
-*Aku cemburu itu tandanya aku cinta. Aku tidak mau kehilangannya kamu walaupun hanya sedetik saja-
-Wildan Nagaswara*-
•••
Wildan menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Lelaki itu menata rambutnya sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi malam. Ia senang, sungguh teramat senang sampai-sampai ia tak mau tidur dan menunggu hari esok. Ia bergegas setelah membayangkan wajah gadis yang ia cintai. Ia sangat rindu dengan gadisnya yang cantik.
"Mbak, aku berangkat sekolah dulu! " Teriak Wildan sambil mengambil kunci motor lalu melangkah keluar dari rumah.
Wildan mengeluarkan motornya di luar, menaiki motornya dan memakai helm. Lelaki itu memanaskan motornya terlebih dahulu lalu melaju ke rumah sangat kekasih. Selama perjalanan, ia selalu saja bersenandung sambil memikirkan wajah cantik dan manis gadis itu. Sampai tak terasa ia sudah sampai di depan rumah gadis itu.
"Assalamu'alaikum, " Salam Wildan di depan pintu yang masih tertutup.
"Walaikumsalam, " Teriak seseorang dari dalam lalu membukakan pintu.
"Ehh, nyariin siapa ya? " Tanya wanita paruh baya itu sambil mengamati Wildan dari bawah sampai atas.
Wildan menyalami wanita paruh baya itu yang ia yakini adalah calon mertuanya besok. Iya kalau berjodoh.
"Saya Wildan, tante. Saya pacarnya Ara, " Wildan berkata dengan sopan lalu tersenyum ramah.
"Pacarnya Ara? " Tanya wanita paruh baya itu dengan tenang.
Wildan kira wanita paruh baya itu akan terkejut namun tidak. "Iya, " Jawabnya disertai anggukan.
"Ya ampun. Ara nge guna-guna kamu ya? "Tiba-tiba saja wanita paruh baya itu berbicara seperti itu.
Wildan tertawa kecil mendengar penuturan wanita paruh baya itu. " Nggak kok, tante. Ma-
"Lebih baik duduk aja. Biar ceritanya enak. "
Wildan mengangguk lalu duduk di samping wanita paruh baya itu. "Ara nggak guna-guna saya kok, tante. Malah saya dulu yang suka sama dia, " Paparnya sambil tersenyum.
"Seriously? Rasanya tante nggak percaya deh. Bocah ingusan itu punya pacar kek kamu. "
Wildan tersenyum. Wanita paruh baya itu sangat terlihat mirip dengan Ara.
"Kamu kakak kelasnya Ara kan? "
"Nggak, tante. Saya adik kelasnya Ara."
"Serius?"
"Iya."
"Ceritain dong pertama kalinya kamu kenal sama bocah ingusan itu. "
"Sa-
" Mama! "Teriak Arasya dari dalam sambil berjalan menuju sangat Mama.
" Wildan? "Kaget Arasya saat ia lupa bahwa lelaki itu akan menjemputnya.
" Selamat pagi, Ra, "sapanya sambil tersenyum manis.
Arasya pun ikut tersenyum lalu beralih ke Arani. " Kenapa Mama nggak bilang sama Ara kalau pacar Ara datang?! "
"Bukan urusan kamu. "
"Dia pacar aku, Ma. Bukan pacar Mama! " Kesalnya.
"Bodo amat. Sana sarapan dulu. Wildan udah nunggu, " Usir Arani kepada Arasya lalu beralih kepada Wildan. "Udah sarapan? " Tanyanya.
Arasya menatap Mama dengan kekesalan. Pada hari ini ia akan mengibarkan bendera perang!
"Belum, tante, " Jawab Wildan.
"Yaudah. Ayo, sarapan bareng. "
•••
Arasya melangkah malas menuju ke fotocopy-an di luar sekolah. Gadis itu di suruh oleh Bu Dini untuk memfoto copy kan soal-soal. Sejujurnya gadis itu malas dan mengantuk. Mau tak mau ia harus mau, jika tidak Bu Dini akan mengurangi nilainya.
"Pak, ijin fotocopy disuruh sama Bu Dini, " Ijinnya kepada satpam.
"Ya. Jangan lama-lama, " Jawab Satpam itu sambil membukakan gerbang.
"Makasih, Pak, " Ujarnya dengan ramah.
Foto copy tersebut terletak di depan persis dengan sekolahnya. Jadi, ia harus menyebrang terlebih dahulu. Ia menoleh ke sana kemari, sudah sepi. Lalu melangkah dengan santai dan tak menyangka ada yang hampir menabraknya.
"Gimana sih! Bisa nyebrang nggak! " Teriak cowok itu sambil turun dari motornya yang sudah ia pinggirkan. Ia melangkah mendekati gadis itu.
Arasya menormalkan jantungnya yang hampir copot. Gadis itu lalu menatap sengit cowok di depannya itu.
"Ya bisalah! Gue bukan anak SD kok! Lo yang salah disini. Kalau ba-" Cowok itu membungkam mulut Arasya dan membawa gadis itu menuju pinggir jalan.
"Mmphhhh. Lepasin gue! " Arasya menghempaskan tangan cowok tersebut.
"Bacot lo! " Maki cowok itu sambil melepaskan jaketnya.
"Rasanya pengen gue racuni pakai sianida, " Gemasnya.
