
-Aku mencintainya dan aku mencintaimu. Tetapi aku lebih mencintanya-
-Arasya Dafina Mangalitsa-
•••
Wildan tidak tahu harus apalagi. Lelaki itu benar-benar sudah putus asa. Arasya memutuskannya secara sepihak. Dia merasa kecewa. Apalagi ketika mendengar bahwa Arasya telah bertunangan. Itu membuatnya sangat terpukul.
" Kenapa? Kenapa lo bohongin gue?"tanya Wildan sambil menatap langit-langit atap kamarnya.
" Gue. Gue nggak bisa kalau tanpa lo. Sampai kapan pun. Gue cinta sama lo, "gumam Wildan seraya mengambil figura di samping nakasnya.
Wildan mengusap lembut foto Arasya. Arasya tampak sangat cantik dan manis di foto tersebut. Senyumnya terbit. Rasa sakitnya tak sebanding dengan cintanya.
" Gue kecewa tapi gue cinta, "ucap Wildan seraya meletakkan foto dan turun dari kasur.
Wildan membasuh muka lalu berjalan turun. Lelaki itu terkejut dengan kedatangan Ayahnya, Bagas. Kelvin sudah kembali. Kenapa Bagas tiba-tiba datang? Dia menghampiri Bagas lalu duduk di depan pria baruh baya itu.
" Gimana kabar kamu? "tanya Bagas, tersenyum tipis. Akhirnya dia bisa bertemu dengan putranya.
" Alhamdulillah, "jawab Wildan singkat.
Sejujurnya Wildan sama sekali tidak merasa senang atas kehadiran Bagas. Dia justru merasa malas. Suasana hatinya sedang buruk.
" Ayah, ingin kamu ikut Ayah ke Denmark. Ibu kamu ingin kamu kembali, "ujar Bagas dengan serius.
Harus ke Denmark lagi?
Wildan masih bimbang. Sejujurnya dia tidak mau pergi ke Denmark lagi. Lagipula, pasti dia tidak dibutuhkan disana. Lebih baik dia disini, bisa melihat Arasya, mantan kekasih. Dia mungkin sudah memaafkan Arasya. Walaupun gadis itu tidak memaafkannya.
" Nggak, "balas Wildan dengan singkat. Dia berdiri dan ingin melangkah keluar, namun terhenti.
" Arasya Dafina Mangalitsa? "ujar Bagas tiba-tiba sembari berdiri.
Wildan membalikkan tubuhnya.
Sorot matanya berubah menjadi tajam. Amarah mulai naik. Bagas mengucapkan nama mantan kekasihnya dengan remeh. Dia jelas emosi.
" Jangan sentuh dia! Atau saya bisa menghancurkan anda! "sentak Wildan lalu melangkah pergi. Dia meraih kunci motornya, ingin pergi ke suatu tempat.
" Anak menyusahkan, "gumam Bagas kesal.
•••
Arasya membuka matanya perlahan. Semalam dia menangis sampai akhirnya tertidur. Air matanya mungkin masih menempel di pipi. Matanya mungkin bengkak akibat menangis semalam. Dia turun dari kasur dan menatap dirinya di pantulan cermin.
Arasya tersenyum miris. " Gue kek setan, "ucapnya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba turun.
" Jangan nangis lagi, " Arasya duduk di tepi kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara.
Tok tok tok
" Ara sayang, makan dulu, "ucap Ardan dari luar dengan suara lembut.
Arasya menurunkan kedua tangan lalu menghapus jejak-jejak air matanya. Gadis itu berdiri, melangkah dan membukakan pintu. Dia tersenyum,menandakan dia baik-baik saja.
" Ra. " Panggil Ardan. Lelaki itu tahu. Arasya habis menangis. Dia mendekat dan memeluk Arasya.
" Bang, gue nggak apa-apa, "ucap Arasya sedikit bergetar. Dia mati-matian menahan tangisnya.
Lo nggak boleh nangis!
" Gue tahu. Lo habis nangis. Cerita sama gue, "ujar Ardan dengan lembut lalu melerai pelukan.
Arasya mengeluarkan air mata. Gadis itu ternyata tidak pandai untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia memeluk Ardan lagi.
