Dimenticare

Dimenticare
19.Bestfriend



-*Walaupun aku tak mengenal kalian.  Aku bisa merasakan ada tali persahabatan di antara kita berempat-


-Arasya Dafina Mangalitsa*-


•••


Wildan mematikan TV. Lelaki itu bosan.  Ia beranjak, melangkah menghampiri Kelvin yang tengah berada di kolam renang.  Ia menatap Kelvin datar saat membawa kedua wanita yang entah asal usulnya mana.


Kelvin yang menyadari kehadiran Wildan pun menoleh. "Ehh, brother.  Kenal-


" Mana dokumen yang harus saya tanda tangan, "potong Wildan.


Kelvin membuang napasnya kasar.  Lelaki itu melepaskan rangkulannya dan berdiri. " Tunggu aku ya,cantik.  Nggak lama kok, "ucapnya lalu melangkah di ikuti Wildan.


" Lo bosen ya? "Tanya Kelvin memasuki ruang kerja.


" Hmmm. "


"Mendingan main cewek aja.  Pasti nggak bakalan bosen, " Ucapnya sambil menyerahkan beberapa dokumen.


"Saya bukan playboy seperti anda, " Wildan melangkah keluar menuju ruang keluarga.


Wildan duduk lalu menghidupkan TV lagi walaupun tak ia tonton.  Lelaki itu membuka dokumen lalu menandatangani.  Ia membuka stoples berisi cemilan lalu memakannya sambil bekerja.


Beberapa menit ia selesai menyelesaikan, ia menatap jam dinding sudah jam 11. Ia segera membereskan dokumen lalu menuju kamarnya dan berganti pakaian. Selesainya, ia langsung turun dan meraih kunci motor. Lalu segera menuju bagasi dan mengendarai motor menuju rumah sakit.


Semoga kamu nggak tidur.  Biar aku bisa melihat kamu tersenyum. Senyum yang aku rindukan.


•••


Wildan mampir di toko bunga dan toko roti.  Lelaki itu membawakan bunga mawar dan membawakan roti pisang keju.  Ia berjalan menuju kamar inap Arasya.  Ia dapat melihat Dokter baru saja keluar dari kamar inap Arasya.  Ia melangkah lebih cepat.  Ia membuka pintu kamar inap Arasya.


Clek


Wildan melihat Arasya tengah tidur. Yah, tidur. Batinnya sambil mendekati Arasya.  Ia meletakkan bunga dan roti di atas lemari.


Cup


Wildan mencium kening Arasya cukup lama lalu beralih menggengam tangan Arasya dan mengecupnya. Lelaki itu mengusap tangan kanan Arasya.


"Aku sayang kamu, Ra, " Ucap Wildan sambil mengecup lagi tangan Arasya.


"Aku bakal nunggu kamu sampai kamu mengingat semuanya, " Lanjutnya sambil memandangi wajah cantik Arasya.


Tangannya mengusap pelan pipi Arasya. "Maafin aku. Aku udah pergi tanpa alasan.  Aku belum bisa cerita semuanya sama kamu.  Maaf."


"Dan maaf untuk nggak bisa jujur sama kamu.  Aku nggak ingin kamu kepikiran.  Dan kamu pasti maksa buat mengingat aku. "


Wildan tersenyum lalu berdiri. "Aku ingin lebih lama disini. Tapi-. Aku pulang dulu, " Lelaki itu mencium kening Arasya lalu melangkah keluar.


Rasanya berat meninggalkan kamu.


•••


Arasya terkejut dengan kedatangan Dokter Zahra.  Gadis itu langsung memposisikan dirinya menjadi duduk.  Ia tersenyum manis.


"Gimana kabarnya, Ra? " Tanya Dokter Zahra sambil mengecek.


"Baik, Dok, " Jawabnya.


"Maafkan, Dokter.  Dokter baru mengecek keadaan kamu, " Ucap Dokter Zahra sambil memegangi tangan Arasya.


"Nggak apa-apa, Dok. "


"Kamu hanya mengidap amnesia sementara.  Dokter yakin kamu akan cepat pulih kembali. "


"Terimakasih, Dok, " Arasya memeluk Dokter Zahra.


Dokter Zahra membalas pelukan Arasya sembari mengusap rambut panjang Arasya. "Iya."


"Kalau gitu Dokter pergi dulu, " Pamit Dokter Zahra sambil melepaskan pelukan Arasya dan melangkah keluar setelah diangguki oleh Arasya.


"Amnesia sementara, " Gumam Arasya sambil memainkan jarinya.


Arasya mendengar suara langkah seseorang.  Gadis itu langsung memposisikan dirinya menjadi tidur.  Ia menunggu sampai orang itu membuka pintu. 


Clek


Arasya sontak menutup matanya dan berpura-pura tidur.  Gadis itu tak tahu siapa yang datang. Ia mengintip sekilas. Seorang lelaki!  Pasti itu Wildan.  Tebaknya.


Cup


Apa?!  Wildan menciumnya.  Cukup lama pula.  Sekarang lelaki itu menggemgam  tangannya,mengecupnya dan mengusapnya. Ada rasa nyaman tersendiri bagi Arasya.


"Aku sayang kamu, Ra, " Ucap Wildan sambil mengecup tangannya lagi.


Deg!


Benarkah Wildan kekasihnya?


"Aku bakal nunggu kamu sampai kamu mengingat semuanya. "


Sekarang Wildan mengusap pipinya.  Nyaman.  Itulah yang dirasakan Arasya.  Setiap sentuhan Wildan selalu nyaman untuknya.


"Maafin aku. Aku udah pergi tanpa alasan.  Aku belum bisa cerita semuanya sama kamu.  Maaf."


