
*Apasalah kita memulainya sekarang? Tidak ada terlambat bagi hubungan kita.
-Wildan Nagaswara*-
•••
Perpustakaan daerah lantai 2
"Arasya?"
Arasya menoleh ke sumber suara. Wajahnya berubah menjadi terkejut. "Abigail?"
Abigail tersenyum tipis lalu duduk di samping Wildan yang masih tertidur."Wildan tidurnya pules ya?"paparnya sambil menatap Arasya dan Wildan bergantian.
Arasya tertawa ringan."Iya. Tadi aja mau kejedot meja,"ujarnya.
"Udah daritadi disini?"Abigail bertanya seraya membuka buku.
Arasya mengangguk lalu kembali fokus terhadap bukunya.
Sementara Wildan membuka manana Dan mengangkat kepalanya, membuat Arasya sontak menoleh lalu berujar,"Pulang?"
Wildan yang mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar, menoleh ke Arasya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis lalu berdiri dan melangkah pergi.
Arasya mengerutkan keningnya. "Wildan nunggu lo diluar, " Celetuk Abigail membuat Arabia langsung beranjak dan melanglah keluar.
Arasya menghentikan langkahnya lalu berbalik, "gue balik dulu, " Pamitnya lalu melangkah kembali.
•••
Kediaman Keluarga Nagaswara
Wildan menyodorkan segelas sirup Kerala Abigail. Lalu duduk disamping lelaki itu. "Lo ngapain malam-malam kesini? "
Abigail meletakkan gelas tersebut setelah meminumnya. "Gue rasa...., " lelaki itu sengaja menggantung kalimatnya, membuat Wildan bingung.
"Kalau ngomong jangan ngegantung dong! "Kesal Wildan saat menunggu Abigail tak kunjung bicara.
Abigail tersemyum miring. " Ternyata lo nggak peka ya? "
"Maksud lo apaan sih? " Bingungnya.
"Gak, " Abigail berdiri lalu berpamitan. "Gue pulang dulu, bye! "
"Aneh, " Gumam Wildan sambil beranjak dari sofa.
•••
Kantin SMAN 3
Wildan berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, membuatnya terlihat keren. Lelaki itu menyipitkan matanya saat Arasya tengah tertawa dengan lelaki. Ia asing dengan wajah lelaki itu. Ia berjalan cepat menuju meja gadisnya.
"Ara? " Panggil Wildan sambil dudul di depan Arasya.
Arasya seketika menghentikan tawanya. "Wildan? " Kejutnya.
Wildan tersenyum manis. "Siapa? " Tanyanya to the point.
"In-
" Kenalin gue mantannya Daf, Aryoga. Yoga, "ucap Yoga sambil mengulurkan tangannya.
Wildan tentunya terkejut dengan ucapan Yoga. Lelaki itu menjabat tangan Yoga dan membalas ucapan lelaki itu.
" Gue Wildan, pacarnya, "bangganya sambil tersenyum ke arah Arasya.
Situasi macam apani? Batin Arasya kesal.
" Yoga mendingan lo pergi aja. Gue mau bicara sama cowok gue, "usir Arasya halus membuat Yoga harus menuruti gadis itu.
" Oke, "Yoga melangkah meninggalkan mereka berdua.
Arasya menatap Wildan. " Gue mau bicara jujur. Gu-
"Ara! " Teriak Zizi, Sami, dan Rika.
Arasya menoleh ke belakang. Gadis itu berdecak kesal lalu beralih menatap Wildan. "Kita bicara nanti pulang sekolah. "
Apa yang ingin kamu bicarakan. Perasaan ku seketika tak enak. Batin Wildan sambil menatap Arasya yang tengah berlari menuju teman-temannya.
•••
Kelas X-7 IPA
"Abigail, "panggil Wildan dengan lirih saat pelajaran berlangsung.
Abigail menoleh lalu mengangkat alisnya. " Apa? "Tanyanya sambil melihat ke depan lalu menatap lelaki itu.
Wildan menyobek kertas lalu menuliskan sesuatu. Setelah selesai menulis, lelaki itu memberikannya pada Abigail.
Abigail membuka kertas tersebut.
Sepulang sekolah Ara mau bicara sama gue. Perasaan gue nggak enak.
Abigail menatap Wildan lalu menuliskan sesuatu disana. Setelah selesai menulis, lelaki itu memberikannya pada Wildan.
Wildan membuka kertas tersebut sambil melirik Pak Tono, Guru Biologi yang tengah menerangkan.
Lo positif thinking aja. Semoga saja yang dibicarakan Ara bukan tentang lo berdua.
Wildan mencoba positif thinking namun tetap saja perasaannya tak enak. Lelaki itu meremas-remas kertas tersebut bersamaan dengan bunyi notifikasi di kolong mejanya. Sebelum mengecek, Ia menatap Pak Tono sambil mengambil ponselnya lalu melihat pesam entah dari siapa.
+6287753xxxxx: Wildan aku kembali hanya untukmu.
