
Criiittt. Decitan rem sepeda menghentikan kayuhan kaki kami di samping rumah tuan besar. Setelah memarkirkan sepeda, kami berjalan mengendap-endap menghampiri pagar jeruji. Menempelkan wajah di sana sembari memandangi pohon kersen berbuah ranum itu.
"Bagaimana cara mengambilnya, La? Pohonnya terlalu jauh dari pagar ini" tanya Dayu.
"Mengambilnya? Mengapa kita tak meminta izin dulu?" ungkap Menik.
"Meminta izin? Tak mungkinlah, Nik. Kita akan mengambilnya tanpa izin," sahutku.
"Apa? Itu ... sama saja dengan mencuri, La," ujar Menik dengan wajah memelas.
Menik ... Menik! Walaupun pintar, dia memang sangat polos dan lugu. Hidupnya selalu penuh dengan hal-hal baik. Padahal, sesekali berbuat menyimpang itu perlu untuk membuat hidup lebih berwarna. Menurutku.
"Mencuri itu kalau kita mengambil milik orang lain tanpa izin, Nik," ujarku.
"Lho, ini kan kita mau mengambil buah kersen itu tanpa izin, La," sahut Menik lagi.
"Dikatakan mengambil milik orang lain itu kalau yang diambil digunakan oleh pemiliknya. Coba lihatlah buah-buah kersen itu jatuh berserakan di tanah. Artinya, pemiliknya tak pernah mengambilnya. Artinya lagi, mereka tak membutuhkan buah kersen itu. Beda dengan kita yang sangat ingin memakannya. Selain itu juga, sebenarnya kita membantu pemilik rumah agar halamannya tak terlalu kotor. Coba bayangkan kalau seluruh buah yang ada di pohon itu jatuh, pasti halaman di sekitarnya akan lebih kotor lagi."
Penjelasanku yang detail rupanya telah mempengaruhi pikiran Menik dan Dayu. Buktinya, sekarang mereka mengangguk-angguk.
"Terus cara masuk ke dalam bagaimana, La?" tanya Dayu.
Sejenak aku melihat kesana-kemari. Beruntung sekali, sebuah tong sampah berdiri tak jauh dari tempat kami berpijak. Segera kutuju tong sampah itu dan mendorongnya menempel di tembok pagar. Tong itu cukup kokoh untuk menahan beban tubuh kami saat bertumpu untuk meloncati pagar.
Aku yang akan terlebih dahulu mencobanya. Kakiku kini sudah menapak di atas tong lalu memanjat ke atas tembok pagar dan ... hup!
Kini tubuhku sudah berada di dalam halaman. Kembali kuitari sekitar pijakanku untuk mencari bangku yang bisa digunakan untuk memanjat dari sisi dalam tembok. Sebuah bangku taman pun berhasil kutarik dan kini telah terpepet di tembok pagar.
"Ayo, sekarang kalian sudah bisa masuk," ucapku setengah berbisik pada Menik dan Dayu yang masih berdiri di seberang tembok.
Tak lama kemudian mereka pun sudah mulai memanjat dan tanpa banyak kesulitan sudah berhasil berada di dalam halaman bersamaku.
"Sekarang bagaimana lagi, La?" tanya Dayu.
"Hmm ... biar saya saja yang panjat. Kalian tunggu di bawah," ujarku.
Tak pakai lama, aku mulai memanjat pohon kersen yang rindang itu. Bertengger di salah satu dahan, mengeluarkan kantong plastik dari saku celana dan mulai memetiki buah-buahnya yang berwarna merah.
Selang beberapa waktu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari halaman depan menuju ke arah taman samping tempat kami berada.
"La, ada orang yang datang, cepat turun!" seru Dayu dari bawah.
"Apa?" Suara Dayu yang pelan tak terdengar jelas olehku di atas pohon.
"Turun, La!" Menik pun turut berseru.
"Hah? Kenapa?" tanyaku ulang.
"Aduh ... cepat, La turun, ada orang yang ke sini." Menik mengulangi.
Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, terlebih kali ini disertai seruan suara yang lantang.