Wildan pernah meninggalkan aku tanpa sebuah alasan.  Aku yakin Wildan adalah kekasihku.  Dan apa maksudnya belum bisa cerita semua sama aku.  Apakah ada yang dia sembunyikan dari ku?


"Dan maaf untuk nggak bisa jujur sama kamu.  Aku nggak ingin kamu kepikiran.  Dan kamu pasti maksa buat mengingat aku. "


Aku mengerti.


"Aku ingin lebih lama disini.  Tapi-. Aku pulang dulu, " Wildan mencium kening Arasya sebagai tanda perpisahan.


Jangan pergi. Aku mohon.  Aku ingin kamu tetap disini.


Arasya yakin Wildan sudah keluar dari kamar inapnya.  Gadis itu memandangi pintu dengan nanar.  Air matanya tiba-tiba turun.


"Kenapa aku harus amnesia sih? Arghhh, " Arasya menjambak rambutnya. Ia menangis sambil menutupi wajahnya.


Aku sayang kamu, Wildan.


•••


"Gue kangen sama lo tahu, " Sami berucap sambil melepaskan pelukan disusul oleh Zizi dan Rika.


"Iya. Gue kangen banget sama lo, " Rika menggenggam tangan Arasya.


"I miss you, Beb, " Zizi memeluk Arasya lagi.


Arasya hanya diam.  Gadis itu tak mengenali ketiga perempuan ini.  Tapi ia merasa akrab dengan ketiga perempuan ini.  Pasti mereka sahabat nya.  Senyumnya terbit seketika.


"Kalau boleh tahu nama kalian siapa ya? " Tanya Arasya takut ketiganya kecewa.


Mereka bertiga malah tersenyum.  Sami yang angkat bicara, "Ini Zizi.  Ini Rika.  Dan ini gue, Sami. Kita bertiga udah sahabatan dari SMP. "


Arasya tersenyum. "Kita udah sahabatan 5 tahun dong, " Tebaknya langsung diangguki ketiganya.


"Hey!  Gue di kacangin nih, " Seru Piter dengan raut kesalnya.


Mereka berempat tertawa melihat wajah kesal Piter yang sangat menggemaskan.


"Utu utu, " Ejek Rika sambil tertawa.


"Mendingan lo pergi aja.  Kita nggak butuh lo kok, " Usir Zizi.


"Iya. Ini obrolan cewek, " Lanjut Sami.


"Iya-iya. Gue pergi, " Piter melangkah keluar  dengan kesal.


Mereka tertawa puas melihat Piter semakin kesal.


"Sumpah ya lucu banget wajahnya, " Ucap Zizi sambil tertawa.


"Iya, " Sahut Sami, Rika dan Arasya serempak.  Lalu tertawa bersama.


"Gue beruntung punya sahabat kek kalian, " Ucap Arasya saat tawa mereda.


"Utu-utu. Pelukan, " Rika memeluk Arasya disusul Sami dan Zizi.


Terimakasih, Tuhan. Walaupun aku amnesia tapi ada seseorang yang selalu di sisiku.


•••


Piter mengecek jam yang melekat di tangannya.  Sudah hampir 1 jam, mereka belum keluar juga.  Emang kalau cewek ngerumpi lama banget ya.  Ia jadi kepo.  Apa yang di omongin coba.  Setelah penantiannya cukup lama, akhirnya mereka ke luar juga dengan tawa.


"Sumpah ya.  Kalian lama banget, " Piter berdiri dengan berkacak pinggang.


"Biasa, " Ucap Sami sambil meredakan tawanya.


"Lo mau masuk? " Tanya Zizi.


"Iya, " Angguk Piter.


"Arasya mau tidur.  Mendingan lo pulang aja, " Sahut Rika sambil merangkul kedua temannya.


"Cabut guys.  Bye, " Seru Rika meninggalkan Piter yang kesal sendiri.


Setelah jauh dari jangkauan Piter.  Mereka tertawa puas mengerjai Piter.


"Kayaknya Piter suka sama Ara, " Celetuk Zizi sambil memutar ulang memorinya saat Piter menatap Arasya berbeda.


•••


Piter memastikan apa Arasya sudah tidur apa belum?  Siapa tahu mereka bohong? Dan ternyata iya.  Arasya tengah memainkan ponselnya sesekali tersenyum.  Ia berdeham agar kehadirannya di ketahui oleh Arasya.


"Loh, kok lo belum pulang? " Tanya Arasya sambil mematikan ponselnya.


"Ya belum lah!  Gue kan mau ngomong sama lo, " Jawab Piter dengan kesal sambil duduk.


"Mau ngomong apa? " Tanya Arasya sambil meletakkan ponselnya di bawah bantal.


"Enaknya ngomong apa ya? "


"Entahlah. Kan lo yang mau ngomong."


"Ngomongin masa depan aja. "


Arasya sontak memukul kepala Piter. "Gue santet mulut lo! "


"Bercanda. Tapi jangan baper, " Piter mengusap kepalanya.


"Sorry ya.  Gue nggak baperan. "


"Masak? "


"*Masak? "


"Masak ayam goreng. "


"Beneran nggak cemburu? " Godanya dengan senyum.


"Gue nggak cemburu! Gue nggak suka lo! "


"Lo cemburu dan lo suka gue. "


Arasya menghentikan langkahnya lalu berbalik, menatap Wildan tajam.


"Bo-do-a-mat! " Ujarnya penuh penekanan.


"Oke. Gue peduli! "


"Whatever! *"


Cup


Ingatan apa itu?  Dan di ingatannya terdapat Wildan?  Ia yakin seratus persen bahwa Wildan itu kekasihnya.


•••