Dimenticare

Dimenticare
21.Putus?



-Tingkahnya tak seperti bisanya.Dia bukan seseorang yang aku kenal.Dia bukan orang yang aku kenal-


-Arasya Dafina Manglitsa-


•••


"Bang, Ara pengen sekolah, " Rengek Arasya sambil memeluk Ardan.


Ardan mengusap rambut Arasya lalu berkata, "Jangan dulu ya, sayang.  Kalau keadaan kamu lebih baik.  Abang izinin.  Atau kamu mau homeschooling. "


"Abang! " Rengek Arasya.


"Iya, sayang? " Tanya Ardan sambil mengangkat alis kanannya.


"Ara mau sekolah, ya, ya, ya? "


Arasya memasang pupy eyes.  Sambil mengedipkan matanya.  Mencoba terlihat menggemaskan.


Ardan menggelapkan kepala.


Sial!Gagal!


Arasya mencebikkan bibirnya. Ardan selalu begitu dengannya.  Terlalu overprotective.  Membuatnya tidak bisa bebas.


"Hey! Kalau kita jalan-jalan gimana? " Ajak Ardan sambil mengusap rambut Arasya.


Arasya langsung menoleh dengan cepat dan menganggukkan kepala dengan semangat.  Wajahnya berubah menjadi sumringah.


"Kalau gitu Ara mau sama Wildan aja.  Nggak mau sama Bang Ardan, " Ucap Arasya membuat Ardan memutar bola matanya malas.


"Jangan capek-capek. "


Arasya menganggukkan kepala.


"Jangan lari-lari. "


Arasya menganggukkan kepala.


"Jangan pecicilan. "


Arasya menganggukkan kepala.


"Jangan pulang malam-malam. "


Arasya menganggukkan kepala.


"Jam 7 udah harus sampai rumah."


Arasya menganggukkan kepala.


Ardan kesal dengan respon Arasya.  Dia mencubit pipi Arasya sampai gadis itu meringis kesakitan dan meminta untuk melepaskan.


"Swaakit abwang Awrdan.  Lwepwasin! "


Ardan tertawa melihat betapa lucunya adik tersayangnya ini. Dia melepaskan cubitannya.


"Ish! Sakit tahu! " Kesal Arasya sambil berdiri dan melangkah dengan kesal menuju kamarnya.


•••


Wildan rela membolos demi mencari keberadaan Ran.  Rasa khawatir terhadap Ran semakin besar. Dia menyewa semua detektif untuk menemukan Ran.  Dia menyuruh semua detektif untuk berpencar.  Tak hanya di Indonesia di luar negeri pun ada.  Sampai Ran ketemu!


Wildan menekan kontak seseorang lalu meneleponnya.  Ponselnya di letakkan di meja kerja lalu di aktifkan speaker.


"Ada kabar terbaru? " Tanya Wildan sambil mengejarkan tugas sekolahnya.


Nona Ran masih belum bisa ditemukan, Tuan.


"Secepatnya saya tunggu kabar baiknya. " Tutttt


Wildan memutuskan secara sepihak lalu menatap sendu foto Ran yang sengaja ia figura.  Di samping foto Ran terdapat foto kekasih tercintanya, Arasya. Dia menepuk dahinya kalau mengingat Arasya. Tapi, tugasnya masih banyak.


Drttttt


Kebetulan sekali.  Arasya menelepon Wildan.  Lelaki itu langsung mengangkatnya.


"Halo, Ra. " Sapa Wildan sambil tersenyum memandangi wajah cantik Arasya yang di figura.


Kamu nggak sekolah?


"Nggak, Ra. Emang ada apa? "


Ayo jalan-jalan.


"Sorry, Ra.  Aku nggak bisa.  Aku sibuk.  Lain kali ya. "


Ya udah. Bye.


"Ra- tuttttt.


Wildan berdecak kesal.  Lelaki itu mengacak-acak rambutnya.  Arasya marah kepadanya.  Dia menyenderkan tubuhnya.


" Apa gue kasih tahu aja siapa Ran? "


•••


Arasya sungguh sangat teramat kesal terhadap Wildan.  Gadis itu memutuskan untuk menelepon Piter.


Ada apa, Ra?


"Nanti sore jalan ya? "


Ngajak nih?


"Iya. Gue lagi pengen nih.  Wildan nggak mau.  Katanya sibuk! "


"Jam 3 ke rumah.  Bye. "


Arasya melemparkan ponsel ke kasur lalu melangkah keluar kamar.  Gadis itu mencari-cari keberadaan abang-abangnya ternyata tak ada.  Dia memutuskan untuk keluar rumah dan menghirup udara segar.  Walaupun dia tak ingat apa-apa tapi ia merasa tak asing.  Dia melangkah keluar namun dia dikejutkan dengan seorang perempuan. Perempuan itu menatapnya tajam.


"Si-siapa kamu? " Tanya Arasya dengan takut.