"Siapa di situ?!"
Astaga! Akhirnya aku tersadar, ada orang yang sedang menuju ke tempat kami.
"La, ayo turun, La!" Kali ini Dayu dan Menik benar-benar memekik dengan lantang.
"Lari! Kalian lari ...!" seruku dari atas pohon.
"Tidak, La. Kamu turun dulu!" seru Menik.
"Jangan tunggu saya, kalian lari duluan. Cepat!" Aku kembali berseru.
Namun kedua gadis itu masih berpijak di tempatnya.
"Dayu, Menik, kalian harus lari sekarang! Ini perintah! Cepat!"
Menik dan Dayu saling berpandangan, lalu kembali menatapku. Aku membalas dengan anggukan. Sejurus kemudian, mereka berdua segera berlari, memanjati bangku taman dan tembok pagar itu. Dari atas pohon kulihat mereka sudah berada di atas sepeda. Masih sempat menoleh kepadaku yang lagi-lagi kubalas dengan anggukan.
Setelah itu mereka mulai mengayuh sepeda, meninggalkan lokasi rumah tuan besar.
Tepat di saat itu, orang yang meneriaki kami tadi sudah berada di bawah pohon, menatap tajam padaku. Rupanya itu adalah penjaga rumah yang pagi tadi kutemui saat mengembalikan pakaian tuan muda.
"Ayo turun!" serunya.
Aku pun bergegas turun dari atas pohon.
"Kamu mau mencuri ya?" bentaknya.
Aku menggeleng.
"Tidak mengaku pula! Sudah jelas-jelas masuk ke halaman rumah ini tanpa izin, apa lagi kalau bukan mau mencuri?"
"Saya hanya mau mengambil buah kersen itu, Pak," ujarku.
"Itu ya mencuri juga. Sudah sekarang kamu ikut saya untuk menghadap pada tuan," ucap penjaga itu lagi.
"Hah?! Menghadap tuan?" tanyaku mengulangi.
"Iya, biar tuan yang memutuskan, kamu akan dimaafkan atau dihukum. Ayo ikut!"
Penjaga itu menarik tanganku. Mau tak mau aku pun harus mengikutinya. Jalan yang dituju adalah halaman belakang rumah.
Sesampai di sana tampak seorang pria sedang duduk menghadapi kanvas, sepertinya dia sedang melukis. Arah duduknya membelakangi kami.
"Tuan, gadis ini masuk ke dalam halaman tanpa izin dan dia kupergoki sedang mencuri," kata penjaga itu.
"Siapa yang berani mencuri di rumah ini?"
Aku berdiri sambil memilin ujung baju kaos. Bagaimanapun juga ada perasaan takut yang sedang menjalar di benakku. Membuat tubuhku sedikit gemetar.
"Kamu?!" Suara itu menyentakkan, membuat tubuhku semakin bergetar.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya lagi.
"Sa- saya ... hanya mau mengambil buah kersen," jawabku terbata.
"Buah kersen?" Pria itu menaikkan alisnya lalu kembali bertanya, "Untuk apa?"
"Untuk dimakan," jawabku.
"Buah kersen itu bisa dimakan?"
"Tentu saja, rasanya sangat manis," jawabku polos.
"Mengapa tak meminta izin dulu? Kenapa harus mencuri?"
"Em ... buah-buah kersen itu hanya berjatuhan di tanah, apakah menyelamatkan halaman Anda dari sampah termasuk mencuri?" ucapku perlahan.
"Masuk ke tempat orang tanpa izin dengan maksud mengambil sesuatu itu tetaplah namanya mencuri," sahut pria yang adalah tuan muda itu.
"Kalau begitu ... maafkanlah saya, Tuan. Ini ... saya kembalikan saja buah kersen ini," ucapku sambil menyodorkan kantong plastik berisi buah kersen yang sudah kupetik.
Tuan Muda meraih kantong plastik itu, membukanya dan mengambil sebutir buah kersen. Setelah mengamati beberapa detik, buah itu meluncur masuk ke mulutnya.
"Ya, memang manis rasanya," ucapnya kemudian.
