
*Sesal selalu berada di akhir.
-Wildan Nagaswara*-
•••
"Dudukan dulu. Biar aku ambilin minum " Titah Wildan kepada Ran.
Ran menganggukkan kepala. "Rencana gue berhasil. " Gumamnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu nggak kenapa-kenapa,kan? " Tanya Wildan cemas sambil meletakkan air putih.
Ran menggelengkan kepala. "Aku nggak kenapa-kenapa kok. " Jawabnya.
"Diminum dulu. " Wildan menyodorkan air putih lalu diterima oleh Ran.
"Iya." Ran meminumnya sampai setengah lalu meletakkan di meja.
"Tadi Ara ngapain kamu? " Tanya Wildan sambil mengusap pipi Ran.
"Tad-
" Wildan! "Teriak Kelvin dengan mata pandanya.
Wildan berdecak kesal lalu menoleh ke belakang. " Apa?! Ketusnya.
Kelvin membelalakkan matanya saat melihat perempuan di samping Wildan.
"Ran? "
•••
"Ra? " Panggil Piter sambil memegang dagu Arasya.
Arasya melepaskan tangan Piter dari dagunya. "Gue nggak apa-apa. " Ujarnya tanpa menatap mata Piter.
"Ra." Gemas Piter.
"Gue nggak apa-apa, Piter! " Kesal Arasya kemudian berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Piter mengambil ponselnya lalu menelepon Sami.
Ada apa?
"Pulang sekolah lo ke rumah Ara. "
Iya. Rencana kita emang hari ini. Kemarin nggak jadi.
"Oke. Gue tunggu. Bye. "
Bye.
Piter mengusap wajahnya kasar. "Kenapa lo masih cinta sama cowok brengseknya itu, Ra? "
Piter melangkah menuju kamar Arasya. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Arasya namun tak ada sahutan dari dalam.
"Ra." Panggil Piter sedikit berteriak. Namun tak ada jawaban.
"Ra." Panggil Piter lagi dengan berteriak. Namun tak ada suara lagi.
Piter memutar knop pintu. Sayangnya pintu terkunci. Dia meletakkan telinganya di pintu, tak ada suara, hening, senyap. Dia jadi khawatir akan keadaan Arasya. Dia mendobrak pintu kamar Arasya. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua gagal dan percobaan ketiga berhasil.
Wajah Piter berubah menjadi terkejut saat melihat Arasya yang tergeletak lemah di lantai.
"Ara! "
•••
"Kalian saling kenal? " Tanya Wildan saat menyadari raut keterkejutan di wajah Ran dam Kelvin.
"Ng-
"Dia wanita mainan gue. " Jawab Kelvin santai sambil duduk di depan Wildan dan Ran.
"Mak-maksud lo? " Tanya Wildan tak percaya akan hal itu. Kelvin memang tak pernah berbohong padanya. Apa jangan-jangan dia bohong kepadanua kali ini saja?
Ran langsung berdiri dan menunjuk Kelvin. "Wildan! Dia bohong! Dia yang melecehkan aku! " Teriak Ran tak terima. Sial!
"Terserah kalau lo mau percaya atau nggak. " Ucap Kelvin sambil melangkah pergi. Muak lama-lama melihat wanita murahan itu.
Wildan beralih menatap Ran dengan tajam. "Jelaskan semuanya! " Tegasnya.
"It-itu nggak bener, Dan. " Jawab Ran dengan gugup.
"Oke. Sekarang mendingan lo pergi aja! " Usir Wildan sambil berdiri dan melangkah meninggalkan Ran.
Ran menghentakkan gigi dengan kesal. Tangannya terkepal. Dia benci. Rencananya gagal. Sial!
"Gue masih belum berakhir. "
•••
"Halo, Bang Ardan. " Sapa Piter kepada seseorang diseberang sana, Ardan.
Lo piter? Ara kemana?
"Ara di rumah sakit, Bang. Mendingan lo kesini sekarang. "
Oke. Gue kesana sekarang. Tutttt.
