DARLA

DARLA
Ada Apa dengan Menik?



Dua minggu menunggu, hasil pendaftaran siswa yang diterima di SMA pun diumumkan. Aku dan Dayu termasuk di antara siswa yang beruntung itu. Seminggu setelahnya, masa orientasi siswa pun dimulai. Para pengurus OSIS menjadi panitia kegiatan itu.


Dan sang ketua OSIS yang memimpin kegiatan itu tak luput dari perhatian para siswa baru, terutama kaum hawa. Perawakannya yang tinggi dan wajahnya yang tampan membuat namanya tak lepas dari bahan pembicaraan. Dan dari semua siswi baru, tentu Rany dan kelompoknya itulah yang paling agresif.


"La ... Kak Endaru ganteng, ya?" bisik Dayu padaku di hari terakhir masa orientasi ini.


"Hu um ...," jawabku.


"Si Rany kelihatan ya kalau suka padanya. Setiap Kak Endaru minta siswa baru maju, pasti Rany unjuk diri," celoteh Dayu.


"Biarkan saja, Yu ...." sahutku.


"Tapi ... kamu sendiri sukakah tidak padanya, La?" selidik Dayu padaku.


"Hem ... saya tidak berani, Yu ...."


"Tidak berani kenapa?"


"Ya tidak berani menyukai lelaki yang tidak mungkin untuk dimiliki."


Dayu tampak mengerti dengan maksud ucapanku. Gadis mana yang takkan suka pada Endaru, termasuk diriku. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya aku mengagumi seorang lawan jenis. Mengagumi dengan hati.


Tapi kembali lagi ... predikat sebagai gadis miskin membuat rasa kagum itu tak bisa kupupuk untuk tumbuh lebih tinggi. Sedangkan Endaru, dari desas-desus yang beredar adalah anak kepala kecamatan.


***


Pulang sekolah kali ini, aku dan Dayu berniat singgah ke rumah kepala desa untuk menemui Menik. Kami ingin bercerita padanya tentang pengalaman masa orientasi selama tiga hari ini. Apalagi sejak pernikahannya, berarti sudah hampir sebulan aku dan Dayu tak berjumpa dengan Menik.


Setelah berada di depan pintu, kami mencoba mengetuknya. Selang beberapa lama pintu terbuka. Menik berada di hadapan kami kini.


"Darla ... Dayu ...." desis Menik.


""Menik ...." Aku dan Dayu menghambur tubuh Menik dengan pelukan.


"Ada apa kalian ke sini?" tanya Menik.


"Kami rindu padamu, dan kami juga mau menceritakan masa orientasi di SMA, seru deh ...." sahut Dayu.


"Oh ...." Ekspresi Menik terlihat datar.


Di luar ekspektasi, aku merasa respon Menik atas kedatangan kami berbeda. Menik seharusnya akan menanggapi kami dengan antusias. Dia adalah orang yang selalu bersemangat dengan apapun yang berhubungan dengan sekolah.


Kudalami pengamatanku pada wajah Menik. Mahkota indahnya yang tergerai menarik keingintahuanku. Biasanya ia selalu menguncir rambut panjangnya itu. Lalu ... mengapa kini dibiarkannya terurai hingga menutupi separuh wajahnya.


"Nik ... rambutmu kok berantakan," ucapku sembari berusaha menyibak rambut yang menutupi separuh wajahnya itu.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, saya lebih suka begini," sahutnya.


Aku semakin penasaran, tingkah laku Menik terasa janggal bagiku.


"Ada apa, Nik? Coba kulihat," ucapku lagi.


"Lihat apa?" tanyanya.


"Wajahmu yang tertutup rambut itu," jawabku.


"Untuk apa? Tak ada apa-apa dengan wajahku," ujar Menik.


"Apa sih, La? Penasaran amat dengan wajah pengantin baru," sela Dayu.


"Iya ... saya memang penasaran dengan wajah pengantin baru. Bila tak ada apa-apa di wajahmu, maka tunjukkanlah padaku!" Tatapanku yang tegas memperlihatkan bahwa aku tak sedang bercanda.


Dayu pun mulai ikut curiga. Sedangkan Menik perlahan mundur menjauhi kami.


"Kalian pulanglah, nanti orang tua kalian mencari," ucap Menik sembari berusaha masuk ke dalam rumah.


Dengan cepat tanganku menarik tangan Menik. Dan tangan yang satu menyibak rambutnya.


Seketika itu, penampakan yang memilukan di wajah Menik membuatku dan Dayu terbelalak. Wajah jelita itu terlihat aneh kini. Pipi mulus nan menggemaskan milik Menik telah tertoreh luka lebam berwarna biru kehitaman.


"Siapa yang melakukannya?" Aku berkata lirih.


Menik terdiam sesaat, lalu berkata, "Aku terjatuh di kamar mandi."


"Kamu tidak akan menyembunyikannya sejak tadi bila memang luka itu karena terjatuh. Jujurlah, Nik ...." Aku tahu dia sedang berdusta.


"Ini bukan urusan kalian! Ini urusan rumah tanggaku," hentak Menik.


"Apa? Rumah tangga? Jadi ... Seno yang melakukannya?" cecarku.


Napas Menik memburu, binar matanya tak beraturan. Aku bisa menangkap sesuatu dari sorot mata itu. Ketakutan, keperihan, kebingungan dan permintaan tolong.


Namun ... belum juga aku mendapat jawaban pasti dari mulutnya, Menik sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat. Sama seperti ia menutup bibirnya dalam kebungkaman.


***