" Lo kenapa? Cerita sama gue, "kata Ardan seraya mengusap punggung Arasya yang bergetar.
Arasya melerai pelukan. " Gue..... ngakk.... apa-apa, "isaknya seraya menghapus air mata.
Ardan menutup pintu kamar Arasya. Lelaki itu menuntun Arasya untuk duduk di tepi kasur. Dia mengusap lembut punggung Arasya yang masih bergetar.
" Cerita, Ra, "paksa Ardan.
Arasya menoleh,menghapus air matanya dan tersenyum rekah.
" Gue nggak apa-apa, Bang, "kekeh Arasya.
Ardan menghela napas kasar. " Pasti menyangkut Wildan kan? "tebaknya dengan raut wajah kesal.
" Cowok berengsek itu ngapain lo!" Amarah Ardan tiba-tiba memuncak.
" Bang, "lirih Arasya seraya menunduk.
" Ra, cerita sama gue. Please, "paksa Ardan dengan lembut.
Arasya diam. Rasanya berat sekali menceritakan semuanya. Itu membuatnya merasa bersalah.
Ardan berdiri. " Apa perlu gue samperin tu cowok berengsek?!"
Arasya terkejut mendengar perkataan Ardan. Gadis itu menahan tangan Ardan dan menatap Ardan dengan mata berair. Dia ingin menangis dan menangis.
Wildan nggak boleh kenapa-kenapa.
" Jangan. Iya, gue cerita sama lo,"ucap Arasya pelan.
Ardan tersenyum penuh kemenangan. Lelaki itu duduk kembali dan menatap Arasya serius. Dia sudah terlanjur sangat kepo.
Jangan sembunyikan apa-apa dari gue, Ra.
Arasya mengusap air matanya yang mulai turun. Gadis itu mendongak dan menatap Ardan lekat-lekat. Dia sungguh tak ingin menceritakan kepada Ardan. Tapi jika dia tidak cerita, Ardan akan nekat dan mungkin akan berkelahi dengan Wildan.
" Gu-gue putus sama Wildan, "ucap Arasya pelan lalu menunduk.
Lah? Berarti adik gue selingkuh dong? Gila-gila.
Arasya mendongak dan menatap jendela kamarnya. " Piter ngancem gue. Gue milih putus atau kehilangan Caesar. "
" Gue masih cinta sama Wildan tapi rasa cinta gue ke Caesar lebih besar. Gu-gue terpaksa putusin Wildan."
Air mata Arasya mulai turun perlahan. Punggungnya pun bergetar.
Ardan langsung memeluk Arasya. Mengusap pundak Arasya, mencoba menenangkan adik perempuannya. Kisah percintaannya sungguh mengenaskan.
Ngenes banget. Tapi lebih ngenesan gue. Gue belum juga dapat pendamping hidup.
" Gue prihatin sama kisah percintaan lo. Itu pilihan yang terbaik. Gue yakin lo bahagia sama Caesar, "kata Ardan sambil melerai pelukan.
Ardan mengusap air mata Arasya lalu tersenyum. " Senyum dong! Cewek cantik nggak boleh nangis terus. Jadi jelek hlo, "hiburnya sambil menarik sudut bibir Arasya menjadi sabit.
Arasya terkekeh kecil. " Baru nyadar kalau gue cantik, "gadis itu menyibakkan rambutnya, seperti ala-ala model.
" Can-
" Ra, Caesar kecelakaan, "ucap Ardias dengan keringat yang bercucuran.
•••
Wildan mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Lelaki itu menyalip motor dan mobil yang menghalangi jalannya. Dia berhenti ketika lampu merah. Tujuannya tak jelas ingin kemana.
Apa gue ke rumah Abigail?
Wildan menganggukkan kepala. Lelaki itu menoleh ke samping. Di sampingnya ada mobil. Dia dapat melihat sejoli yang tengah berciuman.
Wildan menoleh ke depan lagi. 5 detik lagi lampu hijau. Dia mengegas motornya lalu melaju ketika lamp hijau. Tujuannya sekarang jelas. Rumah Abigail.
Sejujurnya hidup Wildan dan Abigail tak jauh berbeda. Tetapi mereka bukanlah broken home. Cuma kekurangan kasih sayang. Orang tua mereka sama-sama sibuk. Yang hanya dipirkan adalah uang dan uang. Tak ada yang lain. Itu membuat sikap mereka ke orang tua mereka menjadi pembangkang.
