
-*Kepulangan aku bukan untuk kamu-
-Arasya Dafina Mangalitsa*-
•••
1 Tahun Kemudian.
"Gue pulang! " Teriak Arasya saat menginjak tanah air. Gadis itu merentangkan tangan dan menutup matanya. Menikmati setiap sepoi-sepoi angin. Yang menerpa wajah cantiknya.
"Ra." Tegur lelaki berjas maroon itu, Caesar.
Arasya berbalik dan tersenyum, menampilkan giginya. "Iya-iya." Ujarnya sambil menghampiri Caesar.
"Kamu pulangnya besok ya? " Pinta Arasya sambil memeluk Caesar dan mendongakkan kepala.
Caesar tersenyum sembari mengusap puncak kepala Arasya. "Iya." Jawabnya.
"Peluk-peluknya nanti aja. Ini di depan umum hlo. " Kata Caesar membuat Arasya langsung melepaskan pelukan.
"Ara! " Teriak Ardan sambil berlari menuju Arasya dan memeluk sang adik.
"Bang Ardan! Ara kangen banget." Arasya membalas pelukan Ardan.
"Bang Ardias mana? " Tanya Arasya sambil melepaskan pelukan.
"Kemarin baru aja pergi ke Bali. " Jawab Ardan sambil menggengam tangan Arasya dan berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Caesar.
"Yah, sayang. "
Caesar berdecak kesal. Lelaki itu dilupakan seketika. "Tungguin aku!" Teriaknya sambil menarik koper.
Arasya dan Ardan menghiraukan teriakan Caesar. Mereka memasuki mobil Ardan. Arasya memilih duduk di belakang.
Caesar menaruh koper ke dalam bagasi lalu memasuki mobil, jok belakang.
"Sukanya ninggalin ya. " Ucap Caesar pura-pura marah.
Arasya tertawa kecil. Gadis itu mencubit kedua pipi Caesar. "Masa udah tua marahan sih? " Godanya sekaligus mengejek Caesar.
"Umur aku 22 ya. Masih muda kali! " Sanggah Caesar tak Terima sambil mencubit kedua pipi Arasya.
"Caesar. Lepasin. " Ringis Arasya saat Caesar menarik pipinya terlalu kuat.
"Lepasin dulu. "
Arasya menurunkan tangannya. "Ayo, bang jalan! " Suruhnya sambil tertawa bersama Caesar.
"Emang gue supir taxi apa? " Kesal Ardan sambil menjalankan mobilnya. Syukurlah. Lo bahagia sama Caesar.
Kepala Arasya menyender di pundak Caesar. "Ahh, aku pasti bakal kangen sama kamu. "
"Kata Dilan, 'rindu itu berat. Biar aku saja'. " Gombal Caesar sambil tersenyum geli. Mengingat dirinya tak pernah menggombal kepada perempuan. Hanya Arasya lah yang membuatnya sering menggombal.
"Apaan sih! " Arasya mencubit pinggang Caesar.
"Aww. Sukanya nyubitin ya. "
"Biar."
"Untung kamu calon istri aku."
•••
Wildan menatap garang kepada adik kelasnya,Flo. Lelaki itu memutari tubuh Flo dengan intens. Diaa berhenti di depan Flo.
"Nggak puas di hukum? " Tanya Wildan dengan tegas, sorot matanya tajam. Entah sejak kapan dia memiliki sorot mata tajam itu.
Flo memalingkan wajahnya, tak menggubris perkataan sang ketua OSIS itu.
Iya, Wildan itu ketua OSIS SMAN 3 Jakarta periode 2019/2020. Sekarang jabatannya berubah. Begitu juga dengan sifatnya. Dia menjadi lebih cuek dan jarang tertawa. Itu disebabkan karena satu cewek, kekasihnya,Arasya. Banyak adik kelas perempuan yang menaksir ataupun menganggumi. Selain tampan, dia juga pintar. Siapa yang tidak mau dengannya?
"JAWAB! " Bentak Wildan, kesabarannya sudah habis menghadapi adik kelasnya ini yang sudah di cap 'nakal'.
