
*Mungkin aku yang terlalu lemah dalam rasa ini atau justru kamu?
-Arasya Dafina Mangalitsa*-
•••
Arasya merogoh kolong mejanya. Gadis itu tak sengaja memegang sesuatu entah itu apa. Ia menarik benda tersebut. Sebuah bunga! Ia terkejut.
"Dari siapa? " Gumam Arasya sambil mengecek sekitar bunga tersebut. Tak ada indentitas. Ia jadi penasaran siapa yang memberikan bunga tersebut.
"Wah, pagi-pagi udah dapet bunga aja tuh! " Celetuk Sami membuat Arasya terkejut.
"Bunga dari siapa, Ra? " Tanya Zizi sambil meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di samping Arasya.
"Nggak tahu, "jawab Arasya sambil mengedikkan bahunya.
" Pasti dari cowok yang pernah lo ceritain itu kan? "Tebak Rika membuat Arasya berpikir sejenak.
Piter memberikannya bunga? Kan tadi pagi ia bersamanya? Nggak masuk akal!
" Nggak kayak pacar lo yang tukang selingkuh itu, "Rika langsung menutup mulutnya saat mengatakan itu. Ia spontan.
Arasya mendengar nama 'Wildan' berpikir sejenak. Wildan memberikannya bunga? Itu masuk akal. Apa ia harus ke kelas Wildan untuk memastikan? Lagi pula ia juga rindu sama Wildan. Tapi, ia lagi jaga jarak sama Wildan. Gimana dong?
Ah, masa bodoh dengan jarak. Yang terpenting rasa rindunya harus terobati.
Arasya berdiri lalu melangkah keluar kelas sambil membawa bunga tersebut.
" Ara mau kemana tuh? "Tanya Sami sambil menatap kepergian Arasya.
" Paling nyamperin cowok yang diceritain itu, "tebak Rika salah.
" Iya. Dia juga butuh bahagia, "lanjut Zizi.
•••
Arasya menutup mulutnya, terkejut apa yang ia lihat sekarang. Piter tengah meninju Wildan. Gadis itu langsung lari dan menghentikan Piter.
" Stop! "Teriak Arasya sambil menutup matanya saat tangan Piter ingin meninju wajahnya.
Piter otomatis menghentikan tangannya lalu menatap Arasya sekilas dan berjalan pergi. Sial!
Arasya berbalik dan menatap wajah Wildan yang sudah di penuhi lebam. " Lo nggak apa-apa? "Tanyanya khawatir.
" Gue nggak apa-apa, "jawabnya tertahan karena sudut bibirnya berdarah.
" Ayo ke UKS, "Arasya menarik tangan Wildan membuat lelaki itu pasrah menurutinya. Diam-diam Wildan tersenyum senang saat Arasya menggengam tangannya dan mengkhawatirkannya.
" Lo kok bisa berantem sama Piter? "Tanya Arasya sambil menekankan langkah dan berjalan sejajar dengan Wildan.
" Urusan laki-laki, "jawab Wildan sambil tersenyum.
" Pasti gara-gara gue kan? "Tanya Arasya merasa bersalah.
" Nggak kok, "Wildan mengusap pelanggan puncak rambut Arasya.
Jantung Arasya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Gadis itu mengalihkan perhatiannya.
" Maaf, Ra, "Wildan berucap dengan pelan sambil menghentikan mangkanya diikuti Arasya.
" Maaf juga, Dan, "Arasya berucap sambil menundukkan kepalanya.
" Kita baikan? "Tanya Wildan sambil menggengam tangan Arasya.
Arasya tersenyum lalu mengangguk. "Iya."
"Oh, ya bunga. BUNGANYA MANA?! " teriak Arasya saat bunga tersebut tak ada di tangannya.
"Tenang. Nanti aku beliin lagi, "Wildan menarik tangan Arasya.
" Iya. Tapi kan-
"Pulang sekolah nanti kita beli, " Potong Wildan.
Arasya yang berada di belakang tersenyum senang. Hubungannya dan Wildan membaik.
Aku sayang kamu, Dan.
•••
"Sya, " Piter terkejut laku berdiri.
"Gue mau ngomong sama lo, " Ucap Arasya sambil berjalan terkebih dahulu.
"Bro, gue cabut dulu, " Pamit Piter sambil mengejar Arasya.
Rooftop. Arasya menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya. Gadis itu berbalik dan menatap Piter serius.
"Mau ngomong apa, Sya? " Tanya Piter sambil menarik tangan Arasya namun ditepis Arasya.
"Apa alasan lo berantem sama Wildan? " Tanya Arasya to the point dengan tatapan tajam ke arah Piter.
"Itu nggak penting, " Sahut Piter dengan cepat.
"Ini penting! " Ujar Arasya meninggikan nada bicara.
"Oke-oke. Lo duduk dulu biar gue jelasin, " Piter menatih Arasya agar duduk di sampingnya.
"Gini ceritanya...
Piter yang habis dari kelas Arasya tak sengaja melihat Wildan yang tengah bermesraan dengan cewek lain. Lelaki itu mendekati Wildan dan cewek itu.
" Udah sana masuk, "cewek itu mendorong punggung Wildan agar masuk ke dalam kelasnya.
" Kamu nggak apa-apa jalan sendiri ke parkiran? "Tanya Wildan.
" Nggak apa-apa kok, "jawab cewek itu sambil memegang pipi kanan Wildan.
Wildan tersenyum lalu memegang tangan cewek itu. " Hati-hati. Aku masuk dulu, "ujarnya sambil mengusap puncak rambut cewek itu dan memasuki kelas.
Piter mengepalkan tangannya. Lelaki itu berjalan gonta ganti dengan cepat menuju kelas Wildan.
Cowok berengsek! Sialan!
" WILDAN! "teriak Piter sambil menghampirinya.
Piter langsung menarik kerah baju Wildan. " Dasar cowok berengsek, "maki Piter sambil meninju wajah Wildan.
Wildan terkejut. Kenapa cowok ini langsung meninju nya? Padahal ia tak kenal dengan cowok ini?
" Apa-apaan sih lo! "Teriak Wildan sambil berdiri.
" Lo yang apaan, bangsar! "
Bugh!
"Ini buat Ara nungguin lo! "
Bugh!
"Ini buat Ara yang nangis gara-gara lo! "
Bugh!
"Ini buat Ara yang sakit gara-gara lo! "
Bugh!
"Dan ini buat Ara yang sakit hati gara-gara lo! "
"Gitu deh ceritanya. Lo sih pake acara dateng segala. Jadinya belum tuntas, " Ucap Piter tanpa rasa bersalah apapun.
Rasanya Arasya ingin menusuk kepala Piter menggunakan pisau. Tapi karena berhubungan Arasya lagi seneng. Arasya menjintak dahi Piter dan menginjak kaki Piter lalu berlalu pergi.
"Dasar gila! " Teriak Arasya.
Piter tersenyum senang. Karena melihat Arasya yang sudah kembali. Ia tahu bahwa Arasya dan Wildan sudah kembali seperti dulu.
Aku bahagia jika kau bahagia.
•••