Dimenticare

Dimenticare
20.Ran kemana?



-*Aku salah. Seharusnya aku lebih peka. Tidak ada kehadirannya, seperti biasa. Dia berharga, sebagai sahabat-


-Wildan Nagaswara*-


•••


"Selamat Pagi, Ra, " Sapa Dokter Zahra saat Arasya membuka matanya.


"Dokter? "Arasya terkejut dengan kedatangan Dokter Zahra pagi-pagi.


" Ada berita baik buat kamu, hlo, "Ucap Dokter Zahra sambil tersenyum.


" Apa, Dok? "Tanya Arasya penasaran.


" Hari ini kamu boleh pulang, "jawabnya sambil tersenyum.


" Beneran, Dok? "Tanya Arasya memastikan.


Dokter Zahra mengangguk. Arasya sontak memeluk Dokter Zahra. Dokter Zahra membalas pelukan Arasya.


" Aku seneng banget, "ucap Arasya sambil melepaskan pelukan.


" Iya. Tapi kamu harus sering kontrol hlo, "Dokter Zahra mengusap rambut Arasya pelan.


" Ashiup! "


"Kalau gitu Dokter pamit dulu. Jangan lupa nanti di sampaikan sama abang kamu, " Pamitnya lalu mengecup sekilas dahi Arasya.


"Iya, Dok, " Ujar Arasya sambil mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


Ada apa, Ra?


"Wildan! Aku hari ini pulang!"Ujarnya dengan senang.


Alhamdulillah. Aku juga ikut seneng. Aku jemput ya?


" Nggak usah. Kamu kan sekolah. "


Nggak apa-apa. Aku bisa izin.


"Izinnya apa? "


Adadeh.


"Aku boleh tanya sesuatu nggak? "


Boleh.


"Aku kekasih kamu, kan? "


•••


Wildan terkejut dengan pertanyaan Arasya. Lelaki itu harus menjawab bagaimana? Dia lebih baik jujur kepada Arasya.


"Iya. Kamu kekasih aku. "


Syukurlah. Aku merasa senang.


Wildan tersenyum senang saat Arasya berkata seperti itu.


"Aku jemput kamu. Nggak pakai nolak! "


Ya udah. Aku tunggu.


"Iya."


Wildan tersenyum lalu beranjak menuju ke kamarnya dan berganti pakaian. Yang semula memakai seragam kini memakai pakaian bebas. Lelaki itu menghampiri Kelvin yang masih tertidur. Ia mencubit hidung Kelvin, membuat lelaki itu terusik.


"Apaan sih, Wil? " Tanya Kelvin sambil menggeliat.


"Izinin gue, " Jawab Wildan sambil memotret Kelvin yang masih menutup matanya, dengan air liur di sekitar mulutnya.


"Iya, " Lirihnya lalu kembali tertidur pulang.


Wildan berdecak kesal lalu melangkah keluar. Lelaki itu mengunci pintu rumah. Ia mengeluarkan motornya dan melajukannya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Wildan langsung menuju ke kamar inap Arasya. Lelaki itu membuka pintu kamar inap Arasya. Ia tersenyum lalu menghampiri sang kekasih yang tengah tersenyum.


Cup


"Selamat pagi, " Wildan berucap sambil mengecup pipi kanan Arasya.


Pipi Arasya sontak memerah. Gadis itu menunduk malu sambil tersenyum malu-malu. Ia menatap Ardias yang masih tertidur di sofa.


"Bangunin Bang Ardias, " Pinta Arasya sambil menunjuk Ardias.


"Iya, " Wildan menghampiri Ardias lalu mencubit hidung Ardias.


"ANJIR! GUE NGGAK BISA NAPAS! " teriak Ardias langsung terbangun.


Wildan menahan tawanya sedangakan Arasya tertawa dengan kencang. Ardias menatap Wildan dengan tajam.


"Maksud lo apa?! " Kesal Ardias sambil merapikan rambutnya.


