
-Rasaku terlalu besar. Tidak ada yang menandingi walaupun kebohongan itu menohok hati-
-Wildan Nagaswara-
•••
" Aku kangen sama kamu. Aku mau ketemu kamu. Di cafe starla. "
" Now? "
" Iya. Sekarang, sayang. Aku tunggu ya. "
" Iya. " Tuttttt.
Arasya menurunkan ponsel lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur. Gadis itu membuka lemari pakaiannya. Dia menatap semua pakaiannya satu persatu. Dia berpikir sebentar.
" Gue mau pake apa ya? "gumamnya sambil mengobrak-abrik lemarinya.
" Apa pakai rok sama kaos aja ya?"ucapnya seraya mengambil rok hitam dan kaos putih bertuliskan 'Pretty '.
" Ini ajalah! "
Arasya langsung bergegas untuk berganti pakaian dan mempercantik diri. Gadis itu menghabiskan waktu 10 menit. Dia memesan ojek online dan melangkah keluar. Dia mendapati Ardias yang baru saja pulang dari luar kota. Dia ingin mengejutkan Ardias. Dia memeluk Ardias dari belakang. Membuat sang empu terkejut.
" Ara? Gue kira lo setan, "ucap Ardias sambil mengusap dadanya.
" Masa cantik gini dibilang setan!"kesal Arasya sambil menyenderkan kepalanya di pundak Ardias.
" Cantik darimana, Darmi! "ujar Ardias sambil tertawa.
Arasya melerai pelukannya. " Bang, gue jalan dulu, "pamitnya sambil melangkah keluar.
" ARA NGGAK SOPAN YA SAMA KAKAK SENDIRI. NGGAK CIUM TANGAN ATAU CIPIKA-CIPIKI! "teriak Ardias seraya merogoh ponselnya.
Ardias menekan tombol telepon ketika mendapati kontak seseorang. Dia mendekatkan ponsel di telinga kanannya.
" Ikutin Ara! Now! "
Ardias langsung menutup sambungan telepon sepihak. Dia menyenderkan tubuhnya di sofa.
" Gue nggak mau lo ketemu sama Wildan lagi,"gumam Ardias.
Ardias ingin yang terbaik untuk adik perempuan satu-satunya. Dia tidak ingin Arasya tersakiti lagi. Dia sangat menyanyangi Arasya. Melebihi segalanya.
•••
Wildan tidak sabar bertemu dengan Arasya. Lelaki itu terlalu rindu kepada kekasihnya. Belum ada 1 hari, dia sudah rindu setengah mati. Di tatap nya pintu cafe terus-menerus. Berharap Arasya cepat datang.
" Gue kangen sama lo, Ra, "lirih Wildan seraya mengetuk- ngetukkan jarinya di meja.
Senyumnya langsung mengembang. Tatkala Arasya datang. Gadis itu sangat cantik. Walaupun dia tidak memakai make up dan baju yang cantik. Tapi Wildan merasa Arasya sangat cantik.
" Udah lama nunggu?" Arasya meletakkan tas selempang di meja lalu duduk di depan Wildan.
" Iya. Udah hampir 1 abad, "canda Wildan. Padahal dia baru datang 9 menit yang lalu.
" Kalau satu abad berarti kamu udah tua dong, "ledek Arasya sembari tertawa kecil.
" Kok kamu mau sama aku? Padahal aku tua hlo? " Wildan mengangkat kedua alisnya.
" Udah ah, " Arasya mengakhiri candaannya.
" Kok udah? "
" Wildan. "
Arasya gemas. Jika Wildan bukan manusia, yang ia lakukan sekarang adalam mencubiti wajah boneka itu. Sampai dasar gemasnya hilang. Sayangnya Wildan manusia.
" Iya, sayang, " Wildan tersenyum geli.
" Kamu mau bicara apa, hmm? "tanya Arasya, mengangkat alis kanannya.
" Aku kangen sama kamu lah! Kamu aja nggak berangkat, "jawab Wildan pura-pura merajuk.
