Dimenticare

Dimenticare
12.Jarak



-*Dulu, jarak aku dan kamu antara 1 dan 2. Sekarang, jarak aku dengan kamu antara 1 dan 10. Terasa jauh namun aku selalu mencintai kamu-


-Wildan Nagaswara*-


•••


Arasya mengerjapkan matanya berkali-kali.  Bau obat-obatan langsung masuk ke hidungnya.  Gadis itu menatap lelaki yang tengah menggenggam tangannya.  Ia tersenyum tipis melihat wajah Piter yang tengah tertidur.  Ia memegang tangan Piter yang menggengam tangan kanannya. 


"Makasih, " Lirihnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Udah bangun? " Tanya Piter sambil mengangkat kepala.


Arasya mengelus dadanya, kaget. "Sukanya pada ngagetin! " Kesalnya sambil mengubah posisi duduknya.


"Maap. Lo udah nggak apa-apa? " Tanya Piter khawatir.


Arasya menggelengkan kepalanya. "Wildan? " Tanyanya membuat raut wajah Piter berubah, tak suka.


"Wildan nggak datang buat ngejemput gue ya? " Tanyanya sambil menunduk.


Piter tak tega.  Lelaki itu mengusap pelan rambut Arasya. "Wildan tadi malam udah kesini.  Sorry, gue usir, " Ucapnya dengan jujur.


Arasya mendongak lalu tersenyum. "Tapi kenapa lo usir? " Tanyanya.


"Karena dia udah buat nunggu cewek yang gue cinta, " Jawab Piter dengan tenang.


Deg!


Kenapa cowok sebaik Piter bisa menyukainya?  Ia tak pantas untuk di cintai Piter.  Ia juga tak pantas untuk di cintai Wildan.  Kenapa pemikirannya mulai begini?


"Ra?" Panggil Piter. "Jangan jadikan beban buat lo, " Lanjutnya sambil tersenyum.


Arasya mengangguk. "Makasih udah mencintai gue. "


Piter tersenyum. "Lo lebih baik jauhin Wildan dulu. Biar dia tahu rasanya kehilangan orang yang dia cintai. "


•••


"Pa!  Ara kemana? " Teriak Arani saat melihat putrinya tak ada di kamarnya.  Wanita paruh baya itu langsung lari turun.


"Pa, Ara nggak ada di kamarnya, " Ucap Arani khawatir.


"Coba tanya sama Ardias atau Ardan dulu, " Arya mencoba menenangkan sangat istri.


"Ada apa, Ma, Pa? " Tanya Ardan sambil duduk di samping Arya.


"Kamu tahu dimana Ara? " Tanya Arani yang sudah sangat khawatir.


"Ardan nggak tahu, Ma.  Coba tanya Ardias. "


"Ardias! " Teriak Arani yang sudah mulai menangis.


Arya berdiri lalu mendudukkan dang istri dan mengusap punggung yang bergetar.


"Ada apa, Ma? " Tanya Ardias sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Hiks..... Ara....hiks...kemana....hikss? " Isak Arani sambil menutup wajahnya.


"Ara?" Ardias mencoba mengingat-ngingat. "Ara semalam pergi sama Wildan, " Lanjutnya spontan.


"Telepon Wildan cepat! " Suruh Arya.


"Dias nggak punya nomernya, Pa, " Jawab Ardias sambil mengambil ponselnya dan menelepon teman Arasya, Rika.


"Halo, Rik. "


Ada apa, kak?


"Lo tahu dimana Arasya sekarang? "


Semalam bukannya dinner sama Wildan.  Tapi, Wildan nya malah pergi sama cewek lain.


"Apa?! "


"Kirim nomer tu cowok brengsek sekarang! "


Oke


Setelah mendapatkan kontak Wildan, Ardian langsung menghubungi cowok berengsek itu.


Ha-


"Cowok berengsek!  Dimana Arasya sekarang?!"


Maaf, ini siapa?


"Gue kakaknya Arasya.  Sekarang kasih tahu dimana Arasya?!  Kalau sampai terjadi sesuatu sama adik gue.  Gue nggak akan segan-segan bunuh lo! "


Arasya di rawat di rumah sakit mawar


"Apa?! "


Ardias mematikan sambungan telepon lalu menatap Arani yang sudah tenang.


"Dias, Ara dimana? " Tanya Arani sambil berdiri diikuti Arya.


"Ara di rawat di rumah sakit mawar, Ma. "


"Apa?! "


•••


"Morning, " Sapa Ran sambil memeluk Wildan dari belakang.


Wildan memutar badannya menghadap Ran lalu membalas pelukan gadis itu. "Morning, Ran. "


"Ayo, pergi ke taman, " Ajak Ran sambil menarik tangan Wildan.


