
-*Aku takut harapan tak sesuai dengan ekspetasi-
-Wildan Nagaswara*-
•••
Gue tinggal aja. Batin Wildan sambil memasuki taxi yang sudah ia pesan lewat ponsel Kelvin.
Wildan menyebutkan alamat rumahnya dan taxi mulai berjalan. Lelaki itu membuka ponsel Kelvin. Bukan kepo namun ingin tahu saja. Hanya sekali kok. Kan ia tidak pernah kepo dengan saudaranya ini.
Tangannya menekan ikon galeri. Hanya beberapa foto yang tak penting di ponsel Kelvin. Ia bergulir lagi dan menemukan folder berjudul 'My love'. Wildan pun yang tertarik, menekan folder itu. Foto-foto sejak Kelvin masih kecil bersama seorang anak perempuan. Foto tersebut sangat banyak. Hampir 100 foto. Anak perempuan itu sangat cantik dan menggemaskan berbeda dengan Kelvin yang kucel.
Cantik dan manis. Jadi ingat Ara. Aku akan menemuimu, segera.
Wildan bergulir lagi di ponsel Kelvin. Kali ini ia menekan ikon whatsapp. Pertama-tama ia melihat kontak Kelvin. Terdapat lebih 50 kontak. Dan itu sebagian besar kontak perempuan. Ia geleng-geleng tak habis pikir dengan sikap playboy saudaranya itu. Matanya terhenti di kontak bernama 'Piter'.
Apa hubungannya Piter dengan Kelvin. Kenapa mereka bisa saling kenal? Wildan yakin itu adalah Piter. Terlihat dari foto profilnya.
Apa hubungannya lo sama Piter?
•••
"Mama sama Papa harus kembali, " Ujar Arani sambil memeluk tubuh sang putri.
"Maafkan Papa ya sayang, " Arya ikut memeluk tubuh sang putri.
"Nggak apa-apa kok, Ma, Pa, " Sahut Arasya sambil melepaskan pelukan kedua orang tuannya.
"Ardan, Dias, jaga baik-baik adik kamu. Awas kalau kenapa-kenapa, " Ancam Arani kepada kedua kakak Arasya.
Arasya tertawa kecil. "Dengerin apa kata Mama sama Papa, " Timpal Arasya.
"Iya-iya, " Ucap Ardan dan Ardian serempak.
"Sayang, Papa sama Mama pergi dulu, " Arya mencium kening Arasya disusul Arani.
"Hati-hati di jalan, " Teriak Arasya saat Arani dan Arya menutup pintu ruang inapnya.
"Dek, lo beneran amnesia nggak sih? " Tanya Ardan langsung mendapatkan anggukan dari Ardias.
"Beneran lah! " Sahut Arasya kesal. Gadis itu tak habis pikir dengan jalan pikiran kedua abangnya. Ia jadi berpikiran apakah mereka abangnya?
"Awas ya sampai lo bohong kayak di novel-novel, " Ancam Ardias.
"Ya Allah. Masa gue bohong. Dapat duit darimana buat nyogok dokter, " Arasya geleng-geleng kepala.
"Udah-udah. Mending lo beliin Ara sarapan, " Suruh Ardan sambil mendorong tubuh Ardias keluar dari rumah sakit.
Ardias berdecak kesal. Dengan berat hati ia harus membelikan sarapan untuk adik laknatnya itu. Tapi, tak apa ia juga bisa sarapan.
Kini tinggal Ardan dan Arasya. Arasya ingin sekali bertanya pada Ardan. Ardan yang mengetahui gerak-gerik Arasya pun angkat bicara.
"Kenapa? " Tanya Ardan sambil meletakkan ponselnnya.
"Gue boleh nanya nggak, bang? "Tanyanya balik.
Ardan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. " Mau nanya apa, hmm? "
"Wildan itu siapanya Ara? " Tanya Arasya berharap semoga Ardan menjawabnya.
"Wil-
" Good morning, "teriak Piter dengan semangat.
Arasya berdecak kesal. " Piter! "
"Ya? " Piter tersenyum sambil memberikan sarapan untuk Arasya.