Arasya melihat bet sekolah yang terdapat di lengan kanan cowok itu. Bet SMA Xarius. Salah satu SMA elit di Jakarta. Ia dapat menyimpulkan bahwa cowok di depannya adalah anak kolongmerat. Ia juga dapat melihat bet kelas yang tertempel di lengan kirinya. Kelas XII.
"Paan sih lo, " Arasya salah tingkah lalu menepuk dahinya. Gadis itu lupa akan sesuatu. Foto copy. Ia melangkah menuju fotocopy-an yang sudah di depan mata namun tangannya di cekal oleh cowok itu.
"Lepasin atau gue gigit! " Ancam Arasya langsung di lepaskan oleh cowok itu.
"Temuin gue sama Abigail. "
•••
Wildan melangkah menuju ke kelas kekasihnya dengan semangat. Lelaki itu berniat ingin pergi ke kantin bersama.
"Tumbenan lo kesini, " Ucap Sami yang baru saja keluar dari kelas bersamaan dengan kedua temannya. Namun, tak ada Arasya.
"Ara dimana? " Tanah Wildan sambil melihat ke dalam kelas pacarnya. Namun, gadis itu tak ada.
"Tadi dia di suruh fotocopy sama Bu Dini belum balik, " Jawab Zizi sambil menggulung rambutnya.
"Ya udah. Makasih, " Wildan berlari membuat Zizi, Sami dan Rika dapat menebak. Pasti lelaki itu menyusul Arasya.
"Ayo, gengs kita makan! " Ajak Rika dengan semangat.
"Yo ayo! " Teriak Sami dan Zizi tak kalah semangat.
Mereka bertiga jalan bersamaan menuju kantin. Bisanya sih berempat. Tapi, Arasya tak ada.
Zizi yang terfokus di depan melihat Abigail berlari berlawanan dengan arahnya. Gadis itu sampai menoleh ke belakang. Ia penasaran kenapa Abigail berlari-lari di lorong IPS yang dekat dengan gerbang sekolah.
Apa gue ikutin aja ya?
Zizi sudah memutuskan. "Gue lupa. Gue tadi di suruh sama Bu Dini. Gue cabut dulu. Bye, " Pamitnya membuat kedua temannya heran.
•••
Abigail meminta izin kepada satpam untuk keluar. Setelah mendapatkan izin ia keluar. Matanya menatap fokus punggung yang sangat ia kenal. Ia melangkah mendekatinya lalu menepuk pundak lelaki itu.
"Ehh, Abi. Kok lo disini? " Terkejut Wildan yang ingin menyebrang tapi terhenti karena ada yang menepuk pundaknya.
"Lo pasti nyariin Ara kan? " Tebak Abigail tanpa menjawab pertanyaan Wildan.
Wildan mengangguk. "Iya. Emang lo tahu dari mana? "
"Ikutin gue, " Abigail mulai menyebrang di susul Wildan.
Abigail melangkah ke kanan lalu berbelok di gang sempit lalu berbelok ke kiri dan terhenti di warung tempat tongkrongan para remaja-remaja SMA yang muak dengan belajar, cabut.
"Ngapain lo bawa gue kesini? " Tanya Wildan sambil melihat warung tersebut dan terhenti pada satu titik, Ara yang tengah tertawa senang dengan cowok lain.
Wildan mendekati pacarnya lalu menarik tangan Ara posesif. "Ayo, balik! " Ujarnya dingin.
"Lepasin gue dulu, " Wildan melepaskan tangan Arasya.
"Siapa dia?" Tanya Wildan begitu tak suka dengan cowok yang sekarang tengah berbincang-bincang dengan Abigail.
"Dia Panji temennya Abigail, " Jawab Arasya jujur.
"Ya udah. Ayo, balik, " Wildan kembali menggengam tangan Adanya begitu posesif.
Arasya merasa senang. Wildan cemburu! Sungguh indah melihat pacar cemburu seperti itu. Menggemaskan!
"Lo kok bisa sama Ara? " Tanya Abigail setelah kedua sejoli itu pergi.
"Tadi ketemu pas di jalan, " Jawab Panji sambil menyerap kopi susu.
"Ngapain nyariin gue? "
"Gue butuh bantuan lo. "
"Giliran butuh aja dateng. "
"Bodo amat. Ini penting. "
•••
Wildan membawa Arasya ke rooftop. Lelaki itu melangkah di belakang Arasya. Setelah sampai di rooftop, lelaki itu langsung memeluk Arasya dengan posesif, tak ingin kehilangan.
"Lo kenapa sih? " Tanya Arasya berpura-pura tidak tahu sambil memutar badannya menghadap Wildan.
"Gue cemburu, Ra, " Jawab Wildan sambil melepaskan pelukannya dan menggengam tangan Arasya begitu posesif.
"I know, " Ujarnya dengan santai.
"Ra, jangan akrab sama cowok lain. Gue sakit hati ni, " Kata Wildan sambil memegang dadanya.
Arasya gemas sendiri dengan tingkat Wildan. Gadis itu mencubit pipi Wildan dengan gemas.
"Gue sukanya sama lo, Dan. "
Wildan terbang. Lelaki itu sungguh senang. Ia tersenyum lalu mengecup kening Arasya sekilas.
"I love you, Ra. "
"I love you to, Dan. "