Wildan turun dari motor. Dia sudah sampai di rumah Abigail. Rumah besar namun sepi. Seperti rumahnya. Dia melangkah memasuki rumah Abigail, tanpa salam ataupun memencet bel.
" ABI! "teriak Wildan lalu duduk di sofa. Kebetulan ada mie goreng. Kebetulan juga dia lapar dan belum makan malam.
" Anjir! Mie gue! "teriak Abigail heboh. Lelaki itu langsung merebut piringnya dari Wildan. Dia duduk di depan Wildan agar Wildan tidak mencomot mienya.
" Bikin sendiri sana! "
" Ya elah. Gue lagi patah hati nih, "curhat Wildan. Lah emang, kan tujuannya kesini mau curhat.
" Ara? Gue kira hubungan lo sama udah kandas. Ternyata belum, "ujar Abigail sambil melahap mie gorengnya.
" Emang udah kandas, "balas Wildan sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa.
Uhuk uhuk
Abigail keselek. Lelaki itu langsung meriah gelas berisi jus jeruk. Dia meminumnya sampai setengah.
Wildan tertawa melihat Abigail. Sukurin!
" ***! "umpat Abigail seraya meletakkan gelas.
" Sukurin! "ledek Wildan sambil menghentikan tawanya.
" Kapan lo putus sama Ara? "tanya Abigail sambil melanjutkan makannya.
" Hari ini. "
" Why? "
" Ara udah punya tunangan. "
" Lo jadi selingkuhan dong! " Abigail tertawa meledek Wildan.
" Anjing! "
" Tunangannya namanya siapa?"
" Nggak tahu, " Wildan mengedikkan bahunya.
" Coba deh lo tanya sama Piter, "saran Abigail.
" Males. Lo aja. "
Dia juga yang bikin hubungan gue sama Arasya berakhir.
" Gue juga males. "
" Ya udah. "
Wildan memilih diam. Sesekali menatap Abigail yang tengah menikmati mie gorengnya. Sungguh menggoda. Mienya maksudnya.
" Ehh, lo masih inget Caesar?"tanya Abigail tiba-tiba.
Wildan mencoba mengingat. " Oh, Caesar yang anaknya dari kakak ayah lo kan? "tebalnya.
" Iya. Caesar yang anaknya adik ayah lo kan? "tebak Abigail.
" Apaan sih lo! Males gue bahas bokap gue! "kesalnya.
" Emang bokap lo ngapa? "
" Pulang ke rumah. Nambah hancur mood gue. "
" Oh."
" Kenapa lo tiba-tiba ngomongin Caesar? "
" Caesar ternyata udah tunangan. "
" Sama siapa? "
" Nggak tahu gue. "
" Coba deh lo tanya sama dia. "
" Males banget. Lo aja. "
" Ya udah. Sini HP lo! "
Abigail menyodorkan ponselnya. " Nih! "
Wildan langsung mengontak-ngantik ponsel Abigail. " Lo pacaran ya sama Zizi? "tanyanya saat mengetahui kontak Zizi diberi tanda love.
" Udah putus, "jawab Abigail malas.
" Kenapa masih ada tanda lope? "
" Nggak tahu. "
Anjir!
Wildan langsung mencari kontak Caesar. Dan dapat. Lelaki itu langsung menghubungi Caesar. Dia menekan tombol speaker. Agar Abigail ikut mendengarkan.
" Ada apa, Bi? "
" Lo aja yang ngomong, "suruh Wildan lalu bersedekap dada.
Abigail berdecak kesal. " Pasti lagi di club! "
" Gue mau tanya."
" Tanya apa? "
" Lo tunangan sama siapa? "
" Sayang. "
" Bentar ya sayang. Apa, Bi? "
" *** ya Caesar. Udah punya tunangan masih main cewek, "ucap Wildan pelan.
" Nama tunangan lo siapa?"tanya Abigail dengan nada tinggi.
" Arasya. Udah dulu ya, bye! "
" Apa? Arasya?! "
•••
1.390 kata:)
Jangan lupa follow:
@kaylaputri. sabrina
@quotestor_id