"Ish nyebelin. Bang, cepet jawab, " Lanjutnya sambil menatap Ardan.
"Wildan itu-
" Sya, gue berangkat dulu, "pamitnya sambil menarik tangan Ardan.
" Ngapain sih lo! "Kesal Ardan sambil melepaskan tangan Piter.
" Jangan kasih tahu Ara siapa Wildan. Biar Wildan sendiri yang jawab. Kita nggak berhak! "
•••
Wildan menyemprotkan parfum coklat di seluruh tubuhnya. Lelaki itu meraih ponselnya lalu melangkah keluar. Ia mengambil kunci motor di samping TV lalu melangkah ke bagasi dan mengeluarkan motornya. Ia menjalankan motornya menuju rumah sakit dan bertemu dengan kekasihnya.
Sesampainya di rumah sakit, Wildan langsung bertanya kepada suster yang menjadi repsesionis. Lelaki itu langsung saja menuju kamar yang sudah di sebutkan oleh suster tersebut. Ia memegang knop pintu. Hanya memegang bukan membuka. Ia menarik napas dan membuangnya lalu membuka pintu. Terlihat jika kekasihnya sedang bermain.
"Ra, " Panggil Wildan sambil tersenyum merekah.
Arasya mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Gadis itu sangat mengingat senyuman itu. Ia terdiam sejenak.
"Wildan? " Tebaknya.
Wildan mengangguk sambil tersenyum senang. "Aku kembali, " Ujarnya sambil memeluk tubuh kekasihnya.
Arasya hanya diam tak membalas pelukan dari Wildan. Namun pelukan tersebut sangat familiar dan nyaman. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Yang jelas ia harus bertanya kepada lelaki itu siapa dia sebenarnya.
Wildan melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Arasya. "I miss you so much. "
"Sebenarnya kamu siapa? " Tanya Arasya membuat raut wajah Wildan berganti.
Wildan kira Arasya sudah mengingatnya, terbukti ketika gadis itu memanggilnya. Ternyata itu semua hanyalah harapan bukan kenyataan.
"Jika kamu belum ingat, sebaiknya kamu nggak usah tahu dulu. Aku pulang dulu, " Ucap Wildan sambil mengecup dahi Arasya sekilas dan melangkah keluar.
Arasya mematung. Kenapa dengan dirinya? Ciuman itu seolah familiar. Ciuman itu tak hanya sekali di berikan kepadanya. Siapa Wildan sebenarnya? Atau jangan-jangan Wildan adalah kekasihnya?
Wildan, kenapa lo nggak mau jujur sama gue?
•••
"Apa?! Amnesia! " Seru Zizi, Rika dan Suami serempak.
"Lo nggak bohong kan? " Tanya Rika memastikan.
"Kalau kalian nggak percaya, jenguk aja, " Jawab Piter sambil menyeruput es jeruknya. "Pulang sekolah gue mau kesana, " Lanjutnya.
"Abi tau? " Tanya Zizi tiba-tiba membuat penasaran Sami dan Rika.
"Dia tahu, " Piter mengangguk.
"Hubungan lo sama Abi apaan? " Tanya Sami sinis.
"Kepo lo, " Jawa Zizi sambil mengibaskan rambutnya.
"Zizi, " Panggil Abigail membuat ketiganya menoleh termasuk Zizi yang terkejut atas kehadiran Abigail.
"Apa? " Tanya Zizi sambil menatap pergerakan Abigail. Dari mulai berjalan ke meja nya sampai duduk.
"Hayo kalian ada apaan? " Goda Rika sambil menyenggol lengan Zizi.
"Apaan dah kalian. Ikut gue, " Elak Zizi sambil mengisyaratkan kode untuk Abigail.
Abigail menurut saja.
"Mereka pacaran? " Tanya Sami penasaran tingkat akut.
Rika mengedikkan bahunya, tak ingin tahu dan tak minat.
"Kalain tahu apa alasan Wildan pergi?" Ucap Piter tiba-tiba.
•••