Piter menghembuskan napasnya dengan kasar. Lelaki itu berdiri lalu mencoba mengintip Adanya yang tengah di periksa. Dia mondar-mandir, khawatir dengan keadaaan gadis itu.
"Semoga lo baik-baik aja. " Gumam Piter bersamaan dengan pintu terbuka.
"Bagaimana keadaan Ara, dok? " Tanya Piter tak sabar.
Dokter Zahra menghela napas lalu tersenyum. "Ardan udah mau kesini? " Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Piter menganggukkan kepala. "Gimana keadaan Ara? " Tanyanya lagi.
"Baik-baik saja. " Jawab Dokter Zahra sambil tersenyum tenang.
Piter tersebut senang. "Terimakasih, Dok. Kalau gitu saya masuk. " Ucapnya sambil membuka knop pintu namun dicegah oleh Dokter Zahra.
"Jika Ardan sudah datang suruh menemui saya. " Kata Dokter Zahra lalu menurunkan tangannya dan melangkah pergi.
Piter merasa ada yang aneh dari Dokter Zahra. Seperti menyimpan sesuatu. Ah, sebaiknya dia tidak berburuk sangka. Dia melangkah masuk tak lupa menutup pintu. Dia menghampiri Arasya dan duduk di samping brangkar.
"Sya." Panggil Piter walaupun Arasya tak mendengarnya.
"A-aku sayang kamu. " Ucap Piter, kali ini memegang tangan hangat Arasya.
"Kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku? Kenapa kamu masih cinta sama cowok brengsek itu. Yang bahkan udah nyakitin kamu berkali-kali. Aku nggak mau kalau kamu sedih. Aku paling nggak suka lihat kamu nangis. Aku tahu. Mendapatkan kamu itu mustahil. Suatu saat nanti aku mau lihat kamu bahagia bukan dengan cowok brengsek itu. Aku cinta kamu, Ra."
"Piter." Panggil Ardan dengan napas ngos-ngosan.
Piter reflek melepaskan tangan Arasya. Lelaki itu langsung berdiri. "Kata Dokter Zahra. Kalau lo udah dateng suruh nemuin. "
"Gimana keadaan Ara? " Tanya Ardan dengan khawatir sambil mengusap pipi Arasya.
"Baik-baik saja. " Jawa Piter menirukan Dokter Zahra.
"Jagain adek gue. Gue mau nemuin Dokter Zahra dulu." Pamit Ardan sambil melangkah keluar.
Piter duduk kembali lalu tersenyum mengamati wajah polos Arasya yang hanya ia temui saat tidur.
"Aku berharap kita berjodoh. Amin. "
•••
"Ara." Panggil Zizi sambil mengecek pintu gerbang. Tidak dikunci.
"Ara! " Teriak Rika sambil memasuki perkarangan rumah Arasya.
"Coba telepon Piter. " Usul Abigail sambil memutar knop pintu. Terkunci.
"Apa jangan-jangan Ara pergi lagi. " Ujar Zizi sambil mengambil ponselnya lalu menekan tombol telepon.
Nomer yang anda tuju sedang tidak ak- tutttt.
"Sial! Malah mbak-mbak operator. " Umpat Zizi lalu menatap ketiga temannya.
"Coba telepon Ara deh. " Usul Sami sambil mengintip dari jendela.
Zizi menganggukkan kepala. Tangan gadis itu lalu menekan tombol telepon dan langsung terhubung. Dia menekan tombol speaker agar semua terdengar.
"Ra, lo kemana sih? " Tanya Zizi.
Gue Piter.
"What the hell? " Heboh Rika langsung mendapatkan pelototan dari Sami dan Zizi.
"Lo kemana, njir? Gue udah di rumah Ara nih. " Ucap Sami kesal.
Kita lagi jalan-jalan. Mendingan kalain pulang aja deh. Pan-kapan main lagi.
"Sialan! " Maki Sami.
Abigail merasa curiga dengan perkataan Piter. "Lo nggak bohong kan? " Tanyanya.
