
"ARA! " Teriak Sami heboh.
"ARA! " Teriak Rika tak kalah heboh.
"ARASYA! " Teriak Zizi tak kalah heboh juga.
Arasya tersenyum senang. Pertama yang dijumpai setelah sekian lama adalah sahabatnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya.
Sami, Rika dan Zizi langsung memeluk Arasya erat. Mereka senang atas kembalinya Arasya. Jujur saja mereka sedikit kecewa, kenapa Arasya tak memberitahu mereka bahwa dia akan pergi atau sekedar pamitan? Tapi, itu sudah jadi bagian masa lalu. Tidak usah diungkit-ungkit lagi.
"Long time no see. " Ucap Zizi sambil melerai pelukan diikuti Sami dan Rika.
"Gue kangen banget sama lo, Ra. " Kata Sami seraya memeluk Arasya lagi sekejap.
"Miss you. " Ucap Rika senang.
"Iya. Iya. Gue juga kangen sama lo bertiga. " Arasya berucap.
"Gim-
Brak
" Aduhh. "Ringis Arasya karena ada yang menabraknya dari belakang. Dia tersungkur jatuh begitu juga dengan yang menabraknya.
" Sorry, kak. Gue nggak sengaja." Ucap perempuan itu dengan sambil mencoba berdiri dan membantu Arasya berdiri.
"Gimana sih?! Kalau jalan lihat-lihat dong jangan pakai kaki doang. " Maki Sami sambil menatap sengit perempuan itu. Yang dia yakini, adik kelasnya.
"Selow dong, kak. " Kata perempuan itu dengan tenang.
"Udah, Sam. " Rika melihat raut kemarahan di wajah Sami pun langsung membawa Sami pergi.
"LEPASIN GUE! BIAR GUE AJAR TU BOCAH! " Teriak Sami memberontak.
"Udah, Sam. "
"Kakak nggak apa-apa kan? " Tanya perempuan itu dengan ramah.
Arasy tersenyum. "Iya. Nggak apa-apa kok. "
Ting!
Ponsel Zizi berbunyi. Gadis itu langsung mengecek pesan apa yang dia dapat. Setelah membacanya, dia menatap Arasya sedikit tak enak.
"Kalau lo ada urusan pergi aja. " Kata Arasya yang mengerti gerak-gerik Zizi.
"Sorry, gue pergi dulu. " Zizi langsung berlari.
"Kakak murid baru disini? " Tanya perempuan itu.
Arasya tersenyum. "Nggak. "
"Kok aku nggak pernah lihat kakak?"Tanya perempuan itu bingung.
" Ngomong-ngomong nama kamu siapa? "Tanya Arasya yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Flo."
•••
Kabar Arasya kembali ke sekolah langsung tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Piter yang mendengar itu pun langsung menghubungi Zizi, bertanya dimana Arasya sekarang. Memastikan ini berita hoax atau fakta. Ternyata benar. Dia langsung berlari menuju kantin. Kata Zizi, Arasya di kantin. Dia tersenyum senang lalu dengan sengaja mengejutkan Arasya.
"BABI! " Teriak Arasya terkejut.
Piter tertawa terpingkal-pingkal seraya duduk di samping Arasya.
"Piter! " Geram Arasya ingin Mencabik-cabik Piter.
"Ahh, satu tahun udah berlalu ya. " Ucap Piter sambil tersenyum.
"Hmm."
"Lo nggak kangen sama gue? " Goda Piter sambil mengedipkan mata.
Arasya langsung menoleh. "Ngapain kangen sama lo? "
"Tapi, gue kangen sama lo. "
"Bodoamat."
"Sya." Panggil Piter dengan lembut.
Arasya menoleh. "Apa? " Tanyanya heran.
Piter langsung memeluk Arasya. " Guru kangen banget sama lo."Lirihnya.
"Itu siapa deh yang di peluk sama Kak Piter? "
"Kok gue nggak pernah lihat tu cewek."
"Mungkin dia anak baru. "
Bisik-bisikan setan terdengar di telinga Arasya. Gadis itu tak mempedulikan bisik-bisikan setan itu. Dia membalas pelukan Piter. Sejujurnya di juga sangat rindu dengan lelaki ini.
"Lo populer ya? " Tanya Arasya sambil melerai pelukan.
"Masa sih? " Piter jujur saja selama ini cuek dengan keadaan di sekitarnya. Tidak mempedulikan apapun.
"Percaya deh. "
"Nggak ah. Percaya lo musyrik! "
"TERSERAH, PITER! " Kesal Arasya sambil bersedekah dada.
"Ngambek deh. " Ucap Piter sambil menoel-noel pipi Arasya.
Piter mengusap-usap tangan Arasya. Merasa ada yang janggal dia pun menatap jari Arasya. Ada sebuah cincin tersemat di jari tengahnya. Dia langsung menatap Arasya.
"Cincin apa ini? " Tanya Piter serius.
"In-ini." Arasya ragu. Ingin mengatakan sejujurnya namun takut menyakiti hati Petir. Ingin berbohong namun takut Piter akan marah padanya.
"Jawab, Sya. " Ucap Piter dengan gemas.
"Sorry, gue udah tunangan sama Caesar. "
•••
Wildan yang juga mendengar kabar bahwa kekasihnya kembali pun ikut merasa senang. Bahkan sangat senang. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan kekasihnya. Tapi sayang, dia ada tugas. Untuk mencari Flo, anak berandal itu. Tak habis-habisnya anak berandal itu membuat masalah. Dengan langkah cepat di menuju ke kantin. Bisa-bisanya jam pertama anak berandal itu cabut.
