
»Dimenticare : Takdir«
•••
**Pertemuan kita memang aku sengaja. Tapi,aku tak menyangka jika kamu mempunyai perasaan terhadapku. Walaupun kamu tak mengungkapkannya.
-Arasya Dafina Mangalitsa-
•••
Kediaman Keluarga Mangalitsa
"KEBO,BANGUN LO.LO MAU SEKOLAH NGGAK?!" teriak Ardias,Kakak kedua gadis itu berumur 22 tahun.
Arasya Dafina Mangalitsa,gadis itu menutup kedua telinganya saat mendengar suara teriakan tarzan. "Gue nggak sekolah. Gue sakit,Bang."
"Lo sakit apa?"tanya Ardias sok khawatir.
"Aku meriang aku meriang merindukan kasih sayang,"jawabnya sambil membuka matanya.
"Meriang pala lo!"Ardias menyentil dahi Arasya membuat sang empu meringis kesakitan. "Bangun. Mandi. Sekolah. Nggak usah sarapan biar nanti Lo pingsan ter-
Arasya langsung berlari menuju kamar mandi ketika mendengar ucapan sang kakak yang brilian. Tak sampai 5 menit,gadis itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia mengambil tasnya lalu turun.
"Bang,anterin gue. Gue telat nih. Masak gue harus panjat tebing,"ucap Arasya sambil menarik tangan Ardias.
"Panjat tebing aja. Ajaran jadi atlet panjat tebing,"sahut Ardias lalu bangkit dari sofa.
"Gue kenalin deh sama temen gue,"sogok Arasya.
•••
SMAN 3 Jakarta
"Sial. Masak gue harus panjat tebing sih!"gerutu Arasya sambil melihat tembok tinggi yang berada di belakang.
"Emang bisa ya panjat tebing pakai rok gini,"gerutunya lagi sambil menatap rok abu-abunya.
"Butuh bantuan?"
Arasya sontak menoleh mendengar tawaran dari seseorang. "Butuh banget. Anyway busway,nama lo siapa?"
"Abigail. Abi,"Abigail menjulurkan tangannya.
Arasya menjabat tangan adik kelasnya itu. "Arasya. Ara,"gadis itu melepaskan jabatan tangannya.
"Emang lo mau bantuin gue gimana?"tanyanya ragu.
Abigail mendekati tembok tersebut lalu berjongkok. "Naik ke punggung gue aja,"pintanya sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Emang kuat ya?"
Abigail menoleh. "Kuat. Lo kurus kayak begitu!"
"Nggak usah ngatain kurus segala kali. Iya-iya gue naik ni."
Arasya mulai naik ke punggung Abigail. Awalnya gadis itu takut tapi ketika lelaki itu meyakinkan ia jadi tak takut. Ia mulai meraih ujung tembok itu lalu mencoba duduk di ujung tembok itu.
"Makasih!"serunya dari atas lalu melompat ke bawah.
Lucu juga.
•••
Kantin SMAN 3
"Kok Lo bisa masuk?"tanya Sami sambil menyeruput es jeruknya.
"Iya. Lo pakai pintu kemana sajanya Doraemon ya?"tebak Zizi asal.
"Ya nggak mungkinlah,"sahut Arasya sambil melahap siomaynya.
"Jangan-jangan lo manjat tembok belakang?"tebak Rika langsung di anggukkan Arasya.
"Demi apa Lo?!"ucap mereka bertiga serempak.
"Demi makanan lo lo pada gue bayarin,"Arasya melahap siomaynya dengan santai sampai habis.
"Gue nggak percaya. 2 meter hlo. Sedangkan tinggi lo cuma 1,50 meter aja,"kata Zizi tak percaya.
"Palingan Ara nyari kursi dulu,"tebak Rika mencoba membayangkan cara Arasya memanjat tembok belakang sekolah.
"Ya nggaklah,"bantah Arasya sambil menyeruput es jeruknya sampai habis.
"Terus?"tanya merek bertiga serempak.
"Gue pakai baling-baling bambu,"jawabnya disusul kekehan. "Gue ditolongin sama adik kelas. Lumayan cogan sih,"lanjutnya sambil mengingat-ingat wajah Abigail.
"Yang mana,Ra?"tanya Sami gercep ketika mendengar kata cogan.
"Iya. Gue penasaran,anjir,"Zizi menyahut tak sabar.
Arasya menyusuri seluruh kantin. Matanya menangkap Abigail yang tengah tertawa dengan teman-temannya. Gadis itu menyipitkan matanya,mencoba memastikan. Kemudian,ia menunjuk Abigail dengan tangannya.
"Tuh,Abigail. Panggil aja Abi,"tunjuknya tapi tak fokus pada Abigail. Fokusnya teralihkan oleh seseorang di samping Abigail. Cogan banget anjir. Manis lagi.
"Iya. Lumayan cogan sih. Tapi, sampingnya lebih cogan. Manis lagi,"celetuk Yuni sambil mengingat-ingat wajah Abigail serta sampingnya.
