
*Kini aku percaya teori cinta pandangan pertama itu ada. Buktinya aku mencintainya pada pandangan pertama,Arasya Dafina Mangalitsa.
-Wildan Nagaswara*-
•••
Kediaman Keluarga Nagaswara
Lo beneran pacaran sama Ara?
"Iya,Bi. Gue pertama kali ngelihat dia udah jatuh cinta,"jawabnya sambil mengambil minuman di kulkas.
Gue tadi juga tanya sama Ara. Lo udah ngontak dia? Pastinya udah kan?
"Belum. Gue ngasih nomer gue ke Ara. Tapi sampai sekarang dia belum ngontak gue,"jawabnya sambil meminum air dingin sampai setengah.
Gue kasih nomernya.
"Lo dapet darimana nomernya Ara?"
Dari Kak Zizi
"Ngapain lo minta nomernya Ara?"tanyanya lalu duduk di sofa depan TV.
Gue kepo sama dia.
"Bentar-bentar,tapi kok Lo kenal sama Ara?"
Gue tadi nolongin dia buat manjat tembok belakang.
Wildan menekan tombol merah dengan kesal. Lelaki itu cemburu tak jelas hanya karena Abigail menolong Ara-nya. Ia meraih remote TV lalu menyalakannya.
Ting!
Wildan menatap ponselnya. Lelaki itu membaca notifikasi yang ada di layar depan. Dari Abigail. Ia langsung meraih ponselnya dan membuka chat Abigail.
Abigail: (kontak Arasya)
Wildan langsung menambahkan kontak Arasya lalu melihat foto profil Arasya. Lelaki itu tersenyum tipis.
Manis. Batin Wildan sambil mengusap ponselnya lalu tanpa sadar menekan tombol telepon.
"Aduh! Kepencet lagi!"
Wildan?
Wildan mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Ya?"
Ngapain telepon?
"Besok gue jemput."
Iya.
"Udah makan?"
Udah. Gue tutup dulu. Bye- tutttt
Walaupun gue baru pacaran pertama kali. Gue akan memperlakukan lo sebaik-baiknya.
•••
Parkiran SMA 3
"Makasih,"Arasya menyodorkan helm yang tadi di pinjamkan oleh Wildan.
"Sama-sama,"jawabnya sambik menerima helm tersebut lalu turun dari motor.
"Gue duluan,"pamitnya hendak melangkah namun ditahan oleh Wildan."Apa?"tanyanya sambil melepaskan tangan lelaki itu.
"Bentar,"Wildan mendekati Arasya lalu merapikan rambut panjang Arasya yang berantakan.
"Udah,"ucapnya lalu memundurkan langkahnya.
"Makasih. Gue duluan,"Arasya langsung berlari menuju ke kelasnya.
"Mungkin Ara masih belum terbiasa pacaran sama gue. Tetep positif thinking,"gumam Wildan sambil melangkah menuju ke kelasnya.
•••
Kelas XI-6 IPS
"Lo pacaran sama Wildan?"heboh Sami tak percaya.
"Iya. Masak gue bohong,"jawab Arasya sambil bergulir di dunia maya.
"Pantesan kemarin gue lihat lo ngomong beberapa sama Wildan,"sahut Rika sambil mengingat Arasya yang tengah berbincang dengan Wildan.
"Lo juga tau,Zi?"tanya Rika saat melihat Zizi yang biasa saja.
Zizi mengangguk tanpa menatap Rika. "Iya. Gue di kasih tau sama Ara waktu pulang sekolah,"jawabnya yang masih asik dengan ponselnya.
"Seharusnya Sami aja yang nggak dikasih tau,"kata Rika berpura-pura ngambek.
Arasya menyimpan ponselnya lalu menatap ketiga temannya. "Kalian jangan sampai bocor kalau gue pacaran sama Wildan,"ucapnya serius.
"Siap,Bu bos,"ujar Rika dan Zizi serempak.
Arasya menatap Sami yang belum janji terhadapnya."Iya. Gue nggak ember deh,"janjinya.
"Katanya Lo dianter jemput sama Wildan mulai hari ini. Kalau begitu pasti orang-orang tau lah,"celetuk Zizi ada benarnya.
"Lo bener juga sih? Ya udah nanti gue ngomong sama Wildan,"ujar Arasya sambil membuka ponselnya.
Ting!
Abigail:Ra
Arasya langsung membalas pesan dari Abigail.
Arasya: Ya?
Tak butuh waktu lama,Abigail membalas pesannya.
Abigail: Gue tadi lihat lo sama Wildan mesra-mesraan di parkiran.
Arasya:Emang kelihatan mesra banget ya?
Arasya: Wildan tadi rapiin rambut gue yang berantakan doang.
**Abigail:Iya. Gue tau gegara orang-orang lihatin lo berdua.
Arasya:Iya sih. Gue aja malu tadi
Abigail:Lo nanti balik sama Wildan?
Abigail:Nggak apa-apa sih**.
"Sya. Sya,ada Wildan di depan,"Zizi menyenggol lengan Arasya.
Arasya menyimpan ponselnya di laci lalu beranjak menghampiri Wildan. Ngapain tuh bocah kesini? "Nyari siapa,Dan?"tanyanya saat sampai di depan lelaki itu.