Flo menghembuskan napas dengan kasar. Gadis itu menatap Wildan dengan santai. Ia lalu tersenyum miring.
"Nggak! " Jawab Flo seraya melangkah meninggalkan Wildan.
Wildan menahan tangan Flo dengan kuat. Lelaki itu tak akan melepaskan cekalannya sampai Flo berbalik.
"Apa?! " Tanya Flo sedikit meninggikan suara.
"Hukum atau skors. " Ancam Wildan sambil mengeluarkan smirk nya.
•••
"Abi! " Teriak Zizi melengking di koridor kelas 11 IPA.
Abigail menulikan telinga. Pura-pura tidak mendengar suara nenek lampir itu. Dia menyumpal telinganya menggunakan headset lalu memasukkan kedua tangan di saku celana. Cool.
"Abi! Tungguin gue! " Teriak Zizi lagi. Kali ini gadis itu berlari agar langkahnya dengan Abigail tak terlalu jauh.
"Abi jelekkkkkk!" Zizi terlanjur kesal.
Abigail sama sekali tak mendengarkan suara nenek lampir. Apa jangan-jangan gadis itu sudah menyerah? Ah, rasanya tidak mungkin. Dia berbalik mendapati gadis itu dengan raut cemberut nya. Sungguh menggemaskan.
Abigail dengan cepat menggelengkan kepala. "Lo kenapa sih? " Gumamnya sambil melangkah kembali.
"Abigail jadi pacar Zizi ya?! "
•••
"Lo udah ingat semuanya, dek? " Tanya Ardan dengan penasaran. Sedari tadi dia ingin bertanya. Tetapi, Arasya selalu berbicara dengan Caesar. Membuatnya kesal dengan lelaki itu.
Arasya berhenti tertawa lalu menoleh ke Ardan. "Apa, Bang? " Tanyanya kurang jelas.
"Lo udah ingat semuanya? " Tanya Ardan dengan gemas.
"Udah. Semuanyaaaaaa. " Arasya membentuk lingkaran besar di atas kepalanya.
"Lo nggak pura-pura amnesia, kan? " Tanya Ardan yang memang masih belum percaya.
Arasya menoleh lalu mengangguk. "Tuh! Dokternya aja bilang gitu. "
"Iya. Serah, deh! " Ardan melangkah menuju kamarnya, menyisakan Arasya dan Caesar di ruang keluarga.
Arasya menyenderkan kepalanya di dada bidang Caesar. "Kamu nggak bisa ya, pulang besok-besok? " Tanyanya yang tak rela jika Caesar harus menjauh darinya.
Caesar menepuk-nepuk pundak Arasya. "Hey! Aku bakal sering kesini deh. " Katanya dengan lembut.
"Serius? Nggak bohong kan? "
Caesar menunjukkan jari kanannya. "Cincin ini jadi saksinya."
Arasya mengangkat jari kanannya dan menyatukan dengan jari kanan Caesar.
"Aku percaya. Aku cinta kamu. "
•••
"Ra! Ra! Bangun! " Teriak Caesar sambil mengetuk pintu kamar Arasya.
Arasya menguap lalu membuka matanya. Gadis itu menyebabkan selimut nya lalu berjalan untuk membukakan pintu.
"Ra. Bang-
" Iya. Ini udah bangun. "Ucap Arasya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
" Mandi. Sarapan. Aku anterin kamu sekolah. "Kata Caesar sambil mengecup dahi Arasya sekilas lalu menutup kembali pintu kamar Arasya.
Arasya mengangguk-anggukkan kepala lalu berjalan menuju kamar mandi. " Harus sekolah ya? "Gumamnya sambil memasuki kamar mandi.
Selesai mandi, Arasya langsung turun. Untuk sarapan. Gadis itu menggendong tas biru langitnya dengan senyum merekah. Dia mencium kedua pipi Ardan beralih Caesar. Lalu dia menarik kursi, dan duduk di samping Caesar di depan Ardan.
