puji Arasya sambil melahap soto sampai habis.


"Aduh kenyangnya, " Arasya mengusap perutnya yang rata.


"Bentar, " Wildan mendekat ke arah Arasya lalu mengambil sesuatu di bibir gadis itu. "Nasi, " Ucapnya.


Arasya malu.  Gadis itu meminum minumnya sampai habis. "Kita habis ini mau kemana? " Tanyanya.


"Ada deh.  Kamu pasti suka, " Ucap Wildan sok rahasia.


"Iya-iya. Yang rahasia-rahasiaan, " Ujar Arasya sambil berdiri lalu melangkah meninggal Wildan yang tersenyum.


Beruntungnya aku dapatin kamu.


•••


"Wildan, " Arasya terkejut sekaligus merasa senang.  Tangan kanan gadis itu membawa boneka beruang dan tangan kiri gadis itu membawa sebuket bunga.


"Aku bahagia banget.  Makasih, sayang, " Ucapnya lalu memeluk Wildan dengan erat.


Wildan nggak sah dengarkan.  Arasya memanggilnya 'sayang'.  Lelaki itu membalas pelukan Arasya laku mengecup sekilas puncak rambut Arasya.


"Sama-sama, sayang, " Ujar Wildan sambil melepaskan pelukannya.


"Kamu bener-bener romantis deh, " Puji Arasya sambil menatap beruang besar itu dengan gemas.


"Muji-muji aja pas di kasih sesuatu doang, " Sindir Wildan.


Arasya hanya tersenyum menampilan giginya. "Misalnya kalau kita putus.  Beruang ini aku kembalikan ya? "


•••