Arasya terkekeh melihat Wildan pura-pura merajuk. " Ututututu,"godanya sambil berpindah tempat duduk, disamping Wildan.
Arasya langsung memeluk Wildan dari samping. " Sekarangkan udah ketemu, "ujarnya, melerai pelukan.
Wildan menoleh ke samping." Kenapa kamu nggak berangkat? "tanyanya sambil menyenderkan kepala di bahu Arasya.
Arasya belum menyiapkan jawaban. Sial, dia harus menjawab apa. Jangan gugup. Nanti Wildan tahu lo bohong. Apa ya? Apa ya? Aha!
" Oh itu, aku harus cek up. Mastiin kesehatan aku, "dusta Arasya seraya mengusap rambut Wildan.
Wildan menganggukkan kepala. " Oh, kenapa nggak ngabarin aku?"tanyanya sambil mengangkat kepala.
Kenapa Wildan kayak lagi interogasi gue anjir?!
" Aku rencananya mau ngabarin kamu setelah cek up. Tapi aku lupa. Maaf ya, "kata Arasya seraya menatap manik-manik mata Wildan.
Wildan tersenyum tipis. Tangannya terangkat mengusap lembut pipi Arasya. Dia mendekatkan wajahnya. Dahinya dengan dahi Arasya sudah menempel.
" Maaf udah interogasi kamu. Aku nggak maksud curiga. Aku khawatir aja sama aku kamu, "ucap Wildan pelan lalu mencium kening Arasya.
Arasya bernapas lega. Gadis itu tersenyum senang. Dia bersyukur Tuhan mengirimkan Wildan.
" Makasih, udah khawatirin aku, "ujar Arasya sambil menggenggam tangan Wildan.
" Ara! "
•••
Piter membuka matanya perlahan. Sial dia ketiduran. Padahal rencananya ingin bertemu Arasya. Dia ingin berdiri namun ada panggilan masuk. Dia kembali duduk dan mengangkat telepon dari Ardias.
" Ikuti Ara. Now! "
" Anjir! Langsung dimatiin, "ucap Piter kesal.
" Emangnya Ara kenapa? "gumam Piter penasaran.
" Cafe starla? "ujar Piter seraya meletakkan ponsel. Dia menyenderkan tubuhnya di sofa.
" Kenapa Bang Ardias curiga sama Ara? Emang Ara mau ketemu siapa? Bukannya Ara udah punya tunangan?" Pikiran Piter di penuhi oleh pertanya-tanyaan itu.
Piter lamgsung menegakkan tubuh. " Apa jangan-jangan mau ketemu sama Wildan? "tebaknya langsung mengambil kunci motor dan jaket.
Piter mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Lelaki itu tidak merestui jika Arasya bersama Wildan. Dia bukan cemburu. Dia ingin yang terbaik untuk Arasya, yang sekarang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
" ***! "umpat Piter karena lampu merah. " Apa gue terobos aja ya? "gumamnya sambil berpikir.
" Nggak boleh. Itu namanya melanggar lalu lintas. Kan katanya lo mau jadi polisi, "gumam Piter lagi.
" Tap-
Tin tin tin
" Mas, jalan. Udah lampu hijau! "teriak salah satu pengemudi mobil yang berada di belakang Piter.
Piter jelas terkejut. Lelaki itu meminta maaf lalu melajukan motornya lagi. Kali ini dia ngebut. Emang daritadi ngebut. Tak butuh waktu lama, dia sampai di cafe starla. Dia melepaskan helm, turun dari motor dan melangkah memasuki cafe.
***!
Piter melihat Arasya tengah bermesraan dengan Wildan. Lelaki itu masih saja sakit melihat kemesraan mereka. Namun apa daya. Sekarang Arasya mempunyai tunangan dan kekasih.
Jadi, Wildan sama Ara masih pacaran?! Gila. Ara selingkuh!
Piter langsung menghampiri sejoli itu. Sorot matanya tajam, menatap Arasya dan Wildan. Kenapa Arasya tega melakukan itu pada tunangannya?