Perempuan itu tertawa.  Tawa mengejek. "Ohh Iya.  Lo kan habis kecelakaan.  Itulah  balasan akibat lo ngerebut Wildan dari gue! "


Ya, dia Ran. Perempuan yang bermuka dua.  Di depan Wildan dia akan menjadi perempuan yang baik.  Di belakang Wildan dia akan menjadi perempuan jauh dari kata baik.  Dia benci perebut seperti Arasya. 


"Gue Ran! Gue calon istrinya! " Teriak Ran sambil tersenyum miring.


Arasya memundurkan langkahnya.  Jujur dia tak mengenal perempuan gila ini.  Apakah yang di katakan perempuan gila ini benar?  Tapi kan dia gila? Jadi itu tidak benar, bukan?


Ran melangkah maju. "Jangan takut gitu, dong. "Perempuan itu memegang rambut Arasya paling ujung.


Arasya menepis tangan Ran. " Jangan sentuh gue! "Teriaknya ketakutan.


" Main-main sama gue yuk! "Ajak Ran sambil mengeluarkan ponselnya.


Perempuan itu mengetikkan sesuatu lalu menelepon Wildan.  Dia tersenyum miring melihat wajah tegang Arasya. Wildan mengangkatnya.  Dia sengaja menekan speaker.


Ran?  Kamu dimana?  Aku khawatir?


"Maaf." Ujar Ran sambil menatap Arasya.


Kamu sekarang di mana?


"Aku akan kasih tahu aku dimana tapi ada satu syarat. "


Apa itu?  Aku akan melakukannya untuk kamu, Ran.  Asalkan kamu kembali.


"Kamu memilih aku apa Ara? "


Apa maksud kamu?


"Aku cuma mau tanya itu, Dan.  Tolong jawab, please.  Atau aku akan pergi selamanya. "Ran tersenyum miring saat melihat wajah Arasya begitu takut dan tegang.


Aku........ pasti memilih kamu.  Kamu adalah seseorang yang paling penting di hidup aku.  Sekarang kamu dimana?


" Wil-wildan. "Ujar Arasya sambil menangis.


Ara?


Plakkk


" Wildan!  Aku ditampar Ara! "Teriak Ran dengan histeris.  Padahal dia sendiri yang menampar dirinya.


" Bu-bukan aku, Dan-


Apa?! Aku segera kesana.


Ran tersenyum penuh kemenangan.  Rencananya berhasil. 


Plakk


Ran menampar pipi Arasya. "Dasar b*tch!  Jal*ang! "


Arasya menangis. "Gue nggak pernah buat salah sama lo!  Kenapa lo lakuin ini semua ke gue? " Isak nya sambil menghapus air matanya.


"Ara! "Teriak Piter sambil menghampiri Arasya. Lelaki itu langsung memeluk Arasya.


"Apa yang lo lakuin sama Ara?! " Bentak Piter dengan amarah tertahan.


Ran tertawa ringan. "Nggak gue apa-apain kok. " Ucapnya dengan tenang.


"Ran? " Panggil Wildan sambil melangkah menuju ketiga orang tersebut.


Ran berpura-pura menangis. Dia langsung berbalik dan memeluk Wildan.


"Wildan... Hiks.... Ara.... Hiks.... Nampar.... Hiks.... Aku. "Ucap Ran sambil tersenyum tipis.


Arasya melepaskan pelukan Piter lalu berjalan mendekati Wildan. " Itu nggak seperti apa yang kamu pikirkan. "Ujarnya.


Wildan menatap tajam Arasya. "Maksud lo Ran bohong sama gue?!"Teriaknya sambil mendorong tubuh Arasya.


Piter dengan sigap menangkap tubuh Arasya. " Maksud lo apaan, anjing! "Teriaknya.


"Perempuan murahan ini bohong sama lo, anjing! " Teriak Piter sambil memeluk Arasya.


Wildan melepaskan pelukan Ran lalu mendekati Piter. "Maksud lo apa?!  Perempuan murahan?!  Ran bukan perempuan murahan, anjing! "


Piter melepaskan pelukan Arasya namun Arasya tak melepaskan pelukan Piter. Gadis itu tak mau terjadi pertengkaran diantara mereka. 


"Stop! Gue mohon kalian jangan berantem! " Teriak Arasya.


Ran senang dengan pertunjukan ini.


"Wildan. Tadi aku lihat Ara selingkuh sama Piter. " Ucap Ran memanas-manasi.


Wildan mendengar penuturan itu langsung menatap keduanya tajam. "Apa itu benar, Ara? " Bentaknya.


"Itu nggak seperti yang kamu pikirkan Wildan.  Ran bohong sama kamu. "Sanggah Arasya sambil menggenggam tangan Wildan.


Wildan menghempaskan tangan Arasya.  Lelaki itu berbalik dan menarik tangan Ran.


Arasya terduduk sambil menangis dan menutupi wajahnya. " Dia... Hiks... Bukan... Hiks.... Wildan.... Bisa... Kan? "Isaknya.


•••


TBC!