DARLA

DARLA
Pernikahan Menik



Proses pendaftaran akhirnya selesai. Setelah memakan bekal makan siang, aku dan Dayu pun memulai perjalanan pulang. Rute yang sama dengan cara kami berangkat tadi. Dan kini kami telah sampai di jalan desa, hendak masuk ke dusun menuju rumah kami dengan berjalan kaki.


Aku berjalan sedikit tertatih karena luka di kedua lutut yang masih terasa perih. Dayu pun sesekali memegangi tanganku untuk membantu berjalan.


Rumah kepala desa kembali harus kami lewati. Suasananya kini lebih ramai dari pagi tadi. Tak lama kemudian tampak mobil kijang kapsul berhenti di depan rumah itu. Seorang gadis turun dari kursi depan. Dan kami mengenali gadis itu.


"Menik!" Aku dan Dayu spontan memekik memanggilnya.


Menik menoleh. Mendapati aku dan Dayu ada di situ, ia segera berlari menghampiri kami.


"Darla ... Dayu ...."


Menik memeluk kami bergantian. Namun, saat memelukku, ia tak sengaja menyenggol lenganku yang lecet tadi.


"Aw ...." desisku.


"Kenapa, La?" tanyanya.


Aku hanya diam.


"Eh ... tanganmu kenapa? Astaga! Kenapa bisa sampai luka begini?" tanya Menik lagi.


Aku masih terdiam.


Menik menatapku, "La?" Sesaat kemudian ia berpaling pada Dayu," Yu ... jelaskan padaku!"


"Da- Darla ...." Dayu tampak ragu menjawab.


"Kamu berkelahi, La?" Menik menatapku tajam. "Kalau bukan karena berkelahi, Dayu tidak akan ragu untuk menjawab," hentaknya lagi.


Aku menunduk, mengakui apa yang dicurigai oleh Menik.


"Tadi kami mendaftar SMA, Nik. Ada gadis sombong yang menyerobot antrian, dan-"


"Dan kamu menantangnya untuk berkelahi? Iya?!" Menik menyela ucapanku. Nada suaranya melantang.


"Dia perlu diberi pelajaran ...."


"Tak bisakah mengalah, La? Susahkah untuk melakukan itu? Bukankah kamu sudah berjanji padaku? Cita-citaku telah kupercayakan pada kalian berdua. Kalau sampai impian itu kandas hanya karena kenakalan kalian yang tidak bisa diubah, maka saya, Menik, bukan sahabat kalian lagi ...." Menik mundur beberapa langkah. Suaranya memarau.


Binar-binar mata Menik yang berkaca menatapku tajam. Sementara tubuh Dayu sudah berguncang karena isak tangisnya. Tak lama kemudian tubuh Menik beringsut turun, bersimpuh di tanah. Dayu mengikutinya.


"Apa perlu saya berlutut, La?" lirih Menik.


Aku menggeleng, dengan cepat menarik tubuh Menik dan Dayu untuk berdiri.


"Maaf, Nik, maafkan saya ...." Aku memeluk Menik.


Air mata kami kembali tumpah.


"Menik! Sudah dramanya, ayo cepat masuk!" Suara seorang pria berseru dari belakang.


Kami menoleh, rupanya Seno yang memanggil.


"Saya masuk, dulu," ucap Menik padaku dan Dayu sembari menghapus air mata yang menggenangi mata dan pipinya.


Sungguh ... rasanya tak tega melepas Menik menuju pria itu. Entah mengapa, setiap bunyi tapakan langkah Menik membuat jantungku berdetak kencang. Ada rasa takut melepas sahabat yang kukasihi itu masuk ke rumah yang mulai besok akan ditempatinya. Rumah yang memang tampak jauh lebih bagus daripada rumah orang tua Menik.


Namun ... entah mengapa aku merasa rumah itu akan menjadi neraka bagi Menik.


***


Hari ini adalah acara pernikahan Menik. Ibu dan bapak akan datang ke sana, sedangkan aku memutuskan untuk tak datang.


Kedatanganku pastilah akan menciptakan keonaran. Melihat Menik bersanding di pelaminan akan kembali menumpahkan air mataku, dan Menik pasti akan ikut menangis.


Dayu pun mengambil keputusan yang sama denganku. Meski begitu, kami tetap mengirim hadiah untuk Menik yang akan kutitipkan pada ibu. Sebuah buku tulis dan pena adalah hadiah yang kami pilih untuk Menik. Selembar surat sedang kutulis untuk menyertai hadiah itu.


Menik yang tersayang,


Hadiah kami adalah buku dan pena, sebagai tanda bahwa kami masih ingin kamu terus belajar. Setiap waktu, kami akan mengirimkan materi pelajaran yang kami dapatkan di sekolah supaya kamu pun ikut belajar.


Dan ketahuilah ini, sampai kapanpun Menik adalah sahabat Darla dan Dayu. Kami sangat menyayangimu.


Darla dan Dayu


***