Dimenticare

Dimenticare
17.Senyum itu



-*Aku merasakan dejavu saat melihat senyum itu-


-Arasya Dafina Mangalitsa*-


•••


Wildan menatap luar dari jendela pesawat.  Lelaki itu mengecek kembali jam di tangannya.  Sudah 5 jam perjalanan. Rasanya ia ingin cepat-cepat bertemu dengan kekasihnya. Ia menghidupkan ponselnya yang digunakan di Indonesia.  Banyak pesan serta telepon dari kekasihnya. Tangannya ingin terlulur untuk menelepon kekasihnya itu namun ponselnya tiba-tiba mati. 


Sial.  Umpat nya sambil menatap Kelvin.


"Apa? " Tanya Kevin tak santai.


"Pinjem ponsel, " Jawab Wildan sambil nyodorkan tangannya.


"Buat? " Tanyanya kepo.


"Hubungi pacar. "


"Owlh."


"Mana? "


"Baterinya habis. "


Sialan.  Rasanya Wildan ingin menjabak rambut Kelvin sampai botak.  Lelaki itu menatap Kelvin dengan tajam lalu mengalihkan perhatian ke jendela pesawat.


Kamu baik-baik aja kan, Ra? 


•••


Arasya mengerjapkan matanya perlahan-lahan.  Tangannya pun mulai bergerak.  Ia membuka matanya walaupun masih berat.  Ia melihat semua orang tengah memperhatikan dirinya.  Tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing.  Ia memegangi kepalanya.


"Ra, kamu kenapa? " Tanya Arani dengan khawatir.


"Sayang, kamu kenapa? " Disusul oleh Arya.


"Cepat panggil dokter, " Lanjut Arya dengan khawatir sambil memegangi baju sang putri.


"Iya, om, " Piter dan Abigail mengangguk dan keluar bersamaan.


"Sayang, kamu kenapa? " Tanya Arani lagi dengan nada bergetar.


"Pusing. Pusing. Pusing, " Lirih Arasya.  Wajahnya sudah di penuhi dengan keringat dingin.


"Sakit. Sakit. Sakit, " Luruhnya lagi.


"Tahan ya, sayang, " Ucap Arya menenangkan sang putri.


Arani sudah menangis melihat putrinya yang menderita.  Wanita itu memeluk Arya dari samping.


"Dokter, " Teriak Arani saat pintu di buka.


"Ada apa? " Tanya Dokter itu langsung berlari menghampiri Arasya dan mengecek keadaan gadis itu.


Dokter itu menoleh ke suster lalu mengulurkan tangannya.  Suster itu mengerti langsung memberikan suntikan berisi obat pereda rasa sakit dan obat tidur.  Dokter itu langsung menyuntikkan ke selang infus Arasya.


"Bagaimana? " Tanya Arya dengan khawatir mendengar perkataan dokter.


"Setelah keadaan Arasya membaik, saya akan melakukan tes, " Jawab Dokter itu.


"Kenapa harus di lakukan tes? " Tanya Piter tiba-tiba.


"Kepalanya mengenai benturan dan kemungkinan akan terjadi gegar otak ataupun amnesia."


"Apa?! " Arani berteriak terkejut mendengar pernyataan Dokter itu.  Wanita itu langsung pingsan di pelukan Arya. Pria itu langsung menggendong Arani dan meletakkan istrinya di sofa.


"Terimakasih, dok," Ujar Abigail sambil mengantarkan dokter dan suster keluar.


"Doakan saja semoga Arasya baik-baik saja, " Dokter itu menepuk pundak Abigail lalu berlalu pergi.


Amin.


•••


Wildan merebut ponsel Kelvin yang sudah terisi penuh.  Lelaki itu tak peduli jika Kelvin akan mengamuk gara-gara, ia merebut ponselnya dengan tiba-tiba saat lelaki itu tengah bermain game.  Ia melirik sekilas Kelvin yang tengah menatapnya kesal.


"Sialan! Balikin ponsel gue, " Kelvin meraih ponselnya berada di genggaman Wildan namun Wildan terlalu cepat untuk menghindar.


"Berisik! " Ketus Wildan tak peduli Kelvin memasang tampang cemberut dan kesal.


Wildan mengingat-ingat nomer Adanya lalu mengetik nomer tersebut dan meneleponnya.  Lelaki itu mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Ara? "


Ini siapa ya?


"Ini Wildan "


Wildan?