"Gue tadi nggak sengaja nanya kelas lo. Jadi,gue mastiin aja. Kebetulan lo keluar jadi gue nggak perlu mastiin. Gue cabut dulu,"ucap Wildan berlalu meninggalkan Arasya menahan kesal.
Kesini buat mastiin doang? Kuker amat.
•••
Parkiran SMA 3
"Nih,"Wildan mengulurkan helm kepada Arasya. Lelaki itu menyalakan mesin motornya lalu menatap Arasya.
"Besok nggak usah antar jemput gue,"ujarnya sambil menaiki motor Wildan.
"Kenapa?"tanya Wildan sambil menjalankan motornya.
"Gue nggak mau hubungan kita kesebar,"jawabnya santai.
"Iya. Gue mau ngajak lo ke suatu tempat dulu,"Wildan melirik Arasya dari kaca spion.
"Kemana?"
"Tempat favorit gue."
"Kenapa lo tunjukin ke gue?"
"Lo pacar gue."
Gue kira lo nggak nganggep gue.
•••
Hutan pinggir kota
"Kita mau ngapain ke hutan?"tanya Arasya sambil turun dari motor Wildan lalu menatap hutan yang ditumbuhi pohon Pinus.
"Pasti lo suka,"jawab Wildan penuh percaya diri sambil melepaskan helmnya.
"Ya udah. Ayo kesana,"ajak Arasya tapi di cegah oleh Wildan.
Wildan melepaskan helm yang melekat di kepala Arasya. "Lo mau masuk bawa-bawa helm?"
Arasya terkekeh ringan. "Lupa gue. Ya udah,ayo!"ajak gadis itu tanpa sadar menarik tangan Wildan.
Wildan hanya tersenyum tipis. Dia itu lucu. Tapi lucunya beda. Nggak bikin ketawa tapi bikin sayang. "Belok kanan terus udah sampai,"ujarnya saat Arasya ingin berbelok kiri.
"Iya. Kita lihat. Gue suka apa nggak," Arasya menoleh ke Wildan.
Wildan tersenyum lalu menghentikan langkahnya membuat Arasya menghentikan langkahnya juga.
"Kenapa?"tanya Arasya bingung.
"Mata lo harus di tutup. Biar suprise gitu,"pintanya sambil berdiri di belakang Arasya lalu menutup mata Arasya dengan kedua tangannya.
"Ehh....,"Arasya terkejut.
"Ayo jalan. Jangan cepet-cepet nanti jatuh,"Wildan mulai menuntun Arasya untuk berjalan.
"Lo yang jangan cepet-cepet,"sanggahnya sambil melangkah pelan-pelan.
"Terserah lo. Cewek selalu bener."
"Ya iyalah. Cewek mah bebas."
"Udah sampai,"Wildan menghentikan langkahnya begitu juga dengan Arasya.
"Siap-siap kagum."
"Iya. Gue udah nggak sabar,"kata Arasya sambil melepaskan tangan Wildan dari matanya.
"Wow. Bagus banget sumpah,"kagum Arasya sambil melangkah maju menuju rumah pohon yang begitu besar.
"Tuh kan. Gue bilang apa? Lo bakal kagum,"Wildan melangkah menghampiri Arasya.
"Iya. Gue kalah dah. Gue boleh naik ke atas?"tanya Arasya sambil memasang pupy eyesnya.
"Boleh. Mulai sekarang ini jadi milik Lo."
Arasya tersenyum senang sampai-sampai ia memeluk Wildan. "Makasih,Dan,"ujarnya sambil melepaskan pelukan lalu berlari menuju rumah pohon itu.
Wildan tersenyum lagi dibuatnya. Lo emang unik. Gue beruntung bisa dapetin lo.
•••
Danau dekat rumah pohon
"Gue nggak nyangka juga ada danau di hutan kayak gini,"tak bosan-bosannya Arasya memuji betapa keindahan yang Tuhan berikan.
"Rumah pohon itu hadiah dari nyokap gue,"Wildan menatap air danau yang tenang..
"Nyokap lo pasti perhatian banget sama lo,"Arasya menoleh dan menatap Wildan.
Wildan mendongak lalu menatap Arasya dengan sendu."Nyokap gue sibuk kayak bokap gue."
Arasya mengusap pundak Wildan. "Bonyok gue juga sibuk kok."
"Tapi lo nggak broken home kan?"tanya Wildan sambil mengamati mata coklat itu.
"Nggak lah. Kalau lo?"
"Gue cuma butuh kasih sayang aja. Tapi itu mustahil. Bonyok gue di luar negeri."
"Bonyok gue juga tinggal diluar negeri. Kayaknya bakal netap si situ."
"Lo percaya nggak teori cinta pandangan pertama?"tanya Wildan mencoba mengalihkan topik.
Arasya menoleh lalu tertawa. "Ya nggak lah. Itu mah nggak ada."
"Ada. Gue salah satunya yang ngalamin itu,"Wildan berkata dengan serius.
"Masak sih? Gue nggak percaya gitu-gituan,"Arasya mengalihkan pandangannya.
"Lo."
Arasya sontak menoleh ke arah Wildan lalu mengernyit heran. "Gue kenapa?"
"Lo cinta pandangan pertama gue."
•••