"Gue disuruh Ara bangunin lo, " Jawab Wildan lalu menghampiri Arasya.


"Salahnya kayak kebo sih! " Ledek Arasya.


"Awas lo! " Ancam Ardias sambil berdiri dan menarik celananya naik.


"Bang, hari ini gue pulang, " Ujar Arasya sambil tersenyum kepada Wildan. Wildan pun tersenyum juga.


Ardias yang memperhatikan gerak-gerik kedua remaja itu pun merasa kesal. Dia merasa menjadi obat nyamuk!


"Kok kalian tega sama gue sih?! "Tanya Ardias dengan dramatis.


Keduanya sontak menoleh dan mengernyitkan dahinya lalu keduanya saling pandang.


" Sumpah! Kalian nggak peka banget, njir! "Kesal Ardias beranjak melangkah keluar karena di hiraukan.


Arasya dan Wildan tersenyum bersama.


" Lucu banget deh, "ucap Wildan sambil mengenggam tangan Arasya.


" Iya, "Ujar Arasya sambil mengenggam tangan Wildan.


" Aku sayang kamu, " Arasya tersenyum mendengar penuturan itu. Jantungnya memompa dengan ritme yang cepat.


"Aku juga sayang kamu, " Kata Arasya sambil mencium kening Wildan cukup lama.


•••


"Gue di kasih tahu sama Wildan kalau Ara udah pulang, " Ujar Abigail sambil menyerahkan ponselnya, memperlihatkan pesan Wildan.


Wildan:  Ara udah pulang.


"Habis pulang sekolah kita ke rumah Ara, kuy! " Ajak Sami sambil menyeruput es jeruk.


"Kuy! " Seru Rika, Zizi, Piter, dan Abigail.


"Bentar-bentar. Bukannya Ara nggak inget sama Wildan itu siapanya ya?"Kata Piter tiba-tiba.


" Apa jangan-jangan Ara tahu siapa Wildan sebenernya? "Tebak Zizi sambil berpikir.


" Iya juga! "Seru Sami.


" Siapa tahu Ara belum tahu?  Dan ngira kalau Wildan itu temannya, "tebak Abigail.


" Itu sih kemungkinan, "sahut Piter sambil memakan gorengan.


"Hayo, kalian pada ngomongin siapa?"


•••


"Makasih, " Ujar Ardias kepada Wildan.


Wildan menganggukkan kepala. "No problem, " Katanya sambil meletakkan tas berisi baju Arasya.


"Gue denger kalau lo ninggalin Ara? " Tanya Ardias sambil duduk di kasur Arasya.


"Why? "Tanya Ardias heran.  Kenapa lelaki di depannya bisa setenang ini?


"Tapi jangan kasih tahu Ara selain gue yang kasih tahu. "


"Iya."


"Gue pergi ke Denmark. "


"Ha?!  Buat apa lo ke sana? "


"Gue CEO. "


"SERIOUSLY?! " teriak Ardias tak percaya.


Wildan menghela napas kasar. "Serius."


"Nama perusahaan lo? "


"WiraDarsa."


Ardias memincing curiga. " Nama singkatankan?"tebaknya langsung diangguki Wildan.


"Apa? " Tanya Ardias penasaran.


"Wira\=Wildan Ara.  Darsa\=Darmawangsa Mangalitsa. "


"Woww, " Ujar Ardias seolah terkagum. "Romantis ya. "


Wildan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengamati setiap sudut kamar Arasya.  Lelaki itu berdiri, melangkah ke rak.  Dia tersenyum saat fotonya dengan Arasya terbingkai rapi. 


"Semoga aja kalian langgeng sampai janji suci, " Kata Ardias sambil menepuk bahu Wildan lalu melangkah keluar.


"Ara? " Ardias terkejut saat Arasya berada di depan pintu.