"Kita vidcall aja"


Oke


Wildan menekan tombol video call setelah itu ponselnya di depan wajahnya.  Wajahnya terpampang jelas serta wajah Arasya yang pucat.


"Hai, " Sapa Wildan dengan senyum yang merekah.


"Gimana kabarnya? " Tanya Wildan tak luput tersenyum sambil menatap wajah cantik Arasya dengan lekat.


B-baik. Kalau boleh tahu kamu siapa?


Wajah Wildan berubah menjadi datar.  Kenapa kekasihnya tak mengingatnya?  Apa ia terlalu lama meninggalkan kekasihnya sehingga dia lupa?  Kenapa?  Kenapa?  Mereka berdua baru saja kembali?  Kenapa harus begini?


Wil?


Wildan tersentak lalu mencoba tersenyum tipis.  Tak ada lagi senyum merekah.


"Aku siapa? "


Iya.


"Kamu nggak ingat aku? "


Nggak sama sekali.


Wildan menatap nanar kekasihnya.  Dadanya sesak.  Ia tak suka jika Arasya  tidak mengingatnya. Ia menekan tombol merah dan melempar ponsel Kelvin lalu menyenderkan tubuhnya dan menutup matanya.


"Udah di pinjemin.  Nggak tahu terimakasih, " Cibir Kelvin sambil mengecek ponselnya takut kenapa-kenapa.


"Ara lo kenapa? " Gumam Wildan sambil memijat pelipisnya.


•••


Clek


"Piter? " Panggil Arasya sambil tersenyum senang.


"Hai, " Sapa Piter sambil meletakkan bingkisan berisi buah. "Udah sarapan? " Tanyanya sambil duduk.


Arasya mengangguk sambil menatap bingkisan tersebut. "Mau buah, " Ucapnya seperti merengek.


Piter tersenyum.  Lelaki itu merasa senang jika Arasya bersikap manja padanya.  Walaupun gadis itu tak tahu siapa Piter sebenernya.


"Mau buah apa? "


"Pir deh. "


"Aku kupasin dulu. "


"Iya."


Arasya mengangguk senang sambil melihat Piter yang tampak tampan saat serang mengupas buah.  Piter emang tampan sih. Itu menurutnya.


Dddrrrttt


Arasya melihat ponsel yang tengah bergetar di atas rak.  Kata Arani itu ponselnya.  Gadis itu meraih ponselnya dan mengernyitkan dahinya saat melihat nomer yang tak ia kenal meneleponnya.  Ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya di telinganya.


Ara?


"Ini siapa ya? " Tanya Arasya merasa asing dengan suara tersebut.  Tepatnya tak kenal.


Ini Wildan


Wildan? Nama yang asing di telinga.  Arasya mencoba mengingat tapi percuma.  Otaknya sekarang kosong.


"Wildan? " Tanyanya bingung sekaligus penasaran.


Kita vidcall aja.


"Oke, " Arasya memposisikan ponselnya di depan wajahnya.


*Hai


Deg*!


Lelaki di depannya sedang tersenyum kepadanya.  Ia merasakan de javu.  Ia merasa kenal dengan senyum itu. Ia tak sadar, ia pun ikut tersenyum.


"H-hai, " Sapanya balik dengan canggung.


Gimana kabarnya?


"B-baik. Kalau boleh tahu kamu siapa? "


Arasya melihat perubahan wajahnya lelaki di depannya.  Yang semula tersenyum sekarang menjadi datar.  Atau jangan-jangan lelaki itu kekasihnya?  Ah, tak mungkin.  Lelaki di depannya ini sungguh tampan dan manis. Tak mungkin mau dengannya?


"Wil? " Panggilnya lagi karena belum mendapatkan jawaban.


Aku siapa?


"Iya," Jawab Arasya datar karena tak mendapatkan senyum mereka itu lagi.  Hanya senyum tipis.


Kamu nggak ingat aku?


"Nggak sama sekali, " Akunya jujur bersamaan dengan vidcall di matikan secara sepihak.


Arasya diam, memikirkan siapa lelaki itu sebenar-benarnya.  Kenapa lelaki itu sulit untuk mengatakan sebenarnya ia siapanya?  Kekasih?  Mantan?  Atau lelaki itu sedang mengejar-ngejar nya?


"Ra? " Panggil Piter membuat Arasya tersentak.


"Siapa Wildan? " Tanyanya to the point dengan wajah serius.


•••