Wildan tersenyum miring, mendapati Flo. Lelaki itu menghampiri anak berandal itu secara diam-diam. Dia meletakkan tangan kanannya di pundak anak berandal itu.
Flo terkejut. Gadis itu berbalik dan membelalakkan matanya. Bagaiamana bisa ketua OSIS rese ini bisa tahu dia disini? Atau jangan-jangan dia cenayang.
"Ayo, balik ke kelas! " Wildan menarik tangan Flo dengan kuat. Tak peduli jika anak berandal itu kesakitan. Gara-gara anak berandal itu, dia jadi ketinggalan pelajaran.
"Aduhh. Pelan-pelan, nj*ng! " Ringis Flo yang tidak biasa memberontak. Bisa-bisanya dia diancam lagi. Menyebalkan!
"Kalau emang nggak niat sekolah nggak usah sekolah aja. Mendingan lo keluar dari sini. " Ucap Wildan dengan tajam. Tidak peduli jika Flo akan sakit hati karena ucapannya.
"Emang ini sekolahan lo! " Balas Flo dengan nada sedilit tinggi.
Wildan hanya diam. Malas menanggapi omongan tak penting itu. Dia semakin kuat menarik tangan Flo, membuat sang empu meringis.
"Sakit, bangs*t! "
Flo kesal bahkan sangat kesal dengan perlakuan Wildan padanya. Emang dia ini apa? Kuda atau sapi. Ditarik melulu biar bisa jalan.
Wildan berhenti di depan kelas Flo, X IPA-2. Lelaki itu melepaskan cekalan. Berbalik dan menatap Flo tajam. Menyiratkan kebencian yang teramat pada gadis itu.
"Masuk! "
Flo memutar bola matanya, malas. Tetapi, dia menurut saja. Daripada ditarik melulu. Kan sakit. Lebih baik dia masuk kelas dan bisa tidur. Kan lebih enak.
"Iya."
Flo memutar knop pintu. Pintu terbuka. Gadis itu langsung masuk, tidak menghiraukan guru yang mengajar di kelasnya. Sungguh tidak sopan!
Bu Siti yang mengajar di kelas Flo hanya menatap Flo. Sabar dengan kelakuan muridnya satu ini. Dia berhenti menulis di papan tulis lalu menghampiri Wildan.
"Terimakasih, Wildan. " Ucap Bu Siti tersenyum senang, mendapatkan murid yang sangat berguna.
"Sama-sama, Bu. Kalau gitu saya langsung ke kelas. "
Wildan menyalami tangan Bu Siti lalu melangkah menuju ke kelas. Tidak ingin lebih ketinggalan pelajaran. Sungguh murid yang waras.
•••
Arasya senang. Kehadirannya disambut dengan baik oleh teman-teman lamanya. Tidak hanya itu. Ternyata dia juga sekelas dengan Sami, Zizi dan Rika. Sungguh nasib yang baik.
"Ara." Panggil Samo yang berada di belakang tempat duduk Arasya.
Arasya yang tengah mengerjakan soal dari Pak Djarot terhenti. Gadis itu berbalik lalu menaikkan satu alisnya.
"Apa? " Tanyanya.
"Bagi jawaban dong. " Pinta Sami langsung diangguki oleh Rika yang berada di sebelah Sami.
"Bentar. Gue belum selesai. Nanti gue bagi jawaban ke kalian. "
Arasya menoleh ke depan. Dia mulai berkutik dengan jawabannya.
"Asyique." Ujar Rika senang.
Zizi, yang berada di sebelah Arasya. Terdiam sedari tadi. Entah apa yang dia pikirkan.
"Ra." Panggil Zizi sambil menoleh kepada Arasya.
Arasya menoleh. "Ada apa? " Tanyanya sambil meletakkan bolpoin.
"Gue putus sama Abigail. "
•••
Arasya berjalan cepat ke kelas Abigail. Tadi dia sempat bertanya kepada Zizi. Zizi tidak curiga. Dia ingin menanyakan perihal hubungan Zizi dengan Abigail. Kenapa Abigail memutuskan Zizi secara sepihak?
Arasya terhenti saat melihat lelaki yang dulu menghiasi hidupnya, Wildan. Dia belum mempersiapkan ini semua. Dia belum bersiap bertemu dengan Wildan, yang masih berstatus sebagai kekasih.
"Wildan." Lirih Arasya tanpa sadar.
Wildan mematung melihat wajah yang ia rindukan. Kini kembali hadir. Dia melangkah perlahan, mendekati Arasya. Dia terhenti di depan Arasya. Merekahkan senyumnya.
Deg!
Seperti de javu. Arasya ikut tersenyum melihat Wildan tersenyum. Entah apa yang dia rasakan sekarang.
Wildan mengangkat tangan, mengusap pipi Arasya dengan lembut dan memeluk Arasya. Dia tidak peduli bahwa dia berada di koridor yang cukup ramai. Dia tidak peduli bahwa yang dia lakukan itu sopan atau tidak. Yang hanya dia pedulikan hanyalah membayar rasa rindu ini.
"Aku kangen sama kamu, sayang."Wildan berucap lirih namun lembut.
Deg deg deg
Arasya tidak membalas pelukan dari Wildan. Dia masih diam mematung sambil menikmati degupan ini. Rasanya menyenangkan menikmati degupan ini. Tangannya terangkat membalas pelukan Wildan.
"Aku juga kangen sama kamu, Wildan."
•••
TBC!