Who? Batinnya dengan penasaran.
•••
Kelas XI-6 IPS
"Zi, " Panggil Arasya dengan lirih.
Zizi menoleh. "Apaan? " Tanyanya sambil menulis di buku tulisnya.
"Lo taukan perasaan gue sebernanya ke Wildan, " Lirih Arasya sambil menulis.
"Gu-
Suara lagu all of me terdengar. Arasya langsung menekan tombol merah lalu beranjak dari kursi, izin untuk pergi ke toilet. Sesampainya di toilet, gadis itu menghubungi kembali Ardias, sang kakak.
"Kenapa, Mas? "
Mas. Mas. Emang gue tukang ojek.
"Ya elah sensi amat dah. Kek cewek aja. "
Whatever.
"Lo kenapa telpon adik lo yang cantik membahana ini? "
Huekkk. Gue serasa mau muntah.
"Alay. Cepetan lo mau ngomong apa, njir! "
Santai dong. Gue butuh bantuan lo habis pulang sekolah. Tidak boleh menolak apalagi menghindar.
•••
Parkiran SMAN 3
Wildan berlari sekencang mungkin agar Arasya tidak menunggu lama. Sebelum pergi ke parkiran, lelaki itu harus melaksanakan tugas piket terlebih dahulu. Ia baru selesai 30 menit setelah pulang sekolah.
Sesampainya di parkiran, Wildan menetralkan napasnya lalu mencari keberadaan Arasya. Namun, nihil. Tak ada Arasya di sana.
"Apa lo udah pulang atau lupa? " Gumamnya sambil duduk di atas motornya.
Wildan menggelengkan kepala. "Gue harus positif thinking. Siapa tahu Ara masih di kelas. "
Sambil menunggu Arasya, Wildan bermain ponsel agar tidak bosan menunggu gadis itu.
30 menit berlalu. Masih tetap saja, Arasya belum terlihat. Wildan mulai gelisah. Apa jangan-jangan tebakannya benar? Jika gadis itu pulang atau lupa? Lelaki itu memasukkan ponselnya bersamaan ada yang memangilnya.
"Wildan! " Teriak Abigail sambil melangkah menghampirinya.
"Kok lo belum pulang? " Tanya Abigail penasaran.
"Dan lo juga kenapa belum pulang? " Tanya balik Wildan.
"Gue tanya kenapa lo tanya juga ke gue. Gue habis bantuin Viona buat tugas mading. Puaskan? Sekarang lo, " Jawabnya rada kesal
"Gue nungguin Arasya dari 30 menit yang lalu, " Jawab Wildan.
"Bukannya Ara pulang dari tadi ya, " Abigail mencoba mengingat-ngingat saat bertemu Arasya di depan picture gerbang.
"Lo boong kan?"
"Nggak. Sumpeh. "
"Tadi dia di jemput pakai mobil. Mendingan lo balik. Besok lo ngomong sama dia lagi aja, " Saran Abigail langsung di turuti Wildan.
Lo lupa pastikan.
•••
Kediaman Keluarga Mangalitsa
"Bang Ardan, kuenya mau di taruh di mana? " Teriak Arasya yang menggema seisi rumah.
"Taruh di meja makan aja, dek, " Sahut Ardan sambil turun membawa kotak entah berisi apa.
"Dan Ardan, balon sama pitanya taruh dimana! " Teriak Ardias.
"Nggak usah pakai teriak-teriak. Gue nggak budeg, " Kesal Ardan sambil membuka kotak tersebut.
Arasya dan Ardias yang penasaran dengan isi kotak tersebut pun mendekat ke Ardan. Di dalam sana terdapat foto-foto Keluarga saat Arasya berumur 5 tahun.
Ardias sontak tertawa keras saat melihat Arasya berumur 5 tahun dengan gigi yang ompong dua di depan.
Arasya menjitak kepala Ardias membuat sang empu meringis kesakitan. "Awas lo, bang, " Kesalnya sambil beranjak dari sofa.
Sedangkan Ardan terdiam. Ardias yang menyadari kakaknya itu hanya diam pun bersuara.
"Lo kenapa? " Tanyanya agak cemas.
"Apa mungkin Mama sama Papa akan pulang? "
•••
Kediaman Keluarga Nagaswara
Wildan sedari tadi menunggu telepon dari Arasya. Tetapi itu hanya harapan sia-sia. Apakah ia harus menelepon terlebih dahulu? Atau menunggu saja. Tapi itu percuma. Akhirnya dia mengalah. Ia harus menekan tombol telepon langsung mendekatkan ponselnya di telinga.
"Ara."
Ya? Kenapa?
"Katanya mau ngomong sesuatu. "
Oh, itu.
"Ngomong apa? Tentang apa? "
Tentang hubungan kita
Deg!
"Apa? "
Sebenarnya gue nggak suka sama lo.
"Gue tahu soal itu. "
Ha?
"Tapi, ijinkan gue untuk buat lo jatuh cinta dan mulai semula dari awal? "
•••