" Ara! "panggil Piter seraya tersenyum miring.
Wajah Arasya langsung pucat. Dia tak membayangkan kehadiran Piter. Bagaiamana bisa Piter mengetahui dia disini? Atau jurus ini suatu kebetulan. Sedangkan Wildan bersikap cuek. Tidak mempedulikan kehadiran Piter.
" Piter? "lirih Arasya tertunduk.
Lo nggak boleh takut!
" Gue mau bicara sama lo sebentar!"ujar Piter dengan ketus. Tak ada lagi kelembutan di ucapannya. Dia melangkah keluar cafe.
Arasya menganggukkan kepala. Gadis itu menoleh ke Wildan. Dia menatap lelaki itu dengan nanar.
" Aku bicara dulu sama Piter. "
" Kalau ada apa-apa panggil aja aku,"ucap Wildan sambil mengucap pelan rambut Arasya.
Arasya menganggukkan kepala. Gadis itu berdiri dan melangkah keluar cafe.
Wildan tahu ada yang disembunyikan sari Arasya dan Piter. Lelaki itu sudah menebak dari awal. Dia pun tak heran kenapa Arasya begitu menurut dengan Piter.
Apa yang kamu sembunyikan, Ra.
Sementara Arasya dan Piter yang berada di luar cafe.
" Gue tahu lo mau ngomong apa,"ucap Arasya seraya tersenyum miris.
Piter menghembuskan napasnya. Lekaki itu menatap lekat-lekat mata Arasya. Dia harus bersikap tegas kepada gadis itu.
" Kenapa lo masih berhubungan sama Wildan? "tanya Piter dengan datar.
" Kalau gue masih cinta sama Wildan. Salah? "Arasya mengangkat satu alisnya.
" Kalau kedua abang lo dan bonyok lo tahu hal ini. Gue yakin mereka nggak akan ngerestuin lo sama Wildan,"ucap Piter. Kali ini melembut. Agar Arasya mengerti.
" Cukup! "Arasya kesal dengan Piter. Sekarang Piter berani mencampuri urusannya.
" Putusin Wildan atau gue bilang sama Abang lo, bonyok lo dan."ancam Piter yang sengaja menggantungkan ucapannya.
"Dan tunangan lo. "
Apa?!
Arasya langsung tertunduk. Caesar tidak boleh mengetahui ini. Caesar tidak berhak untuk disakiti. Dia juga mencintai Caesar. Bahkan sangat mencintai lelaki itu. Mungkin cintanya kepada Caesar lebih besar daripada Wildan.
Maaf, Caesar.
Arasya mengangkat kepalanya. Dia sudah mendapatkan jawabannya. Dia berbalik dan melangkah memasuki cafe kembali.
Semoga lo nggak salah ambil keputusan. Batin Piter seraya tersenyum menatap Arasya.
" Ara? "panggil Wildan sembari tersenyum senang.
Arasya duduk di depan Wildan. Gadis itu menarik napas dan membuangnya. Dia menatap Wildan dengan serius.
Kenapa, Ara?
" Aku dan kamu selesai, "ujar Arasya to the point.
Arasya mengatakan hal itu berat sekali rasanya. Dia memikirkan bagaimana sakitnya Wildan. Tapi Caesar juga tersakiti. Dia tidak boleh membiarkan Caesar tersakiti.
" Ma-maksud kamu apa? "Wildan berdiri dan menatap Arasya dengan tidak percaya.
Arasya berdiri dan menatap Wildan dengan serius. " Kita p-u-t-u-s, "ujarnya penuh penekan. Lalu melangkah pergi.
" ARA. AKU NGGAK MAU PUTUS SAMA KAMU! "
Arasya menghentikan langkahnya. Hatinya terasa sakit. Dia berbalik dan menatap Wildan yang merasa tidak percaya. Dia ingin menangis.
" Aku udah punya tunangan."
•••
TBC!
Jangan lupa follow:
@kaylaputri.sabrina
@Quotestor_id