"Saya sudah mengembalikannya, berarti saya sudah bisa pergi dari sini," ujarku sembari membalikkan badan.
"Eh, tunggu!" serunya.
Membuatku kembali menoleh.
"Ada apa lagi?" tanyaku.
"Tidak semudah itu kamu pergi. Bagaimanapun kamu sudah berbuat kenakalan di rumah ini jadi harus tetap dihukum," ucapnya.
"Apa?!" Mataku terbelalak.
Mendengar kata hukuman serta merta membuat jantungku berdegup tak karuan. Hukuman apa lagi yang akan diberikan oleh tuan muda itu padaku?
"Bapak sudah boleh kembali ke pos jaga. Biarkan gadis ini di sini," ucap tuan muda pada penjaga itu.
Setelah penjaga itu pergi, tuan muda kembali berkata padaku, "Tunggu di sini!"
Aku tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menuruti titahnya. Menunggunya yang kini masuk ke dalam rumah.
Selang beberapa menit, dia pun kembali.
"Pakailah ini!" serunyanya seraya menyerahkan selembar pakaian padaku.
"Pakai ini? Untuk apa?" tanyaku.
"Pakai saja dulu, bergantilah di kamar kecil itu," ujarnya sembari menunjuk ke sebuah bangunan kecil di sudut taman itu.
Aku pun bergegas menuju tempat yang ditunjuknya tanpa banyak tanya lagi. Setelah sampai di bangunan itu dan masuk ke dalamnya, sejenak kuitari isi ruangan yang berisi westafel dan sebuah cermin besar. Di dalamnya terdapat lagi ruang toilet kecil.
Perlahan mulai kulepaskan kaos oblong dan celana panjang kumalku dan mengenakan pakaian yang diberikan oleh tuan muda tadi. Baju itu berupa terusan dengan bahan rajut berwarna putih. Dari modelnya terlihat seperti pakaian wanita jaman dulu.
Setelah selesai, aku pun segera keluar dari kamar kecil itu, berjalan menuju tempat tuan muda.
"Sudah," ucapku setelah tiba di hadapannya.
Tuan Muda itu menoleh ke arahku yang sedang bediri dengan tertunduk.
"Duduklah di bangku itu," ucapnya lagi.
Tanpa banyak tanya aku pun kembali menurut. Duduk di sebuah bangku bundar berkaki tinggi tanpa sandaran yang ada di hadapan kanvasnya.
Setelah memastikan aku telah duduk, pria itu berjalan menghampiri. Menyentuh lengan atas bajuku.
"Apa yang akan Anda lakukan?" ucapku sembari mencoba mengelak.
"Menurunkan lengan bajumu," ucapnya.
"Untuk apa?" tanyaku lagi.
"Menurut saja."
Aku tak kuasa menolak lagi, hanya terdiam dan pasrah. Lingkar leher bajuku kini telah merosot menuruni bahu hingga lengan atas yang sejajar dada. Membuat bahuku tampak terbuka.
Sejenak kemudian kurasakan dia menarik tali pengikat rambutku hingga lembar-lembar mahkota di kepalaku itu tergerai. Pose dudukku pun diaturnya, bergaya menyamping dari sisi depan kanvasnya. Setelah puas mengatur diriku, dia pun kembali ke tempat duduknya, mengambil kuas dan mulai mencoretkan cat air ke kanvasnya. Melukis diriku.
Hampir satu jam aku menjadi objek lukisannya sampai akhirnya dia mengucapkan kata 'selesai' dan memperbolehkanku pergi. Setelah berganti pakaian kembali, aku pun melangkah pergi meninggalkan halaman belakang rumah itu tanpa diizinkan melihat hasil lukisannya.
Sayup-sayup kudengar suara seorang wanita yang baru keluar dari rumah kepada tuan muda, "Anda melukis gadis itu mengenakan gaun mendiang Nyonya Besar, Tuan?"
Namun aku tak mendengar jawaban apa yang diberikan oleh tuan muda itu, pun wajahku tetap lurus ke depan seiring langkah kakiku yang kian melaju meninggalkan area rumah itu.
***