Rika, Sami dan Zizi langsung menatap Abigail. Bingung. Kenapa lelaki itu bertanya seperti itu?
Ngapain bohong sama kalian. Nggak guna. Tuttttt.
"Piter bangs*t! " Maki Rika sambil melangkah keluar rumah Arasya.
"Ya udah kita pulang aja. " Ajak Abigail.
•••
Ardan membuka pintu lalu melangkah menuju meja Dokter Zahra. Yang dia lihat Dokter Zahra tengah menelepon seseorang lalu di matikan.
"Silahkan duduk. " Ucap Dokter Zahra sambil ikut duduk.
"Apa yang terjadi dengan Ara? " Tanya Ardan dengan serius.
"Kondisinya baik-baik saja. " Jawab Dokter Zahra dengan senyum.
Itu membuat Ardan curiga dengan Dokter Zahra. Lelaki itu menyatukan alisnya. "Lalu? "
"Saya ingin memberikan saran untuk Ara. " Kata Dokter Zahra dengan serius.
"Apa saran dari dokter? " Tanya Ardan cukup penasaran.
"Saya menyarankan agar Ara berobat di San Francisco. " Jawab Dokter Zahra.
"Why? " Tanya Ardan bingung. Kenapa harus jauh-jauh?
"Agar ingatannya cukup pulih. Dan disana pula fasilitas memadai. "
"Apa yang Dokter Zahra rencanakan?"
"Tidak ada. Lagi pula apa yang ingin saya rencanakan. "
"Oke. Jadi siapa yang membimbing Ara disana? "
"Kaesar."
"Apa?! "
•••
"Sebaiknya lo keluar dulu. Gue mau ngomong berdua sama Ara. " Ujar Ardan sambil membukakan pintu untuk Piter keluar.
Piter menganggukkan kepala lalu melangkah keluar.
"Bang Ardan, mau bicara apa sama Ara? " Tanya Arasya penasaran.
Ardan duduk di samping brangkar lalu menghela napas sejenak. Dan menatap Arasya serius.
"Ikut Abang ke San Francisco. " Jawab Ardan membuat Arasya terkejut.
"Kenapa harus ikut Abang ke sana? " Tanya Arasya yang tak mengerti.
"Kamu disana berobat, Ra. Biar ingatan kamu cepat pulih. " Jawab Ardan dengan senyum yang merekah.
Arasya terdiam sejenak. "Kalau gitu Ara mau. " Semoga dengan cara ini. Gue bisa lupain lo,Dan.
"Hari ini kita berangkat ya? "Ardan berdiri lalu mengecup sekilas puncak rambut Arasya.
" Harus hari ini? "Tanya Arasya yang masih belum siap.
" Iya. "Jawab Ardan.
" Ya sudah. "
•••
"Gue nggak bisa ikut ya? " Tanya Piter berulang kali. Sejak dari perjalanan menuju bandara hingga ke bandara.
"Nggak, Piter. Lo tetep harus disini. Tolong katakan pada Sami, Rika dan Zizi. Permintaan maaf. Karena nggak pamit sama mereka bertiga. Dan sama Abigail juga. " Ucap Arasya panjang lebar.
Piter memeluk Arasya erat, seolah tak mau kehilangan. "Jangan lupain gue. "
"Iya. Tenang aja. Gu-
"Ara. Ayo! " Teriak Ardan yang mengetahui pesawat akan segera berangkat.
"Iya. Gue berangkat dulu. Bye! " Pamit Arasya sambil mencium kedua pipi Piter sekilas.
•••
"Ada apa, Bi? " Tanya Wildan sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Ara pergi.
"Nggak ada urusannya sama gue. " Balas Wildan dingin.
Dia pergi ke San Francisco.
"Apa? " Wildan langsung memposisikan dirinya duduk.
"Lo nggak bohong kan? " Tanya Wildan memastikan.
Gue nggak bohong.
Wildan menekan tombol merah. "Kenapa kamu harus pergi? "
•••
1 Tahun kemudian
•••
TBC!