DARLA

DARLA
Mencari Menik



Rumah Menik adalah tujuan kami selanjutnya. Sang ibu yang membuka pintu setelah kami mengetuknya.


"Menik ada, Bu? tanyaku.


Air muka bingung terukir di wajah beliau. "Menik kan di rumah suaminya."


Aku dan Dayu kembali saling berpandangan. Artinya setelah pergi dari rumah itu, dia tidak kembali ke rumahnya.


Ya, tentu saja. Dia pasti tahu bila Seno akan dengan mudah menemukannya di sini.


"Oh ... baiklah kami pergi dulu, Bu," ujarku sembari kembali menarik tangan Dayu untuk pergi.


Selepas dari situ, kami memutuskan untuk pulang berganti baju dan mengambil sepeda masing-masing. Ibu dan bapak tak ada di rumah. Pagi tadi ibu sudah bilang bahwa akan membantu bapak di sawah hari ini.


Decitan roda sepeda mengantarkan kami menyusuri setiap lorong di desa ini. Semua kemungkinan tempat yang akan menjadi tujuan Menik telah kami datangi. Rumah orang-orang yang dikenalnya tak satu pun yang luput dari kunjungan kami. Namun nihil, Menik tak jua kami temukan.


Terik mentari mulai menyamar seiring sore yang mulai menyapa. Bunyi petir terdengar disertai awan gelap yang berarak. Begitulah langit tampak mendung kini, pertanda hujan akan segera turun.


"La, mau hujan nih. Kita pulang saja dulu, yuk," ujar Dayu padaku.


"Iya, Yu," sahutku.


Setiba di rumah, awan mendung itu telah mengucurkan air yang sedari tadi menggumpal dalam gulungannya. Hujan deras tak terelakkan.


Aku meringkuk di tempat tidur, membayangkan wajah Menik. Dimanakah dia berada kini?


Menik memberikan buku itu pasti dengan maksud agar kami membacanya. Menik pasti ingin agar aku dan Dayu mengetahui keadaannya. Lalu mengapa dia harus menghilang kini?


Tuk ... tuk ... tuk ....


Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Mungkin ibu dan bapak yang datang. Tapi ... mana mungkin mereka nekat menerobos hujan deras ini. Aku bergegas membuka pintu untuk menghilangkan rasa penasaran.


Setelah pintu terbuka, aku nyaris pingsan melihat sosok yang datang. Seorang gadis dengan kondisi basah kuyup dengan wajah pucat pasi. Kondisi tubuhnya penuh luka lebam dan ... oh tidak, darah mengalir membasahi rok panjangnya.


"La ... Seno menemukanku, dia menghajarku ...." Setelah mengatakan itu tubuh Menik melemas dan beringsut roboh.


Aku segera menangkapnya.


"Nik ... Menik, kamu masih bangun kan? Kita ke bidan desa sekarang ya!" seruku.


Menik hanya mengangguk lemah.


Aku memapah tubuh Menik dan sejenak menyandarkan duduknya di dinding. Sementara aku masuk ke dalam rumah mencari jas hujan. Hanya ada satu jas hujan dan itu kupakaikan pada Menik.


Setelah itu kembali kupapah tubuhnya menuju sepeda. Aku mengambil posisi kemudi dan Menik duduk menyamping di boncenganku.


"Berpegang yang kuat padaku, Nik," ucapku seraya melingkarkan tangannya di pinggangku.


Pedal sepeda telah kukayuh. Di tengah guyuran hujan yang menyebabkan jalan desa menjadi licin sehingga harus berhati-hati melewatinya, aku tetap berusaha memacu laju sepeda agar lebih cepat sampai di rumah bidan desa.


Namun, masih separuh jalan kurasakan pegangan Menik terlepas dari pinggangku. Artinya ... Menik semakin lemah, atau bahkan kehilangan kesadaran.


Segera kuhentikan laju sepeda. Mata Menik sudah terpejam, tubuhnya semakin lemas.


"Nik, Nik! Bangun! Kamu harus tetap membuka mata, Nik! Kamu harus kuat!"


Menik tak menjawab, hanya suara napasnya yang terdengar. Aku memapah tubuh Menik untuk turun dan bersandar ke sebuah pohon. Sejenak kutengok kesana-kemari untuk mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk membawa Menik. Dalam keadaan hujan deras begini pastilah tak ada sepeda atau motor yang lewat. Angkutan umum hanya ada di poros jalan utama.


Sebuah gerobak yang sedang tersandar di sebuah pohon menarik perhatianku. Ini pasti gerobak milik warga yang biasa dipakai untuk mengangkut hasil kebun. Tak ada salahnya aku meminjamnya dulu walaupun pemiliknya sedang tak berada di situ. Toh niatku memakainya untuk tujuan yang baik.


Bergegas kudorong gerobak itu menuju tempat Menik berada. Kemudian memapah tubuhnya untuk masuk dan berbaring ke dalamnya. Setelahnya kembali kudorong gerobak itu ke tempat tujuan.


***