"Maaf, Ran.  Aku nggak bisa, " Tolak Wildan sambil melepaskan tangan Ran.


"Aku butuh waktu sendiri.  Lebih baik kamu pulang, " Kata Wildan sambil menaiki tangga menuju kamarnya.


Ini pasti gara-gara Ara. Batin Ran sambil mengepalkan tangannya.


•••


"Ara, " Teriak Arani langsung memeluk Arasya.


Arasya terkejut dengan kedatangan keluarganya.  Begitu juga dengan Piter.  Lelaki itu memilih keluar.


"Mama kok tahu Ara disini? " Tanya Arasya saat Arani melepaskan pelukannya.


"Itu nggak penting, sayang.  Kamu baik-baik aja, kan? " Cemas Arani sambil mencium pipi dan kening Arasya.


"Ara nggak apa-apa kok, Ma. "


"Ara, " Panggil Arya sambil menggengam tangan dang putri. "Papa sama Mama khawatir sama kamu, " Lanjutnya.


"Makasih udah khawatirin Ara, " Arasya terharu lalu memeluk kedua orang tuanya yang sangat ia cintai.


"Iya, sayang, " Ucap Arani dan Arya bersamaan sambil mengecup pipi kanan dan kiri Arasya.


Sedangkan Piter yang berada di luar tak menyangka  mendapatkan bogem yang ia yakin itu dari Kakak Arasya.


Bugh!


"Dasar cowok berengsek! " Maki Ardan dengan napas memburu.


Ardias segera menarik Ardan. "Dia bukan Wildan, tolol, " Katanya membuat Ardan tersadar.  Ia salah orang.


"Sorry,  gue kira lo Wildan, " Ardan membantu lelaki itu berdiri.


"Iya, " Ujar Piter sambil membersihkan bajunya.


"Lo siapa? " Tanya Ardias yang melihat lelaki asing di depan kamar rawat Arasya.


"Gue temannya Ara.  Piter," Piter menjulurkan  ke arah Ardias.


"Ardias. Kakak kedua Ara, " Jabatnya sambil mengamati Piter.


"Piter, "Piter menjulurkan tangannya ke arah Ardan.


" Ardan.  Kakak pertama Ara.  Sekali lagi sorry, "Ardan menjabat tangan Piter.


" Lo suka sama adek gue, kan? "Tanya Ardan tiba-tiba.  Membuat Piter terkejut.


•••


Pagi ini Arasya sudah siap untuk berangkat sekolah.  Gadis itu berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu melangkah keluar rumah.  Di depan sudah ada Piter yang menjemputnya.  Jujur saja ia mengharapkan Wildan yang menjemputnya.  Namun ia sadar ia dan lelaki itu butuh jarak.


" Selamat pagi, Sya, "sapa Piter dengan nama panggilan Arasya di ubah.


" Pagi,Er, "sapa Arasya ikut mengubah  nama panggilan Piter.


Mereka berdua tertawa bersama.


" Oke.  Mulai sekarang gue panggil lo Sya dan lo panggil gue Er, "ujar Piter sambil menyerahkan helm.


" Terserah lo, "Arasya memakai helmnya membuat Piter tertawa.


Piter membantu Arasya untuk memakai helm dan merapikan rambut Arasya yang berantakan. "Udah cantik lagi, " Puji Piter sambil tersenyum lalu menhidupkan mesin motornya.


"Apaan sih! " Arasya malu.  Gadis itu segera menaiki motor Piter.


"Gue ngebut hlo, " Piter memakai helmnya lalu melirik sekilas Arasya di kaca spion.


"Kalau gue jatuh gimana dong? " Tanya Arasya sambil menatap Piter dari kaca spion.


Piter menarik kedua tangan Arasya ke pinggangnya dan menyatukan kedua tangan gadis itu di pinggangnya.


"Kalau gini nggak jatuh kan? "


"Apaan sih?! " Arasya memalingkan wajahnya.


"Ready. 1 2 3," Piter langsung menjalankan motornya dengan cepat membuat Arasya memeluk Piter.


Wildan yang mengamati semua itu mulai mengerti.  Dia lelaki berengsek tak pantas untuk gadis baik seperti Arasya.  Piter yang pantas untuk Arasya.  Namun ia tak bisa melepaskan gadis itu.  Ia sangat mencintai gadis itu.  Walaupun  ada jarak di antara mereka mulai sekarang.


Aku ngak akan ngelepasin kamu. Walaupun aku cowok berengsek.  Aku cinta sama kamu.  Begitu juga dengan kamu.


•••