"Morning " Sapa Arasya dengan senang sambil mengambil roti tawar.
Caesar mencegah tangan Arasya mengambil roti tawar. "Nggak usah. Aku udah buatin buat kamu. " Cegahnya sambil tersenyum.
"Ya ampun. Makin sayang deh. " Ujar Arasya sambil mengambil roti ya ga udah diolesi slei matcha dan langsung memakannya.
Caesar tersenyum melihat Arasya lahap. "Jangan-jangan cepat-cepat. "
Ardan melihat Arasya pun tersenyum. "Slow aja. "
Arasya hanya nyengir lalu meminum susu coklat sampai habis. Gadis itu berdiri lalu memasukkan kursi ke dalam kolong meja.
"Ayo, by. " Ucap Arasya sengaja memanggil Caesar dengan beby.
"Iya, be. " Ucap Caesar juga. Lelaki itu berdiri dan memasukkan kursi ke kolong meja. "Kita berangkat dulu ya, Bang. Assalammualaikum. "
"Hati-hati. Waalaikumsalam. "
Caesar menggenggam tangan Arasya, berjalan keluar rumah.
Aku tidak akan melepaskan genggaman ini. Jika kamu yang meminta untuk dilepaskan.
•••
"Dan." Panggil Ran dengan lembut.
Wildan melirik sekilas, tidak menggubris panggilan Ran. Lelaki itu merasa dia bukan Ran dulu. Dia melangkah keluar rumah lalu berhenti dan berbalik.
"Pulang." Ujar Wildan singkat kemudian melanjutkan langkahnya keluar rumah.
Wildan mengeluarkan, menaiki dan menjalankan motornya. Di persimpangan jalan, dia melihat Flo sedang nokrong di warung. Oh, ini sebabnya gadis itu sering terlambat. Dia memberhentikan motornya, memarkirkan di dekat warung tersebut. Dia melepaskan helmnya lalu melangkah menghampiri Flo.
"Ekhemm." Wildan berdeham sambil berdiri di belakang Flo.
Flo tahu familiar dengan suara itu. Gadis itu tidak mempedulikan kehadiran ketua OSIS rese itu. Dia lebih memilih melanjutkan sarapannya.
Wildan yang merasa tak digubris jadi kesal. Lelaki itu menarik tangan Flo membuat gadis itu berdiri. Dia menatap Flo tajam.
"Berangkat sama gue! " Tukas Wildan sambil menarik tangan Flo, walaupun gadis itu memberontak.
"Lepasing gue, nj*ng." Maki Flo dengan kesal.
"Naik! " Suruh Wildan sambil memaki helmnya.
"Kalau gue nggak mau? " Tanya Flo sambil bersedekap dada.
"Gue cium lo! "
•••
Caesar membukakan pintu mobil untuk Arasya. Lelaki itu menutup kembali lalu menatap Arasya yang tengah terdiam, menatap sekolah lamanya.
"Be." Panggil Caesar sambil merangkul Arasya. Ikut melihat apa yang dilihat Arasya.
Arasya meroleh. Ada keraguan di benaknya. Dia belum siap bertemu dengn lelaki itu, Wildan.
"It's okay. " Caesar tersenyum lalu menghadap Arasya sambil memegangi kedua pundak Arasya.
Caesar menyalurkan sesuatu dari matanya untuk Arasya. "Be. Kamu nggak cinta sama dia lagi kan? Kamu cinta aku kan? Jadi, jalani aja. "
Arasya tersenyum. Di beruntung mendapatkan Caesar. Cowok baik serta perhatian.
"Makasih, by. "
Arasya memeluk Caesar. Caesar membalas pelukan Arasya. Mereka melerai pelukan.
Caesar mencium kening Arasya cukup lama. "Aku sayang kamu. "
Arasya tersenyum lalu mencium pipi Caesar. "Aku cinta kamu. Aku berangkat dulu. Bye, by. "
Caesar melambaikan tangannya. "AKU CINTA KAMU, BE. " Secepatnya aku bakal nikahin kamu.
•••
TBC!