"Gue rebut ah,"goda Zizi sambil tersenyum menatap samping Abigail.
Arasya melotot. "Gue cekik lo!"ancamnya sambil mengarahkan jarinya ke leher.
"Aduh, dedek takut di cekik sama kembarannya Lucinta Luna."
Arasya mencubit lengan Zizi dengan kesal. "Gue nggak ada mirip-mirip sama tuh waria. Gue wanita ori,"belanya tak terima.
"Aduh. Aduh. Ampun dah. Ara cantik deh,"ringisnya sambil memuji Arasya.
Arasya melepaskan cubitannya ketika mendengar penuturan dari Rika. "Gimana kalau lo ngedeketin dia,Ra?"
•••
Parkiran SMA 3
"Gimana caranya?"bisik Arasya sambil melihat lelaki itu yang tengah duduk di motornya.
"Lo pura-pura dapet tantangan dari kita-kita. Truth or dare gitu. Lo dapet dare terus Zizi suruh lo foto sama dia. Gimana? Lo untung kan?"jelas Rika.
"Iya. Gue nanti anterin lo terus gue bilang sama dia,"sahut Zizi langsung diangguki Arasya.
"Nanti gue kasih fotonya dia ya. Nanti gue crop nggak pake foto Lo,"ujar Sami sambil terkekeh.
Arasya menjitak kepala Yuni dengan kesal. "Bacot lo!"maki gadis itu sambil menarik tangan Zizi.
Zizi menarik mundur Arasya."Seharusnya gue yang narik Lo,"gadis itu menarik Arasya menghampiri lelaki itu.
"Sorry. Ganggu nggak?"tanya Zizi saat sudah berada di depan lelaki itu.
Lelaki itu berdiri lalu menatap keduanya."Nggak. Apa?"jawabnya sambil menatap Arasya.
"Ini Arasya. Panggil aja Ara. Di mau jalanin dare dari gue buat foto sama lo,"jawab Zizi sambil mendorong Arasya menghadap lelaki itu.
"Ara,"Arasya mengulurkan tangannya.
Lelaki itu memandang tangan Arasya yang mengulur kemudian menjabat tangannya. "Wildan."
"Gue boleh foto sama lo?"tanya Arasya gugup lalu menunduk. Lo kayak lagi ngadepin senior galak aja,Ra.
"Boleh,"jawabnya membuat Arasya mendongak dengan mata berbinar-binar.
"Sini hp lo,"Zizi mengulurkan tangannya kepada Arasya.
Arasya memberikan ponselnya lalu berdiri di samping Wildan sangat dekat. Gadis itu mulai berpose saat Zizi mengangkat ponselnya.
"Satu dua tiga,"satu foto sudah berhasil diambil oleh Zizi. "Lagi. Pose bebas,"lanjutnya langsung membidik.
"Pose dua jari,"ucap Arasya kepada Wildan.
Wildan langsung mengangguk lalu melakukan pose dua jari.
"Satu dua tiga,"dua foto telah berhasil diambil Zizi. Tapi,gadis itu diam-diam memfoto tanpa sepengetahuan merek berdua.
"Udah. Gue cabut dulu,"Zizi menyerahkan ponsel Arasya lalu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Makasih,"ucap Arasya sambil menyimpan ponselnya.
"Ponsel Lo boleh gue pinjem?"tanya Wildan sambil menarik turunkan alisnya.
Arasya mengangguk sambil mengambil ponselnya di saku rok putih abu-abunya. "Buat apa?"tanyanya sambil menyerahkan ponselnya.
Wildan menghiraukan pertanyaan dari Arasya. Lelaki itu mengetikkan nomer ponselnya lalu mengembalikan ponsel itu.
"Kita pacaran."
"Ha?!"Arasya terlonjak kaget saat mendengar penuturan spontan dari lelaki di depannya.
•••
Kediaman Keluarga Mangalitsa
Lo beneran pacaran sama Wildan?
"Zizi Santosa, ya benerlah. Gue seneng banget!" Gue sih biasa aja.
Gila. Gercep banget. Semoga langgeng hubungan kalian.
"Iya. Sama-sama. Gue seneng banget. Aaaaaaaaa. Gue besok mau pamer sama Rika apalagi Yuni." Males sih.
Pasti Yuni ngiri sama lo. Lo bisa dapet cogan kayak Wildan. Udah dulu. Bye- tutttttt
"Wildan? Kenapa dia tiba-tiba nembak gue? Padahal gue cuma mau modus sama dia,"gumamnya.
Drrrttttt
Arasya terlonjak kaget ketika ada telepon entah dari siapa. Gadis itu menatap ponselnya yang bergetar. Ia mengernyit heran tak kala nomer tak di kenal meneleponnya. Dengan ragu ia menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Halo. Siapa ini?"
Abigail. Lo pacaran sama Wildan?
•••