•••


Arasya duduk di sofa sambil memakan cemilan.  Ardias dan Wildan menyuruhnya diam saja.  Padahal dia rindu pada kamarnya.  Dia memutuskan untuk menuju kamarnya.  Dengan perlahan-lahan dia menaiki tangga dan berpegang pada peyangga.  Hampir saja dia akan terleset jika tak berpegangan.  Dia berhenti di depan kamarnya saat mendengar pembicaraan Ardias dan Wildan.


"Gue denger kalau lo ninggalin Ara?"


Jadi, Wildan pernah ninggalin aku?  Batin Arasya sedikit terkejut.


"Iya. Beberapa hari aja kok. "


"Why? "


"Jangan kasih tahu Ara selain gue yang kasih tahu. "


Kenapa? Batinnya.


"Iya."


"Gue pergi ke Denmark. "


"Ha?! Buat apa lo kesana? "


"Gue CEO. "


Arasya terkejut saat mendengar penuturan Wildan.  Kenapa dia menyembunyikannya?


"SERIOUSLY?! "


"Serius."


"Nama perusahaan lo? "


"WiraDarsa."


"Nama singkatan? "


"Apa? "


"Wira\=Wildan Ara. Darsa\=Darmawangsa Mangalitsa. "


Tak sadar Arasya tersenyum sendiri. Ada rasa bahagia dan kecewa.  Rasa itu bercampur menjadi satu.


"Woww."


"Romantis ya. "


Iya, dong.  Harus.  Batin Arasya sambil tersenyum.


"Semoga aja kalian langgeng sampai janji suci. "


Aminn. Batin Arasya sambil mengusap wajahnya.


"Ara? "


Arasya terkejut begitu pula dengan Ardias. Gadis itu menampilkan senyum sengan rentetan gigi putihnya. 


"Ehh, bang Ardias, " Ucapnya.


"Dari tadi lo disini? " Tanya Ardias bersamaan kemunculan Wildan.


Arasya tersenyum kikuk ke arah Wildan.  Wildan menarik tangan Arasya dan melangkah turun lalu mengajak gadis itu keluar.


•••


"Udah tahu semuanya? " Tanya Wildan sambil tersenyum.


Arasya menganggukkan kepala lalu tersenyum. "Udah. Aku nggak marah kok, " Ujarnya berbohong.  Ada rasa sedikit kecewa yang tersimpan di relung hatinya.


"Maaf, " Kata Wildan sambil menundukkan kepala.


"Nggak apa-apa kok.  Alasan kamu nggak ngomong sama aku apa? " Tanya Arasya sambil mengangkat dagu Wildan agar menatapnya.


"Sebenarnya nggak ada yang tahu soal ini.  Aku cuma mau ngerahasiain aja."


"Aku ngerti, " Arasya tersenyum lalu mengenggam tangan Wildan.


Wildan tersenyum lalu memeluk Arasya. "Makasih udah ngertiin aku. "


••••


"Ran!Ran!" Teriak Wildan di depan  rumah Ran.


"RAN. AKU BAWAIN MAKANAN KESUKAAN KAMU HLO. " teriak Wildan lagi sambil membuka gerbang rumah Ran.  Namun terkunci.


"RAN!  KAMU ADA DI DALAM? " teriak Wildan lagi bersamaan datangnya satpam perumahan.


"Cari siapa ya, mas? " Tanya satpam itu.


"Cari penghuni rumah ini, " Jawab Wildan sambil terus menatap rumah Ran.


"Mbak Ran ya? "


"Iya."


"Mbak Rannya sudah pergi dari seminggu yang lalu, " Ujar satpam tersebut.


Wildan terkejut mendengar penuturan satpam tersebut.  Kenapa Ran tak memberitahunya?


"Kalau gitu saya permisi dulu, " Pamit Wildan sambil melangkah dan memasuki mobil.


Wildan langsung menelepon seseorang.


"Cari dimana keberadaan Ran. Sekarang! Foto nanti saya kirim. "


Wildan memutuskan secara sepihak.  Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ran, kamu pergi kemana? " Gumamnya sambil menyenderkan tubuhnya.


"Kenapa nggak bilang aku? "


"Kemana kamu pergi? "


•••